MIQOT : Journal of Islamic Studies is a peer-reviewed journal, published twice a year [January-June and July-December] by IAIN Press, State Islamic University of North Sumatra, Indonesia. It is available online as open access sources as well as in print. MIQOT: Journal of Islamic Studies publishes articles in the fields of Alquran, hadis, theology, philosophy, tasawuf, law and Islamic economics, education, history, and psychology.

News

The Globethics.net library contains articles of MIQOT as of vol. 32(2008) to current.

Recent Submissions

  • UNDERSTANDING WASATHIYYAH IN THE BOOK OF AL-QUR’AN AL-KARIM DAN TERJEMAHAN BEBAS BERSAJAK DALAM BAHASA ACEH

    Fauzi, Fauzi; UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY BANDA ACEH (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This article aims to examine the meaning of wasathiyyah in the book al-Quran al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. The research is qualitative and documentation as a data collection technique. The result of the research is that the author of this book gives varied meanings with the word wasatha. Among them the meaning of this word: saban (same), sama teungoh (same in the middle), seudang (middle). Wasathiyyah covers aspects of worship, mu‘âmalah, ethics and so on. In terms of worship, levels, models and times are given guidance in the Shari‘ah. In the aspect of mu‘âmalah, this concept regulates how to communicate, time and how to interact. In terms of ethics, this wasathiyyah becomes a role model in attitude and behavior.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menelaah pemaknaan wasathiyyah dalam kitab al-Quran al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. Padanan yang kata dipakai pengarang dengan mempertimbangkan bait sajak menjadi menarik untuk diteliti. Penelitian bersifat kualitatif dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian adalah pengarang kitab ini memberikan makna yang variatif dengan lafaz wasatha. Di antaranya makna lafaz ini: saban (sama), sama teungoh (sama di pertengahan), seudang (pertengahan). Wasathiyyah mencakup aspek ibadah, muamalah, etika dan seterusnya. Dalam hal ibadah, kadar, model dan waktu itu diberikan tuntunan dalam syariat. Dalam aspek muamalah, konsep ini mengatur cara berkomunikasi, waktu dan bagaimana interaksi. Dalam hal etika, wasathiyyah ini menjadi role model dalam bersikap dan bertingkah laku.Keywords: meaning, wasathiyyah, book of Mahjiddin Jusuf, life
  • PHENOMENOLOGY APPROACH TO ARABIC LANGUAGE TEACHING

    Lubis, Maesaroh; Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya; Widiawati, Nani; UIN Sunan Gunung Djati Bandung dpk IAIC Tasikmalaya (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This study seeks to understand the underlying meaning of human behavior with complex social settings and interactions. This character is attuned to the complexity of human nature and therefore cannot be explained through preconstructed epistmological assumptions and predictions. As part of the social science tradition, research in Arabic Language Education also leads to this goal. The problems of the Arabic teaching process can be interpreted as the world of life that is lived by teachers and students and becomes the basis for communication actions amongst them. Based on the phenomenological perspective, the act of communication is basically a process of sharing personal experiences. This paper describes phenomenology as a philosophical thought which then shifts into an epistemological mode to construct objective knowledge that is specifically applied in the case of teaching Arabic.Abstrak: Penelitian ini berusaha memahami makna yang mendasari tingkah laku manusia dengan setting dan interaksi sosial yang kompleks. Karakter ini selaras dengan kompleksitas sifat manusia dan karena itu tidak dapat dijelaskan melalui asumsi dan prediksi epistmologis yang dibangun sebelumnya. Sebagai bagian dari tradisi ilmu sosial, penelitian dalam Ilmu Pendidikan Bahasa Arab juga mengarah pada tujuan tersebut. Problematika proses pengajaran bahasa Arab dapat ditafsirkan sebagai dunia kehidupan yang dihayati guru dan peserta didik serta menjadi basis tindakan komunikasi di antara keduanya dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya. Berdasarkan perspektif fenomenologi, tindakan komunikasi tersebut pada dasarnya merupakan proses berbagi pengalaman personal. Tulisan ini mendeskripsikan fenomenologi sebagai pemikiran filsafat yang kemudian bergeser menjadi mode epistemologis untuk mengkonstruksi pengetahuan objektif yang secara spesifik diterapkan dalam kasus pengajaran bahasa Arab.Keywords: phenomena, intentionality, teaching Arabic
  • K.H.E. ABDURRAHMAN AND FORMULATION OF CADRE EDUCATION IN PERSATUAN ISLAM’S BOARDING SCHOOLS

    Ridwan, Ridwan; STAI Persatuan Islam Garut; Fauzan, Pepen Irpan; STAI Persatuan Islam Garut; Fata, Ahmad Khoirul; IAIN Sultan Amai Gorontalo (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This present study discusses the boarding school-based regeneration in Persatuan Islam (PERSIS) organization formulated by KH. Endang Abdurrahman during the period of 1954-1983. Historical approach is employed in this study with qualitative descriptive model. It reveals that cadre management is culturally performed, where direct and personal relationship between teacher and students are formed. In its development, PERSIS regeneration is more organized through educational institution: Pesantren (Islamic Boarding School) owned by PERSIS and courses for Muballigh or preacher. Historically, this reinforcement gained its momentum when PERSIS was led by KH. E. Abdurrahman from 1962 to1983.The system developed by Abdulrahman was yet exclusive and unintegrated with the national education system. Through such system, PERSIS was able to produce many religious scholars (muballigh and ustadz).Abstrak: Kajian ini membahas regenerasi berbasis pondok pesantren dalam organisasi Persatuan Islam (PERSIS) yang dirumuskan oleh KH. Endang Abdurrahman selama periode 1954-1983. Pendekatan historis digunakan dalam penelitian ini dengan model deskriptif kualitatif. Ini mengungkapkan bahwa manajemen kader dilakukan secara budaya, di mana hubungan langsung dan pribadi antara guru dan murid terbentuk. Dalam perkembangannya, regenerasi PERSIS lebih diselenggarakan melalui lembaga pendidikan: Pesantren PERSIS dan kursus untuk Muballigh. Secara historis, penguatan ini ketika PERSIS dipimpin oleh KH. E. Abdurrahman dari tahun 1962 hingga 1983, di mana sistem pendidikan eksklusif dan tidak terintegrasi dengan sistem pendidikan nasional. Melalui sistem itu, PERSIS menghasilkan banyak ulama (mubaligh dan ustaz).Keywords: PERSIS, cadres management, PERSIS Pesantren, K.H.E. Abdurrahman
  • THE REACTUALIZATION OF NATIONALISM AS A STATE DEFENSE STRATEGY IN THE PERSPECTIVE OF THE NUSANTARA INTERPRETATION OF AL-QUR’AN

    Moh Arif Rakman Hakim Departement of ‘Ilm Al-Qur'an and Tafsir, Faculty of Usuluddin Adab and Da’wah, State Islamic UniversitySayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Ubaidillah Departement of ‘IlmHadith, Faculty of Ushuluddin Adab and Da’wah State Islamic; Arif Rakman Hakim, Moh.; UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Ubaidillah, Ubaidillah; UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This study is focused to explain the national issues in the potential for disintegration, and disorientation of the nation’s citizens through a study of interpretation with a starting point towards conceptual terms such as balad, syu‘ûbah, and ummah. This research used the maudhu‘i method with the structural semantic theory approach of Thosohiko Izutsu, and the text, context, contextual theory of Abdullah Saeed. This study aims to explain the values of nationalism in al-Qur’an through terms that are close to the meaning of the state, and nation such as balad, ummah, and syu‘ûbah. The result showed that the maintaining the security and welfare of the country is an important thing that have todo in order to build a peaceful, and prosperous nation’s civilization. Actualizing wasathiyah Islamic values, strengthening unity in diversity, and creating security, and prosperity for a nation is one of the concepts of defending the state to maintain the values of Indonesianalism which has a high level of diversity.Abstrak: Penelitian ini menjelaskan persoalan kebangsaan di tengah potensi disintegrasi dan disorientasi warga bangsa melalui studi tafsir dengan bertitik tolak pada term konseptual seperti balad, syu‘ûbah dan ummah. Penelitian ini menggunakan metode maudhu‘i dengan pendekatan teori semantik struktural Thosohiko Izutsu dan teori teks, konteks, kontekstual Abdullah Saeed. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai nasionalisme yang tercantum di dalam al-Qur’an melalui term yang dekat dengan makna negara dan bangsa seperti balad, ummah, dan syu‘ûbah. Hasilnya mempertahankan keamanan dan kesejahteraan negara merupakan hal penting yang harus dipertahankan untuk membangun peradaban bangsa yang tenteram dan makmur. Mengaktualisasikan nilai-nilai Islam wasathiyah, memperkuat persatuan dalam kebhinekaan, dan menciptakan keamanan dan kesejahteraan sebuah bangsa merupakan salah satu konsep bela negara untuk mempertahankan nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi.Keywords: nationalism, state defense, Nusantara Qur’anic interpretation
  • UNDERSTANDING WASATHIYYAH IN THE BOOK AL-QUR’AN AL-KARIM DAN TERJEMAHAN BEBAS BERSAJAK DALAM BAHASA ACEH

    Fauzi, Fauzi; UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY BANDA ACEH (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This article aims to examine the meaning of wasathiyyah in the book al-Quran al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. The research is qualitative and documentation as a data collection technique. The result of the research is that the author of this book gives varied meanings with the word wasatha. Among them the meaning of this word: saban (same), sama teungoh (same in the middle), seudang (middle). Wasathiyyah covers aspects of worship, mu‘âmalah, ethics and so on. In terms of worship, levels, models and times are given guidance in the Shari‘ah. In the aspect of mu‘âmalah, this concept regulates how to communicate, time and how to interact. In terms of ethics, this wasathiyyah becomes a role model in attitude and behavior.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menelaah pemaknaan wasathiyyah dalam kitab al-Quran al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. Padanan yang kata dipakai pengarang dengan mempertimbangkan bait sajak menjadi menarik untuk diteliti. Penelitian bersifat kualitatif dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian adalah pengarang kitab ini memberikan makna yang variatif dengan lafaz wasatha. Di antaranya makna lafaz ini: saban (sama), sama teungoh (sama di pertengahan), seudang (pertengahan). Wasathiyyah mencakup aspek ibadah, muamalah, etika dan seterusnya. Dalam hal ibadah, kadar, model dan waktu itu diberikan tuntunan dalam syariat. Dalam aspek muamalah, konsep ini mengatur cara berkomunikasi, waktu dan bagaimana interaksi. Dalam hal etika, wasathiyyah ini menjadi role model dalam bersikap dan bertingkah laku.Keywords: meaning, wasathiyyah, book of Mahjiddin Jusuf, life
  • THE INOVATION OF DAYAH CURRICULUM IN MEETING THE NATIONAL EDUCATION STANDARDS IN ACEH

    Danial IAIN Lhokseumawe; Buto, Zulfikar Ali; IAIN LHOKSEUMAWE; Hafifuddin, Hafifuddin; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This article aims to describe the inovation of dayah curriculum and its obstacles in meeting the national education standards in Aceh. This is a qualitative study with juridical approach accredited by the National Accreditation Board of School/Madrasas (BAN-SM). The findings show that the innovation of dayah curriculum has not been implemented except for the innovation of institutional system embedded in all levels of formal education. The fulfillment of national standards for dayah education show that a very small number of dayah have met the applicable provisions, the most of them have not met several indicators of the eight standards set. Meanwhile, dayah’s obstacles in meeting national education standards include incapability of human resources, incapability of institution in managing its funds and financial reporting, the last obstacles are lack of area development, provision, and administrative management and school documentation.Abstrak: Penelitian ini mencoba melihat inovasi kurikulum dayah di Aceh, pemenuhan dayah terhadap standar nasional pendidikan dan kendala-kendala dayah dalam memenuhi standar nasional pendidikan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis akreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BAN-SM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi kurikulum dayah belum dilakukan kecuali inovasi sistem kelembagaan yang ditambah dengan pendidikan formal dengan berbagai jenjang. Pemenuhan standar nasional pendidikan dayah bahwa sebagian kecil dayah sudah memenuhi ketentuan yang berlaku, sedangkan sebagai besarnya belum memenuhi beberapa indikator dari delapan standar yang ditetapkan. Sedangkan kendala dayah dalam memenuhi standar nasional pendidikan di antaranya kelemahan pada sumber daya manusia, kelemahan bidang lembaga dalam mengelola dana pembiayaan dan pelaporan kendala terakhir lemahnya bidang pengembangan, penyediaan, dan manajemen administrasi dan dokumentasi sekolah.Keywords: inovation, dayah, Aceh, education, curriculum
  • TOWARDS QUALITY ISLAMIC EDUCATION: Madrasa Teachers’ Views on School Climate in East Java

    Mustofa, Ali; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Surabaya (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This research explores teachers’ views on school climate, related to teacher’s age, gender, and teaching experience for Madrasah Tsnawiyah teachers. Research is carried out to realize the quality of Islamic education. The 370 teachers were given a school climate perception scale adapted from the Comprehensive School Climate Inventory (NSCC) developed by Cohen through Google Form. The scale includes four aspects: safety, teaching and learning, relationships, and the environment, with a Cronbach’s Alpha reliability value of 0.700. From the data collection results, it was found that the age and length of the teacher’s teaching were significantly related to the teacher’s view of the school climate. Teachers who have long teaching experience have a more positive perception than teachers who have little teaching experience. Likewise, the teacher’s age shows that older teachers give a better view of the school climate than younger teachers. On the other hand, gender is not significantly related, meaning that male and female teachers have the same view of the school climate.Abstrak: Tujuan riset ini mengeksplorasi pandangan guru tentang iklim sekolah yang berkaitan dengan usia guru, gender dan pengalaman mengajar guru Madrasah Tsnawiyah. Riset dilakukan dalam upaya mewujudkan kualitas pendidikan Islam. Para guru yang berjumlah 370 diberikan skala persepsi iklim sekolah yang diadaptasi dari Comprehensive School Climate Inventory (NSCC) yang dikembangkan oleh Cohen melalui google form. Skala tersebut meliputi empat aspek yaitu keamanan (safety), pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning), hubungan (relationships), dan lingkungan (environment) dengan nilai reliabillitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,700 dari hasil pengumpulan data tersebut. Nilai signifikansi usia 0.027, sementara guru yang memiliki pengalaman mengajar lama memiliki persepsi yang lebih positif dibandingkan guru yang lebih sedikit memiliki pengalaman mengajar. Begitu juga dengan usia guru yang menunjukkan bahwa guru yang lebih tua memberikan pandangan lebih baik/positif akan iklim sekolah dibandingkan guru yang lebih muda. Sebaliknya gender tidak berhubungan secara signifikan, artinya antara guru laki laki dan perempuan memiliki pandangan yang sama tentang iklim sekolahnya.Keywords: school climate, age, gender, teaching experience
  • DYNAMIZATION OF ISLAMIC RELIGION EDUCATION: A Critical Study on Genealogy of Islamic Boarding School’s Scholarly Tradition in Lombok

    Murdianto, Murdianto; Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri Mataram; Iskandar, Muhamad Rozi; Institut Agama Islam Qamarul Huda (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This study departed from a reality about the pesantren’s scholarly tradition genealogy with unknown scholarly source. Considering such academic restlessness, the question to be answered by the author is “where does the pesantren’s scholarly tradition genealogy existing in Lombok come from? This study was a qualitative research with field research and used such approaches as historical philological, cultural and sociological. This study represents that the pesantren’s scholarly tradition genealogy in Lombok is affected by Javanese Pesantren’s scholarly tradition, Makassar Islam, and Middle East education. However, some dynamics occur in Pesantrens in Lombok, so that the reform of scholarship tradition is required, to keep the pesantren existing in the future.Abstrak: Studi ini berangkat dari kenyataan tentang silsilah tradisi ilmiah pesantren dengan sumber ilmiah yang tidak diketahui. Mengingat kegelisahan akademis seperti itu, pertanyaan yang harus dijawab oleh penulis adalah “dari mana silsilah tradisi ilmiah pesantren yang ada di Lombok berasal? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan penelitian lapangan dan menggunakan pendekatan seperti filologis sejarah, budaya dan sosiologis. Penelitian ini menunjukkan bahwa silsilah tradisi ilmiah pesantren di Lombok dipengaruhi oleh tradisi ilmiah Pesantren Jawa, Islam Makassar, dan pendidikan Timur Tengah. Namun, beberapa dinamika terjadi di Pesantren di Lombok, sehingga diperlukan reformasi tradisi beasiswa, untuk menjaga pesantren tetap ada di masa depan.Keywords: genealogy, scholarly tradition, pesantren, islamization, Lombok
  • THE CONCEPT OF IDEAL PAI TEACHERS ACCORDING TO AL-GHAZÂLÎ AND IT’S RELEVANCE TO PAI TEACHERS IN CONTEMPORARY ISLAMIC EDUCATION

    Syahrizal, Syahrizal; IAIN Lhoseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2022-01-14)
    Abstract: This study described the PAI teachers in contemporary Islamic education based on al-Ghazâlî’s concept, including theirtasks, roles, requirements, relevance, and competency. Followingthe descriptive, textual, and reflective analysis of the Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn,PAI teachers areexpected to guide the education process, including the aspects of khuluqiyah, ‘ubûdiyah, tauhîdiyah, and tazkiyat al-nafs as stated by al-Ghazâlî. Theyplay essential roles in the student’s success, such as being fathers, mentors, advisors, reformers, psychologists, motivators, demonstrators and evaluators. According to al-Ghazâlî, PAI teachers should be qualified especially in psychology and didactic pedagogy, and be competent in personal and professional religion. Al-Ghazâlî’s concept on the PAI teacher’s tasks, roles, requirements, and competency, is relevant in contemporary Islamic education.Abstrak: Tulisan ini bertujuan memaparkan konsep guru PAI menurut al-Ghazâlî yang mencakup tugas, peran, persyaratan, dan kompetensi guru PAI serta relevansinya dengan guru PAI dalam pendidikan Islam kontemporer. Berdasarkan analisis deskriptif, tekstual, dan reflektif dengan merujuk kitab Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, hasil kajian menunjukkan bahwa guru PAI versi al-Ghazâlî memiliki tugas yang berat dalam proses pendidikan anak didik, yaitu tugas yang mencakup aspek khuluqiyah, ‘ubûdiyah, tauhîdiyah, dan tazkiyat al-nafs, dan memiliki peran penting demi kesuksesan pendidikan anak didik, yang meliputi peran sebagai ayah, pembimbing, penasehat, korektor, psikolog, motivator, demonstrator dan evaluator. Selain tugas dan peran tersebut, menurut al-Ghazâlî, menjadi guru PAI harus memenuhi beberapa persyaratan, terutama persyaratan yang berkaitan dengan aspek psikologis dan didaktis-pedagogis dan memiliki kompetensi personal-religius dan profesional-religius. Konsep al-Ghazâlî tentang tugas, peran, persyaratan, dan kompetensi guru PAI masih relevan dengan konteks guru PAI dalam pendidikan Islam kontemporer.Keywords: PAI teachers, al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn
  • THE DISPUTES OF RATÉB SIRIBÈE IN ACEH

    Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Muchsin, Misri A; Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry; Hadi, Abdul; Manan, Abdul; Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry; Putra, Rahmat Syah; Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This study discusses the foundation of Sufi tenet developed by Shaykh Amran Waly and the communities’ response to the integration of the tenet – the Study Council of Sufism Tawhîd (MPTT) and ratéb siribèe (one-thousand dzikr)–within the northern and eastern Aceh, Indonesia. Qualitative approach was implemented as the observation, in-depth interviews and documentation studies were due to collect the data. MPTT and ratéb siribèe as its integration aim to restore the grandeur of Acehnese people in the past. However, the tenet was responded in many ways by the communities. Some considered that MPTT and ratéb siribèe could act as a means of practicing Sufism, while the others assumed that the teachings developed were deviant since those contain the style of Ibn al-‘Arabî and al-Jîlî Sufism– once considered heretical with the concept of wahdah al-wujûd (unity of existence), which is dissimilar with the Sufism concept–wahdah al-syuhûd (unity of appearance). Abstrak: Penelitian ini mengkaji fondasi ajaran tauhid-tasawuf yang dikembangkan oleh Shaykh Amran Waly. Penelitian ini juga menelaah respons masyarakat utara dan timur Aceh terhadap integrasi dari ajaran tersebut–Majelis Pengkajian Tauhid-Tasawuf (MPTT) dan ratéb siribèe (zikir seribu). Pendekatan kualitatif diimplementasikan dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi sebagai instrumen pengumpul data. Hasil penelitian menemukan bahwa ajaran tersebut berdasarkan dari gaya sufisme yang dikembangkan oleh Shaykh ‘Abdul Karîm al-Jîlî yang pernah dianggap bidah. MPTT dan ratéb siribèe sebagai integrasi ajaran tersebut memiliki tujuan untuk mengembalikan kejayaan rakyat Aceh pada masa lalu. Namun, berbagai respons muncul dari kalangan masyarakat. Beberapa menganggap MPTT dan ratéb siribèe dapat menjadi media untuk melatih ajaran sufisme, sementara pihak lainnya menganggap ajaran tersebut sesat karena mengandung gaya sufisme dari al-‘Arabî dan al-Jîlî yaitu wahdah al-wujûd (keberadaan) dan bertolak belakang dengan konsep sufisme wahdah al-syuhûd (rupa) Syekh Abuya Muda Waly al-Khalidy. Keywords: Amran Waly, MPTT, ratéb siribèe, sufism, tawhîd
  • RECONSIDERING NAFAQAH OF FAMILY RESILIENCE DURING THE COVID-19 PANDEMIC IN ISLAMIC LEGAL PERSPECTIVE

    Nurdin, Ridwan; Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry; Ridwansyah, Muhammad; Fakultas Hukum Universitas Sains Cut Nyak Dhien; Iskandar, Zakyyah; Fakultas Hukum Universitas Sains Cut Nyak Dhien (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: The main goal of this research is to comprehend deeply the relation between husband and wife relating to the responsibilty of nafaqat in their family. The methodology used is juridical-sociological; where the data analyzed from textual livelihood obligations conditional or current contextual forces that all family members also have a responsible role in terms of living. The results of the study are as follows: that al-Baqarah requires a husband to provide a living to his wife, but in another context, a wife or other family members can play a role in maintaining family resilience during the Covid-19 pandemic resistance. In reality, however, the nafaqat become mutual responsibility of the husband and wife without any objection. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendalami relasi dan tanggung suami dan isteri terkait nafkah sehingga akan diketahui legal bases yang berkembang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis-sosiologis, dimana data yang ditelaah dari tekstual kewajiban nafkah dengan kondisional atau kontekstual sekarang yang memaksa bahwa semua anggota keluarga juga punya peran tanggungjawab dalam hal nafkah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Q.S. al-Baqarah mewajibkan seorang suami memberikan nafkah kepada istri tetapi dalam konteks lain, seorang istri atau anggota keluarga lain dapat berperan dalam menjaga ketahanan keluarga di masa pandemi covid-19. Realitasnya, nafkah keluarga menjadi tanggung bersama suami isteri tanpa ada merasa keberatan. Keywords: nafaqat, family resilience, Covid-19 pandemic
  • QUR’ANIC PERSPECTIVES ON CARING FOR THE ELDERLY

    Universitas Dharmawangsa; Thaib, Zamakhsyari Hasballah; Universitas Dharmawangsa (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This article aims to describe the amount of attention that the Qur’ân has given to the problems of caring for the elderly. The author examined this topic using thematic interpretation methods by collecting âyahs that are closely related to keywords in the study, according to the induction (istiqrâ') method. Among the main conclusions in this paper, there were many words used in the Qur'ân which refer meaning of elderly such as al-kibar, ‘ajûz, syeikh, arzal al-‘umr, wahana al-‘azhm, dha‘f, and syaibah and their derivations. Al-Qur’ân suggests that old age is an extended period; there are ordinary elderly and late elderly, each has different characteristics. In caring for the elderly, several Qur’ânic principles should always be considered, among them; glorifying and honouring the elderly is one of the main characteristics of Islamic society. It is hoped that through these qur’ânic principles, care and respect for the elderly will be better among the Muslim community, especially in Indonesia. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan besarnya perhatian yang diberikan al-Qur’ân terhadap permasalahan pemeliharaan lansia. Penulis mengkaji topik ini dengan menggunakan metode tafsir tematis, dengan menghimpun ayat–ayat yang berkaitan erat dengan kata – kata kunci dalam kajian, sesuai dengan metode istiqrâ’ (induksi). Di antara kesimpulan pokok dalam tulisan ini, ada begitu banyak kata yang digunakan al-Qur’ân untuk menunjukkan makna lansia seperti al-kibar, ‘ajûz, syeikh, arzal al-‘umr, wahana al-‘azhm, dha‘f, dan syaibah. Al-Qur’ân mengisyaratkan bahwa usia tua adalah masa yang panjang; ada lansia biasa dan lansia akhir, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam merawat lansia, beberapa prinsip al-Qur’an harus selalu diperhatikan, di antaranya; memuliakan dan menghormati orang yang lebih tua merupakan salah satu ciri utama masyarakat Islam.  Diharapkan melalui prinsip-prinsip al-Qur’ân ini, kepedulian dan penghormatan terhadap orang tua akan semakin baik di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia. Keywords: elderly, Qur’ânic principles, Qur’ânic exegesis
  • CHARACTER EDUCATION IN ISLAMIC EDUCATION INSTITUTIONS: A Study on the Impact of Lecturer Competence at IAIN Lhokseumawe

    Rahmah, Syarifah; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Indonesia; Fadhli, Muhammad; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Indonesia (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract. This study aims to determine the effect of lecturer competence on the character of students at IAIN Lhokseumawe. The research method used is quantitative with a path analysis model. The research subjects were students of IAIN Lhokseumawe. With a total sample of 351 people. Sampling was done using the proportional random sampling technique. Based on the research findings, professional competence has the strongest and most significant impact on character development followed by pedagogical, social, and personality competencies. This finding implies that higher education institutions need to develop lecturers' competencies, especially professional competencies to realize better character education among universities.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi Dosen terhadap karakter mahasiswa IAIN Lhokseumawe. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan model analisis jalur. Subjek penelitian adalah mahasiswa IAIN Lhokseumawe dengan jumlah sampel sebanyak 351 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proporstional random sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional memiliki dampak paling kuat dan signifikan terhadap pengembangan karakter diikuti oleh kompetensi paedagogik, sosial dan kepribadian. Temuan ini berimplikasi bahwa lembaga pendidikan tinggi perlu mengembangkan kompetensi dosen terutama kompetensi profesional guna mewujudkan pendidikan karakter yang lebih baik di kalangan perguruan tinggi.Keywords: pedagogical, professional, personality, social, Islamic student character
  • THE TITLE KHALÎFAT ALLÂH IN 17TH CENTURY ACEH: Concept and Meanings

    Hadi, Amirul; The Faculty of Adab and Humanities, Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This article attempts to study the use of the title ‘khalîfat Allâh’ in seventeenth century Aceh. The main bulk of this inquiry revolves around the concept and meanings of the title, which was adopted from the mainland of Islam. This study is historical in nature and it is done by employing the ‘descriptive analytical’ method. The description of the use of the title khalîfat Allâh and its relations with the Acehnese political structures will be investigated. This step is then followed by the ‘analytical’ part, in which the exploration of the Acehnese conception and the meanings of the title will be given. As a sultanate, Aceh was seen as a khilâfah in its own right in which God’s religion is to be implemented. As Such, the ruler’s task was not only to pursue the prosperity for the country and its people but also to foster God’s religion. Based on this tenet, the head of the state was to hold the title ‘khalîfat Allâh’, which simply meant the ‘deputy of God.’ By this very title a ruler was to possess both political and religious authority. Yet, by holding the religious authority did not necessarily mean that a ruler was a scholar of religion; it can be best described as a ‘religiously sanctioned authority’.Abstrak: Artikel ini mengkaji penggunaan gelar ‘khalîfat Allâh’ di kerajaan Aceh pada abad ke-17. Fokus utama dari penelitian ini berkisar tentang konsep dan makna yang terkandung dalam gelar dimaksud, yang diadopsi dari kawasan utama dunia Islam. Kajian ini berbentuk historis, dan ia dilakukan dengan menggunakan metode ‘deskriptif analitis’. Deskripsi mengenai penggunaan gelar khalîfat Allâh dan hubungannya dengan struktur politik di Aceh ketika itu akan diinvestigasi. Langkah ini kemudian diikuti oleh bagian ‘analisis’, di mana eksplorasi mengenai konsep dan makna dari gelar ini akan dipaparkan. Sebagai sebuah kesultanan, Aceh dilihat sebagai sebuah khilâfah yang berdaulat di mana agama Allah diimplementasikan. Dengan demikian, tugas seorang penguasa tidak hanya mewujudkan kemajuan kerajaan dan kesejahteraan rakyatnya tetapi juga meliputi penegakan agama Allah. Atas dasar ajaran ini, kepala negara menyandang gelar ‘khalîfat Allâh’, yang bermakna ‘wakil Allah’. Gelar ini memberikan makna bahwa seorang penguasa memiliki otoritas politik dan agama. Namun, kepemilikan otoritas agama tidak berarti bahwa penguasa adalah seorang yang ahli dalam bidang agama (‘ulama’); ia dapat dikatakan sebagai ‘otoritas yang memiliki nilai keagamaan.’               Keywords: Aceh, sultanate, khalîfat Allâh, authority, politics, religion
  • THE LOGICAL PROBLEM OF EVIL IN ISLAM AND CHRISTIANITY: A Comparative Approach in the Thought System of Ibn Sînâ and Richard Swinburne

    Zamzami, Mukhammad; Sunan Ampel State Islamic University Surabaya; HosseiniEskandian, Abdullah; University of Tabriz, East Azerbaijan,; Aabaszadeh, Aabas; University of Tabriz, East Azerbaijan,; Muktafi, Muktafi; Sunan Ampel State Islamic University Surabaya (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: The study of the ideas of Ibn Sînâ and Richard Swinburne as the pioneers of Islamic philosophy and the West philosophy, and on the other hand, the existing scholastic and ideological differences, is something that can help us to become more familiar with the thoughts of these philosophers and intellectual differences and similarities. In this research, with the analytical method and using the necessary documents, the nature, types, and solutions of evil in the thought of Ibn Sînâ and Swinburne are examined, and also the two philosophers’ thoughts about evil are compared. Both philosophers have considered the existence of evil not in contradiction with the divine attributes, but it is necessary for the acquisition of good, the minimum existence of which is necessary for the best system of creation.  Abstrak: Kajian terhadap pemikiran Ibn Sînâ dan Richard Swinburne tentang kejahatan menjadi menarik untuk dianalisis karena perbedaan horizon berpikir keduanya. Jika Ibn Sînâ mewakili tradisi filsafat Islam, maka Richard Swinburne dianggap mewakili filsafat Barat kontemporer. Dalam artikel ini, penulis menganalisis dari dokumen kepustakaan yang diperlukan, baik tentang sifat, jenis, dan solusi atas kejahatan menurut pandangan Ibn Sînâ dan Swinburne. Bagi kedua filsuf, eksistensi kejahatan tidak bertentangan dengan sifat-sifat ilahi, tetapi ia diperlukan untuk memperoleh kebaikan dan keberadaan minimum yang diperlukan untuk sistem penciptaan perbuatan terbaik.Keywords: evil, Ibn Sînâ, Richard Swinburne, Divine attributes, world of creation
  • THE METHOD OF COUNTERACTING RADICALISM IN SCHOOLS: Tracing the Role of Islamic Religious Education Teachers in Learning

    Tambak, Syahraini; Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: The Researches of radicalism have been widely studied, but the methods to counteract in school have not yet been found. This study aims to explore the methods of Islamic religious education teachers in counteracting radical understanding of students in learning. This research used a case study approach that was carried out for two years in high school in Pekanbaru which conducting interviews with teachers, principals, and students. This research produced a method which the teacher counteracts radicalism in learning are dissemination of understanding and the dangers of radicalism. The examples of them are tolerance and living in harmony, oversee Islamic spiritual activities, companion to religious activities, instilling moderate Islamic teachings, transmitter of Islâm kâffah teachings and dialogue about similarity in learning. The implication of this research is to develop the theory of “The methods to counter radicalism in schools” in education, by strengthening the methods used by teachers in countering radicalism in learning. Abstrak: Studi radikalisme telah banyak dipelajari, namun metode untuk menangkalnya di sekolah belum ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi metode guru pendidikan agama Islam dalam menangkal pemahaman radikal siswa dalam pembelajaran. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus, penelitian ini dilakukan selama dua tahun di SMA di Pekanbaru, Indonesia, dengan melakukan wawancara dan observasi bersama guru, kepala sekolah, dan siswa. Penelitian ini menghasilkan suatu metode dimana guru menangkal radikalisme dalam pembelajaran di sekolah adalah sosialisasi paham dan bahaya radikalisme, contoh toleransi dan hidup harmonis, mengawasi aktivitas spiritual Islam, pendamping kegiatan keagamaan, menanamkan ajaran Islam moderat, penyampai ajaran Islam kâffah, dan dialog tentang kesamaan dalam pembelajaran. Implikasi penelitian ini adalah mengembangkan teori “metode penanggulangan radikalisme di sekolah” dengan memperkuat metode yang digunakan guru dalam penanggulangan radikalisme dalam pembelajaran. Keywords: radicalism, Islamic religious teacher, teaching method, learning
  • NATIONALISM AND POLITICAL THOUGHTS OF SHEIKH M. ARSYAD THALIB LUBIS (1908-1972)

    Harahap, Mardian Idris; UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This article describes the Nationalism and political thought of Sheikh M. Arsyad Talib Lubis (Tuan Arsyad). Tuan Arsyad's political ideology is religious nationalist in style, and his political thought is characterized as integrism in typology. His political views were inspired by his knowledge and understanding of Islamic sciences (especially fiqh or Islamic law). Sheikh M. Arsyad Thalib Lubis' political ideas and fatwas had a significant impact in instilling a sense of nationalism among Muslim youngsters, particularly in North Sumatra, in fighting colonialism and eradicating Communism. However, his political views on communism were challenged and criticized by Soekarno (the first President of Indonesia ) who labelled them as communist phobia and an unethical conduct. Donald E Weatherbee characterized Sheikh M. Arsyad Thalib Lubis' ideas against President Soekarno as a group that engaged in insubordination and posed a threat of punishment. Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang nasionalisme dan pemikiran politik Syekh M. Arsyad Thalib Lubis. Pemikiran politik Syekh M. Arsyad Thalib Lubis memiliki corak nasionalis religius dan tipologi pemikiran politiknya digolongkan kepada tipe integrisme. Pemikiran politiknya dipengaruhi oleh pemahaman dan kedalaman pengetahuannya terhadap ilmu keislaman (khususnya ilmu fikih atau hukum Islam). Pemikiran politik dan fatwa Syekh M. Arsyad Thalib Lubis memiliki pengaruh yang luas dalam membangkitkan semangat nasionalisme para pemuda umat Islam khususnya Sumatera Utara dalam melawan kolonialisme dan memberantas komunisme. Namun, berkaitan dengan pemikirannya tentang komunisme ini mendapat tantangan dan celaan dari Soekarno (Presiden Indonesia pada masa Orde Lama) serta menyebutnya dengan komunis phobia dan suatu perbuatan yang amoral. Pertentangan pemikiran Syekh M. Arsyad Thalib Lubis terhadap Presiden Soekarno ini, diklasifikan oleh Donald E Weatherbee sebagai kelompok yang melakukan pembangkangan dan sebagai resikonya akan dijatuhi hukuman. Keywords: ulama, M. Arsyad Thalib Lubis, Islamic political view(s), religious nationalist, integrism
  • SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS’ IDEAS ON THE ISLAMIZATION OF KNOWLEDGE AND ITS RELEVANCE WITH ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA

    Kosim, Muhammad; UIN Imam Bonjol Padang; Kustati, Martin; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang; Murkilim, Murkilim; Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Bengkulu (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This article discusses on Syed Muhammad Naquib al-Attas’s thoughts on the Islamization of Knowledge and analyzes its relevance to the development of Islamic education in Indonesia. A library research was employed by collecting relevant papers and writings. To interpret literatures, a hermeneutic approach was used where the data taken from content analysis. The study showed that the main thought of Naquib al-Attas was that all knowledge comes from Allah SWT. Meanwhile, the development of Western science tends to be secular. The Islamization of knowledge must be carried out in the Islamic education system by releasing knowledge from various interpretations based on secular ideology, meanings and expressions. The idea has relevance to the development of Islamic education as an effort to overcome the dichotomy paradigm of science in Indonesia.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menguraikan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan lalu menganalisis relevansinya dengan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah library research dengan mengumpulkan karya tulis yang relevan untuk mencapai tujuan penelitian di atas. Untuk memahami, menafsirkan dan memaknai literatur teks, digunakan pendekatan hermeneutik. Sedangkan pengolahan dan penganalisaan semua data, digunakan metode content analysis. Artikel ini menemukan bahwa pemikiran utama Naquib al-Attas adalah semua ilmu berasal dari Allah SWT. Namun perkembangan ilmu pengetahuan Barat cenderung sekuler dan bebas nilai. Islamisasi ilmu pengetahuan mesti dilakukan dalam sistem pendidikan Islam dengan cara melepaskan ilmu pengetahuan dari berbagai interpretasi yang didasarkan pada ideologi, makna, dan ungkapan yang bersifat sekuler. Gagasan ini memiliki relevansi dengan perkembangan pendidikan Islam dalam upaya mengatasi paradigma dikotomi ilmu di Indonesia. Keywords: Islamization of knowledge, al-Attas, Indonesia’s Islamic education
  • PLANNING OF LECTURER QUALITY DEVELOPMENT OF STATE ISLAMIC HIGHER EDUCATION IN ACEH

    Husaini, Husaini; IAIN lhokseumawe; Barus, Jumat; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This research was conducted to examine and explain how the planning of lecturer quality development was carried out by the State Islamic Colleges in Aceh. This study used qualitative design with three State Islamic Colleges in Aceh as the objects and locations. The data was obtained through interview and documentation techniques from related officials of the colleges concerned. The results showed that the planning of lecturer quality development of the universities had been set in their strategic plan with three focuses, they are plans to turn lecturers into experts in their fields; plans to develop lecturer expertise; and plans to increase research and community service. The institutions generally have the same commitment to make various good and sufficient plans for the development of the lecturer quality both in terms of capacity and professionalism, however there are two important aspects that determine policy makers in determining their plans.Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan menjelaskan bagaimana perencanaan pengembangan kualitas dosen yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Aceh. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan tiga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Aceh sebagai objek dan lokasi. Data diperoleh melalui teknik wawancara dan dokumentasi dari pejabat perguruan tinggi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pengembangan kualitas dosen telah diatur dalam dokumen rencana strategis dengan tiga fokus, yaitu rencana menjadikan dosen ahli di bidangnya; rencana pengembangan keahlian dosen; dan rencana peningkatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga institusi yang dikaji secara umum memiliki komitmen yang sama untuk membuat berbagai perencanaan yang baik dan memadai untuk pengembangan kualitas dosen baik dari sisi kapasitas maupun profesionalisme, namun terdapat dua aspek penting yang memengaruhi pengambil kebijakan dalam menentukan perencanaannya.Keywords: Islamic higher education, Aceh, lecturer, competence, quality, planning
  • CONTESTING THE AUTHENTICITY OF THE HADITH SANAD: An Analysis of Leone Caetani’s Thought

    Muhammad, Muhammad; UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: One of the most heated debate on the Prophet Traditions criticism is the issue of concerning the chain of transmitter or what is popularly known as sanad which consequently determine the validity of a hadith of the Prophet Muhammad. Even Muslim scholars consider sanad to be part of the religion of Islam. In contrast to this stand, Leone Caetani, one of the Italian orientalists who is famous for his historical works on Islam, tried to blatantly criticize the chain of transmitters of the hadith as well as review them in an approach and method he himself promoted. This paper attempts to explore L. Caetani’s thoughts about the chain of transmitter of the Prophetic Traditions by applying literature study and descriptive-analytic methods. The result of this research is that L. Caetani assumes that sanad is not an integral part of the teaching of Islam but Muslim scholars but rather an adoption from the Arab tradition. In addition, it also implies that the existence of sanad is only the image of the name of the Prophet Muhammad and his narrators, and the narrators of hadith are people who cannot be followed and do a lot of practice of falsification in his narrations.Abstrak: Sanad hadis merupakan salah satu rangkaian terpenting dalam membuktikan sahih dan tidaknya sebuah hadis Nabi Muhammad. Bahkan sarjana Muslim menganggap sanad merupakan bagian dari agama Islam. Hal ini berbeda dengan pandangan Leone Caetani salah satu orientalis Italia yang terkenal dengan karya sejarah tentang agama Islam. Ia berusaha mengkaji ulang tentang sanad hadis dan memberikan kritikan terhadap sanad yang dianggap penting oleh umat Islam. Untuk mengupas pemikiran L. Caetani tentang sanad hadis dalam artikel ini, penulis menggunakan metode studi pustaka dan deskriptif-analitik. Hasil dari penelitian ini ialah L. Caetani berasumsi bahwa sanad bukan ajaran agama Islam melainkan sarjana Muslim mengadopsi dari tradisi orang Arab, adanya sanad hanya pencitraan nama Nabi Muhammad dan para perawinya, dan para perawi hadis merupakan orang-orang yang tidak bisa diteladani dan banyak melakukan pemalsuan dalam periwayatannya.Keywords: Leone Caetani, orientalis, sanad, hadis

View more