Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies has the perspectives of humanities and social sciences. This journal also has programs aimed at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies; and solving the dichotomy between ‘orthodox' and ‘heterodox' Islam. The two were linked: the textual tradition showed that Islam was, as well as a set of religious tenets, a way of approaching the practical economic and social challenges of life. So, this journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences.

News

The Globethics.net library contains articles of Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies as of vol. 1(2011) to current.

Recent Submissions

  • Teaching religions in Indonesia Islamic Higher education: from comparative religion to Religious Studies

    Bahri, Media Zainul (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2014-12-01)
    This article focuses on how the study of Comparative Religion conducted in Indonesian Islamic higher institutions, i.e. on both UIN Yogyakarta and Jakartasince the beginning of the New Order (1960s) to Reform era (2014). The focus of the study was on models/approaches and main issues. In general, for more than half a century, the comparative study of religion is not been done for academic purposes an sich. Just within the new last decade that theoretical studies of Comparative Religion began developed. Another important thing that the study of Comparative Religion in Indonesia, although mostly referring to the methodological sources of the West and the Middle East, but ithas always been associated with religious and cultural context of Indonesia.Therefore, the study on both UIN Yogyakarta and Jakarta always deliver courseson religions that live in Indonesia alongside with Indonesian contemporary issues. In the reform era, though still using Comparative Religion’s term, butit looks religious studies such as used in the West. Thus, its “form” or “clothes”is Comparative Religion but it is religious studies. Artikel ini fokus pada bagaimana studi Perbandingan Agama yang dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam Indonesia, yaitu pada UIN Yogyakarta dan Jakarta sejak awal Orde Baru (1960) Reformasi era (2014). Fokus penelitian adalah pada model/pendekatan dan isu-isu utama. Secara umum, selama lebih dari setengah abad, studi perbandingan agama tidak dilakukan untuk tujuan akademik an sich. Hanya dalam dekade terakhir studi teoritis Perbandingan Agama mulai dikembangkan. Hal lain yang penting bahwa studi Perbandingan Agama di Indonesia, meskipun sebagian besar mengacu padasumber-sumber metodologi Barat dan Timur Tengah, tetapi selalu dikaitkan dengan konteks agama dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, penelitian pada kedua UIN Yogyakarta dan Jakarta selalu memberikan kursus tentang agamayang hidup di Indonesia bersama dengan isu-isu kontemporer Indonesia. Dalamera reformasi, meskipun masih menggunakan istilah Perbandingan Agama, tetapitampak sebagai religious studies seperti yang digunakan di Barat. Dengan demikian,“bentuk” atau “pakaian”nya adalah Perbandingan Agama bahkan religious studies.
  • The concept of religious pluralism in Indonesia: a study of the MUI’s fatwa and the debate among Muslim scholars

    Basya, Muhammad Hilaly (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
    In 2005 The Council of Indonesian Ulama (MUI) issued a controversial fatwa. Thefatwa states that it is prohibited for Muslims to develop the ideas of religiouspluralism. The fatwa had provoked heat debate among Indonesian Muslim scholars.For the opponent of the fatwa, the modern Indonesian state should be supportedby the ideas of pluralism. They are disappointed with the fatwa, since itwould diminish religious pluralism in Indonesia. On the other hand, the protagonistof the fatwa said that the MUI has done good decision. The ideas of pluralismare seen by them would threaten Islamic faith. They believed that those whocampaigned for the idea of pluralism are the agent for “western” interest. Thedebate regarding the MUI’s fatwa banning Muslims to adopt pluralism ideas indicatesthat the concept of pluralism campaigned by some Muslim scholars is notmonolithic. This paper would like to explore various conceptions of religious pluralismamong Indonesian Muslim scholars.Pada 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah fatwakontroversial. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bagi kaum Muslim untukmengembangkan gagasan-gagasan tentang pluralisme agama. Fatwa telahmengundang perdebatan panas di kalangan sarjana Muslim Indonesia. Bagi parapenentang fatwa, Negara Indonesia modern harus didukung dengan gagasanpluralisme. Mereka kecewa atas fatwa karena telah mengurangi pluralismekeagamaan di Indonesia. Di sisi lain, para pendukung fatwa menyatakan bahwaMUI telah mengeluarkan keputusan yang benar. Bagi mereka, gagasan pluralismeakan mengancam keimanan Islam. Mereka yakin bahwa orang-orang yangmengampanyekan gagasan tentang pluralisme merupakan agen kepentinganBarat. Perdebatan mengenai fatwa MUI yang melarang kaum Muslim mengadopsigagasan pluralisme menunjukkan bahwa konsep pluralisme yang dikampanyekansebagian sarjana Muslim tidaklah monolitik. Kajian ini akan mengeksplorasiberbagai konsep pluralisme keagamaan di kalangan sarjana Muslim Indonesia. 
  • On pluralism, religious ‘other’, and the Quran: a post September-11 discourse

    Gada, Mohd Yaseen (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2016-12-01)
    The plurality and diversity of religions is not a new thing that we experience in the postmodern world. History is testimony to the fact that different religions have evolved and existed on the face of earth as the human life moved forward. However, in the recent decade, particularly aftermath of 9/11, the bourgeoning conflict, violence, hatred pervasive in the world is often attributed to different ideologies and values associated with religions, Islam with no exception. Therefore, Muslims living as minorities on the both sides of the Atlantic Ocean are in a precarious condition. Besides, the increasing proximity between the individuals of different religions and, more so, of communities due to the miraculous advancements in the technology of communication and transport facilities have resulted into inevitable intercultural interaction and integration more than ever before. Consequently, attempts are being made to explain Islam’s compatibility with Western concept of religious pluralism. Islam recognises political, social pluralism rather than religious pluralism per se, which are explicit in the Quran and the prophetic traditions.I n this background, the paper is an attempt to re-explore and re-revisit the concept of pluralism in Islamic sources. It attempts to re-construct the theme of pluralism away from the extremes to a balanced (wasatiyya) and viable one that strives for the recognition and accommodation of the religious “other” without nullifying Islam’s own essence and identity. The paper concludes that Islam not only recognizes, appreciates and tolerates the religious differences but it also demands for peaceful coexistence and mutual understanding among different religions. Pluralitas dan keragaman agama bukan hal baru yang kita alami dalam dunia postmodern. Sejarah adalah kesaksian fakta bahwa agama-agama yang berbeda telah berevolusi dan ada di muka bumi sebagai kehidupan manusia bergerak maju. Namun, dalam dekade terakhir, khususnya setelah 9/11, konflik, kekerasan, kebencian yang menyebar di dunia ini sering dikaitkan dengan ideologi yang berbeda dan nilai-nilai yang berhubungan dengan agama, Islam tanpa terkecuali. Oleh karena itu, umat Islam yang hidup sebagai minoritas di kedua sisi Samudra Atlantik berada dalam kondisi genting. Selain itu, kedekatan kian meningkat antara individu-individu dari berbagai agama dan, lebih dari itu, masyarakat karena kemajuan ajaib dalam teknologi komunikasi dan fasilitas transportasi telah mengakibatkan interaksi antarbudaya yang tak terelakkan dan integrasi yang lebih dari sebelumnya. Akibatnya, diperlukan upaya yang untuk menjelaskan kompatibilitas Islam dengan konsep Barat mengenai pluralisme agama. Islam mengakui, pluralisme sosial politik daripada pluralisme agama per se, yang eksplisit dalam al-Quran dan tradisi kenabian. Dalam latar belakang ini, kajian ini merupakan upaya untuk kembali mengeksplorasi dan meninjau kembali konsep pluralisme dalam sumber-sumber Islam. Kajian juga mencoba untuk membangun kembali tema pluralisme dari pendekatan yang ekstrem ke pendekatan moderat (wasatiyya) dan berusaha untuk mengakui dan mengakomodasi agama “lain” tanpa meniadakan esensi dan identitas Islam sendiri. Makalah ini menyimpulkan bahwa Islam tidak hanya mengakui, menghargai dan mentoleransi perbedaan agama tetapi juga menuntut untuk hidup berdampingan secara damai dan saling pengertian antara agama-agama yang berbeda.
  • Examining Jakarta office mosques: Islamic teaching practices and views of Islamic ideological issues

    al-Makassary, Ridwan (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2013-06-01)
    This paper discusses Islamic teaching practices and perceptions of mosque stake-holders concerning the ideological issues of: a democratic system of governmentversus formal implementation of Islamic sharia; gender equality; jihad, and plu-ralism in the Jakarta office mosques. After describing the research findings, thepaper concludes that the phenomenon of neo-fundamentalism (in Olivier Roy’swords) is growing and developing in office mosques. This can be seen in thedominance of literal and scripturalist Islamic interpretations, the importance givento implementing Islamic sharia and the rejection of democracy, a hatred of Jewsand Christians and the emergence of Muslim youth actors in Islamic neo-fundamentalism. Other findings concern the influence of the Tarbiyah movement, anoffshoot of the Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood), which is being felt inthe office mosques studied. Learning about Islamist understandings will allow usto check its development, which may destroy the friendly, peaceful face of Islam.Paper  ini  mendiskusikan  praktik  pengajaran  Islam  dan  persepsi  pemangkukepentingan  masjid  berkaitan  dengan  isu-isu  ideologis:  sebuah  sistempemerintahan demokratik versus implementasi formal syari’at Islam; kesetaraanjender; jihad, dan pluralism di masjid perkantoran Jakarta. Setelah deskripsitemuan  penelitian,  paper  ini  menyimpulkan  bahwa  fenomena  neo-fundamentalisme (meminjam Olivier Roy) sedang tumbuh dan berkembang dimasjid-masjid perkantoran. Ini terlihat dari dominannya intepretasi skripturaldan literal, pentingnya menerima pelaksanaan formal syari’at Islam, kebencianterhadap Yahudi dan Kristen dan kebangkitan aktor-aktor muda fundamentalismeIslam. Temuan lain terkait dengan gerakan Tarbiyah, sebuah anak ideologi IkhwanulMuslimin (Muslim Brotherhood), yang cukup kental ditemukan di masjid yangditeliti.  Mengkaji  pemahaman  Islam  akan  memungkinkan  kita  mengawasiperkembangannya, yang mungkin menghancurkan wajah Islam yang ramah dandamai.
  • Scholarly feminist versus internet commentator on women issues in Islam

    Nurdin, Ahmad Ali (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
    This article discusses two different types of contemporary writings both“scholarly feminists” and “internet commentators” on women in Islam;particularly issues related to gender equality such as women’s rights, statusand creation. By comparing two different groups of writers, the objective of thispaper is to discover whether there are significant differences between them onissues of women in Islam, which shed light on modern Islamic thinking. From abrief investigation of several books as representatives of scholarly feminists, andseveral websites, which publish many articles on women in Islam, asrepresentatives of Internet commentators, it is clear that both groups seem tohave similar attitude on the topic. They tried to clarify a common misperceptionof women in Islam which is commonly portrayed to be “a second class”. Moreover,it is clear that the message of ‘Internet commentators’ seem to be moreeffective and more likely to prevail.Artikel ini membahas dua tipe tulisan-tulisan kontemporer, baik dari kalangan“feminis terpelajar” maupun “komentator internet” mengenai perempuan dalam Islam; utamanya berkaitan dengan persoalan-persoalan keadilan gender, sepertihak-hak kaum perempuan, status dan penciptaan mereka. Denganmembandingkan dua kelompok penulis ini, tujuan artikel ini adalah untukmenemukan apakah ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok ini mengenaimasalah-masalah perempuan dalam Islam yang mewarnai pemikiran Islammodern. Dari penelitian singkat atas beberapa karya yang mewakili kaum feministerpelajar dan beberapa websites yang memublikasikan banyak artikel tentangperempuan dalam Islam, sebagai representasi dari komentator internet, jelasbahwa dua kelompok ini memiliki keserupaan sikap atas topik tersebut. Merekamencoba menjelaskan kesalahpahaman umum tentang perempuan dalam Islamyang biasanya digambarkan sebagai “kelas kedua”. Juga tampak bahwa pesandari para komentator internet lebih efektif dan berhasil.
  • Islamic welfare system dealing with the poor in rural area

    Zakiyah, Zakiyah (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
    This paper try to review the practice of Islamic welfare system (such as zaka,waqf, shadaqa, infaq, hibah and qurban) dealing with poor people in rural area.Then, this study looks at four main issues, namely how the structure of thecommitee, the management of such system, fund rising strategy, and peopleaccessibility to this welfare system. In order to deal with this, it is used someframeworks namely; firstly, the welfare strategy as proposed by Spicker (1995)including economic production, redistribution, and solidarity. Secondly, the conceptof welfare offered by Azmi (1991), Midgley (1997), and Zastrow (2004).This research took place in North and South Wonorejo, a village located in Magelangdistrict, Central Java. Finding of this research shows that this scheme has operatedconventionaly and has not contributed much on enhancing people welfare.There is no formal institution that organizes all element of such scheme. As thesocial welfare institution, this system ideally offers program, benefits and servicesthat help people meets those social, economic, educational and health needs.However, there is no specific program for the poor people offered by the committeeof the Islamic welfare scheme. Studi ini berusaha mengkaji praktik system kesejahteraan dalam Islam (sepertizakat, wakaf, shadaqah, infak, hibah dan qurban) dalam hubungannya denganmasyarakat miskin di wilayah pedesaan. Kajian melihat empat persoalan utama,yakni bagaimana struktur panitia, pengelolaan sistem kesejahteraan, strategipengumpulan dana, dan akses masyarakat terhadap sistem tersebut. Untukmenjawab persoalan ini, kajian mempergunakan kerangka kerja antara lain strategikesejahteraan sebagaimana diusulkan Spicker (1995) termasuk produksi,redsitribusi, dan solidaritas ekonomi, dan konsep kesejahteraan sebagaimanadikemukakan Azmi (1991), Midgley (1997), dan Zastrow (2004). Kajian inidilakukan di Desa Wonorejo Utara dan Selatan, Magelang, Jawa Tengah. Kajianini menemukan antara lain: skema kesejahteraan masih dilakukan secarakonvensional dan tidak banyak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.Tidak ada lembaga resmi yang mengorganisir semua unsur dalam skema tersebut.Sebagai lembaga kesejahteraan sosial, sistem ini idealnya menawarkan program,manfaat dan layanan yang menolong masyarakat dalam memenuhikebutuhan-kebutuhan ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan. Namundemikian, tidak ada program khusus bagi masyarakat miskin yang ditawarkanoleh pengelola skema kesejahteraan Islam.
  • Islamic philanthropy and the private sector in Indonesia

    Latief, Hilman (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2013-12-01)
    This paper investigates the growing initiatives within the private sector to orga-nize social welfare activities, and analyzes the way in which zakat (alms) is prac-ticed among Muslim businessmen. The establishment of zakat agencies withinprivate companies has marked the latest trend of the practice of philanthropy inIndonesia. Corporation-based zakat collectors have become new players in therapid growth of the Indonesia’s zakat sector in the past two decades. This paperexamines the following issues: what are the main forces stimulating corpora-tions to set up zakat collectors; what kinds of religious ideas are applied to mo-bilize charities from Muslim workers, and how these concepts are interpretedand practiced within private companies? This paper argues that the inception ofa new concept in zakat practice, such as zakat on corporate wealth, has indi-cated the dynamics process of Islamization of the private sector in Indonesia.Tulisan ini meneliti inisiatif yang tumbuh dalam sektor swasta untuk mengaturkegiatan kesejahteraan sosial, dan menganalisa cara di mana zakat (sedekah)dipraktekkan di kalangan pengusaha Muslim. Pembentukan lembaga-lembagazakat dalam perusahaan swasta telah menandai tren terbaru dari praktek filantropidi Indonesia. Perusahaan berbasis kolektor zakat telah menjadi pemain barudalam pertumbuhan yang cepat dari sektor zakat Indonesia dalam dua dekadeterakhir. Makalah ini membahas isu-isu berikut: apa kekuatan utama merangsang perusahaan untuk mendirikan kolektor zakat, apa jenis ide-ide keagamaan yangditerapkan untuk memobilisasi amal dari para pekerja Muslim, dan bagaimanakonsep-konsep ini ditafsirkan dan dipraktekkan dalam perusahaan swasta? Makalahini berpendapat bahwa lahirnya konsep baru dalam praktek zakat, seperti zakatpada kekayaan perusahaan, telah menunjukkan proses dinamika Islamisasi sektorswasta di Indonesia.
  • Pattani central mosque in Southern Thailand as sanctuary from violence

    Ridwan, Ridwan (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2014-12-01)
    This article describes the real quality of  Pattani Central Mosque to depict another picture of mosques in southern Thailand that has been alleged as an arena for the spreading of Islamic radical ideas and the recruiting of young people into ‘martyrs’ against the Thai Government. It is not doubted, the 2004 Kru-ze Mosque incident reflects the failure of places of worship as a‘sanctuary from violence’. Consequently, there are questions about the kind of practices taking place in Islamic teaching, mosque management, and the views held by mosque stakeholders (Imam, the preachers, and congregation) toward good governance, human rights and the anticipation of radicalism given the current situation in Pattani. In sum,  Pattani Central Mosque instead seems to be composed of a fairly equal mixture of moderate and more conservative believers rather than those with radical and extreme tendencies.   Artikel ini mendeskripsikan kualitas yang nyata dari Masjid Raya Pattani untuk mengilustrasikan gambaran lain tentang masjid-masjid di Thailand Selatan yang disinyalir sebagai arena penyebaran ide-ide Islam radikal dan rekruitmen orang–orang muda sebagai “martir” melawan Pemerintah Thailand. Tidak terbantahkan, insiden Masjid Kru-ze tahun 2004 merefleksikan kegagalan tempat-tempat ibadah sebagai ‘sanctuary from violence’. Akibatnya, terdapat sejumlah pertanyaan mengenai jenis-jenis praktik pengajaran, manajemen masjid dan pandangan dari para pengelola/takmir masjid (Imam, juru dakwah, and jemaah) terhadap pemerintahan yang baik, hak asasi manusia dan antisipasi atas radikalisme di Pattani dewasa ini. Sebagai kesimpulan, Masjid Raya Pattani tampaknya lebih terbentuk oleh gabungan para pengikut yang moderat dan lebih konservatif dibandingkan mereka yang memiliki tendensi-tendensi radikal dan ekstrem.
  • Islamic psychotherapy formulation: considering the Shifaul Qalbi Perak Malaysia psychotherapy model

    Rajab, Khairunnas; Zarrina, Che' (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-12-01)
    Psychological issues faced by human beings in this modern era must be taken into account by psychologists, psychotherapists, psychiatrists, physicians, and observers of psychological problems. The existence of psychotherapists and institutions that provide treatment to recover people suffering from psychological problem is very important. Data of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia of 2011 show that the number of adult population in Indonesia reached 150 million and approximately 11.6%, or 17.4 million of them suffered from mental disorder, such as anxiety and depression. This fact enables researchers to study and examine implementation of a psychotherapy model at Shifaul Qalbi (House of Shiqal) in recovering mental disorders due to the effect of drug addiction. Shifaul Qalbi applies the IMEJ (Iman, Mental,Emosi and Jasmani) (Faith, Mental, Emotion and Physics) psychotherapy model. Through this model, the recovery process can run optimally. IMEJ is synergetic formulation. These four components are integrated implemented. Faithful patients must have a healthy mental condition, controlled emotion, and strong physics. IMEJ is very essential and in line with the mental stages known as Jujur, Amanah, Tanggungjawab, dan Ikhlas (JATI) (honest, trustworthy, responsible and sincere). House of Shiqal prioritizes awareness and sincerity for itsoperation. The awareness and sincerity of the therapist makes the house succeed in recovering more than 92% of 1,000 patients that have been recovered from drug abuse since 2008.Persoalan psikologis yang menghadang manusia modern di abad ini, perlu diambil perhatian serius pihak-pihak terkait. Eksistensi psikoterapis dan lembaga-lembaga perawatan dan pemulihan adalah keharusan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2011, dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 % atau 17,4 juta mengalami gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi. Realitas ini, membuka ruang penelitian dan pengkajian, untuk menilik implementasi model Psikoterapi Shifaul Qalbi dalam membaik-pulih kesehatan mental, efek penagihan narkoba. Psikoterapi Shifaul Qalbi menerapkan model Psikoterapi Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani (IMEJ). Melalui pendekatan IMEJ, proses pemulihan dapatberjalan optimal. Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani adalah formulasi yang bersinergi. Empat komponen tersebut, diimplementasikan terintegrasi. Pasien yang beriman, mestilah memiliki mental yang sehat, emosional yang terkendali, dan jasmani yang kuat. Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani (IMEJ) esensial dengan tahapan-tahapan mental yang disebut sebagai Jujur, Amanah, Tanggungjawab, dan Ikhlas (JATI). Penelitian ini dilakukan sebagai penelitian deskriptif kualitatif untuk mengkaji aspek psikologis pasien narkoba. Penelitian ini tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi diawali dari fakta empiris di Syifa’ul Qalbi. Peneliti secara langsung ke Syifa’ul Qalbi dalam menemukan data yang terjadi secara alami, untuk kemudian mencatat, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Psikoterapi Shifaul Qalbiadalah Rumah Shiqal yang mengutamakan kesadaran dan keikhlasan bagi kelangsungan psikoterapi. Dengan kesadaran dan keikhlasan Rumah Shiqal telah merawat pasien narkoba bersignifikan bebas dari penagihan narkoba.
  • Spirituality, dual career family worker, demographic factors, and organizational commitment: evidence from religious affairs in Indonesia

    Pratama, Abdul Aziz Nugraha; Endraswati, Hikmah (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-12-01)
    The purpose of this study is to specify whether spirituality, age, and tenurehave an effect on organizational commitment and to determine whether themoderating variables, i.e. dual career family worker, moderates the effect ofspirituality, age, and tenure on organizational commitment. The samples ofthe study were 90 staffs and lecturers of three educational institutions under the Ministry of Religious Affairs located in Central Java. They were IAINSurakarta, IAIN Salatiga, and MTsN 1 Surakarta. The research used Moderated Regression Analysis to analyze the data. The results showed that spirituality and tenure positively affect organizational commitment and dual careerfamily worker moderated the effect of spirituality and tenure on organizational commitment. Dual career family worker in this study can be categorized as a quasi-moderation variable.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah spiritualitas, usia,dan masa jabatan berpengaruh terhadap komitmen organisasi dan untukmenentukan apakah dual career family worker sebagai variabel moderasi dapatmemoderasi pengaruh spiritualitas, usia, dan masa jabatan terhadap komitmenorganisasi. Penelitian ini menggunakan 90 karyawan dan dosen sebagai sampeldari tiga institusi pendidikan di bawah Kementerian Agama di Jawa Tengah:IAIN Surakarta, IAIN Salatiga, dan MTsN 1 Surakarta. Teknik analisis yangdigunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Moderasi. Hasilnyamenunjukkan bahwa spiritualitas dan masa jabatan secara positif mempengaruhikomitmen organisasi dan dual career family worker sebagai variabel moderasimampu memoderasi spiritualitas dan masa jabatan terhadap komitmenorganisasi. Dual career family worker dalam penelitian ini dimasukkan sebagaivariabel moderasi kuasi.
  • The language construction of Muslims as the others in French contemporary discourses

    Udasmoro, Wening (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-06-01)
    This article intends to explain the Muslims position in French contemporary discourses. France is a secular country, based on the principle of laïcité (separation between religion and State). France is also the country with the largest Muslim population in Europe. Muslims’ positions, as with others’, cannot be separated from the varied discourses in everyday life disseminated through different vehicles such as the media, literature, and conversations in society. Talking about the discourse of otherness is important to strengthenthe argument that the social relation patterns in France, where there hasbeen tension between Muslims and the French people in recent years, are not simply political or social questions. They are also language constructions. The Bourdieusian perspective explains how social construction is closely connected to language construction. Fear of Muslims, on the one hand, is related to political and social tensions, but on the other hand it is also related to language consumption and the historically constructed othering process. Based on the above situation, this article asks: first, in contemporary French discourses, what stereotypes regarding Islam and Muslims are represented in everyday language? Second, in which context do these stereotypes appear? Third, how are the language effects of the stereotypes of otherness, which serve as mental models for positioning the Other, operatedas social practices? Artikel ini bermaksud untuk menjelaskan posisi Muslim dalam diskursus Prancis kontemporer. Prancis adalah negara sekular, berbasis pada prinsip laïcité (pemisahan antara agama dan negara). Prancis juga merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di Eropa. Posisi Muslim “sebagai liyan”, tidak dapat dipisahkan dari berbagai diskursus sehari-hari yang terdeseminasi lewat berbagai kendaraan, seperti media, sastra, dan percakapan sehari-hari dalam masyarakat. Berbicara mengenai diskursus liyan menjadi penting untuk memperkuat argumen bahwa pola-pola hubungan sosial di Prancis, dimana ada ketegangan antara Muslim dan orang Prancis non Muslim akhir-akhir ini, bukanlah sekedar persoalan politik dan sosial. Ada pula persoalan konstruksibahasa. Perspektif Bourdieusian menjelaskan bagaimana konstruksi sosial berhubungan erat dengan konstruksi bahasa. Ketakutan pada Muslim, di satu sisi, berhubungan erat dengan ketegangan politik dan sosial, namun di sisi lain, hal ini terkait pula dengan konsumsi dan konstruksi historis dalam proses peliyanan. Berdasarkan situasi di atas, beberapa pertanyaan diajukan: pertama, dalam diskursus Prancis kontemporer, stereotip apa yang terdapat dalam diskursus sehari-hari terhadap Islam dan Muslim? Kedua, dalam konteks apa diskursus ini muncul? Ketiga, bagaimana efek bahasa terkait dengan stereotipterhadap liyan, yang merupakan model mental dalam memosisikan liyan dalam praktik sosial tersebut?
  • Arab political reasoning: Muhammad Abid al-Jabiri’s contribution for understanding crisis of politics in the Arab world

    Rofiq, Muhamad (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-06-01)
    xt-stroke-width: 0px; "> This paper deals with the thoughts of MuhammadAbid al-Jabiri (d. 2010), a prominent philosopher from Morocco, on the crisis of politics in the Arab world, by examining one of his great books entitled al-‘Aql al- Siya>si al-‘Arabi (Arab Political Reasoning). This book is the third work from the sequence Naqd al-‘Aql al-‘Arabi (Critique of Arab Reasoning). The Arab political reasoning here refers to a collection of motives (muhaddida > t > ) in politics and their theoretical and practical manifestations (tajalliyat > ). This paper analyzes the sense of crisis that constitutes al-Jabiri’s thoughts on Arab political reasoning. This paper then describes the three theoretical frameworks he utilized, which were “aqidah >(doctrine)”, “ghanimah > (booty)” and “qabi>lah (tribe)”, and their application in the reading politics of the earliest period of Islamic history. Finally, this writing concludes with some points regarding al-Jabiri’s contribution to Islamic studies. 0px; "> Tulisan ini mengkaji pemikiran-pemikiran Muhammad Abid al-Jabiri (w. 2010), seorang filosof terkemuka dari Maroko, mengenai krisis politik di dunia Arab, melalui pengkajian terhadap salah satu buku terkenalnya yang berjudulnya al-‘Aql al- Siya>si al-‘Arabi (Nalar Politik Arab). Buku ini adalah karya ketiga dari rangkaian proyek Naqd al-‘Aql al-‘Arabi (Kritik Nalar Arab). Nalar politik arab dalam karyanya ini terdiri dari sekumpulan motif-motif politik bangsa Arabdan manifestasi teoretis dan praktis dari motif tersebut. Tulisan ini selanjutnya menganalisis tiga latar belakang pemikiran yang membentuk ide-ide al-Jabiri mengenai nalar politik Arab. Tulisan ini kemudian menggambarkan tiga kerangka teori yang ia gunakan, yaitu akidah, harta rampasan perang, dan suku, serta aplikasi dari tiga teori tersebut pada pembacaan terhadap periode paling awal dari sejarah Islam. Terakhir, tulisan ini menyimpulkan sejumlah hal yang menjadi kontribusi al-Jabiri pada pemikiran keislaman.
  • The rights of the child in Islam: their consequences for the roles of state and civil society to develop child friendly education

    Santoso, Muhamad Abdul Fatah (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-06-01)
    Islam as a religion concerned with justice and respect places great emphasis on human rights and responsibility. Child as a small human also has certain rights categorized into social, educational and financial rights. The social rights are divided into two categories: before birth and after birth. The social rights before birth includes right to noble parent having character and right to unborn child while the social rights after birth includes rights to lineage, suckle and nutrition, and being received by the Muslim society. The educational rights cover rights to life, general care and socialization as well as basic education, just and equal treatment, and physical education. The financial rights encompass rights to livelihood, property and inheritance. Such rights of the child guaranteed by Islam absolutely have relevance with the Convention on the Rights of the Child (CRC) adopted by the United Nations General Assembly in 1989. For enabling children to enjoy their rights, parental care plays role as a main foundation. But state and civil society organization also have key roles to play in this regard. A child friendly education may be a manifestation of social responsibility of state and civil society organization to respect and fulfill the rights of child. Such education provides a safe, clean, healthy and protective environment as well as meaningful learning for children with diverse abilities and backgrounds. Islam sebagai agama yang memperhatikan keadilan dan penghormatan memberikan penekanan yang tinggi pada hak asasi manusia dan tanggung jawab. Anak sebagai manusia kecil juga memiliki hak-hak yang dikategorisasikan ke hak-hak sosial, pendidikan, dan financial. Hak-hak sosial terbagi ke dalam duakategori: sebelum dan sesudah kelahiran. Hak-hak sosial sebelum kelahiran mencakup hak mendapatkan orangtua yang baik dan memiliki karakter, dan hak untuk tidak digugurkan dari kandungan, sementara hak-hak sosial sesudah kelahiran berupa hak mendapat silsilah keturunan yang jelas, hak mendapat air susu ibu dan gizi, dan hak diterima sebagai warga masyarakat Muslim. Adapun hak-hak pendidikan meliputi hak untuk hidup (sebagai prasyarat), hak memperoleh pengasuhan umum, hak sosialisasi, sebagaimana juga hakpendidikan dasar, hak perlakuan yang adil dan setara, serta hak pendidikan fisik. Sedangkan hak-hak finansial terdiri dari hak mendapatkan nafkah, hak memiliki harta, dan hak memperoleh warisan. Hak-hak anak yang dijamin oleh Islam tersebut ternyata relevan dengan Konvensi Hak-hak Anak yang disepakati dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1989. Untuk memungkinkan anak mendapatkan hak-haknya, perlindungan orangtua memainkan peranan sebagai landasan utama. Namun, dalam hal ini negara dan organisasi masyarakat sipil dapat juga memainkan peranan masing-masing. Pendidikan ramah anak dapat menjadi suatu perwujudan tanggung jawab sosial negara dan organisasi masyarakat sipil dalam menghormati dan memenuhi hak-hak anak. Pendidikan tersebut memberikan suatu lingkungan yang aman, bersih, sehat, dan protektif, serta pembelajaran penuh makna bagi anak-anak dengan keanekaragaman kemampuan dan latar belakang.
  • The implementation of sharia bylaws and its negative social outcome for Indonesian women

    Fanani, Ahmad Fuad (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-12-01)
    The formalisation of sharia law has been the subject of wide-ranging debate in Indonesia, also internationally. This is because this idea has significant implications, politically and socially, not only for Muslims, but also for women and other followers of other religions who live in Indonesia. It is important to note that there are 78 sharia bylaws which have already been ratified by regional authorities. And more than 52 cities and regencies have applied these regulations at the regional level. Some analysts argue that the implementation of sharia bylaws reflects on the fact that the majority of the Indonesian population needs morality and public order which will be beneficial for improving their lives. However, others rebut this argument by pointing to the fact that the enactment of sharia laws will discriminate and trigger violence against women. This paper will examine the implementation of sharia bylaws and its impacts on Indonesian women. This paper will argue that the implementation of sharia laws have negative impacts on Indonesian women because it has caused negative social outcome for women and women is the most vulnerable from this policy. Formalisasi hukum syariah atau penerapan perda Syariah telah menjadi topik yang menarik debat hangat di Indonesia, juga secara internasional. Hal ini Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies karena kebijakan dan ide ini mempunyai dampak yang sangat serius –secara politik dan sosial—tidak hanya untuk kalangan Muslim, tapi juga untuk perempuan dan pemeluk agama lain di Indonesia. Penerapan perda Syariah hingga saat ini masih terus berjalan dan ada 78 Perda Syariah yang sudah diratifikasi oleh pemerintah lokal. Selain, lebih dari 52 kota dan kabupaten yang telah menerapkan Perda Syariah ini. Sebagian kalangan berargumen bahwa penerapan Perda Syariah adalah hal yang wajar karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim dan mereka membutuhkan aturan publik dan moralitas untuk kehidupan mereka. Namun, sebagian berpendapat bahwa menolak argumen tersebut dengan memberikan fakta bahwa perda Syariah akan mendiskriminasi dan memicu kekerasan terhadap perempuan. Artikel ini akan berargumen bahwa penerapan Perda Syariah memberikan dampak negatif terhadap perempuan karena ini mengakibatkan dampak sosial yang buruk terhadap perempuan dan perempuan menjadi pihak yang paling rentan menderita dari kebijakan ini.
  • Ali Shari’ati’s revolutionary Islamic thought and its relevance to the contemporary socio-political transformation

    Nugroho, Anjar; Surwandano, Tulus Warsito (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-12-01)
    Ali Shari’ati emerged as an enlightened intellectual figure in the phenomenonof the authoritarian and oppressive power of the Syah Pahlavi regime. Shari’atiappeared as a pioneer of radical ideas about Islam and the revolution whichstemmed from the Shi’a teachings that had been grafted into the revolutionary tradition of the Third World and Marxism. Shari’ati succeeded in establishing a revolutionary Islamic ideology that became the basis of the mass collective consciousness against the regime of the Syah. In Shari’ati’s thought, Islam is an emancipatory ideology and liberation. The progressive and revolutionary view of Shari’ati’s Islam derives from a belief system of tauhid. While tauhid in Shari’ati’s view is the unity among God, man and the universe, the society which is full of social discrimination, injustice, and arbitrariness can be categorized as Shirk, the opponent of tauhid. In the context of the Iranian revolution, the Shari’ati’s Islamic thought and ideology became the fourth  t-text-stroke-width: 0px; "> bridge or road from the ideological stalemate of the pre-revolutionary opposition movement, which is between secularist-nationalist, Marxist-Communistand Islamic Fundamentalism. Further, Shari’ati’s ideology paved the way forthe acceptance of Imam Khomeini as a revolutionary leader. This paper aimsto contextualize Ali Shari’ti’s views on socio-political change in Indonesia.Ali Shari’ati muncul menjadi sosok intelektual tercerahkan dalam fenomenakekuasaan rezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas. Shari’ati lalu tampilsebagai pelopor gagasan-gagasan radikal tentang Islam dan revolusi yang bersumberdari ajaran Syi’ah yang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner DuniaKetiga dan Marxisme. Ali Shari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioneryang kemudian menjadi basis kesadaran kolektif massa menentang kekuasaan rezimSyah. Dalam pemikiran Shari’ati, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi danpembebasan. Pandangan Islam Ali Shari’ati yang progresif dan revolusionerbersumber pada satu sistem keyakinan yaitu tauhid. Jika tauhid dalam pandanganShari’ati adalah kesatuan antara Tuhan, manusia dan alam semesta, maka kondisimasyarakat yang penuh diskriminasi sosial, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangandapat dikategorikan sebagai syirk, lawan dari tauhid. Dalam konteks revolusi Iran,tawaran pemikiran dan ideologi Islam Syari’ati menjadi jembatan atau jalan keempatdari kebuntuan ideologi gerakan oposisi pra-revolusi, yaitu antara nasionalis-sekuler,Marxis-Komunis dan Fundamentalisme Islam. Ideologi Shari’ati melapangkanjalan bagi diterimanya Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusioner. Tulisanini hendak mengkontekstualisasikan pemikiran Ali Shari’ati dalam perubahan sosialpolitik di Indonesia.
  • The typology of Muhammadiyah Sufism: tracing its figures’ thoughts and exemplary lives

    Biyanto, Biyanto (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-12-01)
    ; "> This article explores the style of sufism from the perspective of Muhammadiyah.It is a literature study on the official fatwa given by Muhammadiyah on sufism as a part of spiritual dimension in Islamic teaching. This study places a number of Muhammadiyah figures as the subject of study. This study concludes that the views of Muhammadiyah and its figures on sufism are very positive. Sufistic life in fact also becomes a trend among the followers of Muhammadiyah. Important styles of Muhammadiyah sufism include: first, Muhammadiyah sufistic teachings are based on pure monotheism. The second, Muhammadiyah sufistic is practiced under the frame of shari‘ah, on the basis of the Qur’an and Hadith. Third, the substance of sufism in the Muhammadiyah perspective is noble character that should be realized in daily life. Fourth, the orientation of Muhammadiyah sufism emphasizes the dimension of righteous deeds, social praxis, and of moving from theory to practice. Fifth, Muhammadiyah sufism presents sufistic teachings adjusted to the spirit of modernity so that it may be called modern sufism. Sixth, Muhammadiyah sufism is expressed in more active and dynamic styles. A sufi is not allowed to do nothing, but is obliged to work actively and to interact with society. Seventh, Muhammadiyah sufism stays away from the philosophical sufism discourse that may potentially cause debates. Muhammadiyah views that to become sufi, one should not become the member of sufi order with the style of “teacher-centered” in practice.Artikel ini membahas corak sufisme dalam perspektif Muhammadiyah. Kajianini merupakan studi literatur terhadap fatwa resmi Muhammadiyah terhadap sufisme sebagai bagian dari dimensi spiritual ajaran Islam. Kajian ini juga menempatkan sejumlah tokoh Muhammadiyah sebagai subjek studi. Kajian ini menyimpulkan bahwa perspektif Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya terhadap sufisme sangat positif. Kehidupan sufistik dalam kenyataannya juga menjadi trend di kalangan pengikut Muhammadiyah. Corak sufisme Muhammadiyah yang penting meliputi: pertama, ajaran sufisme Muhammadiyah berbasis pada tauhid murni. Kedua, sufisme Muhammadiyah dipraktekkan dalam bingkai syariah, berdasar al-Qur’an dan hadits. Ketiga, substansi sufisme dalam perspektif Muhammadiyah adalah akhlak mulia dan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, orientasi sufisme Muhammadiyah menekankan dimensi amal salih, praksis sosial, dan bergerak dari teori ke praktek. Kelima, sufisme Muhammadiyah menampilkan ajaran tasawuf yang disesuaikan dengan spirit modernitas sehingga layak disebut tasawuf modern. Keenam, sufisme Muhammadiyah diekspresikan dalam corak yang lebih aktif dan dinamis. Seorang sufi tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus aktifbekerja dan berinteraksi dengan masyarakat. Ketujuh, sufisme Muhammadiyahmenjauhi wacana tasawuf falsafi yang potensial mengundang perdebatan.Terakhir, Muhammadiyah berpandangan untuk menjadi sufi, seseorang tidakharus menjadi anggota tarekat yang dalam prakteknya bercorak guru sentris.
  • Islam, gay, and marginalization: a study on the religious behaviours of gays in Yogyakarta

    Koeswinarno, Koeswinarno; Mustolehudin, Mutolehudin (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-06-01)
    0px; "> Man does not intend to be born gay, whose existence is not welcomed in the society including within his spiritual religious expressions. In Wonosobo, in the year of 2016, a marriage ceremony almost happened between a male and a male. This phenomenon is interesting to be studied in detail. In a specific way, this article uncovers the religious behaviours of gays in Yogyakarta. Usingan anthropological approach, the researchers were directly involved in the subjects’ lives in the social, economic, cultural, and religious aspects. In texts, same-sex relationships were found in the narratives of Prophet Luth written in the Al-Quran books Al-A’raf verse 81, Al-Shu’ara’ verses 165-166, An-Nisa verse 16, and Hud verses 77-83. These verses are used as the basis for rejecting homosexuality. From the social life happening in Yogyakarta there arise conflicts between the gays and their families so that they run away from their families to join gay communities and form economic and even religious groups.Furthermore, in their citizenship status, there is marginalization or administrative abuse for their identities in the identification card.Manusia tidak berniat untuk dilahirkan sebagai gay, yang keberadaannya tidak disambut baik di masyarakat termasuk dalam ungkapan spiritualnya. Di Wonosobo, pada tahun 2016, sebuah upacara pernikahan hampir terjadi antara sesama jenis lelaki. Fenomena ini menarik untuk dikaji secara detail. Artikel ini mengungkap perilaku religius kaum gay di Yogyakarta. Dengan menggunakan pendekatan antropologis, peneliti secara langsung terlibat dalam kehidupan subyekdalam aspek sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Dalam teks, hubungan sesama jenis ditemukan dalam narasi Nabi Luth yang ditulis dalam buku Al-Quran AlA’raf ayat 81, ayat Al-Shu’ara 165-166, An-Nisa ayat 16, dan ayat-ayat Hud 77- 83. Ayat-ayat ini digunakan sebagai dasar untuk menolak homoseksualitas. Dalam kehidupan sosial di Yogyakarta, timbul konflik antara kaum gay dan keluarga mereka. Konflik ini membuat mereka melarikan diri dari keluarga dan bergabung dengan komunitas gay dan membentuk kelompok ekonomi dan bahkan kelompok keagamaan. Dalam status kewarganegaraan, mereka mengalami marginalisasi atau penyalahgunaan administratif dalam kartu identitas mereka.
  • Morocco protest movements in the post-constitutional reform

    Burdah, Ibnu (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-12-01)
    dth: 0px; "> The research describes and explains the wave of protest movement in theKingdom of Morocco, one of the Muslim countries in the Western Arab, in the post-2011 constitutional referendum. The constitutional reform was carried out as a response to the large and massive people protest. Unlike the cases in other neighboring states where “Arab Spring” took place, the Moroccan movement receded without neither the fall of the regime nor massive casualties. However, intense protest kept taking place, especially in Muhammad V Street leading to the Parliament Building. Some interesting questions arise, including what the nature of the current protest is and why people still protest after the vast popular agreement toward the constitutional referendum. Based on library research and intense observation for forty days, and interviews, this study found that, to some extent, the Morocco protest has the same nature as that of the Arab Spring. The protest has “hidden agendas” although there are evidences that they dissembled in “smaller and partial issues because of some reasons”. The author holds that Morocco is an important lesson for political reform in the current turbulent Arab world and, to abroader context, in the Muslim world. 0px; "> Penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan gerakan protest di KerajaanMaroko, salah satu negara Muslim di Arab Barat, paska referendum konstitusitahun 2011. Reformasi konstitusional di Maroko telah dilaksanakan sebagai respon terhadap protes rakyat dalam skala luas dan massif. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara “Musim Semi Arab” yang lain, gerakan protes itu surut tanpa disertai jatuhnya rezim dan jatuhnya korban dalam jumlah yang besar. Namun, Maroko masih diwarnai gerakan protes yang cukup intensif hampir setiap hari (kendati skalanya lebih kecil) khususnya di Jalan Muhammad V sampai depan gedung parlemen. Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya karakter dari protes-protes yang masih berlangsung bahkan hingga saat ini? Mengapa mereka masih melakukan protes pasca persetujuan secara luas rakyat Maroko terhadap reformasi konstitusi? Penelitian yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan yang didukung oleh observasi di lapangan sekitar 40 hari, berkesimpulan bahwa karakter protes itu adalah “Arab Springs” (mengarah pada penjatuhan rezim) kendati itu tak dinyatakan secara terbuka. Mereka memiliki agenda terselubung itu dan tidak mengemukakannya dengan berbagai alasan. Penulis berpendapat, Maroko adalah pelajaran penting bagi reformasi politik di dunia Arab yang sedang bergolak saat ini, bahkan mungkin pula untuk dunia Islam.
  • To research online or not to research online: using internet-based research in Islamic Studies context

    Nurdin, Nurdin (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-06-01)
    "> Indonesia is the largest Muslim country and the eighth largest Internet user in the world. Around 78 million people in Indonesia use the Internet in their daily lives. This provides new opportunities for Islamic education institutions and Muslim scholars to utilise this online space as a new research setting. Non-Islamic education institutions and scholars have utilised the Internet as a new avenue to conduct research, while Islamic education institutions and Muslim scholars have yet to make use of online space for research purposes.While dakwah, education and other Islamic social phenomena are being practiced on online platforms, Muslim scholars are yet to go online to understand this phenomenon. This paper addresses why Islamic institutions and Muslim scholars should go online and utilise the Internet as a new setting in their research agenda. This paper offers researchers at Islamic institutions the opportunity to consider new data collection and triangulation strategies to enhance their research output and paradigm. The paper’s discussion focuses on both quantitative and qualitative research methods. Some benefits of using social media in a research setting are discussed. Evidence that supports researchers utilising social media for research purposes are also summarised.Future research needs to focus on the application of this idea in empirical contexts, as well as consider ethical issues.Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar didunia and pengguna Internet kedelapan besar didunia. Saat ini ada sekitar 78 juta penduduk Indonesia menggunakan Internet dalam keseharian mereka. Fakta ini menjadi peluang baru bagi lembaga pendidikan Islam dan para ahli Muslim untuk memanfaatkan sarana online tersebut sebagai salah satu tempat penelitian baru. Lembaga pendidikan umum dan para ahli non-Muslim telah lama memanfaatkan sara online tersebut untuk kepentingan penelitian mereka, sementara lambaga pendidikan Islam dan para pakar Muslim masih belum juga memanfaatkan peluang baru ini. Padahal sejumlah fenomena ke-Islaman sudah di praktekkan di dunia online seperti Dakwah, pendidikan, dan berbagai aktifitas sosial ke-Islaman lainnya. Tulisan ini mengkaji mengapa lembaga pendidikan Islam dan para ahli Muslim sudah harus merubah paradigma penelitian mereka dengan beralih ke dunia online sebagai tempat baru untuk melakukan penelitian. Tulisan ini menyimpulkan agar lembaga pendidikan Islam dan para ahli Muslim untuk mempertimbangkan strategi baru dalampengumpulan data dan trianggulasi guna memperkaya hasil dan paradigma penelitian baik untuk penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Tulisan ini juga menyajikan sejumlah keuntungan dari pemanfaatan dunia online sebagai karena baru penelitian. Sejumlah argumen dan contoh-contoh juga disajikan guna memperkuat hasil penelitian ini. Tulisan ini juga menyarankan agar kedepan ada penelitian lain yang menggunakan data empiris terkait perlunyapemanfaatan dunia online dalam penelitian terkait Islam.
  • Healthy-minded religious phenomenon in shalawatan: a study on the three majelis shalawat in Java

    Aryani, Sekar Ayu (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2017-06-01)
    As a movement, majelis shalawat becomes religious phenomenon that recently flourish in Indonesia, particularly Java. It emerges as urban spirituality like majelis dzikir that previously popular among people. However majelis shalawat is dissimilar with majelis dzikir due to its characters are not sadness, sorrow, and crying; it prefer to express happiness, cheerful, and enjoying religion. These characters indicate a Healthy-minded religious phenomenon, a term which is came  originally from William James and popularized by W.H.Clark. Among many majelis shalawat groups ini Indonesia, the three most famous and biggest are Majelis Shalawat Habib Syech (Surakarta), Habib Luthfi (Pekalongan), and Maiyah Cak Nun (Yogyakarta). This research explores characteristics of majelis shalawat that indicate healthy-mindedness. Furthermore, it also discovers various motivations that lead people (jamaah) to follow the majelis shalawat. Conducting qualitative method and Psychology of Religion approach, and employing interview and observation as method for data gathering, it results several findings. First, as a religious activity, shalawatan reallydepends on the role of its charismatic leader. The charisma of Habib Luthfi, Habib Syech, and Cak Nun is the main attractive factor for jamaah to come. It ; "> is because the charismatic leaders have deep understanding of religious knowledge and they also are blessed with certain talent such as beautiful voice and having good skill on music. Besides that, the leaders are often giving smart joke. Second, through shalawatan, people feel happiness and optimistic to face their life, preferring extrovert attitudes, have more free theology, and feels conducive atmosphere for their religious growth. Those are evidences that majelis shalawat has healthy-mindedness characters. Third, people motivation also in in attending majlis shalawat consist of religious escapism, strengthening solidarity and ukhuwah islamiyah, to learn more religious knowledge (thalabul ‘ilmi), and to gain religious transformation.Majelis shalawat sebagai sebuah gerakan merupakan fenomena keagamaan yang marak di Indonesia khususnya Jawa. Kehadirannya lebih sebagai spiritualitas urban namun tampil berbeda jika dibandingkan majelis dzikir yang terlebih dahulu populer. Majelis shalawat tidak menunjukkan cirri sendu, muram, dan tangisan seperti majelis dzikir, namun justru memperlihatkan cirri bahagia, senang, dan menikmati agama. Karakteristik beragama yang demikian oleh Clark dan William James disebut healthy mindedness. Dari beberapa majelis shalawat di Indonesia, tiga yang terbesar adalah Majelis Shalawat Habib Syech (Surakarta), Habib Luthfi (Pekalongan), Maiyah Cak Nun (Yogyakarta). Penelitian ini menelusuri apa saja karakteristik majelis shalawat yang merupakan indikasi healthymindedness, kemudian mengungkap pula ragam motivasi yang mendorong jamaah mengikuti majelis shalawat. Dengan menerapkan metode kualitatif dan pendekatan Psikologi Agama, dan dengan interview serta observasi sebagai alat utama pengumpulan data, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, sebagai sebuah aktifitas keagamaan, majelis shalawat cukup bergantung dari peran sang tokoh utama pemimpin majelis shalawat. Karisma Habib Luthfi, Habib Syech, dan Cak Nun merupakan daya tarik terbesar bagi jamaah. Hal ini karena selain memiliki kedalaman ilmu agama, para pemimpin karismatik tersebut juga diberkahi dengan kemerduan suara dan kemampuan bermusik, bahkan humor cerdas juga sering muncul sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah. Kedua, dengan mengikuti majeliss halawat, jamaah merasakan kebahagiaan dan optimism dalam menatap kehidupan, mereka bersikap lebih ekstrovet, berteologi secara lebih bebas, dan merasakan situasi yang mendukung untuk perkembangan keberagamaan mereka. Hal-hal tersebut menandakan bahwa majelis shalawat memiliki karakter healthy-mindedness. Ketiga, motivasi jamaah dalam mengikuti majlis shalawat, yaitu untuk mendapatkan jalan keluar yang agamis, menguatkansilaturahim dan ukhuwah islamiyah, mencari ilmu(thalabul ‘ilmi), dan untukmencapai transformasi keagamaan. 

View more