• Public sphere contestation: configuration of political Islam in contemporary Indonesia

      Qodir, Zuly (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
      Argument in this paper draws upon Habermasian understanding of the distinctionbetween private and public sphere. Public sphere is understood as openspace that various social and cultural forces seek to define and occupy by ways ofrational interests and public reason. Such attempts take place on daily basis andtaken by groups of different backgrounds and interests. Private sphere, in contrast,is conceived of as having domestic or individual characteristics and, moreor less, non-political. It is within this framework that the continuing presence ofmultiple variants of political Islam in Indonesia has been a manifestation of contestationover public sphere. Diverse variants of Indonesian political Islam revealthe difference between actors and issues in the dynamics of their contention.However, evidence makes clear that variants of both political and popular Islamhave been more dominant than other Islamic variants such progressive and neotraditionalistIslam. This study argues that mode of Islamic articulations in Indonesiais now more diverse as the it has developed not only in the articulatoryforms of modernist, revivalist and traditionalist but also progressive, neo-traditionalistand popular Islam.Tulisan ini didasarkan pada kerangka ruang publik Jurgen Hubermas yangmembedakan ruang privat dan ruang politik (publik). Ruang publik merupakanruang yang terbuka untuk diperebutkan oleh siapa pun dan kapan pun. Sementararuang privat merupakan ruang yang bersifat domestic (individual) tidak berdimensipolitik secara dominan. Dalam persepktif semacam itu, hadirnya varian-varianIslam Indonesia merupakan bentuk kontestasi atas ruang publik yang terbukauntuk siapapun. Dari varian-varian Islam Indonesia, ada perbedaan aktor danisu yang dikembangkan dalam kontestasi publik. Hanya saja kontestasi varianIslam politik dan popular mendapatkan ruang lebih dominan ketimbang varianIslam lain seperti progresif atau neo-tradisionalisme. Kajian ini menunjukkanbahwa Islam Indonesia tengah mengalami perkembangan format artikulasi yangsangat beragam. Islam Indonesia tidak hanya berkembang dalam formatmodernis, revivalis, tradisionalisme, tetapi sekaligus progresif, neo-tradisionalisdan popular Islam. 
    • Prophetic social sciences: toward an Islamic-based transformative social sciences

      ZTF, Pradana Boy (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
      This article discusses of one of the most important type of social sciences developedin Indonesian context. In the midst of debate between Western secularsocial sciences and Islamic social sciences, Kuntowijoyo offered a genuine yetcritical formula of social sciences. The formula called Ilmu Sosial Profetik (ISP)attempted to build a bridge between secular social science and Islamic inclinationof social science. This article describes the position of ISP in the context ofcritical position of Muslim social scientists on the hegemony and domination ofOrientalist tendency in studying Islam. At the end, the author offers a conclusionthat ISP can actually be regarded as Islamic-based transformative science thatcan be further developed for a genuine indigenous theory of social sciences fromthe Third World.Artikel ini membahas salah satu tipe paling penting dari ilmu-ilmu sosial yangdikembangkan dalam konteks Indonesia. Di tengah perdebatan antara ilmu-ilmusosial Barat sekuler dan ilmu social Islam, Kuntowijoyo menawarkan formulayang orisinal dan kritis dalam ilmu sosial. Formula yang kemudian disebut denganIlmu Sosial Profetik (ISP) berusaha untuk membangun jembatan antara ilmu sosial sekuler dan kecenderungan untuk melakukan Islamisasi ilmu sosial. Artikelini menjelaskan posisi ISP dalam konteks posisi kritis ilmuwan sosial Muslim padahegemoni dan dominasi kecenderungan orientalis dalam mempelajari Islam. Padaakhirnya, penulis menawarkan kesimpulan bahwa ISP sebenarnya dapat dianggapsebagai ilmu sosial transformatif berbasis Islam yang dapat dikembangkan lebihlanjut sebagai teori sosial yang berkembang dari Dunia Ketiga.
    • A survey on the development of Islamic higher education in Indonesia: an epistemological review

      Sa'adi, Sa'adi (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
      Social changes, development and advancement of humans’ culture influence educationas inseparable aspect of human life. In line with Islamic higher educationmany thinkers proposed their ideas of how to formulate its appropriate epistemologicalbackground in different views. There are some notable persons forthis field, such as Iqbal, Fazlur Rahman, Afzalur Rahman, Al-Faruqi which tosome extent parallel or influence Indonesian thinkers’ such as Mukti Ali, HarunNasution, Cak Nur, Amin Abdullah, etc. Some are still at the level of speculativethought, while others have applied their ideas in educational institutions, likeAmin Abdullah and Imam Suprayoga.Perubahan sosial, perkembangan dan kemajuan kebudayaan umat manusiamemengaruhi pendidikan yang merupakan bidang yang tak terpisahkan darikehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal pendidikan tinggi Islam, para pemikirmengajukan berbagai gagasan mereka tentang bagaimana merumuskan dasardasarepistemologinya yang paling tepat. Ada beberapa tokoh pemikir pentingyang perlu dicatat (dari luar negeri) dalam hal ini seperti Iqbal, Fazlur Rahman, Afzalur Rahman, al-Faruqi, yang dalam batas tertentu secara paralel ataumemengaruhi para pemikir Indonesia seperti Mukti Ali, Harun Nasution, Cak Nur,Amin Abdullah dan Imam Suprayoga. Sebagian dari pemikir tersebut masih padadataran pemikiran spekulatif, sementara yang lain sudah mengaktualisasikannyadalam implementasi kelembagaan pendidikan tinggi Islam, seperti Amin Abdullahdan Imam Suprayoga.
    • Muslim diversity: Islam and local tradition in Java and Sulawesi, Indonesia

      Ali, Muhammad (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
      Based on some historical and anthropological accounts, this article examines adynamic interplay between Islam and local tradition in Indonesia with specialreference to Java and Sulawesi. It explains how local Muslims differed in theirinterpretation and application of Islam. It looks at processes of religious changeas a world religion interacts with local forces. The “localization” of Islam was aconstant feature in the expansion of Islam beyond the Arab homeland, includingSoutheast Asia. Based on the framework of ‘practical Islam’, rather than ‘normativeIslam’, and on the framework of both accommodation and conflict betweenshari’ah and adat as a whole system, rather than as separate entities, it providesa greater variety of Islamic beliefs and experiences. Comparatively, Javanesepeople have been more diverse than Sulawesi people in terms of religious spectrum;Muslims in Java have incorporated animism, Hinduism, Buddhism, andIslam into their culture system. Stories about the nine saints show how earlyIslamic preachers sought to accommodate Islam with local traditions. In Sulawesi,Dato ri Bandang and the other teachers, representing the elite aristocracy whoattempted to Islamize the kingdoms and the people alike and Syeikh Yusuf, representinga strict kind of Islam, show diversity but tends to suggest a less diversepicture, when compared to Java. Despite internal diversity in Java as well as inSulawesi, Java has remained more open and tolerant with cultural diversity,whereas Sulawesi has increasingly become more legalistic. Berdasarkan kajian sejarah dan antropologis, artikel ini membahas hubungandinamis antara Islam dan budaya lokal di Indonesia dengan rujukan khusus padaJawa dan Sulawesi. Artikel ini menjelaskan bagaimana orang Islam lokal berbedadalam memahami dan menerapkan Islam. Artikel ini melihat proses-prosesperubahan keagamaan ketika agama dunia bergumul dengan kekuatan-kekuatanlokal. Lokalisasi Islam adalah ciri tetap dalam penyebaran Islam melampaui tanahArab, termasuk Asia Tenggara. Berdasarkan kerangka “Islam sebagaimana yangdipraktekkan” (‘Islam praktikal’), bukan ‘Islam normatif’ dan kerangka akomodasidan konflik antara syari’ah dan adat sebagai sistem yang menyeluruh, bukanrealitas yang terpisah, artikel ini menawarkan kemajemukan kepercayaan danpengalaman Islam. Secara komparatif, orang-orang Jawa lebih majemuk daripadaorang-orang Sulawesi dalam hal spektrum keagamaan. Orang-orang Islam diJawa memasukkan animism, agama Hindu dan Buddha, dan Islam kedalamsistem budaya mereka. Cerita-cerita tentang wali songo menunjukkan bagaimanapenyebar-penyebar Islam awal berusaha mengakomodasi Islam dengan budayabudayalokal. Di Sulawesi, Dato ri Bandang dan guru-guru lainnya, yang mewakilikaum bangsawan yang berusaha melakukan pengislaman kerajaan-kerajaan danorang-orang, dan Syeikh Yusuf yang mewakili kaum yang lebih tegas, menunjukkankeragaman keagamaan, namun tidak semajemuk di Jawa. Meskipun adakemajemukan di Jawa dan di Sulawesi, Jawa tampaknya lebih terbuka dan tolerandengan perbedaan budaya, sedangkan Sulawesi menunjukkan kecenderunganyang legalistik. Namun demikian, keagamaan jangan dipahami bersifat statis,liner, lengkap, dan selesai.
    • Islamic welfare system dealing with the poor in rural area

      Zakiyah, Zakiyah (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
      This paper try to review the practice of Islamic welfare system (such as zaka,waqf, shadaqa, infaq, hibah and qurban) dealing with poor people in rural area.Then, this study looks at four main issues, namely how the structure of thecommitee, the management of such system, fund rising strategy, and peopleaccessibility to this welfare system. In order to deal with this, it is used someframeworks namely; firstly, the welfare strategy as proposed by Spicker (1995)including economic production, redistribution, and solidarity. Secondly, the conceptof welfare offered by Azmi (1991), Midgley (1997), and Zastrow (2004).This research took place in North and South Wonorejo, a village located in Magelangdistrict, Central Java. Finding of this research shows that this scheme has operatedconventionaly and has not contributed much on enhancing people welfare.There is no formal institution that organizes all element of such scheme. As thesocial welfare institution, this system ideally offers program, benefits and servicesthat help people meets those social, economic, educational and health needs.However, there is no specific program for the poor people offered by the committeeof the Islamic welfare scheme. Studi ini berusaha mengkaji praktik system kesejahteraan dalam Islam (sepertizakat, wakaf, shadaqah, infak, hibah dan qurban) dalam hubungannya denganmasyarakat miskin di wilayah pedesaan. Kajian melihat empat persoalan utama,yakni bagaimana struktur panitia, pengelolaan sistem kesejahteraan, strategipengumpulan dana, dan akses masyarakat terhadap sistem tersebut. Untukmenjawab persoalan ini, kajian mempergunakan kerangka kerja antara lain strategikesejahteraan sebagaimana diusulkan Spicker (1995) termasuk produksi,redsitribusi, dan solidaritas ekonomi, dan konsep kesejahteraan sebagaimanadikemukakan Azmi (1991), Midgley (1997), dan Zastrow (2004). Kajian inidilakukan di Desa Wonorejo Utara dan Selatan, Magelang, Jawa Tengah. Kajianini menemukan antara lain: skema kesejahteraan masih dilakukan secarakonvensional dan tidak banyak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.Tidak ada lembaga resmi yang mengorganisir semua unsur dalam skema tersebut.Sebagai lembaga kesejahteraan sosial, sistem ini idealnya menawarkan program,manfaat dan layanan yang menolong masyarakat dalam memenuhikebutuhan-kebutuhan ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan. Namundemikian, tidak ada program khusus bagi masyarakat miskin yang ditawarkanoleh pengelola skema kesejahteraan Islam.
    • The concept of religious pluralism in Indonesia: a study of the MUI’s fatwa and the debate among Muslim scholars

      Basya, Muhammad Hilaly (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-06-01)
      In 2005 The Council of Indonesian Ulama (MUI) issued a controversial fatwa. Thefatwa states that it is prohibited for Muslims to develop the ideas of religiouspluralism. The fatwa had provoked heat debate among Indonesian Muslim scholars.For the opponent of the fatwa, the modern Indonesian state should be supportedby the ideas of pluralism. They are disappointed with the fatwa, since itwould diminish religious pluralism in Indonesia. On the other hand, the protagonistof the fatwa said that the MUI has done good decision. The ideas of pluralismare seen by them would threaten Islamic faith. They believed that those whocampaigned for the idea of pluralism are the agent for “western” interest. Thedebate regarding the MUI’s fatwa banning Muslims to adopt pluralism ideas indicatesthat the concept of pluralism campaigned by some Muslim scholars is notmonolithic. This paper would like to explore various conceptions of religious pluralismamong Indonesian Muslim scholars.Pada 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah fatwakontroversial. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bagi kaum Muslim untukmengembangkan gagasan-gagasan tentang pluralisme agama. Fatwa telahmengundang perdebatan panas di kalangan sarjana Muslim Indonesia. Bagi parapenentang fatwa, Negara Indonesia modern harus didukung dengan gagasanpluralisme. Mereka kecewa atas fatwa karena telah mengurangi pluralismekeagamaan di Indonesia. Di sisi lain, para pendukung fatwa menyatakan bahwaMUI telah mengeluarkan keputusan yang benar. Bagi mereka, gagasan pluralismeakan mengancam keimanan Islam. Mereka yakin bahwa orang-orang yangmengampanyekan gagasan tentang pluralisme merupakan agen kepentinganBarat. Perdebatan mengenai fatwa MUI yang melarang kaum Muslim mengadopsigagasan pluralisme menunjukkan bahwa konsep pluralisme yang dikampanyekansebagian sarjana Muslim tidaklah monolitik. Kajian ini akan mengeksplorasiberbagai konsep pluralisme keagamaan di kalangan sarjana Muslim Indonesia. 
    • Al-jamiat al-islamiyah wa dawruha al-raid fi al-Tarbiyah wa Tanmiyah al-Thaqafah

      Maesur, Sidqon (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      Islamic University has become a pioneer in the field of education and cultural development for years. The material taught includes Humanities, sociology and various applied science. Some earlier Islamic universities in the past are the University of al-Azhar, Fusthat, Qurawiyin, Mustanshiriyah, Nidhamiyah, and Qordoba. The former Islamic scholars actively created new theories which have not been existed before. Similarly Islamic Univiersities in any level have important role in the development of culture through a variety of programs, by preparing cadres who have scientific competence so that they are ready in the dissemination of Islamic culture that aims to build an ideal and realistic Islamic society and realistic       
    • Muslim localizing democracy:a non-pesantren village in Madura as a preliminary study

      Saputro, Muhammad Endy (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      The political dynamic of village in Indonesian New Order has two faces. On onehand, it is conditioned by the feudalism of village’s leader which is monopolizedfrom one generation to other generations. On the other hand, religion can be analternative to challenge this feudalism. I explore this condition through an examinationof the role of kalebun (the village’s leader) and kiai in a non-pesantrenvillage in Madura, Indonesia. In Madura society, kiai and its pesantren take importantrole in the process of Islamic institutionalization. Yet, in this case, theabsence of pesantren enforces the kiai to be counter-balance of the feudalism ofthe kalebun. And, the kiai claims that this counter-balance is on behalf of democracy.This article concludes with a discussion of the requirement of democracy in “Islamic” local politics as well as in search of good local governance in postIndonesian New Order.Dinamika politik desa pada masa Orde Baru menghadapi dua realitas antagonis.Di satu sisi, pemerintahan desa dimonopoli oleh generasi tertentu yang melahirkanrezim feodal. Seorang Muslim, di lain sisi, berpotensi menjadi elan vital perlawananterhadap feodalisme tersebut. Tulisan ini berupaya menggali dua kenyataantersebut melalui analisis kepemimpinan kalebun (kepala desa) dan kiai di sebuahdesa non-pesantren di Madura, Indonesia. Pada jamaknya, dalam masyarakatMadura, kiai dan pesantren memiliki peranan penting dalam prosesinstitusionalisasi Islam. Namun, dalam studi ini, ketiadaan pesantren, membuatkiai (dengan langgarnya) berusaha membendung arus feudalisme kalebun. Sebuahtemuan menarik bahwa perlawanan sang kiai tidak atas nama Islam, tetapi demitegaknya demokratisasi di desa.
    • Democracy in Islam: comparative study of Muhammad Abid al-Jabiri and Abdolkarim Soroush’s thoughts

      Susanto, Happy (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      Using analytic and interpretative approaches, this research compares al-Jabiriand Soroush’s thoughts about democracy in Islam. To assess Islam’s compatibilitywith democracy, this thesis will analyze the issues of authority, sharia, andfreedom according to the two scholars. Al-Jabiri and Soroush agree that theconcept of authority in Islam cannot be interpreted simply as God’s sovereignty,but it also concerns human rights and sovereignty. A leader put justice as his/hercentral concern in practicing policies for citizens. To pursue this hope, they alsopropose that sharia should be reinterpreted in order to be harmonizing in accordancechanging circumstances and time. Al-Jabiri has different understandingwith Soroush about the relationship between religion and state. Al-Jabiri seesthat Muslims are free to choose democracy as their political life. He doesn’tagree the integration of religion and state. In this case, he doesn’t agree theimplementation of sharia in the state. Meanwhile Soroush sees that religion hasan important role in the state, so that he agrees the implementation of shariabecause according to him it supports the political process of the state.Muhammad Abid al-Jabiri dan Abdolkarim Soroush merupakan intelektual Muslimyang memandang bahwa Islam kompatibel dengan demokrasi, dan keduanyatermasuk dalam kelompok moderat. Untuk menguji apakah Islam kompatibeldengan demokrasi, artikel ini menganalisis isu-isu otoritas, syariah, dan kebebasanmenurut pandangan kedua tokoh tersebut. Kedua intelektual itu memilikipandangan filosofis yang sejalan tentang ide demokrasi dalam Islam. Misalnya,konsep otoritas dalam Islam tidak saja dipahami sebagai bentuk kedaulatan Tuhan,namun yang lebih penting bahwa konsep ini juga memerhatikan aspek hak dankedaulatan manusia. Syariah perlu direinterpretasi agar sesuai dengan konteksperubahan zaman dan dapat mengarah pada pencapaian tujuannya. Perbedaankeduanya terletak pada relasi agama-negara. Dalam hal ini, al-Jabiri memilikipandangan yang “liberal” bahwa konsep sebuah negara tidak perlu berdasarkanidentitas agama. Umat Islam diberikan kebebasan penuh untuk menjalankankehidupan politiknya, tanpa terbebani oleh rujukan teks-teks Islam yang masihdiperdebatkan. Dengan demikian, ia memandang bahwa penerapan syariah dalamsebuah negara tidak perlu karena sesungguhnya syariah belum penah diterapkansecara sempurna. Sedangkan Soroush berpandangan sebaliknya bahwa identitasagama perlu ditambatkan ke dalam ide sebuah negara (demokrasi).
    • Debating shura and democracy among British Muslim organizations

      Rahman, Bambang Arif (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      Shura as the system of representation of the Muslim’s voice in, typically, theIslamic state is often confronted with the West representation system namelyDemocracy. Some Islamic scholars believe that Shura is still the best system forMuslims to vote for their need in the state. However, as Islam is not a monolithicdoctrine, some other Muslim groups have another alternative view to representtheir political opinion to the state by, surprisingly, practicing democracy. In brief,Shura is still placed God instructions as the reference of all decisions which aremade in the council. Otherwise, democracy merely stands its policy on the people.Both systems have a long tradition processes to find their recent way in thisglobal age. And the British Muslims have to realize that they live in a developedcountry like Britain and still have to be Muslim. Giving challenging condition, HizbutTahrir, Tablighi Jama’at, and Muslim Council of Britain, three prominent MuslimOrganizations in England, have different attitude towards democratic Britain tovoice their representation. On the one hand, Hizbut Tahrir strictly rejects the ideaof democracy as its goal is to establish the Islamic Caliphate in the world. And onanother hand, Tablighi Jama’at tends to stay away from the political issue, includingits representation, as the core of this organization is only preaching in apeaceful way. Finally, Muslim Council of Britain as the umbrella of small-medium Muslim organizations in England, in fact is involving in the system of British democracy.Shura sebagai sistem perwakilan seringkali diperbandingkan dengan sistemperwakilan Barat, yaitu demokrasi. Beberapa tokoh umat Islam percaya bahwashura masih merupakan sistem perwakilan yang terbaik untuk menyuarakankeinginan umat Islam terhadap negara. Namun demikian, karena Islam bukanmerupakan doktrin yang kaku, ada beberapa kelompok Muslim lain yang memilikipandangan berbeda di dalam mengemukakan aspirasi politiknya terhadap negara,yang justru menggunakan sistem demokrasi. Secara singkat, sistem shura masihmenempatkan ajaran-ajaran Tuhan sebagai acuan untuk memutuskan segalapersoalan dalam dewan. Sedangkan demokrasi membuat kebijakan semata-mataberdasarkan pada suara manusia. Kedua sistem ini memiliki proses tradisionalyang panjang untuk mencapai bentuknya seperti sekarang ini. Sementara itu,Muslim Inggris harus menyadari bahwa mereka hidup di negara maju dan harustetap ber-Islam. Menghadapi kondisi yang menantang ini, tiga organisasi Islamterkemuka di Inggris seperti Hizbut Tahrir, Tablighi Jama’ah, dan Muslim Councilof Britain memiliki sikap berbeda untuk menyatakan suara mereka terhadappemerintah Inggris yang demokratis. Satu sisi, Hizbut Tahrir dengan keras menolakide demokrasi dikarenakan cita-cita mereka adalah mendirikan kekhalifahan Islamdi dunia. Sementara di sisi yang lain, Tablighi Jama’ah cenderung menghindariisu politik, termasuk keterwakilan mereka. Terakhir, Muslim Council of Britainyang merupakan payung bagi organisasi-organisasi Islam kecil-menengah diInggris pada kenyataannya ikut serta di dalam sistem demokrasi Inggris. 
    • Shifting orientation in Sufism: its development and doctrine adjustment in history

      al-haramain, elmansyah (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      One of Islamic cultures that is constantly able to evolve and adapt to the variouscondition is Sufism. In the process of development, Sufism has always been asolution to various issues in society, and it is also aimed at achieving closedrelation to the Lord. Shifting orientation of Sufism has occurred in any kind of itstheology, politics, philosophy, and organization. The present studies of Sufismdevelopment lead to medical issues. Some experts call it Sufi Healing. It isinteresting to discuss it since the shifting orientation brings something positive tothe development of Sufism. However, there are many things that need to bereviewed, namely the provision of the proposition for any behavioral recoverywhich seemed a merely justification. This article is presented by using ahistorical and a phenomenological approach that emphasizes on the existenceof its phenomenon. Through this article, it is expected to obtain an understandingof Sufism and its various efforts in developing the doctrine of al-ihs} an> in Islam inhe context of digital era.Salah satu hasil kebudayaan Islam yang senantiasa mampu berkembang danberadaptasi secara kondisional adalah tasawuf. Dalam proses perkembangannyaitu, tasawuf selalu menjadi solusi bagi pelbagai persoalan masyarakat, dan mengarahkannya pada kedekatan diri dengan Tuhan. Pergeseran orientasi terjadidi setiap perubahan bentuk, mulai dari teologis, politis, filosofis, organisatoris.Studi tentang perkembangan tasawuf akhir-akhir ini, mulai mengarah padapersoalan medis. Para ahli menyebutnya Sufi Healing. Hal ini menarik untukdibahas, karena pergeseran orientasi ini membawa hal positif bagi perkembangantasawuf. Akan tetapi, ada hal yang nampaknya perlu dikaji ulang, yakni pemberiandalil atas setiap perilaku penyembuhan, yang seolah-olah merupakan justifikasibelaka. Tulisan ini disajikan dengan menggunakan pendekatan sejarah; Analisisnyamenggunakan pendekatan fenomenologis. Melalui tulisan ini, diharapkan dapatdiperoleh pemahaman tentang tasawuf dan berbagai upayanya dalammengembangkan ajaran al-ih}sa>n dalam Islam dalam konteks era digital.
    • The global war on terror, American foreign policy, and its impact on Islam and Muslim societies

      Fanani, Ahmad Fuad (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      The global war on terror that was started after 11/9 tragedy has continued untilto date. The global war on terror not only shaped the new political balance in theinternational world, but also influenced the relationships between the U.S. andWestern countries with Muslims countries and Muslims around the world. This isbecause the war on terror has positioned Islam and Muslims in negative imageas the serious threat to the West. Many people stated that the 11/9 tragedy is theevidence of “the clash of civilizations” between Islam and the West. As a result,some observers argue that the war on terror is the war against Islam based onthe clash of civilizations thesis. However, others rebut this argument by explainingthe facts that many Islamic countries supported to the war on terror. In fact,Islam has many schools of thought and cannot be understood in single understanding.Importantly, Islamic extremist movements are not the mainstream groupin Muslims societies. This article will examine the relationship between the waron terror and the clash of civilizations thesis. It also assesses the Islamic worldand Muslims response toward this agenda. It will argue that the war on terror is not war against Islam, but the war against terrorist groups and radical Muslimswhich often hijacked Islam.Perang global atas teror yang diprakarsai Amerika Serikat sebagai tanggapanterhadap tragedi 11 September 2011 terus berlanjut hingga hari ini. Diskursus initidak hanya memengaruhi keseimbangan politik dalam percaturan international,namun juga mempunyai dampak yang signifikan terhadap relasi antara Islamdan Barat. Hal ini karena Islam dan kaum Muslim ditempatkan pada posisi yangnegatif dan menjadi ancaman nyata terhadap Barat. Berkaitan dengan itu,masyarakat banyak yang mempercayai bahwa tragedi 11 September adalah buktinyata dari tesis “benturan peradaban” antara Islam dan Barat. Dalam hal ini,banyak pengamat juga meyakini bahwa the global war on terror adalah perangmelawan Islam berdasarkan analisis benturan peradaban. Namun, sebagianpengamat membantah bahwa perang ini adalah perang melawan Islam denganmenunjukkan bukti banyak negara Muslim yang bergabung dengan agenda ini. Disamping itu, Islam juga mempunyai banyak mazhab pemikiran dan tidak bisadipahami menjadi hanya satu pemahaman. Gerakan Islam ekstremis pun, tidakmenjadi arus utama dalam masyarakat Islam. Artikel ini akan menganalisishubungan antara the global ar on terror dan benturan antarperadaban. Jugaakan dibahas respon dunia Islam dan masyarakat Muslim terhadap agenda globalini. Berkaitan dengan itu, artikel ini akan berargumen bahwa the global waron terror bukanlah perang melawan Islam, namun perang melawan teroris danMuslim radikal yang seringkali membajak Islam.
    • Scholarly feminist versus internet commentator on women issues in Islam

      Nurdin, Ahmad Ali (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2011-12-01)
      This article discusses two different types of contemporary writings both“scholarly feminists” and “internet commentators” on women in Islam;particularly issues related to gender equality such as women’s rights, statusand creation. By comparing two different groups of writers, the objective of thispaper is to discover whether there are significant differences between them onissues of women in Islam, which shed light on modern Islamic thinking. From abrief investigation of several books as representatives of scholarly feminists, andseveral websites, which publish many articles on women in Islam, asrepresentatives of Internet commentators, it is clear that both groups seem tohave similar attitude on the topic. They tried to clarify a common misperceptionof women in Islam which is commonly portrayed to be “a second class”. Moreover,it is clear that the message of ‘Internet commentators’ seem to be moreeffective and more likely to prevail.Artikel ini membahas dua tipe tulisan-tulisan kontemporer, baik dari kalangan“feminis terpelajar” maupun “komentator internet” mengenai perempuan dalam Islam; utamanya berkaitan dengan persoalan-persoalan keadilan gender, sepertihak-hak kaum perempuan, status dan penciptaan mereka. Denganmembandingkan dua kelompok penulis ini, tujuan artikel ini adalah untukmenemukan apakah ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok ini mengenaimasalah-masalah perempuan dalam Islam yang mewarnai pemikiran Islammodern. Dari penelitian singkat atas beberapa karya yang mewakili kaum feministerpelajar dan beberapa websites yang memublikasikan banyak artikel tentangperempuan dalam Islam, sebagai representasi dari komentator internet, jelasbahwa dua kelompok ini memiliki keserupaan sikap atas topik tersebut. Merekamencoba menjelaskan kesalahpahaman umum tentang perempuan dalam Islamyang biasanya digambarkan sebagai “kelas kedua”. Juga tampak bahwa pesandari para komentator internet lebih efektif dan berhasil.
    • The significant role of religious group’s response to natural disaster in Indonesia: the case of Santri Tanggap Bencana (Santana)

      Rokib, Mohammad (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2012-06-01)
      Natural disasters, which occur regularly in Indonesia, have inspired many volunteergroups to emerge from different groups of society, including religious group.This paper focuses on the experiences of the religious volunteer group calledSantana (Islamic student’s response to disaster) in East Java region. The groupis part of Islamic education institution (pesantren) that emphasizes religious aspectsand attempts to realize religious values in everyday life. The group givesreligious meaning to the experience of disaster and the efforts to help disaster victims. The aim of this study is to describe Santana’s response to natural disasteras not only a natural but also a cultural phenomenon. This study reveals alarge number of religious symbols referring to disaster as natural and theologicalphenomena. Referring to the religious text, disaster victims are categorized bySantana as weak people (mustad’afin). It has inspired this group to engage intheir social activism. Their commitment to the religious tenets involves not onlygiving material aid but also promoting spiritual empowerment. This gives insightinto the dynamic of how religious groups manifest their religious values by providingboth material and spiritual aid.Bencana alam yang terjadi hampir setiap tahun di Indonesia telah mendorongkemunculan kelompok relawan dari berbagai elemen masyarakat, termasukkelompok agama. Artikel ini terfokus pada pengalaman relawan dari kelompokagama bernama Santana (santri tanggap bencana) di Jawa Timur. Kelompokrelawan ini merupakan bagian dari lembaga pesantren yang menekankan aspekkeagamaan serta berusaha merealisasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupansehari-hari. Kelompok ini memberikan pemaknaan keagamaan pada kejadianbencana alam sekaligus berusaha menolong korban bencana. Tujuan studi iniadalah mendeskripsikan tanggapan kelompok Santana atas bencana alam yangtidak hanya sebagai kejadian alam melainkan juga fenomena (perubahan)kebudayaan. Artikel ini menyatakan bahwa terdapat sebuah gundukan simbolkeagamaan yang menempatkan bencana sebagai peristiwa alam dan fenomenateologis. Dengan merujuk pada teks keagamaan, korban bencana dikategorikanoleh Santana sebagai orang lemah (Mustad’afin). Konsep ini mendorong merekamelakukan aktivisme sosial. Komitmen mereka atas ajaran agama tidak hanyatelah memunculkan pertolongan material tetapi juga penguatan spiritual parakorban bencana.
    • Islamic eco-cosmology in Ikhwan al-Safa’s view

      Darras, Muhammad Abdullah (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2012-06-01)
      This research aims to describe the root cause of ecological crisis happening atthe moment in terms of the cosmological-metaphysical views, by doing researchon the thoughts of a classical Muslim philosophical scientist group in 10th centuryAD called Ikhwan al-Safa’. To the author, Ikhwan al-Safa’ has a clear idea inviewing the universe holistically and intact as it is. Actually, this non-reductiveview was the typical main feature of medieval Islamic classical thought. However,the main reason of choosing the works of Ikhwan al-Safa’, especially their magnumopus Rasa>’il Ikhwa>n al-S{afa’> , in the research is that Ikhwan al-Safa’ has puta lot of attention on the “wisdom of universe” in the ontological and epistemologicalstructure of knowledge that were developed in their work. With the mainconcepts such Love of Universe and Soul of Universe, Ikhwan al-Safa’ have givena holistic vision about the wisdom of the universe and the wisdom of the environmentitself.Pengkajian dalam artikel ini bertujuan untuk menguraikan akar masalah terjadinyakrisis ekologi yang terjadi saat ini dengan berangkat dari titik pijak berdasarkanperspektif kosmologis-metafisik. Yakni dengan melakukan penelitian terhadappemikiran kosmologi kelompok keilmuan-filosofis muslim klasik abad ke-10 Myang bernama Ikhwan al-Safa’. Bagi penulis, Ikhwan al-Safa’ memiliki pemikiranyang jernih dalam melihat alam semesta. Yakni melihat alam secara holistik dan utuh sebagaimana adanya. Sebenarnya pandangan khas yang non-reduktif inimenjadi ciri utama pemikiran klasik Islam abad pertengahan. Namun pemilihanpenelitian terhadap pemikiran Ikhwan al-Safa’ –terutama dalam karya magnumopusnyaRasa>’il Ikhwa>n al-S{afa>’ ini, lebih disebabkan karena kelompok ini bagipenulis, telah menaruh perhatian yang sangat kuat terhadap “kearifan alam”dalam struktur ontologis dan epistemologis keilmuan yang dikembangkan dalamkarya mereka. Dengan menguraikan beberapa konsep utama dalam kosmologiIkhwan al-Safa’, seperti alam sebagai sebuah kesatuan, jiwa semesta, dan cintasemesta, kita akan melihat bagaimana Ikhwan al-Safa’ memberikan sebuah visiholistik mengenai kearifan alam semesta dan kearifan lingkungan itu sendiri.
    • Religiosity, parties and election: Islamization and democratization in post-Soeharto Indonesia

      Tanthowi, Pramono U (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2012-06-01)
      The political development in Indonesian during the first decade of reform erawitnesses a resurgence of Muslim politics, which had been facing a political impassduring the 1970s and 1980s. In contrast to current political development in theArab World, the resurgence of Muslim politics in Indonesia has been marchinghand in hand with democratization. The blossoming of tens of Islamic politicalparties by no means that they speak with a single voice. Rather, political Islam isnow represented by parties with more diverse platforms. Those parties are notonly varied in their commitment to an Islamist agenda but also strongly dividedon this agenda. Yet, they all welcome and uphold “Muslim” aspirations. As far astheir performance in the 1999 and the 2004 elections is concerned, there was asignificant decline for Muslim politics compared to the first democratic election of1955. The results reflected the minority appeal of Islamism, regardless of boththe fact that the majority of the Indonesians are Muslims and the fact that therehas been increasing Islamic revivalism within Indonesian society.
    • State and Islamic response to the AIDS in Indonesia

      Rahman, Hudriansyah; Faddad, Zaki (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2012-06-01)
      This paper explores the historical narrations of AIDS in Indonesia that shape itsconstruction. It will focus on the relation between Governmental and Islamicresponses to HIV/AIDS. In this research, we will focus on the governmental officialcommission on AIDS prevention (KPA) which is concern about HIV and AIDSand MUI as a government Islamic institution. This paper will argued that theresponses of both parties in the Indonesian “narrations” of HIV/AIDS can influencethe practice of AIDS prevention. Government ways to treat AIDS in Indonesiahave changed overtime in line with the development of medical and socialwork efforts to cope with the problem of HIV/AIDS. However the Islamic institutionresponse in Indonesia does not change anymore and seems not to haveseriously attention in the issue of HIV/AIDS, it can be look from the unchangingMUI’s fatwa which is limited the problem of AIDS solely as morality problemMakalah ini akan menguraikan narasi historis tentang AIDS di Indonesia yangmembentuk konstruksi terhadap penyakit ini. Fokus masalah yang akan ditelitiadalah hubungan antara pemerintah dan kelompok Islam dalam merespon HIV/AIDS. Negara dalam hal ini diwakili oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIIDS) danMUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai institusi Islam di bawah pemerintah.Makalah ini berargumen bahwa respon kedua kelompok tersebut tersaji dalam suatu narasi penjangkitan HIV/AIDS yang berpengaruh terhadap tindakanpenenanganan AIDS di Indonesia. Cara penanganan pemerintah terhadap AIDSdi Indonesia telah berubah sepanjang waktu sejalan dengan perkembangan medisdan upaya-upaya pada ranah pekerjaan sosial dalam mengatasi masalah AIDS.Namun sebaliknya, respon institusi Islam tidak berubah sama sekali, hal ini dapatdilihat dari fatwa MUI yang masih memandang persoalan AIDS sebagai persoalanmoralitas.
    • Managing workforce diversity: an Islamic perspective

      Muhtada, Dani (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2012-06-01)
      Workforce diversity is an inevitable phenomenon of the day. Diversity managementis then developed in response to this reality. The discourse has been widelyimplemented in many western countries and some other countries across theworld. Yet, it does not sound loudly in the Muslim countries. The objective of thispaper is to discover Islamic perspective of workforce diversity management. Theresults show that pluralism and multiculturalism values are strongly promoted inIslamic teaching. Although, some conceptual problems regarding conservativeviews on diversity might constrain diversity workforce management, but a strategicsolution to this issue is not impossible. This paper basically favors the idea ofimplementing the Lewin-Schein change model (i.e., unfreezing – change [moving]– refreezing) for managing diversity in the Muslim society context but with amore focus given to the substantive aspects of diversity management (i.e., elaboratingIslamic values on diversity). The role of such qualified Islamic scholars iscrucial in this regard.Keragaman sumber daya manusia di tempat kerja adalah sebuah fenomena yangtidak terhindarkan dewasa ini. Karena itu, mengelola keragaman secara professionaladalah sebuah keniscayaan. Meskipun diskursus tentang pengelolaankeragaman di tempat kerja bukanlah hal yang baru di dunia Barat, namun dinegara-negara berpenduduk mayoritas muslim praktik dan wacana tentang hal tersebut masih kurang mendapatkan perhatian. Paper ini bertujuan untukmenawarkan konsep manajemen keragaman di tempat kerja dalam perspektifIslam. Paper ini menggarisbawahi bahwa multikulturalisme sesungguhnya memilikitempat yang signifikan dala ajaran Islam. Kendati ada ada persoalan konseptualberkaitan pandangan-pandangan konservatif tentang pluralism danmulrikulturalisme, yang nota bene dapat menghambat efektivitas manajemenkeragaman di dunia Islam, namun persoalan ini bukan tidak dapat dipecahkan.Paper ini berpendapat bahwa framework yang ditawarkan oleh Lewin-Scheintentang pengelolaan keragaman dapat diadaptasi dalam konteks dunia Islamdengan mengelaborasi konsep-konsep ajaran Islam tentang keragaman.
    • Al-Muqarabah al-manhajiyyah bayn al-mi'yariyyah wa al-tarikhiyyah wa atsaruhuma fi al-fkir al-diny: ru'yah naqdiyah

      Tamam, Abas Mansur (IAIN Salatiga, 2012-06-01)
      Dalam diskursus pemikiran modern, pendekatan dan metode menempati posisi problematik karena mampu melahirkan ragam pemikiran akibat ragam pendekatan. Aspek ini juga merupakan dasar bagi orientasi-orientasi pemikran dalam diskursus pemikiran Islam modern. Pendekatan normativisme menjadikan teks-teks al-Qur'an dan hadis pijakan dasar keberagamaan, sementara itu pendekatan historisisme menjadikan realitas sebagai titik tolak bagi keberagamaan. Dalam pandangan penganut pendekatan historisisme, perubahan realitas merupakan pintu masuk bagi relativitas   pemikiran-pemikiran   agama   dan  skeptisisme   bagi   keberadaan sesuatu  yang  mapan seputar  agama.  Sementara  itu,  penganut  pendekatan normativisme,   seiring   dengan  fokus   perhatian   mereka  terhadap   realitas, menolak  kecenderungan pendekatan  historisisme mengingat adanya  prinsip- prinsip mapan dalam agama yang  tidak akan  berubah mengikuti  perubahan waktu dan tempat.  Di samping  itu, ada juga aspek-aspek yang selalu berubah dan tunduk kepada  perubahan waktu dan tempat.
    • Human responsibility towards environment in the Quran

      Wahyudi, Deni (State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga, 2012-12-01)
      The research aims to describe the view of Islam about human relation with theenvironment according to the verses related to the duties and functions of thehuman being. This is interesting issue in the middle of allegations that the religionand the human perspective is one of the roots of the ecological crises thathappen in the world. By doing research on verses on the concept of humanbeing, concept of the environment and interaction between human theenvirontment, wil be drawn islamic teachings on relationship between humanbeing and the environment. The research will figure out comprehensive islamicconcept on the functions and duties of human being toward environment. Islambelieves that man and nature are interdependent and has an obligation to maintainthe balance of nature as manifestation of the faith and at the same time ashis mission as ‘abdulla>h and successor of god (khali>fatulla>h) the earth.Kajian dalam artikel ini bertujuan untuk menguraikan pandangan Islam mengenaiinteraksi manusia dengan lingkungan hidup menurut ayat-ayat terkait tugas danfungsi manusia. Isu ini menarik di tengah tuduhan bahwa agama dan cara pandangmanusia merupakan salah satu akar dari berbagai krisis ekologis yang dihadapioleh dunia. Dengan melakukan kajian terhadap ayat-ayat fungsi dan tugas manusia,pengertian lingkungan hidup dan interaksi antara manusia dan lingkuangannyaakan tergambar ajaran islam tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Dengan menguraikan ayat-ayat yang membahas fungsi dantugas manusia serta ayat yang terkait lingkungan hidup akan tergambar bahwaIslam memiliki pandangan yang komprehensif mengenai hubungan mansuia danlingkungan hidup dan tugas-tugasnya. Islam memandang bahwa manusia danalam merupakan satu kesatuan dan saling tergantung serta memiliki kewajibanuntuk menjaga keseimbangan sebagai manifestasi dari keimanan seorang hambasebagai ‘abdulla>h dan khalifah di muka bumi.