Jurnal Jaffray is a national journal managed by the institution of Jaffray Theological College Makassar, Sulawesi, Indonesia. Jaffray Journal is a double blind reviewer and open access peer-reviewed journal that focuses on the novelty of theology, biblical exegesis and Christian service and education practices through quantitative and qualitative research (hermeneutics, argumentative, and case studies). This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. JAFFRAY JOURNAL has been accredited by The Republic of Indonesia Ministry of Research, Technology and Higher Education and academic journal (Decree No. 21 / E / KPT / 2018). Journal Subjects: 1. Development of theology and religion 2. Bible Interpretation 3. Biblical Study 4. Educational Science Research 5. Christian Education Research 6. Christian Ethics 7. Pastoral Practice 8. Old Testament and New Testament Hermeneutics

News

The Globethics.net library contains articles of Jurnal Jaffray as of 1(2003) to current.

Recent Submissions

  • Filsafat Ketuhanan Menurut Plato

    Weismann, Ivan Th.J (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-06-01)
    Plato adalah filsuf pertama yang menulis secara filosofis dan secara sistematik teologis mengenai konsep Ketuhanan sehingga dapatlah dikatakan bahwa ia adalah peletqk dasar bagi ilmu teologia dan memberikan pengaruh besar bagi perkembanganfilsafat Barat khususnya tentangkonsep Ketuhanan. Pemikiran Plato tentang Ketuhanan adalah upayanya untuk mereformasi konsep Ketuhanan yang terdapat pada masyarakat Yunani kuno. Tulisan ini berupaya menganalisis dan memahami Ketuhanan menurut Plato agar pembaca masa kini dapat mengerti lebih dalam lagi tentong konsep Ketuhanan yang dipahami masyarakat Yunani kuno dan khususnya menurut Plato, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagifilsafat Ketuhanan pada masa kini. Filsafat Ketuhanan menurut Plato ini penulis jelaskan dengan memperhatikandimensi metafisika, epistemologi, dan etika.
  • Filsafat Ketuhanan Menurut Plato

    Weismann, Ivan Th.J (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-06-01)
    Plato adalah filsuf pertama yang menulis secara filosofis dan secara sistematik teologis mengenai konsep Ketuhanan sehingga dapatlah dikatakan bahwa ia adalah peletqk dasar bagi ilmu teologia dan memberikan pengaruh besar bagi perkembanganfilsafat Barat khususnya tentangkonsep Ketuhanan. Pemikiran Plato tentang Ketuhanan adalah upayanya untuk mereformasi konsep Ketuhanan yang terdapat pada masyarakat Yunani kuno. Tulisan ini berupaya menganalisis dan memahami Ketuhanan menurut Plato agar pembaca masa kini dapat mengerti lebih dalam lagi tentong konsep Ketuhanan yang dipahami masyarakat Yunani kuno dan khususnya menurut Plato, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagifilsafat Ketuhanan pada masa kini. Filsafat Ketuhanan menurut Plato ini penulis jelaskan dengan memperhatikandimensi metafisika, epistemologi, dan etika.
  • The Implementation of Incarnational Mission Among The Bugis Using Cultural Approach

    Sukri, Armin; Lembaga Penelitian STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-04-01)
    Culture as a medium to develop the cultural and ethnic identity of the Bugis wasmostly denied at the early encounter of Christianity with the indigenous people inSouth Sulawesi. The people who were baptized had been given a new identity to identifytheir Christianity. But on the other hand, it brought them out from their own culturalidentity that had shaped them. In several areas, Western elements influenced them verystrongly, like the dress code, name, and some customary practices in society.The history of Christian mission covers a long period and cannot be separatedfrom the situation that prevailed in it, which can be analyzed through observing thepractices, habits, and concerns of a representative sample of Christians. The diversityand coherence that appeared in every century from the first to the twenty-first of thehistory of Christianity should not be an obstacle in interaction between Christianityand the context. But it will be a media for observing and evaluating the totality ofChristian mission in communicating the Gospel. During this process one can see howthe gospel [Christ] is translated into the local forms and has been absorbed by thebelievers as well as transforming and discipline the believers themselves.The Bugis Christians, in relation with these cultural-religious forms, will beable to bear witness to Christ and present him in the midst of religions and cultures.Thus, Christ can be revealed in every religion and culture as the only Savior – usingthe form and the meaning – but he is not the monopoly of Christians. This emphasizesthe uniqueness and universality of Jesus Christ that God sent his only son to redeemand save human beings who believe in him from all religions and cultures (cf. John 3:16).
  • Kerangka Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Berbasis Karakter di Perguruan Tinggi

    Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus; Sidjabat, Binsen Samuel; Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus, Bandung (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-04-05)
    This article proposes a curriculum framework of character based Christian religious education in higher learning institutions. To make it happen, the concept of character education according to the Christian faith is explained, character education in universities is disclosed, and the Christian religious education curriculum framework is described. Then, the author proposes a Christian religious education curriculum framework based on character education.
  • Model Pelatihan Berbasis Produk Untuk Meningkatkan Kinerja Penelitian dan Publikasi Karya Ilmiah

    STT Kharisma Bandung; Simanjuntak, Junihot M; Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung; Sa’ud, Udin Syaefuddin; Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung; Komariah, Aan; Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019-04-08)
    This paper aims to develop a product-based training model to improve the performance of research, and publication of scientific work. This research was carried out with R & D covering two stages. In the preliminary study phase, a literature review and field survey were conducted on the training models used so far. At the development stage, drafting the model, validation carried out expertand limited field testing were. Data analysis techniques using thedifferent test techniques Mann-Whitney U test. The R & D results show findings: 1) the training model is carried out through analysis, planning, development, implementation, and evaluation; 2) the validity level of the model is in the good category; and 3) the products produced by lecturers, namely the results of research and publication are higher than before using the model.
  • Perang dalam Perspektif Agama

    Ronda, Daniel (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-01-05)
    Tulisan di majalah TIME 24 Februari 2003 oleh Joe Klein, "TheBlinding Glare of His Certainty" mempertanyakan antara imankepercayaan Bush dengan keinginannya yang menggebu-gebu untukmenyerang Irak, walaupun mendapat tantangan dari masyarakat duniamaupun masyarakatnya sendiri. Apalagi kemudian ia menjadikan ayatayatKitab Suci sebagai alat untuk mengesahkan opininya tentangperlunya menghancurkan terorisme. Tulisan Klein juga mencobamemahami mengapa terjadi perubahan sikap keyakinan di manasewaktu menjadi Gubernur Texas yang banyak memakai kata kasih danhati nurani, dan saat ini berbalik sekali waktu akan menyerang Irak.sekarang bahasa Bush saat ini adalah bahasa arogan dan balas dendamatas serangan. terorisme. Dia menuduh dan berkata, ,,The terroristsbrought this war to us- and now we're takin'back to them.,, Dia jugaberkata kepada para tentara, "We're on the trail, we,re smokin, themout we've got'em on the run." Walaupun demikian, kesimpulan yangdibuat Klein terhadap Bush bahwa sikapnya terhadap perang dan 6alaidendam bukan karena faktor keyakinan imannya ying konservatif.Tetapi agamanya seharusnya bukan hanya membuat seseorangmendapat penghiburan (comfort) dan kekuatan (strength), teta1seharusnya dalam pengambilan keputusan perang, seorang pemimpinharus melihat agama sebagai sumber untuk mendapatkin hikmat(wisdom) sebeium memutuskan menyerang suatu negari.
  • Perang dalam Perspektif Agama

    Ronda, Daniel (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2005-01-05)
    Tulisan di majalah TIME 24 Februari 2003 oleh Joe Klein, "TheBlinding Glare of His Certainty" mempertanyakan antara imankepercayaan Bush dengan keinginannya yang menggebu-gebu untukmenyerang Irak, walaupun mendapat tantangan dari masyarakat duniamaupun masyarakatnya sendiri. Apalagi kemudian ia menjadikan ayatayatKitab Suci sebagai alat untuk mengesahkan opininya tentangperlunya menghancurkan terorisme. Tulisan Klein juga mencobamemahami mengapa terjadi perubahan sikap keyakinan di manasewaktu menjadi Gubernur Texas yang banyak memakai kata kasih danhati nurani, dan saat ini berbalik sekali waktu akan menyerang Irak.sekarang bahasa Bush saat ini adalah bahasa arogan dan balas dendamatas serangan. terorisme. Dia menuduh dan berkata, ,,The terroristsbrought this war to us- and now we're takin'back to them.,, Dia jugaberkata kepada para tentara, "We're on the trail, we,re smokin, themout we've got'em on the run." Walaupun demikian, kesimpulan yangdibuat Klein terhadap Bush bahwa sikapnya terhadap perang dan 6alaidendam bukan karena faktor keyakinan imannya ying konservatif.Tetapi agamanya seharusnya bukan hanya membuat seseorangmendapat penghiburan (comfort) dan kekuatan (strength), teta1seharusnya dalam pengambilan keputusan perang, seorang pemimpinharus melihat agama sebagai sumber untuk mendapatkin hikmat(wisdom) sebeium memutuskan menyerang suatu negari.
  • Analisis Pendayagunaan Karunia-Karunia Roh Terhadap Pertumbuhan Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia El-Shaddai Makassar

    Sumarauw, Johny; Astika, Made (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2015-03-18)
    Pendayagunaan karunia-karunia Roh terhadap pertumbuhan jemaat memiliki dampak pada pertumbuhan gereja secara kuantitas dan kualitas. Penelitian ini dilaksanakan di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) El-Shaddai Makassar dengan tujuan melihat pengaruh pendayagunaan karunia-karunia Roh terhadap pertumbuhan gereja secara kuantitas dan kualitas melalui riset lapangan terhadap jemaat lokal. Kesimpulan penelitian ini adalah: Pertama, pendayagunaan karunia-karunia Roh yang dimiliki oleh setiap orang percaya memiliki satu atau lebih karunia, suatu strategi diperlukan untuk memperkenalkan karunia-karunia Roh melalui khotbah, ceramah, pendalaman Alkitab, sehingga mereka meyakini dan memercayai bahkan dapat menemukan karunianya, kemudian dikelompokkan dalam satu kelompok semua yang memiliki karunia sejenis, dibina, dilatih dan akhirnya ditempatkan pada pelayanan yang sesuai dengan karunianya. Selain itu, faktor-faktor penunjang pelaksanaan strategis pendayagunaan karunia-karunia Roh adalah organisasi yang mantap, menerapkan bimbingan dalam jemaat, dalam hal ini karunia-karunia Roh, serta ketersediaan keuangan, alat-alat dan lapangan pelayanan yang tersedia.The utilization of the gifts of the Spirit for the growth of the church has an impact on church growth in both quantity and quantity.  The research for this article was conducted at the El-Shaddai Church in Makassar of the Pentecostal Church of Indonesia with the purpose of seeing the effect of the utilization of the gifts of the Spirit for both quantitative and qualitative church growth through field research in the local congregation.  The conclusions of this study are:  First, for the utilization of the gifts of the Spirit, of which every believer has one or more, a strategy is needed that introduces the gifts of the Spirit through sermons, lectures, and Bible studies so that they believe and trust that they can find their gift(s). Then they are put in a group together with those that possess the same gift where they are nurtured, trained, and finally they are placed in a ministry in accordance with their gifts.  In addition, the supporting factors of a strategic implementation of the utilization of the gifts of the Spirit are a solid organizational structure, application of nurturing in the church (in this case the gifts of the Spirit), and the availability of finances, equipment, and a place of ministry.
  • Implikasi Konsep Dan Desain Kurikulum Dalam Tugas Pembinaan Warga Jemaat

    Simanjuntak, Junihot M.; STT Kharisma Bandung (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-10-02)
    Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan pentingnya para pendidik Kristen memahami konsep dan desain kurikulum dalam kaitannya dengan tugas pembinaan jemaat dan memaknainya sebagai tugas yang mendesak. Memakai metode deskriptif-analitis, penulis memaparkan konsep pembinaan warga jemaat, konsep dan desain kurikulum dalam pembinaan warga gereja. Hasil studi ini menunjukkan 1) Secara umum konsep pembinaan warga gereja di mana tujuan-tujuan pendidikan Kristen harus dimulai dari penegasan tentang Allah yang diperkenalkan melalui Kristus dalam Alkitab; 2) Konsep dan desain kurikulum dalam pembinaan warga gereja, dengan menyimak begitu banyak segi dari peran kurikulum, maka gereja tidak mungkin lagi mengabaikan tugas ini. Maka guru PAK di sekolah dan perguruan tinggi juga harus memikirkan pengembangan kurikulum. Salah satu aspek penting dari guru berkompetensi ialah kemampuannya dalam memahami, mengelola kurikulum dan pembelajaran. Di gereja, para pengerja dan pemimpinnya harus belajar merencanakan dan mengembangkan kurikulum pelayanan berbagai kategori dan kelompok warga gereja.Kata-kata kunci: konsep, desain, kurikulum, tugas, pembinaan, gereja, warga jemaatThis article aims to explain the importance for Christian educators to understand the concept and design of curriculum in relationship to the task of teaching a congregation and understand it as an urgent task.  Using the descriptive-analytic method, the writer explains the concept of teaching a congregation, and the concept and design of curriculum in teaching a congregation.  The results of this study show 1) Generally, concerning the concept of teaching a congregation, the goals of Christian education must begin with the statement about God, who is known through Christ in the Bible; 2) Concerning the concept and design of curriculum in teaching a congregation, including understanding the many-faceted role of curriculum, the church can no longer neglect this task. Accordingly, Christian education teachers both in schools and universities must think about curriculum development. One of the important aspects of a competent teacher is the capability to comprehend, organize curriculum, and teach.  In the church, the staff and leaders must learn how to plan and develop curriculum to minister to the various categories and groups in the congregation. 
  • Konflik Kebudayaan Menurut Teori Lewis Alfred Coser Dan Relevansinya Dalam Upacara Pemakaman (Rambu Solo’) Di Tana Toraja

    Panggarra, Robi; STT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-10-01)
    Tujuan penulisan ini adalah: untuk menganalisis sejauh mana konflik dalam budaya upacara kematian (Rambu Solo’) Suku Toraja memberi dampak berjalannya fungsi AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latency Patterns Maintenance) dengan baik ataupun memperkuat ingtegrasi di antara kelompok kaya dan miskin, atau kelompok bangsawan dan rakyat jelata ataupun kelompok hamba. Kebudayaan upacara Rambu Solo’ di Tana Toraja jelas memiliki nilai potensi konflik, akan tetapi beberapa nilai integrasi yang diungkapkan oleh Coser memang memberi pengaruh terhadap kesatuan masyarakat Tana Toraja. Di sisi yang lain juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap kesatuan masyarakat Tana Toraja yang tentunya tidak dipahami oleh Coser, yaitu adanya nilai-nilai Tongkonan yang mengikat masyarakat untuk tidak berkonflik. Kata-kata kunci: konflik, kebudayaan, teori Lewis Alfred Coser, upacara, pemakaman, Rambu Solo’, Tana TorajaThe aim of this writing is: to analyze how much the conflict which is in the cultural funeral ritual (Rambu Solo’), of the Torajan ethnic group, impacts the function of AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, and Latency Patterns Maintenance) in a positive manner or evenstrengthens the integration between wealthy and poor groups, or between aristocratic groups and the common people or servants.  The cultural ritual, Rambu Solo’, in the Torajan region clearly possesses the potential for conflict, several integration values, however, which are noted by Lewis Alfred Coser, admittedly influence the unity of the Torajan community.  There exists, however, another factor which strongly influences the unity of the community in the Torajan region which, in fact, was not understood by Coser; that is the presence of Tongkonan values which bind the community so that conflict does not occur. Keywords: conflict, culture, Lewis Alfred Coser’s theory, ritual, funeral, Rambo Solo’, Torajan region
  • Konsep Manusia Baru Berdasarkan Perspektif Paulus Dalam Efesus 4:17-32 Dan Implementasinya Dalam Kehidupan Orang Percaya

    Darius, Darius; Panggarra, Robi (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2013-10-02)
    Tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah: Pertama, menjelaskan konsepbiblika mengenai manusia baru dalam perspektif Efesus pasal 4:17-32. Kedua,menjelaskan implementasi manusia baru dalam kehidupan orang percaya.Penulisan karya ilmiah ini menggunakan hermeneutika metode eksegesisAlkitab dan penelitian literatur, dan teknik pengumpulan data yang digunakan olehpenulis ialah mengadakan penelitian atau observasi terhadap Alkitab, dan sebagaisumber pendukung yaitu buku-buku, majalah, naskah, program bible study, daneksplorasi internet yang ada hubungannya dengan konsep manusia baru.Adapun kesimpulan karya ilmiah “Konsep Manusia Baru BerdasarkanPerspektif Paulus Dalam Efesus 4:17-32 Dan Implementasinya Dalam KehidupanOrang Percaya” adalah: Pertama, manusia lama adalah manusia yang berjalanberdasarkan pengertiannya sendiri, tidak mengenal Allah, memiliki pikiran yang siasia,pengertiannya digelapkan, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, memilikihati yang degil, hati tumpul, sehingga menyerahkan dirinya kepada hawa nafsu danmengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Kedua, manusia baru adalahmanusia yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dankekudusan, di mana orang-orang yang percaya kepada Kristus memiliki kedudukanbaru yaitu dari kebinasaan dipindahkan kepada hidup yang kekal dan manusia yangterus diperbaharui serta dipersatukan dengan Kristus. Ketiga, sebagai manusia barudi dalam Kristus, orang percaya tidak lagi menjadi senjata-senjata kelaliman tetapisebaliknya menjadi senjata-senjata kebenaran dan hidup memuliakan Allah.
  • Pandangan Kontemporer Kerajaan Seribu Tahun Suatu Studi Teologi Perjanjian Baru Tentang Milenium

    Yuliastomo, Nicodemus (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2008-10-01)
    Pembahasan tentang kerajaan seribu tahun selalu dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan: Apakah kerajaan seribu tahun dalam Wahyu 20:1-7 diartikan secara harafiah atau figuratif ? Apakah kerajaan seribu tahun sudah berlangsung sekarang atau nanti sesudah kedatangan Yesus kedua kali ? Sampai sekarang gereja memiliki pemahaman yang tidak sama tentang ajaran ini. Bahkan "hampir dari awal gereja memperdebatkan apakah masa Milenium merupakan periode seribu tahun di akhir zaman menuju kekekalan ? Gereja mula-mula melihat topik ini berdasarkan kepada pertanyaan sentral tentang otoritas dari kitab Wahyu.Sebagai pintu awal pembuka jaian, penulis menganggap bijaksana kalau spirit penulisan tema ini didasarkan kep adaapayang dikatakan George Eldon Ladd: 'Pendekatan yang paling mudah terhadap kitab Wahyu adalah mengikuti tradisi penafsiran tertentu dari seseorangsebagai pandangan yang benar, dan mengesampingkan yang lain; namun penafsiran yang baik harus berupaya mengenal metode-metode penafsir yang lain agar supaya ia dapat menguji dan mempertajam pandangannya sendiri.
  • Pergulatan Filosofis Tentang Theisme dan Atheisme

    Tjahyadi, Sindung (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2009-04-02)
    Theisme merupakan salah satu bagian dari kajian Teologi (harafiah: Theos =Tuhan, Logos = ilmu, pemikiran). Theisme sendiri merupakan suatu paham yangmeyakini Tuhan itu ada.Argumen-argumen yang dibangun untuk membuktikanbahwa Tuhan itu ada, merupakan bagian dari upaya yang dilakukan oleh Teologinarural. Teologi natural merupakan sebuah usaha unruk memperoleh kesimpulan kesimpulanyang bermakna tentang eksistensi Tuhan yang didasarkan hanya padapikiran manusia saja. Teologi natural bersandar pada kemampuan-kemamplankognitif manusia seperti: pengalaman, ingatan, instropeksi, penalaran deduktif,penalaran induktif, dan inferensi, unruk mendapatkan eksplanasi yang paling baikini berbeda dengan Teologi pewahyuan (revealed theolog) yang mendasarkanarumentasinya pada pernyataan-pernyataan yang dinyatakan telah difirmankan olehTuhan atau atas dasar kejadian-kejadian yang dianggap sualu ungkapan dari Tuhan
  • KECIL ITU INDAH, SEHAT & MENARIK (SEBUAH PENGANTAR ANALISIS TEOLOGI PRAKTIS DI SEPUTAR " HEALTH CHURCH GROWTH")

    Tuhumury, Petronella; Lembaga Penelitian STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2009-10-02)
    Adalah kehendak Tuhan yang mutlak bahwa gereja-Nya harus bertumbuh. Tapi pertumbuhan yang dimaksud adalah pertumbuhan yangsehat dan wajar bukan pertumbuhan yang "dikarbit" alias mengikuti "trend" masa kini, tapi justru yang jauh dari sehat. Judul di atas, bukan dimaksudkan sebagai anti pertumbuhan dimensi makro yang berkuantitas besar. Tetapi kuantitas yang dimaksud adalah kuantitas yang berkualitas, sebuah idaman yang menarik, segar dan mengundang simpati (Kis. 2:46-47), bukan sebaliknya yang akhirnya membosankan dan pada ujungnya menciptakan hubungan yang retak, tidak harmonis atau dianggap anti toleransi serta pada akhirnya anti pertumbuhan.
  • Makna Tujuh Ungkapan Yesus Di Salib Bagi Orang Percaya

    Lele, Aldorio Flavius; Ikatan Alumni STFT Jaffray; Panggarra, Robi (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2015-09-29)
    Tujuh perkataan Yesus di kayu salib merupakan tujuh ucapan yang mencakup seluruh pengajaran mengenai kasih Allah bagi manusia. Kasih yang sulit untuk dipahami, sulit untuk dimengerti secara tuntas karena ia melebihi kapasitas serta rasio pemikiran manusia yang terbatas. Pernyataan kasih itu disimpulkan sebagai berikut: Pertama, ucapan pengampunan yang diucapkan Yesus mengajarkan bahwa prinsip pengampunan adalah mengasihi musuh. Mendoakan dan mengharapkan dia bertobat serta mengampuni segala dosa-dosanya bukan berarti membiarkan dia berdosa terus menerus. Ucapan pengampunan yang diucapkan oleh Yesus ialah bukan supaya orang-orang yang didoakan diampuni tanpa pertobatan, tetapi supaya mereka diampuni melalui pertobatan. Kedua, dalam perkataan-Nya yang kedua, Yesus menjamin orang berdosa yang bertobat dan percaya kepada-Nya akan bersama-sama dengan Dia di Firdaus. Seruan jaminan kepastian yang diucapkan Yesus merupakan bentuk kasih yang menyelamatkan. Ketiga, Yesus adalah Allah yang peduli terhadap penderitaan umat yang dikasihi-Nya. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan memiliki tanggung jawab untuk melakukan segala perintah Tuhan dan dalam segala hal mengasihi sesama. Keempat, Seruan ini mengajarkan mengenai kuasa dosa yang dahsyat sehingga Allah Bapa merelakan Anak-Nya yang sangat Ia kasihi, memikul beban dosa tanpa pertolongan dan perlindungan. Kelima, ucapan kelima inilah satu-satunya ucapan yang berhubungan dengan kesakitan jasmani yang Ia ucapkan dari atas kayu salib. Rasa haus Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia. Ia adalah sumber air hidup yang rela menderita agar dapat menyelamatkan mereka yang datang kepada-Nya. Keenam, ucapan keenam ini bukanlah teriakan kekalahan, melainkan teriakan kemenangan. Ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa hingga akhir hidup-Nya menandakan kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia. Inilah kasih yang taat sampai mati. Ketujuh, ucapan terakhir Yesus menjelang kematian-Nya adalah sebuah doa. Di dalam doa-Nya itu Ia mengajarkan orang percaya bagaimana menghadapi kematian. Bentuk kasih yang penuh, terkandung di dalam penyerahan total kepada Allah.The seven statements of Jesus on the cross are seven declarations which encompass all the teachings about God’s love for people. This love is difficult to comprehend, difficult to completely understand because it is beyond the limited capacity, including the reasoning ability of man. These statements can be summarized as follows: First, the pronunciation of forgiveness which Jesus uttered teaches that a principle of forgiveness is loving one’s enemies. Praying and hoping that they repent, as well as forgiving all of their sins, does not mean allowing them to continue to sin. Jesus’ statement about forgiveness was not so that people which are prayed for are forgiven without repentance, but that they are forgiven through repentance. Second, Jesus guarantees that the sinner that repents and believes in him will be together with him in Paradise. Jesus’ statement of certain assurance shows the nature of saving love. Third, Jesus is the God who cares about the sufferings of his people whom he loves. People which genuinely love the Lord have a responsibility to obey all of the Lord’s commands and in everything love their fellow man. Fourth, the fourth appeal teaches about the power of sin which is so devastating that God the Father offered his beloved Son to shoulder the burden of sin without help or support. Fifth, this fifth cry is the only utterance which he makes from the cross which makes reference to his physical pain. Jesus’ thirst shows that he really is man. He is the source of living water who is willing to suffer in order to save those who come to him. Sixth, the sixth declaration is not a cry of defeat, but rather a cry of victory. His obedience to the will of his Father until the end of his life shows the greatness of his love toward people. This is love that is obedient until death. Seventh, the final statement of Jesus before his death is a prayer. In his prayer, he teaches believers how to face death. The nature of a love that is comprehensive is contained in complete surrender to God.
  • “John A. MacMillan: Pioneer Missionary of Spiritual Warfare and the Believer’s Authority”

    King, Paul; Doctoral Dissertation Supervisor/Reader, Alliance Theological Seminary, Nyack, NY. (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2016-01-15)
    Many people associate teaching on spiritual warfare and the authority of the believer from charismatic or Word of Faith sources, especially like Kenneth Hagin. However, the original source of teaching on this doctrine comes from classic holiness roots in the Higher Life and Keswick movements, especially from John A. MacMillan, a missionary, writer, editor, and professor with the Christian and Missionary Alliance. In 1932 he wrote a series of articles entitled “The Authority of the Believer,” eventually published in book form, distributed widely and republished in other periodicals. MacMillan had a remarkable and extensive ministry in the exercise of the authority of the believer and spiritual warfare spanning more than thirty years. His experiences include divine protection, healing, divine intervention, power encounters with demonic forces, and teaching on territorial spirits and generational bondages. Numerous evangelical and charismatic leaders have quoted or referred to his teachings and principles.Banyak orang mengasosiasikan pengajaran peperangan rohani dan otoritas orang percaya dari karismatik atau sumber Firman Iman, terutama seperti Kenneth Hagin. Namun, sumber asli dari pengajaran doktrin ini berasal dari akar kekudusan klasik dalam gerakan Higher Life dan Keswick, terutama dari John A. MacMillan, seorang misionaris, penulis, editor, dan profesor dengan Christian and Missionary Alliance. Pada tahun 1932 ia menulis serangkaian artikel yang berjudul “Otoritas orang percaya,” akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku, didistribusikan secara luas dan diterbitkan di majalah lainnya. MacMillan memiliki pelayanan yang luar biasa dan luas dalam pelaksanaan otoritas orang percaya dan peperangan rohani yang lebih dari tiga puluh tahun. Pengalamannya termasuk perlindungan ilahi, penyembuhan, campur tangan ilahi, pertemuan kuasa dengan kekuatan jahat, dan pengajaran tentang roh teritorial dan perbudakan generasi. Banyak pemimpin injili dan karismatik telah mengutip atau memakai ajaran dan prinsip-prinsipnya. Kata-kata kunci: otoritas percaya, peperangan rohani, hidup tahta, roh teritorial, C &MA, Higher Life, Keswick, karismatik, mengikat dan melepaskan
  • Penyebab Krisis Identitas Waria

    Weismann, Ivan Th. J; Lembaga Penelitian STTFT Jaffray; Depilori, Depilori; Lembaga Penelitian STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2014-04-01)
    Penyebab adanya perilaku waria ini tidak dapat dijelaskan dengan sederhanadikarenakan ada banyak faktor penyebab seperti faktor lingkungan dan pola asuhorang tua yang cenderung mendidik dengan kasih sayang yang berlebihan. Sesuaidengan pokok masalah yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:untuk mengetahui krisis identitas yang dihadapi oleh waria dan mengetahui faktorpenyebab krisis identitas waria.Adapun metode penelitian yang penulis pakai atau gunakan untuk menyusunkarya ilmiah ini adalah: Pertama, metode studi kepustakaan adalah metode di manapenulis mengambil atau mengumpulkan data atau informasi dari buku-bukukepustakaan dan dari bahan-bahan penulisan yang lainnya yang ada kaitannyadengan pokok-pokok bahasan dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang lebihakurat. Kedua, wawancara adalah tanya jawab dalam suatu pertemuan pribadidengan maksud untuk mengumpulkan data yang aktual, yang diperlukan dalampenulisan penelitian ini. Ketiga, Observasi adalah pengamatan yang penulis lakukansaat wawancara berlangsung dan pengumpulan data dari informan.Adapun kesimpulan karya ilmiah ini adalah: Pertama, krisis identitas padawaria disebabkan karena pola asuh orang tua yang salah, yang mendidik anak tidaksesuai gender, anak laki-laki dididik seperti anak perempuan dan sebaliknya.Pemberiaan kasih sayang yang berlebihan, memanjakan anak dengan berdalih anakkesayangan, penolakan-penolakan orang tua yang mengakibatkan anak lari darirumah dan bergaul dengan teman yang salah, orang tua kurang menyadari pentingnyakerohanian anak, yang dapat dimulai dari rumah. Kedua, seseorang menjadi wariadisebabkan karena lingkungan, terlalu banyak bergaul dengan lawan jenis (anak lakilakiteman bergaulnya kebanyakan wanita), berada dalam lingkungan waria danbergaul dengan waria ikut terlibat dalam kegiatan waria.
  • Little Book, Big Waves: The Epistle of James and Global Stewardship in Bioethics

    Brake, Lora Jean; Research Departement of STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2016-03-22)
    At first glance the twenty-first century arena of biotechnology and bioethics seems worlds away from the practical concerns of the first century outlook of the New Testament book of James. A closer look, however, reveals that the issues that James addresses have applications to challenges in bioethics. This article will give an overview of James and examine James’ teaching on wealth, poverty, and generosity and its import for the issue of global stewardship in bioethics.  Stewardship concerns both a Christian’s care and management of time, talents, and treasures.  Faithful use of the resources God has given demonstrates the fruitful faith that James writes of in his epistle. The idea of global stewardship, though “stewardship” is grounded in a distinctly Christian ethic, reflects an emerging discussion in bioethics regarding the need to address the inequities present between the money and time spent on biotechnology in some of the world in proportion to the money spent on meeting the basic healthcare needs of the poor of the entire world.  This New Testament epistle gives clear indications of how the Christian is to view wealth and how the Christian is to respond to poverty.  James, though a comparatively small book, sends a crucial message across the years that should greatly impact how Christians view stewardship in terms of global healthcare needs. 
  • Kajian Teologis Tentang Penyembahan Berdasarkan Injil Yohanes 4:24

    Wijaya, Hengki; Lembaga Penelitian dan Penerbitan STFT Jaffray (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2015-03-16)
    Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui arti penyembahan berdasarkan Injil Yohanes 4:24, implikasi teologis tentang penyembahan, dan sikap dan cara menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Penyembahan yang sejati menurut Alkitab adalah menyembah Allah yang benar di dalam roh yang diperbarui oleh Roh Kudus dan hidup sesuai dengan kebenaran Allah yaitu mengenal pribadi Yesus sebagai air hidup. Implikasi teologis biblika adalah Allah adalah Roh maka Allah harus disembah di dalam roh (batiniah yang diperbarui oleh Roh Kudus), dan bukan disembah secara lahiriah saja atau yang tampak secara jasmani. Allah saja yang harus disembah oleh manusia, tidak ada yang lain. Secara praktis orang percaya harus menyembah Allah dengan sikap yang benar dibarui oleh Roh Kudus dan hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. Sikap penyembahan yang benar adalah sikap hati yang memuliakan Tuhan karena pengorbanan-Nya yang menyelamatkan di mana setiap orang percaya menyembah satu-satunya Juruselamat dan memberitakan-Nya dalam kehidupan orang percaya.The purpose of this article is to understand the meaning of worship based on John 4:24, the theological implication concerning worship and the attitudes and the manner of worshipping the Father in spirit and in truth. True worship from a biblical viewpoint is worshipping the true God with a spirit that is renewed by the Holy Spirit and living in accordance with the truth of God, that is, to know Jesus personally as the Living Water. The implication for biblical theology is that God is Spirit, so God is worshiped in spirit (the inner being that is renewed by the Holy Spirit), and not only worshiped outwardly, in a physical manner. It is God alone that should be worshiped by human beings, there is no other. In practice believers should worship God with a right attitude that is renewed by the Holy Spirit and live in concordance with His righteousness. The attitude of true worship is an attitude of the heart that glorifies the Lord because of His sacrifice that saves, where believers worship the one and only Savior and tell the world about Him.
  • Ibadah Kontemporer: Sebuah Analisis Reflektif Terhadap Lahirnya Budaya Populer Dalam Gereja Masa Kini

    Tumanan, Yohanis Luni (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2015-03-16)
    Ibarat dua buah sisi mata uang, musik dan ibadah tidak dapat dipisahkan dalam sebuah tata ibadah gereja. Ibadah merupakan salah satu cara jemaat untuk berhubungan dengan Pencipta secara dramatis-simbolis. Thomas G. Long mengatakan bahwa konteks bergereja dewasa ini adalah perang gaya baru, yaitu perang ibadah. Fenomena ini dipengaruhi oleh derasnya arus “budaya pop” yang mampir dalam ibadah gereja, yaitu dengan munculnya Christian Contemporary Music (CCM). Hal ini ditandai dengan wajah segar dalam berbagai bidang pelayanan yang peka terhadap pasar (market sensitive) yaitu peka dengan keinginan orang-orang di zaman ini, termasuk ibadah yang ditata untuk menarik pengunjung gereja. Penggunaan musik Kristen kontemporer dengan peralatan combo band, gaya musik dan aransemennya seperti musik populer umumnya tersebut kemudian merefleksikan sebuah ibadah yang disebut sebagai ibadah kontemporer (contemporary worship) yang sifatnya dinamis dan penuh antusiasme. Namun, kita tidak boleh kehilangan nilai-nilai hakiki yaitu kebenaran Alkitab untuk menata dan mengembangkan ibadah gereja dalam menghadapi derasnya arus “budaya pop”.Like two sides of the same coin, music and worship in a church service cannot be separated. Worship is one way for the congregation to relate to the Creator in a dramatic-symbolic manner. Thomas G. Long declares that in the context of the contemporary church there is a new style war, that is the worship war. This phenomena has been influenced by the swift current of  “pop culture” which made its appearancein church worship with the advent of Christian Contemporary Music (CCM). This brought a fresh face to various aspects of ministry which were market sensitive, that is sensitive to the desires of contemporary people, including worship services designed to attract church visitors. Contemporary Christian music uses a full band and the musical style and arrangements of popular music, which is reflected in a worship service called a contemporary worship service whose nature is dynamic and full of enthusiasm. Yet, the Christian church cannot lose essential values, such as using biblical truth as a basis for ordering and developing the church worship service, when facing of the swift current of  “pop culture.”

View more