• ACCULTURATION OF MALAY AND TOBA BATAK CULTURAL VALUE ON MALAY SOCIETIES IN TANJUNG BALAI CITY ASAHAN NORTH SUMATRA

      Mailin, Mailin; State Islamic University of North Sumatra (State Islamic University North Sumatra, 2017-06-22)
      Abstract: This research is a field that aims to understand the process of acculturation Malays and Toba Batak eastern Sumatra (Asahan Tanjungbalai), and how many influences the Sultan of Asahan in the process of acculturation Malays and Toba Batak in Asahan. Tanjungbalai Asahan is one area with Malay culture. Malay as a cultural group has characteristics: speak Malay, Muslim, and Malay customs and habitual. This research uses descriptive qualitative research method. The results showed that the process of acculturation Malay and Muslim Toba Batak culture in the city came from the government Tanjungbalai Sultan Asahan I who ruled in the city Tanjungbalai before the independence of the Republic of Indonesia. Religious leaders (ulama) and traditional leaders also played a role in the acculturation process of Malay cultural values in Tanjungbalai, especially in the Batak Toba ethnic Muslim. Acculturation between these two cultures gave birth to a Malay culture has a different characteristic to the Malay culture in the archipelago. Malays in the city has the nature and character that tend to be rough and hard, like the Toba Batak ethnic character. Abstrak: Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bertujuan untuk mengetahui proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Tanjungbalai Asahan), serta seberapa besar pengaruh Sultan Asahan dalam proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Asahan. Tanjungbalai Asahan adalah salah satu daerah yang berbudaya Melayu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses akulturasi budaya Melayu dan budaya Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai berawal  dari  pemerintah Sultan Asahan I yang memerintah di kota Tanjungbalai sebelum kemerdekaan  Negara Republik Indonesia. Tokoh agama (ulama) dan tokoh adat juga turut berperan dalam  proses akulturasi nilai budaya Melayu di Kota Tanjungbalai, khususnya pada etnis Batak Toba Muslim. Akulturasi antar dua budaya ini melahirkan sebuah budaya Melayu yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan budaya Melayu di Nusantara. Melayu di kota ini memiliki sifat serta karakter yang cenderung kasar dan keras, seperti karakter  etnis Batak toba.Kata Kunci: Melayu, Batak Toba, Kesultanan Asahan, Islam
    • ACEH IN HISTORY: Preserving Traditions and Embracing Modernity

      Hadi, Amirul; Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2016-04-14)
      Abstrak: Aceh dalam Sejarah: Mempertahankan Tradisi dan Mengawal Modernitas. Tulisan ini berupaya mendiskusikan secara kritis tentang bagaimana masyarakat Aceh dalam sejarah, sementara mencoba menyesuaikan diri dengan dunia modern, mereka melakukan segala upaya untuk mempertahankan tradisi. Sebagai sebuah etnik yang memiliki masa lalu yang gemilang, Aceh senantiasa memiliki keterikatan kuat dengan “identitas”, dan hal ini dituangkan dalam banyak hal, termasuk “ingatan sosial.” Untuk itu, “tradisi”, digali dan dipertahankan. Namun, tantangan modernitas juga merupakan hal yang harus direspon dan disikapi. Dalam konteks inilah kelihatannya masyarakat Aceh berada di persimpangan jalan. Di satu pihak mereka berupaya mempertahankan tradisi yang telah ada namun juga harus melibatkan diri dalam kehidupan modern. Penulis menyimpulkan bahwa masyarakat Aceh masih menemukan kesulitan dalam hal ini, karena mereka masih terpaku kepada “romantisasi sejarah”, bukan “kesadaran sejarah”, sehingga “ruh” masa lalu belum mampu dibawa ke masa kini.Abstract: This paper attempts to critically discuss on how the Acehnese in history, while trying to embrace the modern world, have made every effort at preserving their traditions. As an ethnic group which has a glorious past, Aceh has strongly been connected to “identity”; and this is expressed in various means, including “social memory.” For this very reason, “traditions”, including those of the past, are explored and preserved. Yet, the challenges of modernity are also apparent. It is in this context that the Acehnese are trapped at the crossroad. On the one hand, they tend to preserve their traditions, yet, on the other, they need to embrace modern lives. The Acehnese seem to have encountered considerable obstacles on this issue, for they tend to focus more on historical “romanticism” (nostalgia) rather than historical “awareness” (consciousness). Eventually, the “spirit” of the past cannot be brought into light.Keywords: Aceh, history, traditions, modernity
    • ACUAN PEMBANGUNAN ACEH PASCA TSUNAMI Ke Arah Pembangunan Berasaskan Islam

      Sukiman, Sukiman; Fakultas Ushuluddin IAIN Sumatera Utara Medan (State Islamic University North Sumatra, 2010-12-02)
      Abstract: Reference of Development in the Post-Tsunami Aceh: An Analysis Toward Islamic Based Development. Tsunami disaster occurred in Aceh causes not only in the lost of a great number lives but also in very seriousdestruction of infrastructure and every aspect of lives. Thus, in post Tsunami, rebuilding Aceh becomes the priority of the government. This article tries to analytically describe various government programs in rebuilding Aceh in the post Tsunami. In such a context, the author argues that besides referring to national development program (Propenas) rebuilding Aceh also refer to the regulation of Qanun of Aceh, a regulation of which constitutes the principles of Islamic teachings to be used as a blue print for rehabilitating and reconstructing in the post-Tsunami Aceh. Kata Kunci: pembangunan, propenas, qanun Aceh
    • AKULTURASI NILAI BUDAYA MELAYU DAN BATAK TOBA PADA MASYARAKAT MELAYU KOTA TANJUNGBALAI ASAHAN

      Mailin, Mailin; State Islamic University of North Sumatra (State Islamic University North Sumatra, 2017-12-20)
      Abstract: This paper attempts to analyze the acculturation process of Malays and Toba Batak cultures in Asahan Tanjungbalai, and to what extent the Sultan of Asahan influenced the process of acculturation. This study uses descriptive qualitative research method. The findings of this research showed that the process of acculturation Malay and Muslim Toba Batak culture in the city emerged from the government of Tanjungbalai Sultan Asahan I who ruled in the city before the independence era of the Republic of Indonesia. Religious leaders (ulama) and traditional leaders also played a role in the acculturation process of Malay cultural values in Tanjungbalai, especially in the Batak Toba ethnic Muslim milieu. Acculturation between these two cultures gave birth to a Malay culture which led to a different characteristic to the Malay culture in the archipelago. The author affirms that Malays in the city, by nature, tends to be tough in character as a result of Toba Batak ethnic character. Abstrak: Acculturation of the Malay and Toba Batak Cultural Values on Malay Societies in Tanjung Balai City Asahan North Sumatra. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bertujuan untuk mengetahui proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Tanjungbalai Asahan, serta seberapa besar pengaruh Sultan Asahan dalam proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Asahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses akulturasi budaya Melayu dan budaya Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai berawal  dari  pemerintah Sultan Asahan I yang memerintah di kota Tanjungbalai sebelum kemerdekaan  Negara Republik Indonesia. Tokoh agama (ulama) dan tokoh adat juga turut berperan dalam  proses akulturasi nilai budaya Melayu di Kota Tanjungbalai, khususnya pada etnis Batak Toba Muslim. Akulturasi antar dua budaya ini melahirkan sebuah budaya Melayu yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan budaya Melayu di Nusantara. Melayu di kota ini memiliki sifat serta karakter yang cenderung kasar dan keras, seperti karakter etnis Batak toba. Kata Kunci: Melayu, Batak Toba, Kesultanan Asahan, Islam
    • AL-QUR’AN DAN PLURALITAS: Membangun Kehidupan Masyarakat yang Majemuk

      Marasabessy, Abd. Rahman I.; Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Ternate (State Islamic University North Sumatra, 2016-02-11)
      Abstrak: Tulisan ini mengkaji konsep pluralisme agama sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Semua agama-agama di dunia pada waktu tertentu telah takluk kepada tekanan sekuler dan menundukkan pesan moral-spiritual utama di bawah ambisi politis dan interest komunitas khusus mereka. Al-Qur’an menginfor- masikan bahwa pluralisme agama merupakan sesuatu yang alami (sunnah Allâh), dan manusia diciptakan dalam pluralitas, bahkan jika Tuhan menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, sekalipun secara faktual tidak demikian. Penulis menemukan bahwa pluralisme agama dalam al-Qur’an, bukan saja untuk memberikan kahidupan yang layak intern umat Islam, tetapi lebih dari itu memberikan semangat hidup berdampingan dengan umat lainnya, baik dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan kehidupan antar bangsa.Abstract: Al-Qur’an and Plurality: Building Heterogeneous Social Lives. This article studies the pluralism related concepts according to the verses of the Qur’an. All the world religions at a certain time had overruled by secular pressure and had controlled the fundamentals of moral-spiritual message for the sake of the political ambition and interest of their certain communities. The Qur’an informs that religious pluralism is something natural, and humankind is created in plurality, and even if God so Will, He should have created man in a single community, although this is contrary to the fact. The author finds that pluralism according to the Qur’an, does not only cater the proper Muslim lives internally, but, above all, also provide for the spirit of living together with other community both in matters of religious, national and international lives.Kata Kunci: pluralitas, al-Qur’an, masyarakat majemuk
    • AN INQUIRY OF THE PRINCIPLES OF ISLAMIC EDUCATION MANAGEMENT IN THE QUR’AN

      Buto, Zulfikar Ali; IAIN LHOKSEUMAWE; Fakhrurrazi, Fakhrurrazi; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: This article analyzes several well-known interpretations of the principles of Islamic education management in the Qur’an, Surah al-Taubah verse 60. This analysis examines the implied meaning so that it is very relevant to current conditions regarding the principles of Islamic education management in socializing, collecting and sharing zakat to those who are entitled to receive it. This study is enriched with a particular tahlilî interpretation approach to the terminology of zakat contained in the Qur’an Surah al-Taubah verse 60. The results of the zakat distribution education management, constitutional education management principles of zakat management, education management principles for asset cleaning, ideological, doctrinal education management principles, undergraduate education management, and human resource education management.Abstrak: Artikel ini menganalisis beberapa tafsir ternama tentang wawasan prinsip manajemen pendidikan Islam dalam al-Qur’an surah al-Taubah ayat 60. Analisis ini menelaah makna yang tersirat sehingga menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini terkait prinsip manajemen pendidikan Islam dalam mensosialisasikan, mengumpulkan dan membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Kajian ini diperkaya dengan pendekatan tafsir tahlili khusus pada terminologi zakat yang terdapat dalam al-Qur’an Surah al-Taubah ayat 60. Hasil telaah menunjukkan bahwa ditemukan wawasan prinsip manajemen pendidikan Islam dalam Surah al-Taubah ayat 60 yang mencakup prinsip manajemen pendidikan konflik, prinsip manajemen pendidikan pembagian zakat, prinsip manajemen pendidikan konstitusi pengelolaan zakat, prinsip manajemen pendidikan pembersihan harta, prinsip manajemen pendidikan doktrinasi ideologi, manajemen pendidikan penganggungan, dan manajemen pendidikan sumber daya manusia.Keywords: Islamic education, management, aims giving, Qur’anic exegesis
    • ANALISIS METODOLOGIS-FILOSOFIS KONSEP TAFSIR JAMÂL AL-BANNÂ

      Zamzami, Mukhammad; Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Jl. Ahmad Yani No. 117, Surabaya, Jawa Timur, 60237 e-mail: zamzami81@yahoo.com (State Islamic University North Sumatra, 2016-02-09)
      Abstrak: Artikel ini mencoba untuk mengulas metode penafsiran Jamâl al-Bannâ secara metodologis dan filosofis. Dimulai dengan upaya untuk mendekonstruksi interpretasi hasil dari semua mufasir klasik, Jamâl al-Bannâ mengusulkan tiga tahap dalam penafsiran al-Qur’an, yaitu pendekatan seni, pendekatan psikologis, dan pendekatan rasional. Ketiganya merupakan tahapan hierarkis untuk bisa sampai pada sebuah penafsiran. Setelah bisa sampai pada tahap penafsiran, Jamâl al-Bannâ tidak merekomendasikan metode tertentu atau membatasi ilmu pengetahuan tertentu sebagai metode analisa penafsiran. Ia menolak jika salah satu metode tertentu memiliki garansi sebagai satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran, karena al-Qur’an tidak harus dibatasi. Dalam sosiologi pengetahuan, pemikirannya mirip denganAgainst Method (Anarkisme Metode) Paul K. Feyerabend. Bagi Jamâl al-Bannâ, manusia sangat otonom dan bebas untuk menafsirkan selama itu sejalan dengan prinsip-prinsip humanis dan universal yang terkandung dalam al-Qur’an.Abstract: Methodological and Philosophical Analysis of Jamâl al-Bannâ’s Qur’anic Exegesis. This article seeks to analyze the method of Jamâl al-Bannâ’s interpretation. Beginning with an attempt to deconstruct the interpretation of the results of all classicalmufassir, Jamâl al-Bannâ proposed three stages in the interpretation of the Qur’an that include such approaches as stylistic, psychological, and rational method. All three approaches are utilized hierarchically in order to come to an interpretation. At the rational stage of Qur’anic exegesis, Jamâl al-Bannâ didn’t recommend a specific method or limit the science to a particular method. He refused that one particular method has the warranty as the only interpretation to seek the way for the truth, because the Qur’an should not be restricted. In the sociology of knowledge, his thinking is similar to that of Paul K. Feyerabend’s Against Method. According to Jamâl al-Bannâ, human beings are very autonomous and free to interpret the Qur’an as long as it is in line with the principles of humanistic and universal values as enshrined there in.Kata Kunci: Tafsir al-Qur’an, Jamâl al-Bannâ, pendekatan seni, metode penafsiran
    • ANALISIS SWOT DAKWAH DI INDONESIA: Upaya Merumuskan Peta Dakwah

      Abdullah, Abdullah; Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2012-12-02)
      Abstrak: Islam merupakan agama dakwah yang menganjurkan pemeluknya untuk mengajak manusia supaya beriman dan berkarya serta menata kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pada tataran praktis, dakwah sebagai tugas mulia belum dikelola dengan profesional dan terukur. Pada sisi lain, dai belum mampu menjadi agen perubahan sebagaimana cita-cita Islam yaitu rahmat li al-‘Âlamîn. Akibatnya posisi dakwah kurang diminati karena belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan bagi kemajuan umat. Sebab itu, diperlukan pengkajian dan pemetaan secara komprehensif tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dakwah. Penulis berargumen bahwa pemetaan yang komprehensif terhadap hal tersebut dan kemudian diiringi dengan perencanaan dan pelaksanaan dakwah secara professional merupakan keniscayaan, sehingga pada gilirannya dakwah mampu menjadi solusi terhadap problem kehidupan umat di era globalisasi ini.Abstract: A SWOT Analysis of Indonesia’s Proselytization (da‘wah), An Effort to Map Islamic Propagation in Indonesia. Islam is a religion of proselytization (da‘wah), advocating its adherents to invite humankind to have faith and to put it in action and direct their lives in line with Islamic values. At the practical level, proselytization as a noble service has not been managed professionally and unmeasurable. Proselytizers (dai) have not managed to become agents of change as demanded by Islamic social mission. As a result, the position of a proselytizer is not in high demand because it has not managed to guide the Islamic community forward. Thus, a comprehensive research to map current effort of proselytization to find out its strengths, weaknesses, opportunities, and challenges is needed. This paper offer the argument that with a comprehensive map, along with professional planning and implementation, Islamic proselytization will provide solutions towards the variety of Islamic community problems in today’s age of globalization.Kata Kunci: dakwah, analisis SWOT, strategi pengembangan
    • ANDALUSIA: Sejarah Interaksi Religius dan Linguistik

      Siregar, L. Hidayat; Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2016-04-14)
      Abstrak: Andalusia merupakan satu bab yang sangat menarik dalam sejarah Islam, karena hentakan awalnya, tetapi juga karena ketragisan akhirnya. Tulisan ini memusatkan perhatian pada pembahasan mengenai interaksi yang terjadi antara orang Islam sebagai bangsa penakluk di satu sisi dan bangsa lokal Andalusia sebagai bangsa tertakluk di sisi lain. Kenyataan ini terkadang menimbulkan penafsiran yang hitam putih dan serba revolusioner terhadap pola hubungan dan saling pengaruh antara Muslim dan penduduk asli Andalusia dalam hal agama dan bahasa. Artikel ini mengargumentasikan bahwa, sebagaimana di tempat lain, pengaruh religius dan linguistik merupakan aspek kehidupan yang lebih substantif dan mendasar bagi sebuah masyarakat bila dibandingkan dengan aspek politik dan militer dan hal ini memerlukan proses interaksi yang intens untuk terjadi di Andalusia. Artikel ini menelusuri tahapan-tahapan interaksi tersebut dan menggarisbawahi faktor- faktor terpenting yang terlibat di dalamnya.Abstract: Al-Andalus (Islamic Spain): A History of Religious and Linguistic Interaction. Islamic Spain is a chapter of Islamic history that has alway been very interesting, not only because of its shocking beginning but also because of its tragic end. The main thrust of this essay is focused on discussing the interaction between the Muslim peoples as conqueror on one side and the lokcal Andalusians as the conquered on the other. This fact often results in a black-and-white revolutionary interpretation of the relations between the conquering Arab Muslims and the conquerred Latin Christians. This article argues that, as in anywhere else in the Muslim world, religious and linguistic influence is the most substantive and fundamental aspects of social life compared to political and military aspects and such to occur in the Arab Muslims upon the locals of al-Andalus requires a long intensive interaction. The most relevant factors of the process are explained in this article.Kata Kunci: Andalusia, Islamisasi, Arabisasi, Reconquista
    • ARAH LEGISLASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF INTERAKSI AGAMA DAN NEGARA

      Zaki, M; Fakultas Syariah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin (State Islamic University North Sumatra, 2015-06-09)
      Abstrak: Dalam mereformasi hukum di Indonesia, Islamisasi hukum nasional masih menjadi pilihan utama dibanding melakukan nasionalisasi, formalisasi, dan lokalisasi hukum Islam. Tulisan ini bertujuan mengungkap bagaimana hubungan agama dan negara berpengaruh pada arah legislasi hukum Islam di Indonesia. Melalui pendekatan kajian literatur, disimpulkan bahwa pengaruh tersebut umumnya merefleksikan tampilan formalitas semata. Hampir semua negara dengan sistem hukum berbasis agama atau berlatar belakang keagamaan pun bersentuhan dengan sekularisasi hukum. Demikian halnya negara-negara sekular, adopsi unsur agama menjadi pilihan dan semakin memperlihatkan signifikansinya sebagai kebutuhan dunia global. Di Indonesia, paradigma relasi simbiosis agama-negara masih akan mengawal politik hukum nasional yang memberi tempat peran syariah substantif mewarnai potret legislasi hukum Islam.Abstract: Direction of Islamic Law Legislation in Indonesia in the Perspectives of Religion and State Interaction. In the process of legal reform in Indonesia, the Islamization of national law has still become primary option instead of nationalization, formalization and localization of Islamic law. This paper aims to unveil the extent to which the influence of interaction between religion and state on legislation of Islamic law in Indonesia. By means of literature review approach, it is concluded that such influence generally reflects a mere formality. Almost all countries with religious based legal systems or religious background was involved in the secularization of law. Similarly in most secular countries, the adoption of the religious element has become as an alternative and demonstrated its growing significance as a global exigencies. In Indonesia, the symbiotic paradigm of religion- state relations still give an avenue for the role of sharia substantive legislation within diversity portrait of Islamic law.Kata Kunci: hukum Islam, interaksi agama dan negara, legislasi, Indonesia
    • AZYUMARDI AZRA’S THOUGHT ON MULTICULTURAL EDUCATION

      IAIN Manado; Idris, Muh; IAIN Manado (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: Islamic religious education is often accused of advocating religious fanaticism and ideology of truth. The condition is resulted from relative detachment of religious education from social reality. As such, religious education fails to strengthen the awareness of religious plurality in the society. This paper is the result of a Content Analysis research on Azyumardi Azra’s thoughts on multicultural education. It is found that according to Azyumardi Azra, multicultural education is an education of and for socio-cultural diversity aiming at strengthening the Indonesian unity amid its very diverse population. Unity in Diversity is one of the four pillars of Indonesian nationhood namely the Pancasila, NKRI, 1945 Constitution, and Unity in Diversity.Abstrak: Pendidikan agama yang selama ini dijalankan sering dikritik karena dianggap menimbulkan fanatisme keberagamaan dan melahirkan ideologi kebenaran karena praktik pendidikan agama kurang menyentuh aspek realitas sosial. Pendidikan agama kurang menumbuhkan kesadaran positif tentang realitas plural kehidupan agama masyarakat. Tulisan ini menganalisis pemikiran Azyumardi Azra tentang pendidikan multikultural. Dengan menggunakan analisis isi penelitian ini menemukan bahwa pendidikan multikultural dalam pandangan Azyumardi Azra adalah pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan masyarakat Indonesia tentang pembentukan keikaan di tengah kebhinnekaan. Konsep pendidikan multikultural Azyumardi Azra ini berangkat dari realitas masyarakat Indonesia dalam rangka memperkuat kembali (revitalisasi) empat pilar wawasan kebangsaan yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.Keywords: education, multiculturalism, Azyumardi Azra, fanatism
    • BAYT AL-HIKMAH: Institusi Awal Pengembangan Tradisi Ilmiah Islam

      Al Farabi, Mohammad; STAI Sumatra (State Islamic University North Sumatra, 2016-02-10)
      Abstrak: Dalam catatan sejarah, Bayt al-Hikmah merupakan institusi awal dalam pengembangan tradisi ilmiah Islam. Aktivitas yang diperankan Bayt al-Hikmah telah memotivasi umat Islam untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, baik yang berasal dari ajaran Islam maupun di luar Islam yang dapat mencerdaskan masyarakat Muslim saat itu dari keterbelakangan peradaban. Tulisan ini mengeks- plorasi alasan pendirian Bayt al-Hikmah, profil dan aktivitas institusi, para patron dan ilmuwan yang terlibat di dalamnya, dan pengaruhnya dalam pengembangan pendidikan Islam. Penulis menyimpulkan bahwa pendirian Bayt al-Hikmah merupakan upaya pemerintah Bani Abbas untuk menghidupkan dan menerjemahkan karya- karya asing, terutama Yunani. Kesadaran ini mendorong bangkitnya ilmuwan-ilmuwan Muslim Abad Pertengahan yang memiliki pengaruh besar bagi perkembangan per- adaban Barat.Abstract: Bayt al-Hikmah: A Pioneering Institution in the Development of Islamic Scientific Tradition. Historically, Bayt al-Hikmah is recorded as a pioneering institution in the development of Islamic scientific tradition. The role played by Bayt al-Hikmah had motivated the Muslim society to make a thorough study on various disciplines of science both from Islamic and the other origins that brought the Muslims to the fore against the backwardness of civilization of that time. This essay explores the reason of the founding of Bayt al-Hikmah, its profile, the scientist and learned persons engaged therein, as well as the influence in the development of Islamic education. The author concludes that the establishment of Bayt al-Hikmah is an effort by the Bani Abbasid rule to translate foreign works especially from the Greek. Such consciousness threw light in the emergence Muslim scientists of the Middle age which had a significant influence on the development of Western civilization.Kata Kunci: sejarah Islam, Bayt al-Hikmah, tradisi ilmiah, peradaban
    • BIOGRAPHY AND ECONOMIC THOUGHT OF IBN QAYYIM AL-JAWZIYYAH

      Maulidizen, Ahmad; UNIVERSITY OF MALAYA; Bin Mohamad, Mohammad Taqiuddin; Department of Shariah and Economis University of Malaya (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
      Abstrak: Biografi dan Pemikiran Ekonomi Ibn Qayyim al-Jawziyyah (691 H/1292 M–751 H/1350 M). Ibn Qayyim al-Jawziyyah dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memiliki gagasan dalam pengembangan ekonomi Islam. Penjelasan ini menunjukkan urgensi meninjau kembali pemikiran dan gagasan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah khususnya di bidang ekonomi. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, artikel ini akan menganalisis biografi dan pemikiran ekonomi Ibn Qayyim al-Jawziyyah, seorang sarjana Muslim penting pada abad ke-13/14. Penulis menyimpulkan bahwa pemikiran Ibn Qayyim al-Jawziyyah di bidang ekonomi berimplikasi pada upaya mewujudkan konsep kesejahteraan sosial, pembentukan keadilan dan penghapusan ketidakadilan dalam kehidupan ekonomi.Abstract: Ibn Qayyim al-Jawziyyah is one of the prominent figures who had ideas in the development of Islamic economics. This explanation shows the urgency of re-examining the thoughts and ideas of Ibn Qayyim al-Jawziyyah especially in the economic field. Using a qualitative descriptive analysis method, this article will analyze the biography and economic thought of Ibn Qayyim al-Jawziyyah, a great Muslim scholar in the 13th/14th century. The authors emphasize that Ibn Qayyim al-Jawziyyah’s thought in the economic field implies mainly to realize the concept of social welfare, the formation of justice and the elimination of injustice in economic life.Keywords: Islamic economics, Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Islamic history
    • BLUSUKAN: Menelisik Gaya Kepemimpinan Nizam al-Muluk

      Nasution, Syamruddin; Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru (State Islamic University North Sumatra, 2014-06-02)
      Abstrak:Dalam menjalankan roda pemerintahan, belakangan ini beberapa pemimpin terjun langsung ke masyarakat untuk memahami kebutuhan rakyat secara langsung, populer sebagai blusukan. Konsep Blusukan ternyata memiliki akar dalam sejarah Muslim, meskipun di Indonesia baru popular belakangan ini. Nizam al-Muluk (Bani Saljuk) memanfaatkan blusukan dalam kepemimpinannya. Tulisan ini membahas kepemimpinan blusukan Nizam al-Muluk dan relevansinya terhadap Indonesia kontemporer. Blusukan setidaknya memiliki beberapa keistimewaan: pemimpin mendapatkan informasi paling mendesak dilakukan dari tangan pertama; informasi yang akurat memungkinkan formulasi solusi yang tepat; terbinanya kedekatan psikologis antara pemimpin dan rakyat. Jelas sekali bahwa ketiga aspek tersebut sangat dibutuhkan dalam realitas kepemimpinan Indonesia saat ini. Abstract:Blusukan: In Search of the Style of Nizam al-Mulk’s Leadership. In running the government, many a leaderopt to practice what popularly known as blusukan, i.e. going to and meeting the lower section of the society in person in order to understand the real problems of the grass root society. Popular in Indonesian context only in recent times, blusukan ­has in fact a deep root in Muslim Political history. The Great Nizam al-Mulk of Saljuk Dynasty practiced it as part of his leadership. This article discusses blusukan as practiced by Nizam al-Mulk and tries to see its relevance to contemporary Indonesian political leadership. Blusukan has some merits: it allows a leader to receive first-hand and right-from-the-spot knowledge; accurate information and knowledge help to formulate an accurate solution; and it facilitates a strong psychological tie between the leader and his subjects. Apparently these three aspects are of utmost important in the reality of contemporary Indonesian leadership.Kata Kunci: blusukan, Nizam al-Muluk, Daulah Abbasiyah.
    • BUDAYA AKADEMIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN DAYAH SALAFIYAH

      Silahuddin, Silahuddin; UIN Ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2016-10-28)
      Artikel ini mengkaji budaya akademik dalam sistem pendidikan dayah Salafiyah di Aceh. Dari perspektif sejarah, dayah dikenal telah melahirkan banyak ulama dari berbagai disiplin ilmu, sehingga akan menarik bila dikaji perkembangan budaya akademik pada sistem pendidikan dayah yang melahirkannya. Artikel ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif terhadap masalah yang dikaji, dan menemukan bahwa budaya akademik di dayah salafiyah masih belum berkemban. Kondisi ini lebih disebabkan oleh empat faktor yakni budaya akademik di dayah didapati secara turun temurun (budaya dari satu dayah diwariskan kepada dayah berikutnya), dayah masih menggunakan kurikulum yang tradisional, metodologi pengajaran yang digunakan di dayah masih  tradisional, dan organisasi dayah belum dikelola dengan manajemen yang sistematis. Keempatnya berpengaruh pada budaya akademik dalam sistem pendidikan dayah yang meliputi budaya belajar, memberi pendapat, pengembangan keilmuan, dan berorganisasi.Kata Kunci: budaya akademik, dayah Salafiyah, sistem pendidikan
    • BUDAYA AKADEMIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN DAYAH SALAFIYAH DI ACEH

      Silahuddin, Silahuddin; UIN Ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2016-10-28)
      Artikel ini mengkaji budaya akademik dalam sistem pendidikan dayah Salafiyah di Aceh. Dari perspektif sejarah, dayah dikenal telah melahirkan banyak ulama dari berbagai disiplin ilmu, sehingga akan menarik bila dikaji perkembangan budaya akademik pada sistem pendidikan dayah yang melahirkannya. Artikel ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif terhadap masalah yang dikaji, dan menemukan bahwa budaya akademik di dayah salafiyah masih belum berkemban. Kondisi ini lebih disebabkan oleh empat faktor yakni budaya akademik di dayah didapati secara turun temurun (budaya dari satu dayah diwariskan kepada dayah berikutnya), dayah masih menggunakan kurikulum yang tradisional, metodologi pengajaran yang digunakan di dayah masih  tradisional, dan organisasi dayah belum dikelola dengan manajemen yang sistematis. Keempatnya berpengaruh pada budaya akademik dalam sistem pendidikan dayah yang meliputi budaya belajar, memberi pendapat, pengembangan keilmuan, dan berorganisasi.Kata Kunci: budaya akademik, dayah Salafiyah, sistem pendidikan
    • BUDAYA SUMANG DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP RESTORASI KARAKTER MASYARAKAT GAYO DI ACEH

      Syukri, Syukri; Pascasarjana UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2018-01-03)
      Abstrak: Tulisan ini berupaya memahami sistem budaya masyarakat Gayo yang populer dengan sumang yang berarti tindakan menyimpang dari konvensi tata krama dan bertentangan dengan Islam dan adat. Sistem budaya sumang Gayo ini bermuatan pengetahuan, keyakinan, nilai, aturan, dan hukum yang menjadi acuan bagi tingkah laku dalam kehidupan masyarakat Gayo. Implementasi budaya sumang terhadap restorasi karakter masyarakat Gayo sangat relevan, karena bernilai spiritual dan berorientasi kepada akhlâq al-karîmah,  menjaga harga diri, harkat, martabat keluarga dan masyarakat. Harga diri disebut mukemel artinya punya rasa malu. Kalau masyarakat Gayo tidak berkarakter berarti tidak punya rasa malu (gere mukemel). Penulis menyimpulkan bahwa budaya sumang berperan penting dalam merestorasi kultur  masyarakat menjadi lebih berkarakter mulia ketika diterapkan secara utuh dalam kehidupan masyarakat. Budaya sumang ini berisi tindakan adat pergaulan, kemudian memberikan nilai kepada perbuatan tersebut, yang menjadi standar ukur dalam kehidupan sosial masyarakat Gayo di Aceh. Abstract: Sumang Tradition and Its Implementation on Character Restoration of Aceh Gayo Society. This paper seeks to understand the cultural system of Gayo society that is popular with Sumang that means acts deviate from convention of manners and contrary to Islam and adat. This Gayo sumang culture system is filled with knowledge, beliefs, values, rules, and laws that become the reference for behavior in Gayo social life. The Implementation of sumang culture towards restoration of Gayo community character is very relevant, because it is spiritual and oriented to morality al-karîmah, maintaining self-esteem, family and social dignity. Self-esteem called mukemel means "have a sense of shame". The author concludes that sumang culture plays an important role in restoring the culture of society to be more noble character when applied in the whole life of the community. This sumang culture contains the social behavour of association, then gives value to the action, which becomes the standard in Gayo people's social life in Aceh. Kata Kunci: budaya sumang, Aceh, Gayo, budaya, karakter
    • CHARACTER EDUCATION IN ISLAMIC EDUCATION INSTITUTIONS: A Study on the Impact of Lecturer Competence at IAIN Lhokseumawe

      Rahmah, Syarifah; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Indonesia; Fadhli, Muhammad; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Indonesia (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
      Abstract. This study aims to determine the effect of lecturer competence on the character of students at IAIN Lhokseumawe. The research method used is quantitative with a path analysis model. The research subjects were students of IAIN Lhokseumawe. With a total sample of 351 people. Sampling was done using the proportional random sampling technique. Based on the research findings, professional competence has the strongest and most significant impact on character development followed by pedagogical, social, and personality competencies. This finding implies that higher education institutions need to develop lecturers' competencies, especially professional competencies to realize better character education among universities.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi Dosen terhadap karakter mahasiswa IAIN Lhokseumawe. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan model analisis jalur. Subjek penelitian adalah mahasiswa IAIN Lhokseumawe dengan jumlah sampel sebanyak 351 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proporstional random sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional memiliki dampak paling kuat dan signifikan terhadap pengembangan karakter diikuti oleh kompetensi paedagogik, sosial dan kepribadian. Temuan ini berimplikasi bahwa lembaga pendidikan tinggi perlu mengembangkan kompetensi dosen terutama kompetensi profesional guna mewujudkan pendidikan karakter yang lebih baik di kalangan perguruan tinggi.Keywords: pedagogical, professional, personality, social, Islamic student character
    • CILUKBA: Popular Learning dan Akhlak Inklusif dalam Majalah Anak Islam

      Hidayati, Okta Nurul; Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
      Abstrak: Tulisan ini merupakan upaya untuk memahami pola pendidikan Islam sehari-hari dalam rubrik majalah Cilukba. Pendidikan Islam yang diajarkan di sekolah selama ini cenderung dengan doktrinasi buku-buku pelajaran. Sementara di luar sekolah, media populer berkembang pesat seperti Cilukba sebagai representasi majalah anak Islam yang inklusif yang dapat menjadi alternatif media pembelajaran keseharian untuk anak-anak. Namun, di sisi lain majalah Cilukba dapat mengkonstruksi doktrin baru bagi anak. Tulisan ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten majalah Cilukba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majalah Cilukba berisi materi-materi pembelajaran Islam keseharian seperti pembela-jaran adab, akhlak dan keteladanan yang tergambarkan dalam rubrik-rubrik dalam majalah, dengan tampilan desain yang modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa majalah Cilukba mengkonstruksi pendidikan melalui visualisasi idealisme Islam. Pemahaman terhadap isi rubrik Cilukba memberikan edukasi alternatif yang ber-gandengan tangan dengan pendidikan formal Islam di Indonesia.Abstract: Cilukba: Popular Learning and Inclusive Character in Muslim Child Magazine. This paper is an effort to understand the pattern of daily Islamic education Cilukba magazine. Islamic education in Indonesia has continuously taught students in the schools by providing the doctrines of textbooks, whereas popular media significantly increases such as Cilukba that represents Islamic children magazine. On one hand, the existence of Cilukba magazine can be an alternative media for daily learning for children, on the the other hand, however, it might construct a new doctrine for children. This paper uses a qualitative descriptive approach with content analysis techniques Cilukba magazine. The results showed that Cilukba magazine contains daily Islamic learning materials, such as learning adab, morals and exemplary are described in the rubrics in the magazine, with a modern design look. The author argues that Cilukba magazine constructs education through visualizing of Islamic idealism. In addition, Cilukba rubrics provides an alternative education which run hand in hand with formal Islamic education in Indonesia. Kata Kunci: pendidikan, majalah, anak, agama, akhlak
    • CONFUSION OF EDUCATOR POLICY IN MINISTRY OF RELIGIOUS AFFAIRS 1945-2016

      Saerozi, Muh.; IAIN Salatiga (State Islamic University North Sumatra, 2018-01-03)
      Abstract: This essay examines the dynamics of the development of educator policy at the Ministry of Religious Affairs, which begins with the educator concept in Education Law at the Ministry of Religious Affairs from 1945 to 2016, and what the philosophical meaning of the development of the concept is. It also uncover where the confusion of the concept of educators throughout the history. This essay concludes with the conceptual solutions to educator problems enshrined in the Educational Law. The author finds there is a change of educators' concept on every amendment to Education law, each of which contains a specific philosophical meaning. The concept of educator that has been changed still entails the some problems up to the present time. The confusion of the concept in the law affects the regulation of educators in the Ministry of Religious Affairs, and thus it needs to be revised and finds alternative solution as offered in this paper. Abstrak: Kerancuan Kebijakan Pendidik di Kementerian Agama 1945-2016. Esai ini mengkaji dinamika perkembangan kebijakan pendidik pada Kementerian Agama, yang diawali dengan konsep pendidik dalam undang-undang pendidikan dan peraturan Menteri Agama sejak tahun 1945 sampai 2016, dan apa makna filosofis dari perkembangan konsep tersebut. Selanjutnya diungkap dimana letak kerancuan konsep pendidik dalam sepanjang sejarah tersebut. Pada bagian akhir difokuskan untuk  menemukan solusi konseptual terhadap problem pendidik yang terdapat dalam undang-undang pendidikan. Penulis menemukan ada perubahan konsep pendidik pada setiap perubahan undang-undang pendidikan, yang memuat makna filosofis yang spesifik. Konsep pendidik yang telah diubah masih menyisakan masalah sampai sekarang. Kerancuan konsep dalam undang-undang berdampak pada peraturan pendidik di Kementerian Agama, sehingga perlu dilakukan revisi sebagaimana alternatif yang ditawarkan dalam tulisan ini. Keywords: education, Religious Affairs Ministry, policy, teacher, educational support personnel