Jurnal Jaffray is a national journal managed by the institution of Jaffray Theological College Makassar, Sulawesi, Indonesia. Jaffray Journal is a double blind reviewer and open access peer-reviewed journal that focuses on the novelty of theology, biblical exegesis and Christian service and education practices through quantitative and qualitative research (hermeneutics, argumentative, and case studies). This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. JAFFRAY JOURNAL has been accredited by The Republic of Indonesia Ministry of Research, Technology and Higher Education and academic journal (Decree No. 21 / E / KPT / 2018). Journal Subjects: 1. Development of theology and religion 2. Bible Interpretation 3. Biblical Study 4. Educational Science Research 5. Christian Education Research 6. Christian Ethics 7. Pastoral Practice 8. Old Testament and New Testament Hermeneutics

News

The Globethics.net library contains articles of Jurnal Jaffray as of 1(2003) to current.

Recent Submissions

  • Magic in Greco-Roman Era: A Historical Context to Understand Magic in the Acts of the Apostles

    Han, Chandra; Universitas Pelita Harapan (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2020-01-23)
    Magic is an important topic in the New Testament but compared to other topics of discussion in New Testament Studies, the significance of the theme of magic has been unjustly undermined as indicated by David E. Aune. From the all eight occurrences of magic in the New Testament, four are found in the Acts of the Apostles. Therefore, the Acts of the Apostles is the most significant source to understand magic in the New Testament. The purpose of this thesis is to demonstrate the significant of magic in the Greco-Roman era as the historical context to understand magic in the Acts of the Apostles. Since Christianity flourished in the Greco-Roman era, the understanding of magic in the Greco-Roman era is significant to understand its confrontation with Christianity in the Acts of the Apostles. This article will analyze mainly the first source of magic in the Greek magical papyri, the definition of magic, its principles, and its spell related to the Acts of the Apostles, and the relation between magic and religion in Greco-Roman Era. The judgment on magic will then be provided in the end of this article as the foundation to further study of the Acts of the Apostles.
  • Peran Orang Tua Tunggal Dalam Membimbing Anak Remaja Mencapai Kualitas Hidup Di Gereja Kibaid Klasis Makassar

    Banni, Yuliana; Selfina, Elisabet (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2011-10-02)
    Berdasarkan pokok masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulis sebagaisasaran dalam penulisan karya ilmiah ini, yaitu:Pertama, agar setiap orang tua tunggalmemahami peranan mereka dalam membimbing anak remaja.Kedua, agar anak-anakremaja dari orang tua tunggal termotivasi untuk mencapai kualitas hidup.Dalam karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagaiberikut:Pertama, metode kepustakaan yaitu penulis mencari dan mengumpulkaninformasi melalui buku-buku yang berkaitan dengan karya ilmiah ini. Menurut asalkatanya kepustakaan berasal dari kata dasar “pustaka”, yang berarti (1) buku-bukukesusastraan; (2) daftar kitab yang dipakai sebagai sumber acuan untuk mengarang, dansebagainya; atau (3) semua buku atau karangan dan tulisan mengenai suatu bidang ilmu,topik, gejala atau kejadian.1 Kedua, penulis menggunakan wawancara kepada orangorangyang dapat melengkapi data yang diperlukan dalam karya ilmiah ini. Wawancaraialah (1) tanya jawab dengan seseorang (pejabat dsb) yang diperlukan untuk dimintaiketerangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dimuat dalam surat kabar,disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi atau untuk kepentinganpenulisan karya ilmiah; (2) tanya jawab direksi (kepala personalia, kepala humas)perusahaan dengan pelamar pekerjaan; (3) tanya jawab peneliti dengan narasumber.2Berdasarkan pembahasan penulis di atas, maka dapat dibuat kesimpulan sebagaiberikut: orang tua tunggal atau single parent Persekutuan Kaum Wanita KIBAID KlasisMakassar adalah mereka yang menyadari sepenuhnya tugas mereka sebagai orang tuayang berperan sebagai ayah dan juga ibu yang mengatur segala sesuatunya di rumah danbertanggung jawab sepenuhnya kepada anak-anak mereka. Orang Tua tunggal atausingle parent Persekutuan Kaum Wanita KIBAID Klasis Makassar sudah sangat baikdalam menjalankan fungsinya sebagai orang tua tunggal bagi anak-anaknya. Sehinggaanak-anak bertumbuh dengan baik dalam mencapai kualitas hidup mereka
  • Tinjauan Teologis Tentang Takut Akan Tuhan Berdasarkan Kitab Amsal Dan Implementasinya Dalam Hidup Kekristenan

    Tampasigi, Ril; Maiaweng, Peniel C.D. (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2012-04-01)
    Sebagai tujuan penelitian adalah Untuk memaparkan konsep Takut akanTUHAN berdasarkan kitab Amsal, Untuk menjelaskan manfaat dari TakutakanTUHAN. Dan Untuk menjelaskan implementasinya dalam kehidupan Kekristenansetiap hari.Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatifyaitu metode penelitian Kepustakaan (library research), terhadap berbagai sumberdata antara lain: Alkitab, tafsiran-tafsiran kitab Amsal dan buku-buku yangmembahas tentang Takut akan TUHAN serta penulis menggunakan metode eksegesis.Yang disusun secara deskriptif untuk mencapai sasaran dan tujuan penulisan.Dalam penelitian ini, ditemukan hasil bahwa Kekristenan seharusnya hidupberdasarkan takut akan TUHAN dengan menyadari akan kemahakuasaan-Nya,kekudusan-Nya, kemahahadiran-Nya dan kemahatahuanNya dalam setiap aspekkehidupan manusia lewat tindakan dan perilaku manusia. Banyak hal dalam duniaini yang akan membuat manusia merasa takut dan gentar, baik itu ketakutanterhadap sesamanya manusia maupun ketakutan terhadap hal-hal yang lainnya.Takutakan TUHAN merupakan suatu perasaan takut yang positif bukan negatif.Takutakan TUHAN bukan seperti perasaan takut yang dialami oleh manusiaterhadap hal-hal yang biasa, tetapi takutakan TUHAN merupakan penghormatanmanusia terhadap TUHAN.
  • The Implementation of Incarnational Mission Among The Bugis Using Cultural Approach

    Kanna, Armin Sukri; Lembaga Penelitian STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-04-01)
    Culture as a medium to develop the cultural and ethnic identity of the Bugis wasmostly denied at the early encounter of Christianity with the indigenous people inSouth Sulawesi. The people who were baptized had been given a new identity to identifytheir Christianity. But on the other hand, it brought them out from their own culturalidentity that had shaped them. In several areas, Western elements influenced them verystrongly, like the dress code, name, and some customary practices in society.The history of Christian mission covers a long period and cannot be separatedfrom the situation that prevailed in it, which can be analyzed through observing thepractices, habits, and concerns of a representative sample of Christians. The diversityand coherence that appeared in every century from the first to the twenty-first of thehistory of Christianity should not be an obstacle in interaction between Christianityand the context. But it will be a media for observing and evaluating the totality ofChristian mission in communicating the Gospel. During this process one can see howthe gospel [Christ] is translated into the local forms and has been absorbed by thebelievers as well as transforming and discipline the believers themselves.The Bugis Christians, in relation with these cultural-religious forms, will beable to bear witness to Christ and present him in the midst of religions and cultures.Thus, Christ can be revealed in every religion and culture as the only Savior – usingthe form and the meaning – but he is not the monopoly of Christians. This emphasizesthe uniqueness and universality of Jesus Christ that God sent his only son to redeemand save human beings who believe in him from all religions and cultures (cf. John 3:16).
  • Penyebab Krisis Identitas Waria

    Weismann, Ivan Th. J; Depilori, Depilori; Lembaga Penelitian STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-04-01)
    Penyebab adanya perilaku waria ini tidak dapat dijelaskan dengan sederhanadikarenakan ada banyak faktor penyebab seperti faktor lingkungan dan pola asuhorang tua yang cenderung mendidik dengan kasih sayang yang berlebihan. Sesuaidengan pokok masalah yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:untuk mengetahui krisis identitas yang dihadapi oleh waria dan mengetahui faktorpenyebab krisis identitas waria.Adapun metode penelitian yang penulis pakai atau gunakan untuk menyusunkarya ilmiah ini adalah: Pertama, metode studi kepustakaan adalah metode di manapenulis mengambil atau mengumpulkan data atau informasi dari buku-bukukepustakaan dan dari bahan-bahan penulisan yang lainnya yang ada kaitannyadengan pokok-pokok bahasan dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang lebihakurat. Kedua, wawancara adalah tanya jawab dalam suatu pertemuan pribadidengan maksud untuk mengumpulkan data yang aktual, yang diperlukan dalampenulisan penelitian ini. Ketiga, Observasi adalah pengamatan yang penulis lakukansaat wawancara berlangsung dan pengumpulan data dari informan.Adapun kesimpulan karya ilmiah ini adalah: Pertama, krisis identitas padawaria disebabkan karena pola asuh orang tua yang salah, yang mendidik anak tidaksesuai gender, anak laki-laki dididik seperti anak perempuan dan sebaliknya.Pemberiaan kasih sayang yang berlebihan, memanjakan anak dengan berdalih anakkesayangan, penolakan-penolakan orang tua yang mengakibatkan anak lari darirumah dan bergaul dengan teman yang salah, orang tua kurang menyadari pentingnyakerohanian anak, yang dapat dimulai dari rumah. Kedua, seseorang menjadi wariadisebabkan karena lingkungan, terlalu banyak bergaul dengan lawan jenis (anak lakilakiteman bergaulnya kebanyakan wanita), berada dalam lingkungan waria danbergaul dengan waria ikut terlibat dalam kegiatan waria.
  • Organizational Justice in Young Churches: Maximizing Fair Treatment of Others and Responding to Violations

    Dunaetz, David R.; Azusa Pacific University (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2020-01-12)
    Organizational justice is the perception that one is being treated fairly in an organization, especially by those who hold power, such as the leaders within a church, both lay and staff. These perceptions of fairness (or lack of fairness) will influence church members’ commitment to, satisfaction with, and involvement in their church, as well as their psychological and spiritual well-being. Young churches are especially susceptible to the consequences of violations of organizational justice because young churches experience frequent changes in programs and delegation of responsibilities. Leaders of young churches should seek to maximize organizational justice, grounded in biblical principles, in order to have a healthy, functional body of believers who work together to serve God. These leaders need to respond to justice violations with humility, managing any conflicts that occur in effective and constructive ways. They must also work to prevent organizational justice violations in young churches from becoming engrained in the churches’ culture.
  • Kajian Kecerdasan Emosional Terhadap Manajemen Konflik Tingkat Pimpinan Di GPT Baithani Denpasar

    Budi, Hengki Irawan S.; Sekolah Tinggi Teologi Pelita Hati Denpasar (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-10-11)
    Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana kecerdasan emosional dipercaya mampu menjadi salah satu alat dalam manajemen konflik dan yang kedua adalah memberikan pemaparan tentang pentingnya manajemen konflik dalam penanganan konflik yang terjadi di Gereja Pentakosta Tabernakel Baithani Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu penulisan yang secara langsung pada sumber data, data yang terkumpul lewat wawancara dan diuraikan secara kalimat dan bukan secara angka, sehingga hasil dari penelitian tersebut akan menghasilkan teori. Implikasi praktis yang dihasilkan adalah setiap pemimpin ketika menjalankan roda kepemimpinan mampu mengelola konflik dengan bijak yang didasarkan dengan manajemen konflik. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin dengan kemampuan mengelola konflik yang terjadi di tubuh organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin yang tidak mengumbar emosi negatif yang mengarah kepada tindakan destruktif. Pemimpin harus memberikan output konstruktif (bersifat membangun).The purpose of this study is to explain how emotional intelligence is believed to be able to be one of the tools in conflict management, and the second is to explain the importance of conflict management in handling conflicts that occur in the Pentecostal Church Baithani Denpasar. This research uses the descriptive qualitative method that is writing directly on the data source, data collected through interviews, and described in sentences and not numbers so that the results of the research will produce a theory. The practical implications presented are that every leader, when running the leadership wheel, can manage conflicts wisely based on conflict management. Successful leaders are leaders with the ability to manage conflicts that occur in the body of the organization they lead. Leaders do not lead to destructive actions. The leader must provide constructive output. The leader must give useful output.
  • Pengaruh Model Mentoring Robert Clinton Terhadap Kecakapan Kepemimpinan Pekerja di GKII Daerah Pontianak

    Herwinesastra, Herwinesastra; Sekolah Tinggi Teologi Pontianak, Kalimantan Barat (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-10-11)
    Penulis memfokuskan penelitian model mentoring terhadap pengembangan kecakapan kepemimpinan pekerja secara khusus pekerja di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Daerah Pontianak. Di samping itu juga penelitian ini diharapkan dapat memberikan teori-teori baru tentang model mentoring untuk pengembangan kecakapan kepemimpinan pekerja dan bahan acuan bagi para pemimpin gereja dalam mengembangkan pemimpin baru untuk meningkatkan pelayanan di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Daerah Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi berganda, analisis korelasi, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi dua variabel, yaitu variabel model mentoring Robert Clinton dan pengembangan kecakapan kepemimpinan yang sangat signifikan.The author focuses the research on the mentoring model on developing workers’ leadership skills, specifically for workers in GKII in the Pontianak site. Besides, this research is also expected to be able to provide new theories about the mentoring model for the development of workers’ leadership skills and reference materials for church leaders in developing new leaders to improve service in GKII in Pontianak. This research is a quantitative study using multiple regression analysis, correlation analysis, and the coefficient of determination. The results showed a correlation between two variables, namely Robert Clinton’s mentoring model variable and the development of essential leadership skills. 
  • Pengaruh Kompetensi Diri Terhadap Kinerja Pekerja GKII Daerah Kota Samarinda

    Lenggan, Lenggan; Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong, Kalimantan Timur (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-10-11)
    Dari hasil penelitian terdapat pengaruh yang positif dan sangat signifikan antara Kompetensi Diridengan Kinerja Pekerja. Hal ini berarti semakin baik kompetensi diri para pekerja GKII Daerah Kota Samarindamaka semakin baik pula kinerjanya. Berdasarkan hasil analisis korelasi antara Dimensi Kompetensi Diri dengan kinerja dan analisis Classification and Regression Trees bahwa Dimensi Kompetensi kepribadian yang paling berpengaruh secara dominan terhadap peningkatan kinerja pekerja. Dengan meningkatkan kompetensi kepribadian menjadi lebih baik dan mampu memberikan keteladanan seperti Kristus dalam pelaksanaan tugas pelayanan maka kinerja pekerja akan semakin meningkat dan menjadi semakin baik.From the results of the study, there is a positive and very significant effect between Self Competence and Worker Performance. It means that the better the competency of the GKII Regional Samarinda City employees, the better the performance. Based on the results of the correlation analysis between the Self Competency Dimensions with performance and Classification and Regression Trees analysis that the Personality Competency Dimensions are the most influential dominantly on increasing employee performance. By increasing personality competencies for the better and being able to exemplify as Christ in the implementation of service duties, the performance of workers will increasingly improve and become better.
  • Analisis Biblika Terhadap Konsep ‘ϵv Χριστω’ (Dalam Kristus) Berdasarkan Surat Efesus 1

    Tacoy, Selvester Melanton (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-10-01)
    Surat Efesus ditulis oleh rasul Paulus. Surat ini ditujukan kepada orang-orang kudus yang percaya kepada Kristus Yesus di Efesus. Secara umum dapat dikatakan bahwa penulis surat ini memberikan penekanan penting tentang karya Allah dalam Kristus Yesus bagi manusia berdosa dan gaya hidup orang percaya yang ada di dalam Kristus. Ungkapan ‘εν Xριστος’ (dalam Kristus) yang digunakan berulang kali oleh penulis dalam Efesus 1 bertujuan untuk merangkum semua hal yang ia bahas dalam suratnya ini dengan maksud menunjukkan posisi sentral Kristus dalam melaksanakan rencana kekal Allah bagi manusia. Oleh penulis surat Efesus, ungkapan ‘εν Xριστος’ (dalam Kristus) dihubungkan dengan berbagai hal seperti, pemilihan Allah, penebusan yang dikerjakan Kristus, serta penyatuan segala ciptaan. Berdasarkan uraian di atas maka sangatlah penting untuk mengadakan penyelidikan mendalam tentang ungkapan ‘εν Xριστος’ (dalam Kristus) tersebut agar diperoleh pemahaman yang utuh tentang berbagai kebenaran yang terkandung di dalamnya.
  • Abraham Inklusif: Sebuah Titik Temu Trialog Agama-agama Abrahamik

    Karman, Yonky; Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-09-30)
    Meski Abraham bapak leluhur agama Yahudi, Kristen, dan Islam, titik-titik temu trialog ketiga agama monoteistis itu dalam praktiknya kurang dielaborasi. Menariknya, definisi agama-agama abrahamik dalam kamus Indonesia sama sekali tidak mencantumkan nama Abraham. Artikel ini memberikan substansi untuk definisi itu dengan fokus pada sosok itu sendiri yang dikenang dalam ketiga agama itu karena keberaniannya untuk mengurbankan sesuatu yang sangat berharga. Abraham yang berkurban bisa menjadi sebuah titik temu inklusif yang mendorong penganut agama masing-masing menjalani kehidupan berkurban untuk kebaikan bersama.
  • Paulus dan Perempuan

    Rouw, Randy Frank; Rouw, Julian Frank; Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara Ungaran (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-09-22)
    Artikel ini berfokus untuk menjawab beberapa pertanyaan meliputi: (1) Siapa rekan-rekan perempuan Paulus? (2) Apa ajaran Paulus untuk istri-istri? (3) Apa ajaran Paulus tentang perempuan dan pelayanannya? (4) Menurut Paulus, apakah perempuan dapat melayani sebagai penilik jemaat? (5) Menurut Paulus, apakah perempuan dapat melayani sebagai diaken? (6) Menurut Paulus, apakah ada perbedaan antara pelayanan laki-laki dan pelayanan perempuan? (7) Apa yang ditulis Paulus mengenai pelayanan perempuan? Tulisan ini tidak berisikan mengenai implikasi atau penerapan ajaran Paulus dalam kehidupan orang percaya. Fokus penulis adalah pembahasan mengenai apa yang Paulus ajarkan mengenai perempuan dan pelayanannya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan dalam pelayanan laki-laki dan pelayanan perempuan menurut Paulus. Ekspektasi Paulus, seorang penilik jemaat adalah seorang laki-laki dan bukan perempuan. Ada larangan juga bagi perempuan untuk mengajar. Namun, perempuan dapat berperan dalam pelayanan diaken. Perempuan juga dapat mendidik perempuan lain yang lebih muda. Berkaitan dengan istri, Paulus menekankan akan ketundukan istri terhadap suami. Bukan bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan. Ini penekanan Paulus bagi istri; istri tunduk kepada suami sebagai wujud perempuan yang takut akan Tuhan. Istri sadar bahwa suami adalah “sumber keberadaan” mereka.
  • Filsafat Ketuhanan Menurut Plato

    Weismann, Ivan Th.J (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-06-01)
    Plato adalah filsuf pertama yang menulis secara filosofis dan secara sistematik teologis mengenai konsep Ketuhanan sehingga dapatlah dikatakan bahwa ia adalah peletqk dasar bagi ilmu teologia dan memberikan pengaruh besar bagi perkembanganfilsafat Barat khususnya tentangkonsep Ketuhanan. Pemikiran Plato tentang Ketuhanan adalah upayanya untuk mereformasi konsep Ketuhanan yang terdapat pada masyarakat Yunani kuno. Tulisan ini berupaya menganalisis dan memahami Ketuhanan menurut Plato agar pembaca masa kini dapat mengerti lebih dalam lagi tentong konsep Ketuhanan yang dipahami masyarakat Yunani kuno dan khususnya menurut Plato, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagifilsafat Ketuhanan pada masa kini. Filsafat Ketuhanan menurut Plato ini penulis jelaskan dengan memperhatikandimensi metafisika, epistemologi, dan etika.
  • Filsafat Ketuhanan Menurut Plato

    Weismann, Ivan Th.J (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-06-01)
    Plato adalah filsuf pertama yang menulis secara filosofis dan secara sistematik teologis mengenai konsep Ketuhanan sehingga dapatlah dikatakan bahwa ia adalah peletqk dasar bagi ilmu teologia dan memberikan pengaruh besar bagi perkembanganfilsafat Barat khususnya tentangkonsep Ketuhanan. Pemikiran Plato tentang Ketuhanan adalah upayanya untuk mereformasi konsep Ketuhanan yang terdapat pada masyarakat Yunani kuno. Tulisan ini berupaya menganalisis dan memahami Ketuhanan menurut Plato agar pembaca masa kini dapat mengerti lebih dalam lagi tentong konsep Ketuhanan yang dipahami masyarakat Yunani kuno dan khususnya menurut Plato, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagifilsafat Ketuhanan pada masa kini. Filsafat Ketuhanan menurut Plato ini penulis jelaskan dengan memperhatikandimensi metafisika, epistemologi, dan etika.
  • The Implementation of Incarnational Mission Among The Bugis Using Cultural Approach

    Sukri, Armin; Lembaga Penelitian STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-04-01)
    Culture as a medium to develop the cultural and ethnic identity of the Bugis wasmostly denied at the early encounter of Christianity with the indigenous people inSouth Sulawesi. The people who were baptized had been given a new identity to identifytheir Christianity. But on the other hand, it brought them out from their own culturalidentity that had shaped them. In several areas, Western elements influenced them verystrongly, like the dress code, name, and some customary practices in society.The history of Christian mission covers a long period and cannot be separatedfrom the situation that prevailed in it, which can be analyzed through observing thepractices, habits, and concerns of a representative sample of Christians. The diversityand coherence that appeared in every century from the first to the twenty-first of thehistory of Christianity should not be an obstacle in interaction between Christianityand the context. But it will be a media for observing and evaluating the totality ofChristian mission in communicating the Gospel. During this process one can see howthe gospel [Christ] is translated into the local forms and has been absorbed by thebelievers as well as transforming and discipline the believers themselves.The Bugis Christians, in relation with these cultural-religious forms, will beable to bear witness to Christ and present him in the midst of religions and cultures.Thus, Christ can be revealed in every religion and culture as the only Savior – usingthe form and the meaning – but he is not the monopoly of Christians. This emphasizesthe uniqueness and universality of Jesus Christ that God sent his only son to redeemand save human beings who believe in him from all religions and cultures (cf. John 3:16).
  • Kerangka Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Berbasis Karakter di Perguruan Tinggi

    Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus; Sidjabat, Binsen Samuel; Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus, Bandung (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-04-05)
    This article proposes a curriculum framework of character based Christian religious education in higher learning institutions. To make it happen, the concept of character education according to the Christian faith is explained, character education in universities is disclosed, and the Christian religious education curriculum framework is described. Then, the author proposes a Christian religious education curriculum framework based on character education.
  • Model Pelatihan Berbasis Produk Untuk Meningkatkan Kinerja Penelitian dan Publikasi Karya Ilmiah

    STT Kharisma Bandung; Simanjuntak, Junihot M; Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung; Sa’ud, Udin Syaefuddin; Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung; Komariah, Aan; Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-04-08)
    This paper aims to develop a product-based training model to improve the performance of research, and publication of scientific work. This research was carried out with R & D covering two stages. In the preliminary study phase, a literature review and field survey were conducted on the training models used so far. At the development stage, drafting the model, validation carried out expertand limited field testing were. Data analysis techniques using thedifferent test techniques Mann-Whitney U test. The R & D results show findings: 1) the training model is carried out through analysis, planning, development, implementation, and evaluation; 2) the validity level of the model is in the good category; and 3) the products produced by lecturers, namely the results of research and publication are higher than before using the model.
  • Perang dalam Perspektif Agama

    Ronda, Daniel (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-01-05)
    Tulisan di majalah TIME 24 Februari 2003 oleh Joe Klein, "TheBlinding Glare of His Certainty" mempertanyakan antara imankepercayaan Bush dengan keinginannya yang menggebu-gebu untukmenyerang Irak, walaupun mendapat tantangan dari masyarakat duniamaupun masyarakatnya sendiri. Apalagi kemudian ia menjadikan ayatayatKitab Suci sebagai alat untuk mengesahkan opininya tentangperlunya menghancurkan terorisme. Tulisan Klein juga mencobamemahami mengapa terjadi perubahan sikap keyakinan di manasewaktu menjadi Gubernur Texas yang banyak memakai kata kasih danhati nurani, dan saat ini berbalik sekali waktu akan menyerang Irak.sekarang bahasa Bush saat ini adalah bahasa arogan dan balas dendamatas serangan. terorisme. Dia menuduh dan berkata, ,,The terroristsbrought this war to us- and now we're takin'back to them.,, Dia jugaberkata kepada para tentara, "We're on the trail, we,re smokin, themout we've got'em on the run." Walaupun demikian, kesimpulan yangdibuat Klein terhadap Bush bahwa sikapnya terhadap perang dan 6alaidendam bukan karena faktor keyakinan imannya ying konservatif.Tetapi agamanya seharusnya bukan hanya membuat seseorangmendapat penghiburan (comfort) dan kekuatan (strength), teta1seharusnya dalam pengambilan keputusan perang, seorang pemimpinharus melihat agama sebagai sumber untuk mendapatkin hikmat(wisdom) sebeium memutuskan menyerang suatu negari.
  • Perang dalam Perspektif Agama

    Ronda, Daniel (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-01-05)
    Tulisan di majalah TIME 24 Februari 2003 oleh Joe Klein, "TheBlinding Glare of His Certainty" mempertanyakan antara imankepercayaan Bush dengan keinginannya yang menggebu-gebu untukmenyerang Irak, walaupun mendapat tantangan dari masyarakat duniamaupun masyarakatnya sendiri. Apalagi kemudian ia menjadikan ayatayatKitab Suci sebagai alat untuk mengesahkan opininya tentangperlunya menghancurkan terorisme. Tulisan Klein juga mencobamemahami mengapa terjadi perubahan sikap keyakinan di manasewaktu menjadi Gubernur Texas yang banyak memakai kata kasih danhati nurani, dan saat ini berbalik sekali waktu akan menyerang Irak.sekarang bahasa Bush saat ini adalah bahasa arogan dan balas dendamatas serangan. terorisme. Dia menuduh dan berkata, ,,The terroristsbrought this war to us- and now we're takin'back to them.,, Dia jugaberkata kepada para tentara, "We're on the trail, we,re smokin, themout we've got'em on the run." Walaupun demikian, kesimpulan yangdibuat Klein terhadap Bush bahwa sikapnya terhadap perang dan 6alaidendam bukan karena faktor keyakinan imannya ying konservatif.Tetapi agamanya seharusnya bukan hanya membuat seseorangmendapat penghiburan (comfort) dan kekuatan (strength), teta1seharusnya dalam pengambilan keputusan perang, seorang pemimpinharus melihat agama sebagai sumber untuk mendapatkin hikmat(wisdom) sebeium memutuskan menyerang suatu negari.
  • Little Book, Big Waves: The Epistle of James and Global Stewardship in Bioethics

    Brake, Lora Jean; Research Departement of STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2016-03-22)
    At first glance the twenty-first century arena of biotechnology and bioethics seems worlds away from the practical concerns of the first century outlook of the New Testament book of James. A closer look, however, reveals that the issues that James addresses have applications to challenges in bioethics. This article will give an overview of James and examine James’ teaching on wealth, poverty, and generosity and its import for the issue of global stewardship in bioethics.  Stewardship concerns both a Christian’s care and management of time, talents, and treasures.  Faithful use of the resources God has given demonstrates the fruitful faith that James writes of in his epistle. The idea of global stewardship, though “stewardship” is grounded in a distinctly Christian ethic, reflects an emerging discussion in bioethics regarding the need to address the inequities present between the money and time spent on biotechnology in some of the world in proportion to the money spent on meeting the basic healthcare needs of the poor of the entire world.  This New Testament epistle gives clear indications of how the Christian is to view wealth and how the Christian is to respond to poverty.  James, though a comparatively small book, sends a crucial message across the years that should greatly impact how Christians view stewardship in terms of global healthcare needs. 

View more