Gema Teologika is published by Faculty of Theology Duta Wacana Christian University periodically twice per year (April and October). The aim of the journal is to publish research articles in the fields of theology, especially contextual theology divinity studies, religious studies, and philosophy of religion in the contexts of Indonesia and Asia.

News

The Globethics.net library contains all the articles of Gema Teologika from 2016 (vol.1, issue 1) to Current.

Recent Submissions

  • Penyataan Diri Allah di Tengah Kerapuhan Dunia: Pesan Teologis tentang Inkarnasi Allah dalam Tradisi Teologis Yohanes

    Simon Rachmadi (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 This article describes a theological idea about the presence of God among God’s people. The presence of God takes the form of becoming “flesh” (incarnation), as depicted by the Johannine tradition in the Gospel of John, the First Letter of John, and the Book of Revelation. By becoming “flesh” God wholly participates in the vulnerability and precariousness of the human “flesh”: pointing to the very nature of humanity. This article locates the divine incarnation within the daily life of human beings in the “flesh”. Using the method of simple Bible reading, with a limited theoretical approach, this article suggests a hermeneutical message of the Johannine tradition. Since the Word has become “flesh,” the divine realm could always be found in the vulnerability of the world. As a result, despite suffering (theodicy) remains a mystery, the experience of vulnerability — through critical, persistent, and grateful faith — is potentially worthy of accommodating the divine presence.
 
 Abstrak
 Artikel ini mendeskripsikan suatu visi teologis tentang Allah yang setia menyertai umat-Nya. Kesetiaan menyertai umat-Nya itu terwujud dengan cara men-“daging” (berinkarnasi), sebagaimana terlukis di dalam tradisi Rasul Yohanes: yaitu di dalam Injil Yohanes, Surat 1 Yohanes, dan Kitab Wahyu. Cara men-“daging” itu membuat Allah senantiasa terlibat dalam aspek-aspek kerapuhan dan kehinaan kodrati “daging” manusia. Pertanyaannya, di manakah keterlibatan ilahi itu ditemukan di dalam realitas insani sehari-hari yang selalu bersalutkan aneka kerapuhan kodrati? Dengan metode pembacaan Alkitab sederhana, dengan pendekatan teoretis tafsir yang terbatas, artikel ini berusaha mendekati pertanyaan tersebut dengan memeriksa pesan hermeneutis dari tradisi Yohanes. Karena Sang Sabda menjadi “daging”, maka Allah bersemayam di dalam kerapuhan dunia. Akibatnya, meskipun misteri penderitaan (theodicy) tidak akan pernah dapat dijelaskan oleh manusia secara lengkap, pengalaman derita itu — via iman yang kritis, tabah, dan penuh syukur — selalu berpeluang untuk diolah menjadi wadah perjumpaan ilahi.
  • The The Boti-Christian Engagement in Interreligious Cultural Dialogue: Response to Environmental Crisis on Timor Island

    Nezia Mavitau Rustyana (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstrak
 Artikel ini bertujuan membangun dialog budaya lintas agama antara penganut agama asli Boti dan umat Kristiani di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Fokus kajian tertuju pada dua fenomena: krisis lingkungan artifisial yang berakar pada paradigma Kristen barat yang mengunggulkan modernisme, dan fenomena konversi yang tidak ramah terhadap masyarakat asli. Fenomena tersebut mencakup berbagai kenyataan sehubungan dengan peran komunitas Boti dalam ritual dan praktik kehidupan sehari-hari, yang mengusung nilai-nilai ekologis yang berakar pada pengetahuan setempat. Paradigma yang dipakai orang Boti terbentuk dari pengalaman interpersonal antara manusia dan alam. Pandangan itu telah menolong mereka melewati kekeringan yang panjang yang disebabkan oleh faktor alam sebagai dampak dari krisis lingkungan di Timor. Artikel ini menggugat pengaruh kekristenan yang menggunakan pandangan barat, dan mengusulkan untuk menggantinya dengan sebuah teologi yang menghargai tradisi Boti. Sehubungan dengan itu, artikel ini menggarisbawahi kritik terhadap konsep superioritas manusia terhadap alam sebagaimana terkandung di dalam Alkitab, kemudian menawarkan sebuah konsep hubungan yang lebih serasi antara alam dan manusia di mana penghargaan dan pemeliharaan alam adalah wujud hubungan yang harmonis dengan Tuhan.
 
 Abstract
 This article aims to build an inter-religious cultural dialogue between Boti indigenous people and Christians, South Timor Tengah, East Nusa Tenggara. It responds to two phenomena: the artifi cial environmental crisis rooted in the western paradigm of Christianity glorifying modernism and expanded with the phenomenon of conversion that is not friendly to indigenous peoples. The phenomena cover various facts about the role of the Boti community in their rituals and daily practices, which have promoted ecological values derived from their local knowledge. The Boti people uphold the indigenous paradigm through their interpersonal relationships with nature. This view has helped them face the long drought due to the natural factor of the environmental crisis in Timor. This article criticizes the influence of Christianity using the western view by replacing it with theology in appreciating local knowledge of Boti indigenous peoples. It also criticizes the human superiority in the Bible toward nature by offering a harmonious relationship between the two that humans should respect and preserve nature to maintain a harmonious relationship with God.
  • "U Puna Maisi'a Yari Maisi'a": Kajian Teologi Kontekstual Terkait Pandangan Orang Maneo di Seram Utara tentang Tanah dan Hutan bagi Kemanusiaan Mereka

    Hendrik Jondri Paays; Steve G. Ch. Gaspersz; Henky H. Hetharia (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 This article examines the perspective of the Maneo community on land and forest as identity. Based on an oral tradition, the Maneo people understand land and forest as medium for meeting Lahatala (the supreme god, the creator, the sacred) and their ancestors to interconnect with other creations. The destruction and control of the land of the Maneo people not only destroy their lives and future but also harm their cultural and
 religious identities. Using a qualitative research method, this article studies Maneo people’s views on land and forests in relation to their existence and identity. Through the presentation of Maneo’s perspective on U’puna maisi’a yari maisi’a as an entry point, this study explores the realities of land tenure and forest destruction in Maneo, and the way the church responds to the situation. As a conclusion, this article offers a contextual theology about humanizing humans in the concept of Maneo society.
 
 Abstrak
 Tulisan ini hendak menggali perspektif orang Maneo tentang tanah dan hutan sebagai identitas dirinya. Memegang teguh prinsip kultural (turun temurun dari) yang diturun-alihkan leluhur, orang Maneo memahami tanah dan hutan sebagai medium perjumpaan dengan Lahatala (Tuhan Pencipta, yang sakral) dan leluhur, serta sebagai cara berelasi dengan sesamanya dan ciptaan lainnya. Penulis menandaskan, penghancuran dan penguasan lahan tidak saja menjadi kekelaman masa depan orang Maneo, melainkan juga meluluhlantahkan identitas kultural dan religi mereka. Melalui metode pendekatan kualitatif, tulisan ini hendak menggali pandangan orang Maneo tentang tanah dan hutan bagi eksistensi dan identitas mereka. Pertama-tama, penulis memperlihatkan perspektif orang Maneo tentang U’puna maisi’a yari maisi’a. Hal itu menjadi pintu masuk untuk mendalami realitas gempuran penguasaan tanah dan pengrusakan hutan yang marak terjadi di Maneo. Lantas, bagaimana gereja memaknai fenomena tersebut. Akhirnya, tulisan ini diakhiri dengan tawaran teologi kontekstual tentang memanusiakan manusia dalam konsep orang Maneo.
  • Penerapan Metode Cambrigde Scriptural Reasoning Texts (CSRT) pada Kelas Pendidikan Agama Kristen di Universitas Kristen Duta Wacana

    Nani Minarni (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 The aim of this Classroom Action Experimental Research is to know the changing attitude of the students after implementing CSRT method. Christian Religious Education (CRE) at Duta Wacana Christian University (DWCU) emphasizes a multidisciplinary approach covering the fields of Sociology, Psychology, Theology, and Studies of Religions. Through CRE, students are expected to embrace inclusive and respectable attitudes as Indonesian citizens. How do CRE materials support the formation of inclusive and respectable attitudes? One of the teaching materials is the Interpretation of Scriptural Texts that are theoretically taken from the thoughts of John Hayes and Holladay in Biblical Exegesis, while the form of development of the theoretical interpretation exercise uses the “Cambridge Scriptural Reasoning Texts (CSRT)” method. The CSRT method was tested in one of the CRE classes as a “research sample”. The finding shows that students’ insights and perspectives were more open after learning hermeneutics using the CSRT method.
 
 Abstrak
 Penelitian Tindakan Kelas Experimental ini bertujuan untuk melihat perubahan sikap mahasiswa setelah menerapkan metode CSRT. Pendidikan Agama Kristen (PAK) di UKDW menekankan pada pendekatan multidisiplin yang meliputi bidang Sosiologi, Psikologi, Teologi, dan Studi Agama-agama. Melalui PAK, mahasiswa diharapkan semakin dikuatkan dalam menghidupi sikap inklusif dan respek sebagai warga bangsa Indonesia. Bagaimana materi PAK mendukung pembentukan sikap inklusif dan respek? Salah satu materi bahan ajar PAK di UKDW yakni Interpretasi Teks Kitab Suci yang secara teoritik diambil dari pemikiran John Hayes dan Holladay dalam Biblical Exegesis, sedangkan bentuk pengembangan dari latihan interpretasi atas teori tersebut digunakan metode “Cross Scriptural Reasoning Texts (CSRT)”. Metode CSRT tersebut diujikan dalam salah satu kelas PAK sebagai “sampel penelitian”, didapati bahwa wawasan dan cara pandang mahasiswa semakin terbuka setelah belajar hermeneutik dengan metode CSRT.
  • Mengidungkan Macapat Injil lewat Lectio Divina: Sebuah Usaha Membumikan Kitab Suci dalam Budaya Jawa

    Antonius Galih Arga Wiwin Aryanto; Agustinus Brian Kurniawan (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 The conversion of the Gospel texts into the Javanese song (macapat) is a strategic effort to enroot the Word of God in the Javanese culture. The process of conversion requires a mastery of the formula of macapat comprising guru lagu, guru gatra, and guru wilangan. Sindhunata and Suwandi have conducted a research project on such conversion. This article suggests that the method of lectio divina, as a tradition of bible reading in the Church to contemplate the word of God, can be employed in singing the Gospel macapat. Merging the two traditions helps believers experience the Word through the process of ngeningke cipta, nggegilut sabda, and nglelimbang sabda suci.
 
 Abstrak
 Penerjemahan teks Injil ke dalam macapat Jawa merupakan langkah strategis untuk membumikan Sabda Allah dalam budaya Jawa. Tentu saja penerjemahan tersebut membutuhkan keahlian menguasai rumus-rumus tembang Jawa, yaitu guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan, dan menyelaraskan terjemahan teks Injil Jawa dalam rumusan tersebut. Paper penelitian tentang macapat Injil karya Sindhunata dan Suwandi berupaya untuk memahami proses penerjemahan dari teks Injil bahasa Jawa menjadi teks macapat Jawa. Tulisan ini berpendapat bahwa teks macapat Injil ini bisa ditembangkan dan didalami dengan metode lectio divina, sebagai sebuah metode tradisional Gereja agar orang beriman bisa meresapi makna sebuah teks Injil. Saat macapatan, orang beriman diundang masuk pada kandungan makna terdalam dari sabda Allah, dan mengalami pertemuan dengan Sang Sabda sendiri lewat ngeningke cipta, nggegilut sabda, dan nglelimbang sabda suci.
  • Allah Transenden yang Ditangguhkan: Kristus Pengharapan Eskatologis dalam Jürgen Moltmann dan Slavoj Žižek

    Albungkari (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 This article aims to offer suspended transcendent God as an alternative for the thoughts of Jürgen Moltmann and Slavoj Žižek. Although they place Christ as the basis of eschatological hope, they have different opinions regarding the involvement of a transcendental entity (God). If Moltmann emphasizes on God’s intervention in the fulfillment of eschatological expectations Žižek rejects the involvement of transcendental entities by assuming that the divine has died so that the responsibility is transferred to humans. Departing from the lens of Ernst Bloch’s speculative materialism, this article concludes with a construction of a suspended transcendent God. This concept neither accepts nor rejects God’s intervention, but sees it as a speculative possibility.
 
 Abstrak
 Artikel ini bertujuan menawarkan Allah transenden yang ditangguhkan (suspended transcendent God) sebagai alternatif pemikiran Jürgen Moltmann dan Slavoj Žižek. Meskipun sama-sama menempatkan Kristus sebagai dasar pengharapan eskatologis, akan tetapi keduanya berbeda pendapat perihal keterlibatan entitas transendental (Allah). Jika Moltmann sangat menekankan intervensi Allah dalam pemenuhan pengharapan eskatologis, maka Žižek menolak keterlibatan entitas transendental dengan menganggap yang Ilahi telah mati sehingga tanggung jawab tersebut dialihkan pada manusia. Berangkat dari lensa materialisme spekulatif Ernst Bloch, artikel ini ditutup dengan konstruksi mengenai Allah transenden yang ditangguhkan. Konsep ini tidak menerima maupun menolak intervensi Allah, melainkan melihatnya sebagai kemungkinan spekulatif.
  • Resensi Buku: Pengantar Teologi Ekologi

    Moshe William Daniel (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
  • Resensi Buku: Essays in Contextual Theology

    Haleluya Timbo Hutabarat (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
  • Eksistensi Perempuan: Kritik Sastra Feminis, Perempuan sebagai Pembaca Kidung Agung 3:1-5

    Jusuf Haries Kelelufna; Selvone Pettiserlihun (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 The growing involvement of women in various fi elds and at various levels does not negate patriarchal culture in the forms of discrimination and violence against women. Religion contributes to the persistence of patriarchal culture through the male-oriented interpretation of sacred texts. This article reinterprets the text of Song of Songs 3:1-5 with the method of feminist literary criticism according to Elaine Showalter to explain the existence of women implied in the text. The data were analyzed with the stages of interpretation, analysis, and assessment. The results of the analysis show that women, as independent individuals, play important roles in the family and society. The implied author criticizes the domination of men over women but, on the other hand, acknowledges the possibility that women also contribute to patriarchal model.
 
 Abstrak
 Ada perkembangan keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang dan di berbagai tingkatan. Namun demikian tidak dapat dinafikan bahwa dominasi budaya patriarki memunculkan fenomena diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di mana agama berkontribusi terhadap diskriminasi dan kekerasan tersebut. Kontribusi agama dilakukan lewat tafsir kitab suci yang didominasi oleh budaya Patriarki. Upaya teologis untuk memaksimalkan peran perempuan adalah dengan menafsirkan kembali teks-teks Alkitab dengan pendekatan feminis. Penulis menafsirkan teks Kidung Agung 3:1-5 dengan metode kritik sastra feminis perempuan sebagai pembaca menurut Elaine Showalter untuk menjelaskan eksistensi perempuan serta maksud pengarang tersirat dalam teks tersebut. Data dianalisis dengan tahapan interpretasi, analisis, dan penilaian. Hasil analisis menunjukkan perempuan sebagai pribadi yang mandiri, berperan penting dalam keluarga dan masyarakat. Pengarang tersirat mengkritisi dominasi laki-laki atas perempuan tetapi di sisi lain ia mengakui adanya kemungkinan bahwa perempuan turut berkontribusi bagi dominasi laki-laki terhadap perempuan.
  • Pendekatan Paulus dalam Penyelesaian Konflik Perbudakan: Analisis Sosio-Historis terhadap Surat Paulus kepada Filemon

    Vincent Kalvin Wenno (Duta Wacana Christian University, 2022-04-01)
    Abstract
 There are many texts and interpretations of slavery and its problems in the Greco-Roman world. However, few have attempted to unravel the approaches and strategies used to resolve the conflict by Paul with people/communities who have accepted the gospel. This study focuses on Paul’s role as a mediator to the slavery conflict between Philemon and Onesimus in his letter to Philemon. This study aims to analyze: First, the reasons for Paul being concerned on the issue of slavery in his letter to Philemon. Second, Paul’s approach in resolving the slavery conflict. Third, the relevance of Paul’s approach in resolving the slavery conflict in modern life. To reach these objectives, this study uses a socio-historical interpretation method, which emphasizes the reciprocal relationship between humans with all their dynamics and interactions, which also influences the meaning of the biblical text. The data collected in the form of literature studies/scientific literature related to the title of this study, were processed and presented in the form of a description.
 
 Abstrak
 Ada banyak teks dan penafsiran tentang isu perbudakan dan masalahnya dalam konteks masyarakat Yunani-Romawi pada masa Rasul Paulus. Namun demikian, kajian mengenai pendekatan dan strategi Paulus dalam penyelesaian konflik pada orang/komunitas yang telah menerima Injil, masih jarang dilakukan. Studi ini mempertanyakan peranan dan pendekatan yang dipakai Paulus dalam konflik perbudakan dan relevansinya dalam konteks masa kini. Dengan menggunakan kritik sosio-historis, studi ini bertujuan untuk menganalisis: Pertama, Alasan isu perbudakan menjadi perhatian Paulus dalam suratnya kepada Filemon. Kedua, Pendekatan Paulus dalam penyelesaian konflik perbudakan. Ketiga, Relevansi pendekatan Paulus dalam penyelesaian konflik perbudakan dalam kehidupan modern. Untuk mencapai tujuan tersebut, studi ini menggunakan metode penafsiran sosiohistoris, yang menekankan pada hubungan timbal balik antar manusia dengan segala dinamika dan interaksinya, yang turut memengaruhi pemaknaan teks Alkitab. Data yang dikumpulkan berupa kajian-kajian pustaka/literatur ilmiah yang berhubungan dengan judul studi ini, kemudian akan diolah dan disajikan dalam bentuk deskripsi.
  • Yesus Sejarah atau Kristus Iman?: Historisitas Iman dan Karya Allah dalam Yesus Kristus

    Wahju Satria Wibowo (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract There has always been a tension between Jesus of History and Christ of Faith. The figure of Jesus and the faith in Him as Christ are historical. History is a space to bring together both. Without Jesus of History, Christian faith is empty. Similarly, without the faith of the first Christian community, the figure of Jesus is nothing. The historicity of Jesus stands along with the historicity of faith in Him. Of course, above all is God’s work in history. On the one hand, using the research and discussion of the historical Jesus, this article shows that archaeological findings should influence Christianity to reconstruct faith, and reflects that history is a medium for God’s work. On the other hand, using some other writings this article shows that the work of God in history is the art of God’s entrepreneurship, including God’s work in Jesus Christ. Incarnational theology is based on the historical figure, Jesus of Nazareth. 
 Abstrak Selalu ada ketegangan antara Yesus Sejarah dan Kristus Iman. Keduanya ada dalam sejarah manusia. Sosok Yesus dan iman kepada-Nya sebagai Kristus ada dalam sejarah. Sejarah adalah ruang untuk mempertemukan keduanya. Tanpa Yesus Sejarah, iman Kristen kosong. Di sisi lain, tanpa iman komunitas Kristiani pertama, sosok Yesus menjadi tidak terlalu penting. Historisitas Yesus berada bersama dengan historisitas iman kepada-Nya. Tentu saja, di atas segalanya ada karya Allah dalam sejarah. Dengan menggunakan penelitian dan pembahasan Yesus Sejarah, artikel ini membahas bahwa temuan Yesus Sejarah seharusnya memengaruhi kekristenan untuk membangun kembali iman, dan lalu akan merefl eksikan bahwa sejarah adalah media untuk pekerjaan Allah. Di sisi lain, dengan menggunakan beberapa tulisan lain artikel ini menunjukkan bahwa karya Allah dalam sejarah adalah “seni kewirausahaan Allah”, termasuk karya Allah dalam Yesus Kristus. Teologi inkarnasional didasarkan pada tokoh sejarah, Yesus dari Nazaret.
  • Kehampaan (Nothingness): Sebuah Jalan Interspiritualitas

    Stefanus Christian Haryono (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract This article discusses a concept of nothingness from two perspectives: west and east. The western perspective is represented by Dionysius the Areopagite and Meister Eckhart, and the eastern perspective is represented by Ibn ‘Arabi, Sankara, and Nitisani Keiji. The intersection of these perspectives is a theological quest of nothingness as an interspirituality path for a pluralistic society. 
 Abstrak Artikel ini mendiskusikan konsep kehampaan (nothingness) dari dua perspektif, yaitu Barat dan Timur. Perspektif Barat diwakili oleh Dionisius Areopagus dan Meister Eckhart, dan perspektif Timur diwakili oleh Sankara, Ibnu ‘Arabi, dan Nitisani Keiji. Perjumpaan kedua perspektif tersebut adalah upaya pencarian teologis tentang kehampaan (nothingness) sebagai jalan interspiritualitas bagi masyarakat plural.
  • Kehadiran Allah di Tengah Penderitaan Aceh Singkil

    Hanna Dewi Aritonang (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract This study is a Christological study on the suff ering of Christians based on the phenomenon of the burning and demolishing of churches in Aceh Singkil by using Choan Seng Song’s perspective as a theoretical framework. This study uses a qualitative approach among others by conducting interviews with several key informants to obtain field data related to violence and a collective dark memory. This study aims to understand the presence of God in the context of the suffering of Christians in Aceh Singkil and seeks a solution to transform the collective dark memory in the prototype memory of the crucified Jesus as a crucified society. 
 Abstrak Studi ini merupakan kajian kristologis tentang penderitaan umat Kristen atas fenomena pembakaran dan penghancuran gereja-gereja di Aceh Singkil dengan menggunakan pemikiran Choan Seng Song sebagai kerangka teori. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap beberapa informan kunci untuk mendapatkan data lapangan yang berhubungan dengan kekerasan dan memori kelam kolektif. Studi ini bertujuan untuk memahami kehadiran Allah dalam konteks penderitaan umat Kristen di Aceh Singkil dan berupaya menemukan transformasi memori kelam kolektif dalam ingatan prototipe Yesus yang disalibkan sebagai masyarakat tersalib.
  • Resensi Buku: Crippled Grace: Disability, Virtue Ethics, and the Good Life

    Dina Maria Nainggolan (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
  • Perempuan dalam Injil dan dalam Teologi Moral

    Mateus Mali (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract Feminism is one of social-moral thoughts that challenge the hegemony of patriarchy. Feminists begin their struggle with critique of male domination and ask for valorization of women’s way of thinking, feeling, and moral decisions. According to feminists, one of the communities that are insensitive of feminist issues is the Catholic Church because the church lives in a patriarchal system. Methodology used in this article is hermeneutic. In the light of Jesus’ way, moral theology tries to reflect the problem of feminism and the role of woman in the Church. The main focus of this article is the analysis of feminism in the Gospel and in moral theology. The goal of this writing is to push Catholic women to participate more in the ecclesial life and to correct the male languages of theology to be more feminine-sensitive. 
 Abstrak Feminisme adalah salah satu pemikiran moral sosial yang menantang hegemoni patriarkal. Para penggerak perempuan menuntut penghargaan dari cara berpikir, berperasaan, dan mengambil keputusan moral dari para perempuan dan mengkritik dominasi laki-laki. Menurut penggerak feminisme, salah satu komunitas yang melanggengkan persoalan tentang perempuan adalah Gereja Katolik karena dia hidup dalam sistem patriarkal. Metodologi yang digunakan dalam artikel ini adalah hermeneutik. Dalam terang cara Yesus, teologi moral mencoba untuk merefleksikan persoalan perempuan dan peranannya di dalam Gereja. Fokus utama dari artikel ini adalah analisa tentang feminisme di dalam Injil dan dalam teologi moral. Tujuan penulisan ini adalah mendorong perempuan Katolik untuk lebih mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dan untuk membetulkan bahasa teologi yang terlalu bersifat laki-laki menjadi bahasa teologi yang lebih bersifat perempuan.
  • Politik Identitas dan Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila di Ruang Publik

    Paulus Sugeng Widjaja; Djoko Prasetyo Adi Wibowo; Imanuel Geovasky (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract This research analyzes the impact of identity politics and Pancasila based peace religiosity on the behavior of religious people in the Special Region of Yogyakarta. Identity politics is used in relation to its negative understanding, while Pancasila-based peace religiosity is understood positively, to contract the two. Using a quantitative approach that involved 635 respondents, the research fi nds that the level in which the behavior of the respondents is indicative of identity politics to be as much as 29.6% and by Pancasila-based peace religiosity, as much as 51.1%. In all this, age and the level of education do not moderate the impact. However, if the number of respondents who chose to answer one way or another is considered, it is clear that in some cases the majority of respondents affirm identity politics. Thus, even though identity politics do not strongly impact the respondents, the trend to affirm identity politics is spread broadly among them. The respondents are hesitant to affirmatively stay away from identity politics. This potentially creates problems in society when religious people live with others in public sphere. 
 Abstrak Penelitian ini mengkaji dampak Politik Identitas dan Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila terhadap perilaku umat beragama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam penelitian ini Politik Identitas sengaja dipahami secara negatif dan Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila sebagai sesuatu yang positif untuk mengkontraskan keduanya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif atas 635 orang responden, penelitian ini menemukan bahwa perilaku para responden terdampak oleh Politik Identitas sebesar 29,6% dan oleh Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila sebesar 51,1%. Dalam semua itu, usia dan tingkat pendidikan responden tidak memoderasi dampak keduanya. Namun, jika jumlah responden yang memilih untuk menjawab satu atau lain hal diperhitungkan, maka ditemukan bahwa dalam beberapa kasus mayoritas responden sebenarnya mengafirmasi Politik Identitas. Jadi meskipun Politik Identitas tidak membawa dampak kuat dalam diri para responden, tetapi kecenderungan mengafi rmasi Politik Identitas menyebar sangat luas di antara mereka. Juga jelas bahwa para responden bersikap ragu-ragu untuk menolak perilaku terkait Politik Identitas. Hal ini potensial menimbulkan masalah dalam kehidupan di masyarakat ketika umat beragama hidup bersama dengan umat beragama lain di ruang publik.
  • Resensi Buku: Pendampingan Pastoral Orang Berduka

    Linda Zenita Simanjuntak (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
  • Resensi Buku: Teologi Keluarga

    Paulus Eko Kristianto (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
  • Membangun Nisbah Kehidupan Rumah Tangga: Tafsir Kolose 3:18-4:1

    Firman Panjaitan (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract Household codes are often characterized by a patriarchal pattern that allows hierarchical relations between husband-wife and parent-child, including in terms of work. The hierarchy creates a condition of ordinationsubordination, which suggests that there are strong and weak parties. This resulted in the idea that the strong owns the weak. Colossians 3:18-4:1 criticizes the household rules constructed according to the philosophical views that developed at that time. Using historical-criticism methods, especially textual criticism, namely studies that specialize in research on text or words, this article suggests that the phrase “in God” is a reference for a household code based on an equality principle. This research also reveals that the relationships constructed in Colossians 3:18-4:1 negate the hierarchical model. 
 Abstrak Aturan kerumahtanggaan sering kali diwarnai dengan pola patriarkhi yang mengizinkan adanya hierarki dalam nisbah antara suami-istri dan orang tua-anak, termasuk juga dalam hal bekerja. Hierarki menimbulkan kondisi ordinasi-subordinasi, yang mengesankan ada pihak yang kuat dan lemah, dan dampak yang terjadi adalah munculnya status kepemilikan dari yang kuat terhadap yang lemah. Kolose 3:18-4:1 hendak mengkritik aturan kerumahtanggaan yang telah terbangun selama ini akibat pengaruh pandangan filsafati yang berkembang pada saat itu. Dengan menggunakan metode historis-kritis, khususnya kritik teks, yaitu studi yang mengkhususkan pada penelitian terhadap teks atau kata, artikel ini hendak memperlihatkan bahwa aturan kerumahtanggaan dan kerja yang dibangun harus didasarkan pada ekualitas/kesejajaran, dan kata kunci dalam membangun kesejajaran itu adalah frasa “di dalam Tuhan”. Penelitian ini menghasilkan sebuah temuan yang menunjukkan bahwa nisbah yang dibangun dalam Kolose 3:18-4:1 mengenai aturan kerumahtanggaan dan kerja “di dalam Tuhan” adalah nisbah yang menafikan hierarki.
  • Berbagi Kepemimpinan dan Pelayanan: Transformasi Peran Ketua Kelompok di Gereja Kristen Jawa Bekasi Timur

    Johan Kristantara (Duta Wacana Christian University, 2021-04-01)
    Abstract This article proposes a transformation of leadership in a congregation by transforming roles of cell leaders. The research departs from a concern that leadership in many churches—including Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bekasi Timur—tends to be oriented and centralized to ministerial offices (pastors, elders, and deacons). Consequently, the roles of lay leadership have not been given enough attention. This research employs an empirical-analytical approach—enquiring empirical perceptions of leadership in a congregation and analyzing them with church leadership concepts from Kevin G. Ford and E. Stanley Ott. The methods used in this research are qualitative field research (by conducting deep interviews) as well as literary research (using closelyrelated books and journal articles). The finding of this research suggests that shared leadership and ministry transforms centralized leadership (autocracy) culture, making possible various ministries to be carried out in more vital and effective ways. 
 Abstrak Artikel ini menawarkan transformasi kepemimpinan jemaat dengan mentransformasikan peran para ketua kelompok. Penelitian ini berangkat dari keprihatinan bahwa kepemimpinan di banyak gereja— termasuk di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bekasi Timur—cenderung berorientasi dan berpusat pada jabatan gerejawi (pendeta, penatua/tua-tua, dan diaken). Akibatnya, peran kepemimpinan warga jemaat biasa kurang mendapat perhatian. Artikel ini menggunakan metode empiris-analitis, yang menggali persepsi empiris kepemimpinan jemaat lalu menganalisisnya dengan konsep-konsep kepemimpinan gereja dari Kevin G. Ford dan E. Stanley Ott. Teknik yang dipakai dalam kajian ini adalah penelitian lapangan kualitatif (dengan melakukan wawancara mendalam) dan penelitian pustaka (menggunakan buku-buku dan artikel-artikel jurnal terkait). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbagi kepemimpinan dan pelayanan memungkinkan kultur kepemimpinan yang sentralistik (otokrasi) ditransformasikan menjadi kultur desentralistik yang berbagi sehingga pelayanan-pelayanan akan berjalan secara lebih hidup dan efektif.

View more