MIQOT : Journal of Islamic Studies is a peer-reviewed journal, published twice a year [January-June and July-December] by IAIN Press, State Islamic University of North Sumatra, Indonesia. It is available online as open access sources as well as in print. MIQOT: Journal of Islamic Studies publishes articles in the fields of Alquran, hadis, theology, philosophy, tasawuf, law and Islamic economics, education, history, and psychology.

News

The Globethics.net library contains articles of MIQOT as of vol. 32(2008) to current.

Recent Submissions

  • PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

    Universitas Muhammadiyah Tangerang; Mukhtarom, Asrori; Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang; Kurniyati, Ety; Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang; Arwen, Desri; Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Tulisan ini membahas bagaimana perspektif al-Qur’an tentang pendidikan kewarganegaraan. Dengan menggunakan metode tafsir maudhû‘î dan metode historis kritis kontekstual dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah upaya membentuk warga negara yang baik. Menurut al-Qur’an, warga negara yang baik adalah warga yang memiliki hubungan harmonis dengan Tuhan yang diwujudkan dengan sikap takwa dan beriman, memiliki hubungan harmonis sesama manusia yang diwujudkan dengan sikap saling mengenal atau bersaudara dan melaksanakan amar ma‘rûf nahî munkar, serta memiliki hubungan harmonis dengan alam yang diwujudkan dengan penjagaan dan pelestarian lingkungan. Materi pendidikan kewarganegaraan yang diisyaratkan al-Qur’an meliputi hak asasi manusia, persaudaraan, persamaan dan keadilan, serta bela negara berlandaskan nilai-nilai tauhid yang bermuara pada satu tujuan yaitu ibadah kepada Allah.Abstract: Citizenship Education in Qur’anic Perspective. This paper discusses how the Qur’anic perspective on citizenship education. By employing the maudhû‘î exegesis method and critically-contextual-historical method with a qualitative approach, this study reveals that citizenship education is an effort to form good citizens, in a sense those who have a harmonious relationship with God which is manifested by an attitude of piety and faith, have a harmonious relationship with other humans which is realized by the attitude of getting to know each other or brotherhood and carrying out the amar ma‘rûf nahî munkar, and having a harmonious relationship with nature which is realized by safeguarding and preserving the environment. The citizenship education material indicated by the Qur’an includes human rights, brotherhood, equality and justice, and defending the country based on the values of monotheism which lead to one goal, namely worship to Allah.Kata Kunci: pendidikan, kewarganegaraan, al-Qur’an, tafsir
  • DISKURSUS PENAFSIRAN AYAT AL-HURÛF AL-MUQATHTHA‘AH: Studi Analisis Tekstual dan Kontekstual

    Amir, Abdul Muiz; Institut Agama Islam Negeri Kendari; Gunawan, Fahmi; Institut Agama Islam Negeri Kendari (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Al-Hurûf al-muqaththa‘ah di dalam al-Qur’an dipandang oleh sebagian umat Islam tekstualis hanya sebagai simbol yang sakral tanpa makna, sehingga tidak menunjukkan sisi kemanfatannya sebagai pedoman. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna ayat al-hurûf al-muqaththa‘ah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 1., dengan menggunakan metode kajian literatur yang meliputi tafsir, sastra bahasa Arab dan sejarah. Analisis data menggunakan pendekatan gramatikal bahasa Arab secara tekstual dan historis secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-hurûf al-muqaththa‘ah menjadi potret bagi sumber dan proses turunnya al-Qur’an secara autentik yang menunjukkan kelemahan sastra Arab saat berhadapan dengan wahyu. Keistimewaan al-hurûf al-muqaththa‘ah terletak pada nilai sastra dan kedalaman makna yang seyogianya dapat berperan aktif sebagai perekat ayat-ayat al-Qur’an lainnya secara holistik.Abstract: The Interpretation Discourse of Verses of al-Hurûf al-Muqaththa‘ah: Textual and Contextual Analysis. This article aims to reveal the meaning of the verse al-hurûf al-muqaththa‘ah in the Q.S. al-Baqarah/2: 1 by employing a historical and literature review method with textual and historical context grammatical approaches data analysis. The results of the study show that it portray the source and process of authentic Qur’an revelation. The mysterious eloquence of al-hurûf al-muqaththa‘ah lies in the literary value and the depth of meaning even though it consists only of a series of letters. The effort of the commentator to uncover the meaning of the verses of al-hurûf al-muqaththa‘ah should be able to play an active role as the uniting factor for other Qur’anic verses holistically. Therefore, a set of methods or approaches is required that is adequate to uncover the meaning that is in accordance with the thematic contexts of the verse.Kata Kunci: al-hurûf al-muqaththa‘âh, pendekatan tekstual, pendekatan kontekstual, penafsiran, al-Qur’an
  • CULTURAL TRADITIONS IN DEATH RITUALS WITHIN THE COMMUNITY OF PIDIE, ACEH, INDONESIA

    Manan, Abdul; Adab and Humanities Faculty Ar-Raniry State Islamic University Banda Aceh 23111, Indonesia; Arifin, Muhammad; Islamic Business and Economy Faculty Ar-Raniry State Islamic University Banda Aceh 23111, Indonesia (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Tradisi Kultural Kenduri Kematian dalam Masyarakat Pidie Aceh, Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk melihat akulturasi budaya dan agama dalam ritual kematian di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji konsep tasawuf yang terkait dengan tradisi ini. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan datanya diperoleh melalui pengamatan yang cermat dari tindakan ritual dan diskusi mendalam dengan protagonis utama dari kinerja ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual setelah kematian di Aceh masih mengandung jejak warisan pra-Islam yang telah dibiakkan dengan ajaran Islam sehingga tidak melangar aturan Islam. Dalam ritual kematian ini, unsur-unsur pra-Islam, yang bertentangan dengan ajaran Islam, telah diganti dengan doa yang direkomendasikan dalam Islam. Akulturasi ini bermanfaat bagi kedua belah pihak. Masyarakat Aceh dapat terus menerapkan budaya warisan mereka, sementara Islam dapat berkembang tanpa ada kontradiksi dalam budaya lokal.Abstract: This study was conducted to look into the cultural and religious acculturation in the rituals of death in Aceh. It aims to examine the concepts of Sufism related to these traditions. This research is a field research and its data was obtained through meticulous observation of the ritual action and in-depth discussion with the main protagonists of the ritual performance. The results of the research shows that the rituals following a death in Aceh still bear traces of their pre-Islamic legacy, which has been acculturated with the teachings of Islam, so it does not break the rules of Islam. In these rituals for death, the pre-Islamic elements, which conflict with the Islamic creed, have been replaced with prayers, which are recommended in Islam. This acculturation is beneficial to both sides, in one hand the Acehnese people may continue to implement their inherited cultures, while Islam can thrive without having any contradictions within the local cultures on the other. Keywords: tradisi, ritual yang mengikuti kematian, akulturasi, Aceh, Indonesia
  • KONSTRUKSI INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

    Harahap, Musaddad; Universitas Islam Riau (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Kajian ini berupaya menyingkap bagaimana konstruksi integrasi ilmu di Universitas Islam Riau (UIR). Dengan pendekatan metode grounded teory, kajian ini berupaya untuk menguatkan teori tentang integrasi ilmu dengan objek kajiannya di UIR. Data dalam kajian ini diambil dari studi lapangan dan observasi mendalam. Hasil kajian ini mengungkap bahwa konstruksi integrasi ilmu pengetahuan di UIR sejak berdirinya tahun 1962 merupakan cita-cita para pendirinya yang menghendaki kampus ini berasaskan Islam. Secara eksplisit, tema integrasi ilmu pengetahuan dapat dilihat dari rumusan tujuan UIR, yang turunannya telah melahirkan berbagai kebijakan seperti kurikulum pendidikan Islam, Lembaga Dakwah Islam Kampus, pembinaan ke-Islaman dosen dan pengawai, green campus, pembinaan baca tulis al-Qur’an untuk mahasiswa, kajian Islam rutin melalui pemberdayaan masjid, organisasi Islami mahasiswa di setiap fakultas, dan penanaman karakter kampus dengan konsep Cerdas, Empati, Religius, Ikhlas, dan Amanah (CERIA).Abstract: The Construction of Science Integration in Islamic University of Riau. This study seeks to strengthen the theory of the integration of science with the object of study at Universita Islam Riau. The data was collected from field studies and in-depth observations. This study found that the construction of science integration at UIR since its establishment in 1962 was the ideals of its founders, so it was decided to be based on Islam. Explicitly the theme of science integration can be seen from the formulation of UIR objectives, that has given birth to various policies such as Islamic education curriculum, Campus Islamic Propagation Board, Islamic guidance for lecturers and employees, green campus, fostering reading and writing of the Koran for students, routine Islamic study circles, mosque empowerment, and internalization of campus character with the concepts of Smart, Empathy, Religiousity, Sincere, and Amanah (CERIA).Kata Kunci: Islam, science, integration, Islamic University of Riau
  • Pemikiran Fikih Muhammad Asywadie Syukur

    Helim, Abdul; IAIN Palangkaraya Kalimantan Tengah (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji pemikiran fikih Asywadie Syukur sebagai seorang ulama, akademisi dan sekaligus politisi. Pemikirannya meliputi tidak hanya terkait persoalan klasik tetapi juga persoalan kontemporer dan bahkan yang masih menjadi polemik di masyarakat, yang dihasilkan dari proses metodologis baik metode qaulî maupun metode manhajî. Dari proses inilah membuat Asywadie Syukur tidak terikat hanya pada satu mazhab tetapi terbuka pula pada mazhab yang lain. Namun karena referensi yang digunakan lebih dominan ke mazhab Syâfi‘î, kecenderungan fikih pun identik ke mazhab Syâfi‘î dengan tipologi tradisionalisme sekaligus neo-tradisionalisme bermazhab. Di sisi lain, Asywadie Syukur juga bermanhaj pada teori-teori kemaslahatan sehingga jika dikembalikan pada teori besar tipologi, disamping masuk dalam tipologi tradisionalisme ia juga masuk dalam tipologi modernisme.Abstract: Islamic Legal Thought of Muhammad Asywadie Syukur. This article seeks to examine Islamic legal thought of Asywadie Syukur as a scholar, academician and politician. His works covers not only in the field of the classical perspective, but also related to contemporary issues. But whatever they are, its naturally produced through the methodological process using either a qaulî or manhajî method. Based on this process, Asywadie Syukur is not confined to one particular school of legal thought. However, due to the fact that the references used are predominantly that of Syâfi’î, the tendency of his thought is identical with the principles of the latter with a typology of traditionalism with neo-traditionalism as a consequences of madhhab follower. Consequently, Asywadie Syukur follows the theories of public interest so that if is referred to grand theory of typology, in addition to traditionalism typology he also engaged in modernism typology.Kata Kunci: fikih, Asywadie Syukur, qaulî, manhajî, ushul fikih 
  • PLURALISME HUKUM PERKAWINAN DI TAPANULI SELATAN

    Harahap, Ikhwanuddin; Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Pluralisme hukum merupakan fenomena universal yang dialami oleh semua bangsa. Ia mencakup berbagai aspek kehidupan manusia seperti hukum, politik, dan ekonomi. Pluralisme hukum adalah keniscayaan yang harus diterima. Dalam bingkai pluralisme hukum, masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan hukum, yaitu hukum adat, hukum agama dan hukum negara, tidak terkecuali masyarakat Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Masyarakat di daerah ini juga mengalami pluralisme hukum dalam bidang perkawinan. Paling tidak, tiga sistem hukum bisa menjadi pilihan mereka atau bahkan dengan melakukan kombinasi antar hukum yang ada. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk melihat bentuk relasi antar hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Tapanuli Selatan. Temuan penelitian ini mendeskripsikan bahwa pada level tertentu, secara umum, keragaman hukum perkawinan merupakan sebuah harmonisasi, di mana masyarakat menggunakan dua sistem hukum bahkan lebih pada saat yang bersamaan. Namun ada kalanya pada situasi tertentu, keragaman hukum ini berubah menjadi “ketegangan”.Abstract: Legal Pluralism on Marriage in South Tapanuli. Legal pluralism is an universal phenomenon experienced by all nations. He covers various aspects of human life, such as law, politics and economics. Legal pluralism is a necessity that must be accepted. In the framework of legal pluralism, people are faced with a variety of legal choices, namely customary law, religious law and state law. No exception is the South Tapanuli community of North Sumatra Province. Communities in this area also experience legal pluralism in the field of marriage. At least, there are three legal systems that can be choosed or by combining existing laws. This research was conducted with a phenomenological qualitative approach to see the form of inter-legal relations that lived in the midst of the community of South Tapanuli. The findings of this study describe that at a certain level, in general, the diversity of marital law is a harmonization, in which people use two legal systems even more at the same time. But sometimes in certain situations, the legal pluralism turns into “tension”.Kata Kunci: pluralisme hukum, perkawinan, Mandailing, Tapanuli Selatan
  • IDENTITY NEGOTIATION OF CHRISTIAN AND MUSLIM STUDENTS IN INTERACTION BETWEEN RELIGIONS IN LANGSA

    Mawardi, Mawardi; IAIN Langsa; Yusmami, Yusmami; Institut Agama Islam Negeri Langsa; Suhaili Sufyan, Muhammad; Institut Agama Islam Negeri Langsa; Azwir, Azwir; Institut Agama Islam Negeri Langsa (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstract: This article describes how negotiation between the Christian and Muslim students in public place at Langsa. The objectives of the study are twofold, namely: the reason of Christian students deciding Langsa as the place of study despite different social condition from their own place and the pattern of negotiation conducted by the Christian students. Negotiation identity theory and national choice theory are used to know the reason of Christian students pointing Langsa as the place of study. using qualitative method with the phenomenal approach, it is found that the tolerance and harmony interaction between Christian and Muslims student in public place at Langsa. The pattern of negotiation used in public place at Langsa is: functional biculturalism that respect the different identity. this pattern is more effective to gain the culture shock and get the interaction easily the Christian and Muslim students in public place at Langsa.Abstrak: Negosiasi Identitas Mahasiswa Kristen dengan Muslim dalam Interaksi antar Agama di Kota Langsa. Tulisan ini menjelaskan pengalaman mahasiswa Kristiani bernegosiasi dengan mahasiswa Muslim dalam ruang publik di Langsa. Mendasarkan pada ruang sosial yang berbeda dengan kondisi mahasiswa Kristiani, pembahasan dimaksudkan untuk mengungkap alasan mahasiswa Kristiani memilih kuliah di Langsa yang berbeda kondisi sosial dengan daerah asalnya. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologis, didapatkan sebuah gambaran interaksi yang toleran antara mahasiswa Muslim dan Kristiani dalam ruang publik di Langsa. Adapun bentuk pola negosiasi yang dilakukan dalam ruang publik yaitu bikultarisme fungsional dengan menghargai identitas yang berbeda dengan aktor. Pola ini dianggap lebih efektif untuk menyelesaikan keterkejutan terhadap budaya baru dan memudahkan berinteraksi mahasiswa Kristiani dan Muslim dalam ruang publik di Langsa.Keywords: negotiation, identity, interaction, Muslim, Christian, public place
  • PERAN PEREMPUAN DALAM PELAKSANAAN SYARIAT ISLAM DI PROVINSI ACEH

    Muhsinah, Muhsinah; UIN Ar-Raniry Banda Aceh; Sulaiman, Sulaiman; STAI-PTIQ Banda Aceh (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Penelitian ini membahas bagaimana persepsi masyarakat terhadap kedudukan perempuan dalam posisi strategis di lingkungkan Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, dan kendala optimalisasi peran perempuan dalam penerapan syariat Islam di Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Aceh terlibat aktif dalam pelaksanaan syariat Islam di Aceh, terdapat perbedaan persepsi masyarakat terkait peran perempuan pada jabatan strategis pada Dinas Syariat Islam. Optimalisasi peran perempuan dalam pelaksanaan syariat Islam dilakukan melalui pelibatan pada struktur pemerintah dan non-pemerintah dan pelatihan pengembangan kompetensi. Secara keseluruhan tidak terdapat kendala terhadap optimalisasi peran perempuan terhadap pelaksanaan syariat Islam di Provinsi Aceh.Abstract: Woman’s Role in Islamic Shariah in Aceh Province. This study discusses how people's perceptions of woman’s role in strategic positions within Aceh Province, and the constraints of optimizing their participation in the application of Islamic law in Aceh. This study uses a qualitative method with descriptive data analysis approach. The results showed that Acehnese women were actively involved in the implementation of Islamic law in Aceh, there were differences in community perceptions regarding the role of women in strategic positions in the Office of Islamic Law. Optimizing efforts of their role is done through involving them in government and non-government structures and competencies improvement. Overall there are no obstacles to optimizing the role of women in the implementation of Islamic law in Aceh Province.Kata Kunci: perempuan, Aceh, syariat Islam, gender
  • TAHÂLUF SIYÂSI DALAM PRAKTIK POLITIK PARTAI ISLAM DI INDONESIA

    UIN Raden Intan Lampung; Hawari, Nadirsah; Dosen UIN Lampung (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Artikel ini mengkaji bagaimana konsep koalisi yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. dan seperti apakah bentuk praktik tahâluf siyâsî yang dijalankan oleh partai berbasis agama saat ini? Penelitian ini bersifat deskriptif, dokumentatif dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa koalisi (tahâluf siyâsî) menyimpan makna suci dan bersih dari segala kepentingan pragmatis bahkan praktik politik generasi awal Islam memberi sinyal kuat bahwa koalisi itu adalah berkorban untuk orang yang terzalimi, menekan kebatilan dan mengangkat harkat dan martabat kebenaran, sedangkan praktik politik saat ini justru memberi konotasi lain dari makna suci tersebut. Suatu catatan kelam dari perjalanan koalisi yang sering dibangun di antara kelompok politik termasuk partai Islam saat ini bahwa koalisi (tahâluf) itu sarat dengan kepentingan pragmatis sehingga istilah tahâluf dirasa kurang sesuai dan lebih tepat disebut tanâshub atau takâluf siyâsi politik transaksional.Abstract: Tahâluf Siyâsî in the Practice of Islamic Politcal Party in Indonesia. This article studies the concept of the coalition at the level of normative doctrine and what form of tahâluf category practiced by religious-based parties of today? This research is descriptive with the method of documentation with qualitative analysis. The results of the study found that the coalition (tahâluf siyâsî) inherent there in the sacred and purity meaning of all pragmatic interests even the political practices of the early generations of Islam gave a strong signal that the coalition was a sacrifice for the wronged people, raised the dignity of the truth, where as the current political practice gives another connotation of the sacred meaning. The author emphasized that one of the dark history of the coalition that had been built among political groups including Islamic parties today is that the coalition (tahâluf) is loaded with pragmatic interests so that the term tahâluf is felt to be less appropriate and more properly called tanâshub or takâluf siyâsî transactional politic.Kata Kunci: tahâluf, siyâsî, koalisi, partai Islam, politik
  • PEMBERDAYAAN FILANTROPI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN WARGA MUHAMMADIYAH DI INDONESIA

    Nasution, Hasyimsyah; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Irwan, Irwan; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Samosir, Hasrat Efendi (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menelaah motivasi, pengumpulan, dan pendistribusian dana filantropi di lingkungan Muhammadiyah. Studi ini merupakan hasil dari kerja lapangan, dimana data diperoleh melalui kegiatan wawancara, observasi dan studi dokumen terkait kerja filantropi organisasi Muhammadiyah di Sumatera Utara, Jawa Timur dan Yogyakarta. Studi ini menemukan bahwa salah satu faktor pendukung dalam melestarikan dan memperkukuh eksistensi Muhammadiyah adalah kegemaran pengurus dan warga organisasi ini melakukan karya-karya filantropi yang dilandasi oleh penghayatan terhadap ajaran Islam yang secara terus-menerus menjadi bagian dari ciri khasnya dan diletakkan secara terprogram melalui pengajian-pengajian terjadwal dan berlangsung secara terus menerus di setiap hierarki kepemimpinan organisasi.Abstract: Philanthropic Empowerment in Improving the Welfare of Muhammadiyah Members in Indonesia. This article aims to study the motivation, collection, and distribution of philanthropic funds in the organization of Muhammadiyah environment. This paper is the result of fieldwork, in which data is obtained through interview, observations and document studies related to the work of philanthropy organization of Muhammadiyah in North Sumatera, East Java and Yogyakarta. The study found that one of the supporting factors in preserving and maintaining stronger existence of Muhammadiyah is the willingness of of managers and the organizations to implement philanthropic works based on internalization of the Islamic teachings. This ethos has continuously become an integral part of its distinct features and have been interpreted into programs of scheduled study circles within every layer of organization’s leadership hierarchy.Kata Kunci: filantropi, kesejahteraan, Muhammadiyah, zakat, infak, sedekah
  • THE MODALITIES AND ROLES OF PESANTREN TO FACE THE ISSUES OF TERRORISM IN THE REGION OF MALANG

    Yumitro, Gonda; Department of International Relations, University of Muhammadiyah Malang; Kurniawati, Dyah Estu; Department of International Relations, University of Muhammadiyah Malang; Saiman, Saiman; Department of International Relations, University of Muhammadiyah Malang; Haffsari, Peggy Puspa; Department of International Relations, University of Muhammadiyah Malang (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstract: This study analysed the modalities and roles of pesantren (Islamic Boarding Schools) to face the issues of terrorism in the region of Malang. Contrary to the notion which stated that pesantren are the headquarters of terrorist groups, this paper discusses the existence of pesantren in the region of Malang with a various ideological background as the strategic and prominent stakeholders to face the issues of terrorism. The methodology was descriptive, with the concept of modality for deradicalisation. The result found that pesantren have modalities in dealing with issues of terrorism, namely, the spiritual modalities, the curriculum modality, the kyai and santri relations modality, and the social modality. Moreover, it is indicated that the pesantren and issues of terrorism are not interrelated. Pesantren have created an education system as the internal and external roles that can overcome the spread of radical movement activities and the issues of terrorism.Abstrak: Modalitas dan Peran Pesantren dalam Mengahadapi Isu Terorisme di Wilayah Malang. Studi ini menganalisa modalitas dan peran pesantren dalam menghadapi isu terorisme di wilayah Malang. Berbeda dengan pemikiran yang menyatakan bahwa pesantren merupakan pusat pengembangan bagi kelompok teroris, paper ini mendiskusikan keberadaan pesantren di Malang dengan latar belakang ideologi yang berbeda sebagai stakeholder yang strategis dan penting untuk menangani isu terorisme. Metodologi yang digunakan adalah diskriptif dengan konsep modalitas deradikalisasi. Adapun hasil yang ditemukan mengindikasikan bahwa pesantren mempunyai beberapa modalitas dalam menangani isu terorisme seperti modalitas spiritual, kurikulum, relasi kiai dan santri, serta modalitas social. Lebih lanjut, terdapat indikasi bahwa pesantren dan isu terorisme tidak terkait satu dengan lainnya. Pesantren sudah membangun sistem pendidikan sebagai bentuk peran internal dan eksternalnya untuk menyelesaikan penyebaran aktivitas gerakan radikal dan isu terorisme.Keywords: pesantren, terrorism, Malang, modality, deradicalisation
  • KEARIFAN LOKAL DALIHAN NA TOLU, NINIK MAMAK DAN KERAPATAN ADAT NAGARI DALAM MENJAGA KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA DI SUMATERA BARAT DAN SUMATERA UTARA

    Sahrul, Sahrul; Fadhila Daulai, Afrahul (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Studi ini menganalisis peran kearifan lokal dalihan na tolu, ninik mamak dan Kerapatan Adat Nagari dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Pasaman Barat dan Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dimana data diperoleh melalui wawancara, pengamatan dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan bahwa kearifan lokal dalihan na tolu di Kabupaten Madina berperan penting dari segi agama, budaya dan sosial dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, karena menerapkan nilai budaya religius, menjaga kekerabatan, humajuon, hasangapon, uhum, pengayom kepada masyarakat dan mengelola konflik. Sedangkan di Kabupaten Pasaman Barat, peranan ninik mamak dan Kerapatan Adat Nagari belum optimal di dalam melaksanakan fungsinya karena minimnya dialog dan kerjasama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama.Abstract: Local Wisdom Dalihan Na Tolu, Ninik Mamak and Kerapatan Adat Nagari in Maintaining Inter-religious Harmony in West and North Sumatera. This study aims to analyze the role of local wisdoms in maintaining inter-religious harmony in West Pasaman and Mandailing Natal Regency. This research is a qualitative study in which data is obtained through interviews, observations and document studies. Data analysis techniques employ the Miles and Huberman models. This study proposed that the local wisdoms of dalihan na tolu in Madina Regency, play an important role of religion, social and culture in maintaining inter-religous harmony, since it apply seven religious values of humajuon, hasangapon, uhum, and managing the conflict. Meanwhile, in the West Pasaman the role of the ninik mamak and the Kerapatan Adat Nagari still need to be optimized in safeguarding religious harmony which might arise from the lack of dialogue and cooperation with Religious Harmony Forum (FKUB).Kata Kunci: Mandailing, Minangkabau, kearifan lokal, dialog, agama-agama
  • DINAMIKA PELAKSANAAN SERTIFIKASI HALAL PADA PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN DI KOTA MEDAN, SIBOLGA DAN PADANGSIDIMPUAN

    Rasyid, Arbanur; IAIN Padangsidimpuan (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Tulisan ini bertujuan menganalisis dinamika pelaksanaan sertifikasi halal pada produk makanan dan minuman di Kota Medan, Padangsidimpuan dan Sibolga. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam. Data dianalisis secara deskriptif dengan teknik reduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada setiap elemen terkait kehalalan produk makanan dan minuman ditemukan beragam masalah yang menjadi kendala pelaksanaan sertifikasi halal di tengah masyarakat di ketiga kota yang diteliti. Di antara masalah itu adalah keterbatasan wewenang dan dana pada MUI (LP-POM) untuk melakukan sosialisasi sertifikasi halal, lemahnya kesadaran hukum produsen untuk menyikapi keharusan sertifikasi halal pada produknya serta lemahnya pemahaman masyarakat Muslim tentang perlunya memperhatikan dan mewaspadai kehalalan produk makanan dan minuman yang dikonsumsi.Abstract: The Dynamics of Halal Certification Implementation in Food and Baverage in Medan, Padangsidimpuan and Sibolga. This paper aims to analyze the dynamics of the implementation of halal certification in food and beverage products in the respective cities. This type of research is field research with a qualitative approach. Sources of data was obtained from observation, in-depth interviews. Data were analyzed descriptively with reduction, display and verification techniques. The results showed that in each element related to the halal food and beverage products found a variety of problems that constrained the implementation of halal certification in the society in all three cities. Among those problems are the limited authority and funds at the MUI to disseminate halal certification, the lack of legal awareness of producers to address the need for halal certification on their products and the limited understanding of the Muslim community about the halal food and beverage products consumed.Kata Kunci: MUI, sertifikasi halal, pola konsumsi
  • CREATIVE ECONOMY BASED ON SYARIAH AS AN EFFORT TO INCREASE COMMUNITIES WELFARE: Case Study at BAPPEDA, East Java Province, 2019

    Syamsuri, Syamsuri; University of Darussalam Gontor Jl. Raya Siman Km. 5 Siman, Ponorogo, East Java, 63471, Indonesia Phone: +62-352-3574562 / +62-352-3574563 Mobile: +62 852 5977 4104 Fax: +62-352-488182; Reno Fathur Rahman, Muhammad (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstract: This study aims to analyze the government’s creative economic strategy in improving the welfare of the community, especially in the BAPPEDA of East Java Province and also to find out the efforts of regional governments in developing a sharia-based creative economy. Descriptive qualitative research methods are used by the author as an approach in this study. Data collection techniques are by documentation, interviews and observation. The results of the study indicate that the government’s creative economic strategies are established by building synergy with pentahelix elements, motivating innovation, realizing the “smart economy” program, and collaboration with BEKRAF. It also explained that the efforts of the regional government in developing a sharia-based creative economy are by producing halal products and involving syaria institutions into pentahelix elements and implementing the concept of mashlahah in creative economic activities.Abstrak: Ekonomi Kreatif Syariah Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Umat. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi ekonomi kreatif pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di BAPPEDA Provinsi Jawa Timur, dan bagaimana upaya pemerintah daerah mengembangkan ekonomi kreatif berbasis syariah. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ekonomi kreatif pemerintah dilakukan dengan bersinergi dengan elemen pentahelix, motivasi semangat dan inovasi, sadar program “smart economy”, dan kerjasama dengan BEKRAF. Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis syariah adalah dengan menghasilkan produk-produk ekonomi kreatif yang halal dan syar‘i, melibatkan institusi syariah ke dalam elemen pentahelix, dan menerapkan konsep mashlahah dalam kegiatan ekonomi kreatif.Kata Kunci: Ekonomi kreatif, kesejahteraan, ekonomi kreatif syariah
  • STRENGTHENING LINGUISTIC AND EMOTIONAL INTELLIGENCE OF MADRASAH TEACHERS IN DEVELOPING THE QUESTION AND ANSWER METHODS

    Tambak, Syahraini; Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau; Sukenti, Desi; Universitas Islam Riau (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Memperkuat Kecerdasan Linguistik dan Emosional Guru Madrasah dalam Mengembangkan Metode Tanya Jawab. Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan metode tanya jawab dengan memperkuat kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional guru Madrasah Tsanawiyah. Jenis penelitian adalah korelasi yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Negeri di seluruh Kota Pekanbaru. Analisis data menggunakan statistik inferensi dengan regresi linier. Penelitian ini menemukan bahwa kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional secara simultan berkontribusi kuat untuk mengembangkan kemampuan guru menggunakan metode tanya jawab dalam proses pembelajaran. Penguasaan kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional dapat mengembangkan keberhasilan guru-guru Madrasah Tsanawiyah menggunakan metode tanya jawab dalam pembelajaran. Kecerdasan emosional berkontribusi lebih tinggi daripada kecerdasan linguistik dalam mengembangkan keberhasilan guru-guru Madrasah Tsanawiyah dalam menggunakan metode tanya jawab selama pembelajaran.Abstract: This research explores the development of a question and answer method by strengthening linguistic and emotional intelligence of Madrasah Tsanawiyah teachers. The type of research is the correlation carried out in the State Madrasah Tsanawiyah throughout Pekanbaru City where the subjects of this study are teachers in various fields of Islamic studies. Linguistic intelligence is predicted to be able to develop the success of teachers using the question and answer method, as well as emotional intelligence. The emotional intelligence contributes higher than linguistic intelligence in developing the success of Madrasah Tsanawiyah teachers in using question and answer methods during learning.Keywords: linguistic, emotional intelligence, madrasah, Pekanbaru
  • MUSLIM WOMEN AND VEILING: What Does It Signify?

    Juwariyah, Siti; University of Arizona (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
    Abstrak: Perempuan Muslim dan Penggunaan Cadar: Apa Maknanya?. Perdebatan mengenai perempuan Muslim dan tindakan mereka mengenakan hijab atau menutup wajah bukanlah fenomena baru. Makalah ini akan mengeksplorasi perspektif memakai hijab melalui analisis semiotik serta fenomena perempuan dan menutup wajah pada umumnya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan data dikumpulkan melalui pengamatan dan kajian pustaka. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kerudung melambangkan berbagai perspektif di tempat yang berbeda, budaya dan tradisi. Sebagaimana hijab sering diasosiasikan sebagai bagian agama Islam, hijab juga merupakan simbol yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hijab menjadi lambang identitas, religiusitas, kesopanan dan hak pilihan. Hijab juga mengungkapkan sikap mereka dalam masalah politik dan menunjukkan struktur sosial. Meskipun cadar bisa menggambarkan keterjangkauan perempuan dalam mengambil pakaian yang mereka pilih untuk hijab, beberapa simbol perlu ditinjau kembali karena mungkin ada beberapa perubahan dalam pemotretannya.Abstract: The debate upon women and their act of wearing hijab or veiling is not new phenomenon. This paper will explore the perspectives of wearing hijab through semiotic analysis as well as the phenomenon of women and veiling in general. This study employs qualitative approach, and the data were collected through observation and literature review. The findings indicate that veil symbolizes various perspectives in different places, cultures and traditions. As the veil often indexes as the religion of Islam, it is also a symbol which is affected by various factors. It becomes a symbol of identity, religiosity, modesty, and agency. The veil also reveals their stance in political matters and show the social structures. Even though the veil could portray the women’s affordability in taking up the clothing they choose to veil, some symbolizations need to be revisited since there might be some changes in its depictions. Keywords: women, veiling, hijab, symbol, Muslim
  • MAQÂSHID SYARÎ'AH APPROACH ON THE EMPOWERMENT OF HUMAN RESOURCES IN MULYODADI VILLAGE BANTUL YOGYAKARTA

    Syamsuri, Syamsuri; University of Darussalam Gontor Jl. Raya Siman Km. 5 Siman, Ponorogo, East Java, 63471, Indonesia Phone: +62-352-3574562 / +62-352-3574563 Mobile: +62 852 5977 4104 Fax: +62-352-488182; Yuripta Syafitri, Okta; Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Darussalam Gontor (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstract: The process of community economic development by involving the community directly from planning, implementation to evaluation is a model of empowerment that raises human dignity on the real essence. The villagers is not only an object of development, but every individual is required to be involved in the whole process of empowerment. This article tries to analyze the inhibiting factors as well as solutions of empowerment program of Human Resources in Mulyodadi village. By using qualitative method and taking data through interview, observation, and documentation (triangulation). Finally this article found two factors inhibiting the empowerment of human resources that is internal and external aspects. However, these two factors can be solved with some solutions and approaches made by the government and the community.Abstrak: Pendekatan maqâshid syarî‘ah terhadap Penguatan Sumberdaya Manusia di Desa Mulyodadi Bantul Yogyakarta. Proses pembangunan ekonomi masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara langsung mulai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi merupakan model pemberdayaan yang memanusiakan manusia pada hakekat sebenarnya. Masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pembangunan atau program yang bersifat top-down, melainkan setiap individu dituntut terlibat dalam seluruh proses pemberdayaan. Artikel ini mencoba menganalisis faktor penghambat sekaligus solusi program pemberdayan Sumber Daya Manusia di desa Mulyodadi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pengambilan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi (triangulasi). Artikel ini menemukan bahwa terdapat dua faktor penghambat pemberdayaan SDM yaitu aspek internal dan eksternal. Akan tetapi kedua faktor tersebut mampu diselesaikan dengan beberapa solusi dan pendekatan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun masyarakat.Keywords: maqâshid syarî‘ah, human resources, Bantul, economic development
  • KEDUDUKAN QANUN JINAYAT ACEH DALAM SISTEM HUKUM PIDANA NASIONAL INDONESIA

    Nurdin, Ridwan; UIN ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Aceh justru telah melahirkan sebuah KUHP versi Aceh yang lumrah disebut Qanun Jinayat Aceh pada 2014 silam, di tengah pembicaraan tentang Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) Nasional. Sebagai bagian dari wilayah Indonesia, keadaan demikian menimbulkan polemik terjadinya perbedaan (dualisme) hukum antara Aceh dan wilayah lain di Indonesia dalam menanggulangi kejahatan. Dinamika pemidanaan itulah yang menjadi fokus dalam artikel ini. Penelitian ini menunjukkan adanya keunikan dalam Qanun Jinayat Aceh yang patut dijadikan stimulus bagi pembangunan hukum pidana nasional. Di samping itu, reorientasi pemidanaan di Aceh patut menjadi agenda lain demi terintegrasinya Aceh ke dalam sistem hukum pidana nasional. Keistimewaan tidak harus dimaknai sebagai pembeda, melainkan penguat bagi kesatuan sistem hukum di mana Qanun Jinayat Aceh merupakan bagian dari sub-sistem hukum pidana tersebut.Abstract: The Position of Aceh Criminal Code in Indonesian National Criminal Code System. In the amidst discussions on the National Criminal Code (RKUHP) draft, Aceh has produced a version of Aceh Criminal Code-commonly referred to as Aceh Qanun Jinayat in 2014. As part of the Indonesian territory, such circumstances certainly bring about a lot of polemics. Among the polemics is the legal difference (dualism) between Aceh and other parts of Indonesia in overcoming the crime. This article focuses on the dynamics of the crime. The study shows the uniqueness of the Aceh Qanun Jinayat which should be a stimulus for the development of the national criminal law. In addition, the reorientation of punishment in Aceh should be another agenda for the sake of Aceh integration into the national penal system. This privilege should not be interpreted as a differentiator, but a reinforcement of the unity system where Aceh Qanun Jinayat is a part of sub-system of criminal law.Kata Kunci: Aceh, hukum pidana, qanun, jinayat
  • MUSHAF 2.0 DAN STUDI AL-QUR’AN DI ERA “MUSLIM TANPA MASJID”

    Saputro, Muhammad Endy; Faculty of Islamic Economics and Bussiness, IAIN Surakarta (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Sejak memasuki milenium baru, otoritas keagamaan (Islam) baru mulai berkompetisi dengan otoritas keagamaan konvensional. Ruang seperti masjid atau pesantren, mulai tergantikan dengan media-media sosial baru. Fenomena ini melahirkan sebuah generasi “Muslim Tanpa Masjid”. Tulisan ini merupakan sebuah pengantar analisis kemunculan mushaf-mushaf baru al-Qur’an. Bagaimana visualisasi mushaf yang terdapat dalam Qur’an for Women, E-Pen Reading Qur’an, I Love Qur’an, Pocket Qur’an for Mobile Phone, dan Digital Qur’an? Bagaimana pengaruh kelahiran ekspresi bentuk mushaf baru tersebut dalam studi Qur’an di Indonesia? Tulisan ini berargumen bahwa mushaf-mushaf tersebut mengekspresikan interaktivitas dalam beragama. Kajian tentang mushaf-mushaf baru al-Qur’an juga menantang studi al-Qur’an untuk mengkaji ranah-ranah baru otoritas agama dengan berbagai media barunya.Abstract: Mushaf 2.0 and the Study of al-Qur’an in the Era of “Muslim without Mosque”. Following the new millennium, new religious (Islamic) authority has creatively participated in the process of shifting the space of conventional religious authority. Such religious spaces as mosque or pesantren have gradually begun to compete with the new social media of religion. This phenomenon has simultaneously triggered the rise of new generation called Muslim Tanpa Masjid (Muslim without Mosque). This article is a preliminary effort of analyzing the birth of new mushaf al-Qur’an. How these mushaf (Qur’an for Women, E-Pen Reading Qur’an, I Love Qur’an, and Pocket Qur’an for Mobile Phone, and Digital Qur’an) visualize the new expression of religiousty? How does the rise of these mushaf give impact on the Qur’anic studies in Indonesia? This article argues that these mushaf have spontaneously offered the interactivity of reading. This finding has challenged the old style of studying Qur’an in Indonesia to explore the new avenues of contending new religious authorities.Kata Kunci: studi al-Qur’an, mushaf 2.0, Muslim tanpa Masjid, living Qur’an
  • KONTRIBUSI SYAIKH MUHAMMAD THAHIR JALALUDDIN DALAM BIDANG ILMU FALAK

    Butar-Butar, Arwin Juli Rakhmadi; Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Fajar adalah fenomena alami yang terjadi disebabkan rotasi Bumi pada porosnya. Permasalahan awal waktu fajar senantiasa menjadi kajian baik di kalangan fukaha maupun ilmuwan Muslim. Di Indonesia, sejak lama berlaku ketetapan dip-20 derajat di bawah ufuk dalam penentuan waktu Subuh. Ketentuan ini berasal dari pendapat Syaikh Muhammad Thahir Jalaluddin (w. 1376/1956) dalam karyanya Nukhbah al-Taqrîrât fi Hisâb al-Auqât. Makalah ini akan menelusuri pemikiran Syaikh Muhammad Thahir Jalaluddin tentang hal ini melalui karyanya tersebut dalam merumuskan konsepsi 20 derajat ini. Melalui analisis dan penelusuran sejumlah literatur, ditemukan bahwa dip -20 derajat ini ternyata dihasilkan hanya berdasarkan nukilan dari karya dan atau pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya baik tokoh Nusantara maupun tokoh yang bermukim di Haramain, khususnya melalui kitab al-Mathla‘ al-Sa‘îd karya Husain Zaid Mesir.Abstract: Shaykh Muhammad Thahir Jalaluddin’s Contribution in Islamic Astronomy. This article studies on the early dawn time and its influence on the determination dawn in Indonesia. Dawn is a natural phenomenon that can be seen while the earth rotates on its axis. The issue of the beginning of dawn has become a heated debate both within the Indonesian Muslim scholars (fuqaha) and scientists alike. In Indonesia, to determine dawn prayer’s time has been set up dip -20 degree below the horizon. This determination was adopted from Muhammad Thahir Jalaluddin’s idea in his work Nukhbah al-Taqrîrât fi Hisâb al-Auqât. This paper is trying to explore Muhammad Thahir Jalaluddin’s thought concerning the issue through his work which formulated this conception of 20 degree. In this article, the author found that after a thorough and critical analysis of some important literature and references, it is concluded that this conception was strictly quoted from other works and other previous Muslim scholars idea who lived in Haramain, especially in the book al-Mathla‘ al-Sa‘îd which was written out by Husain Zaid Mishr.Kata Kunci: Muhammad Thahir Jalaluddin, waktu fajar, Nusantara, astronomi

View more