Now showing items 1-20 of 302

    • SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS’ IDEAS ON THE ISLAMIZATION OF KNOWLEDGE AND ITS RELEVANCE WITH ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA

      Kosim, Muhammad; UIN Imam Bonjol Padang; Kustati, Martin; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang; Murkilim, Murkilim; Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Bengkulu (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: This article discusses on Syed Muhammad Naquib al-Attas’s thoughts on the Islamization of Knowledge and analyzes its relevance to the development of Islamic education in Indonesia. A library research was employed by collecting relevant papers and writings. To interpret literatures, a hermeneutic approach was used where the data taken from content analysis. The study showed that the main thought of Naquib al-Attas was that all knowledge comes from Allah SWT. Meanwhile, the development of Western science tends to be secular. The Islamization of knowledge must be carried out in the Islamic education system by releasing knowledge from various interpretations based on secular ideology, meanings and expressions. The idea has relevance to the development of Islamic education as an effort to overcome the dichotomy paradigm of science in Indonesia.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menguraikan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan lalu menganalisis relevansinya dengan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah library research dengan mengumpulkan karya tulis yang relevan untuk mencapai tujuan penelitian di atas. Untuk memahami, menafsirkan dan memaknai literatur teks, digunakan pendekatan hermeneutik. Sedangkan pengolahan dan penganalisaan semua data, digunakan metode content analysis. Artikel ini menemukan bahwa pemikiran utama Naquib al-Attas adalah semua ilmu berasal dari Allah SWT. Namun perkembangan ilmu pengetahuan Barat cenderung sekuler dan bebas nilai. Islamisasi ilmu pengetahuan mesti dilakukan dalam sistem pendidikan Islam dengan cara melepaskan ilmu pengetahuan dari berbagai interpretasi yang didasarkan pada ideologi, makna, dan ungkapan yang bersifat sekuler. Gagasan ini memiliki relevansi dengan perkembangan pendidikan Islam dalam upaya mengatasi paradigma dikotomi ilmu di Indonesia. Keywords: Islamization of knowledge, al-Attas, Indonesia’s Islamic education
    • PLANNING OF LECTURER QUALITY DEVELOPMENT OF STATE ISLAMIC HIGHER EDUCATION IN ACEH

      Husaini, Husaini; IAIN lhokseumawe; Barus, Jumat; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: This research was conducted to examine and explain how the planning of lecturer quality development was carried out by the State Islamic Colleges in Aceh. This study used qualitative design with three State Islamic Colleges in Aceh as the objects and locations. The data was obtained through interview and documentation techniques from related officials of the colleges concerned. The results showed that the planning of lecturer quality development of the universities had been set in their strategic plan with three focuses, they are plans to turn lecturers into experts in their fields; plans to develop lecturer expertise; and plans to increase research and community service. The institutions generally have the same commitment to make various good and sufficient plans for the development of the lecturer quality both in terms of capacity and professionalism, however there are two important aspects that determine policy makers in determining their plans.Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan menjelaskan bagaimana perencanaan pengembangan kualitas dosen yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Aceh. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan tiga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Aceh sebagai objek dan lokasi. Data diperoleh melalui teknik wawancara dan dokumentasi dari pejabat perguruan tinggi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pengembangan kualitas dosen telah diatur dalam dokumen rencana strategis dengan tiga fokus, yaitu rencana menjadikan dosen ahli di bidangnya; rencana pengembangan keahlian dosen; dan rencana peningkatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga institusi yang dikaji secara umum memiliki komitmen yang sama untuk membuat berbagai perencanaan yang baik dan memadai untuk pengembangan kualitas dosen baik dari sisi kapasitas maupun profesionalisme, namun terdapat dua aspek penting yang memengaruhi pengambil kebijakan dalam menentukan perencanaannya.Keywords: Islamic higher education, Aceh, lecturer, competence, quality, planning
    • CONTESTING THE AUTHENTICITY OF THE HADITH SANAD: An Analysis of Leone Caetani’s Thought

      Muhammad, Muhammad; UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: One of the most heated debate on the Prophet Traditions criticism is the issue of concerning the chain of transmitter or what is popularly known as sanad which consequently determine the validity of a hadith of the Prophet Muhammad. Even Muslim scholars consider sanad to be part of the religion of Islam. In contrast to this stand, Leone Caetani, one of the Italian orientalists who is famous for his historical works on Islam, tried to blatantly criticize the chain of transmitters of the hadith as well as review them in an approach and method he himself promoted. This paper attempts to explore L. Caetani’s thoughts about the chain of transmitter of the Prophetic Traditions by applying literature study and descriptive-analytic methods. The result of this research is that L. Caetani assumes that sanad is not an integral part of the teaching of Islam but Muslim scholars but rather an adoption from the Arab tradition. In addition, it also implies that the existence of sanad is only the image of the name of the Prophet Muhammad and his narrators, and the narrators of hadith are people who cannot be followed and do a lot of practice of falsification in his narrations.Abstrak: Sanad hadis merupakan salah satu rangkaian terpenting dalam membuktikan sahih dan tidaknya sebuah hadis Nabi Muhammad. Bahkan sarjana Muslim menganggap sanad merupakan bagian dari agama Islam. Hal ini berbeda dengan pandangan Leone Caetani salah satu orientalis Italia yang terkenal dengan karya sejarah tentang agama Islam. Ia berusaha mengkaji ulang tentang sanad hadis dan memberikan kritikan terhadap sanad yang dianggap penting oleh umat Islam. Untuk mengupas pemikiran L. Caetani tentang sanad hadis dalam artikel ini, penulis menggunakan metode studi pustaka dan deskriptif-analitik. Hasil dari penelitian ini ialah L. Caetani berasumsi bahwa sanad bukan ajaran agama Islam melainkan sarjana Muslim mengadopsi dari tradisi orang Arab, adanya sanad hanya pencitraan nama Nabi Muhammad dan para perawinya, dan para perawi hadis merupakan orang-orang yang tidak bisa diteladani dan banyak melakukan pemalsuan dalam periwayatannya.Keywords: Leone Caetani, orientalis, sanad, hadis
    • SOCIAL COMMUNICATION IN THE FIQH TAFSÎR: A Study of Muslims and Non-Muslims in the Qur’anic Interpretation

      Hamdan, Ali; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: This study is driven by a reality showing a social communication in a factual Fiqh interpretation between Muslim and non-Muslim in the Qur’an. Therefore, the question that needs to be answered is “how the fiqh interpretation can depict the social communication between Muslims and non-Muslims in the Qur’an?” This is a qualitative study, which is also a library study, and the whole data source is a written documentation. This study has depicted the social communication occurred between Muslims and non-Muslims through the Qur’an. The Qur’an mentioned that Islam and Muslim are parts of a belief, but it also mentions about non-Muslim in a samawi scope, which are Yahudi, Nasrani and Ahl al-Kitab. The social communication between Muslims and non-Muslims is also detected in the Qur’an comprising topics like knowing each other, conducting a convention of peace, and a more lenient relationship with the Christians because of the same origin and an equivalent dialog with the believers of Ahl al-Kitab in a topic that doubts the Oneness of Allah the Almighty.Abstrak: Kajian ini berangkat dari sebuah realita adanya komunikasi sosial dalam faktual tafsir fikih antara muslim dan non-muslim dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, maka pertanyaan yang ingin dijawab adalah “bagaimana tafsir fikih menggambarkan komunikasi sosial antara penganut muslim dan non-muslim dalam al-Qur’an”? Kajian ini adalah studi kualitatif dengan jenis studi pustaka dan semua sumber data berbentuk dokumentasi tertulis. Kajian ini telah menggambarkan adanya komunikasi sosial penganut muslim dan non-muslim dalam al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan Islam dan Muslim sebagai sebuah keyakinan, namun juga menyebut penganut non-muslim dalam lingkup samawi yaitu Yahudi, Nasrani dan Ahl al-Kitab. Komunikasi sosial antara muslim dan non-muslim yang terdeteksi dalam al-Qur’an mencakup saling mengenal, mengadakan perjanjian damai, hubungan yang lebih soft dengan Nasrani karena kesamaan asal dan dialog setara dengan penganut Ahl al-Kitab dalam topik tidak menyekutukan Allah SWT. sebagai tuhan.Keywords: social communication, fiqh tafsîr, Qur’anic exegesis, Muslim, Non-Muslim
    • RETHINKING THE ROLE OF KIAI LEADERSHIP IN MODERNIZING PESANTREN IN CIANJUR, WEST JAVA

      Hasyim, Abdul Wahid; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: This article seeks the role of the Kiai in the modernization of pesantren in Cianjur, West Java. Taking the cases of Pesantren al-Musyarrofah, Pesantren Darul Falah, Pesantren as-Syuja’i, and Pesantren Darussuada al-Amin, this research uses qualitative methods. The study found that although these Pesantrens played a significant role in da’wah, education, and the development of socio-religious institutions in Cianjur, their existence of experienced ups and downs due to the management system practiced by the pesantren leadership. In addition, it was also implied that modern management combined with the Kiai charisma has become a success factor in the modernization of the pesantren.Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji peran kiai dalam modernisasi pesantren di Cianjur, Jawa Barat. Dengan memokuskan pada kasus Pesantren al-Musyarrofah, Pesantren Darul Falah, Pesantren as-Syuja’i dan Pesantren Darussuada al-Amin, penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan fakta bahwa meskipun berperan besar dalam bidang dakwah, pendidikan, dan pengembangan pranata sosial keagamaan di Cianjur, keberadaan keempat pesantren mengalami pasang surut yang disebabkan oleh sistem manajemen yang dipraktikan oleh pimpinan pesantren. Penelitian ini juga mengimplikasikan bahwa manajemen modern yang dipadukan dengan kharisma Kiai menjadi faktor keberhasilan modernisasi pesantren.Keywords: Islamic education, pesantren, kiai, management, leadership
    • THE IMPACT OF ‘SELFIE’ PHENOMENON AMONG THE MILLENNIAL GENERATION

      Nur, Iffatin; IAIN Tulungagunng; Muttaqin, Muhammad Ngizzul; IAIN Tulungagung (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: The phenomenon of selfie among the millennial generation has become a very common thing to do. In the study of contemporary Islamic law, the approach of maqâshid syarî‘ah that seeks to gain mashlahât (benefits) and avoids mafsadât (harms) in human life may be used as a special consideration for dealing with the said phenomenon. This literature-based study was aimed to uncover the said phenomenon by reviewing it using mashlahât and mafsadât approaches. The results of the study indicate that the said approaches have urgency as a means of control against the selfie phenomenon practiced by the current millennial generation. Selfie should only be done if it brings benefits and goodness (mashlahât), otherwise, it must be avoided.Abstrak: Fenomena selfie pada generasi millennial sudah menjadi hal yang sangat sering dilakukan. Dalam kajian hukum Islam kontemporer, pendekatan maqâshid syarî‘ah yang berupaya mewujudkan mashlahât dan menghindarkan mafsadât dalam kehidupan manusia bisa dijadikan pertimbangan khusus menghadapi fenomena selfie tersebut. Kajian berbasis studi pustaka ini berupaya mengungkap fenomena tersebut ditinjau dengan menggunakan pendekatan mashlahât dan mafsadât. Hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan mashlahât dan mafsadât memiliki urgensi sebagai alat kontrol terhadap fenomena selfie yang dilakukan oleh generasi millennial saat ini. Selfie hanya boleh dilakukan jika mendatangkan manfaat dan kebaikan (mashlahât), sebaliknya jika tidak, maka selfie harus dihindari.Keywords: selfie, millennial generation, Islamic law, mashlahât, mafsadât
    • AN INQUIRY OF THE PRINCIPLES OF ISLAMIC EDUCATION MANAGEMENT IN THE QUR’AN

      Buto, Zulfikar Ali; IAIN LHOKSEUMAWE; Fakhrurrazi, Fakhrurrazi; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: This article analyzes several well-known interpretations of the principles of Islamic education management in the Qur’an, Surah al-Taubah verse 60. This analysis examines the implied meaning so that it is very relevant to current conditions regarding the principles of Islamic education management in socializing, collecting and sharing zakat to those who are entitled to receive it. This study is enriched with a particular tahlilî interpretation approach to the terminology of zakat contained in the Qur’an Surah al-Taubah verse 60. The results of the zakat distribution education management, constitutional education management principles of zakat management, education management principles for asset cleaning, ideological, doctrinal education management principles, undergraduate education management, and human resource education management.Abstrak: Artikel ini menganalisis beberapa tafsir ternama tentang wawasan prinsip manajemen pendidikan Islam dalam al-Qur’an surah al-Taubah ayat 60. Analisis ini menelaah makna yang tersirat sehingga menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini terkait prinsip manajemen pendidikan Islam dalam mensosialisasikan, mengumpulkan dan membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Kajian ini diperkaya dengan pendekatan tafsir tahlili khusus pada terminologi zakat yang terdapat dalam al-Qur’an Surah al-Taubah ayat 60. Hasil telaah menunjukkan bahwa ditemukan wawasan prinsip manajemen pendidikan Islam dalam Surah al-Taubah ayat 60 yang mencakup prinsip manajemen pendidikan konflik, prinsip manajemen pendidikan pembagian zakat, prinsip manajemen pendidikan konstitusi pengelolaan zakat, prinsip manajemen pendidikan pembersihan harta, prinsip manajemen pendidikan doktrinasi ideologi, manajemen pendidikan penganggungan, dan manajemen pendidikan sumber daya manusia.Keywords: Islamic education, management, aims giving, Qur’anic exegesis
    • REEXAMINING PROBLEMS AND MANAGEMENT STRATEGIES FOR FIGHTING TERRORISM IN INDONESIA

      Hafifuddin, Hafifuddin; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
      Abstract: Terrorism has been one of the problems that is still an actual issue in Indonesia. Studies on this issue have caught the attention of researchers. This study will examine the roots of the emergence of terrorism and strategies for dealing with it in Indonesia. By applying qualitative research methods, this article implies that the emergence of terrorism is based on the problems of ethnic egoism, poverty, non-democratic systems and discrimination. To deal with terrorism in Indonesia, this study proposes a solution where terrorism must be handled through strengthening the role of the government, ulama or the learned Muslim scholars and academia of universities. These three parties must synergize maximally to prevent the emergence and movement of terrorism in Indonesia. In addition, the government needs to strengthen national defense institutions, minimize social disparities, respect human rights and create laws that do not conflict with the social conditions of society, and it is at this juncture that study contributes to the handling of terrorism in Indonesia.Abstrak: Terorisme merupakan persoalan yang masih menjadi isu aktual di Indonesia. Kajian mengenai masalah ini telah menyita perhatian para peneliti. Studi ini akan mengkaji akar kemunculan terorisme dan strategi penanganannya di Indonesia. Dengan menerapkan metode penelitian kualitatif, artikel ini mengajukan temuan bahwa kemunculan terorisme didasari oleh persoalan egoisme kesukuan, kemiskinan, sistem non-demokrasi dan diskriminasi. Untuk menangani terorisme di Indonesia, studi ini mengajukan solusi dimana terorisme harus ditangani lewat penguatan peran pemerintah, ulama dan perguruan tinggi. Ketiga pihak ini harus bersinergi secara maksimal untuk mencegah kemunculan dan pergerakan terorisme di Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat lembaga pertahanan nasional, meminimalisir kesenjangan sosial, menghargai hak asasi manusia dan menciptakan undang-undang yang tidak bertentangan dengan kondisi sosial masyarakat. Studi ini memberikan kontribusi bagi penanganan terorisme di Indonesia.Keywords: terrorism, Islam, Indonesia, government, ulama
    • THE CONTRIBUTION OF THE SERAMBI INDONESIA AND WASPADA NEWSPAPERS IN IMPLEMENTATION OF THE ISLAMIC LAW IN ACEH

      Darmadi, Darmadi; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: This study investigates the role of media in implementing Islamic law and overcoming aqîdah trivialization in Aceh, which focuses on the contribution of Serambi Indonesia and Waspada newspapers. The results show that, the two newspapers play important roles in socializing Qanun as regulations on Islamic law; reporting Qanun socialization from Islamic law institution; publishing news on the implementation and supervision of the Islamic law, providing some comments from the leaders regarding the implementation of the Islamic law to prevent aqîdah trivialization. Constraints faced by the Media in reporting the issues of sharia implementation and shallowing faith of the ummah include terror and intimidation; a must to conceal the identity of the under-age; and the difficulty of confirming and clarifying with informants/perpetrators.Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji peran media massa terhadap implementasi Syariat Islam di Aceh. Kajian ini difokuskan pada kontribusi surat kabar Serambi Indonesia dan Waspada dalam mengatasi pendangkalan akidah di Aceh. Hasil penelitian menyatakan bahwa, peran media dalam rangka pelaksanaan Syariat Islam dan upaya pendangkalan akidah antara lain mensosialisasikan aturan-aturan Qanun tentang Syariat Islam; memberitakan sosialisasi Qanun oleh Dinas Syariat Islam; memuat berita pelaksanaan dan pengawasan Syariat Islam, memuat komentar tokoh berkenaan dengan pelaksanaan Syariat Islam dan upaya pendangkalan akidah umat. Kendala-kendala yang dihadapi oleh media dalam pemberitaan pelaksanaan Syariat Islam dan upaya pendangkalan akidah umat antara lain teror atau intimidasi untuk tidak memberitakan berita; harus menyembunyikan identitas pelaku jika masih dibawah umur; dan sulitnya melakukan konfirmasi dan klarifikasi dengan narasumber baik pelaku pelanggaran Syariat Islam maupun yang berkaitan dengan aliran sesat.Keywords: mass media, Islamic sharia, aqidah, deviant sects
    • THE CONVERGENCE OF ‘ÂDAT AND ISLAMIC LAW: The Practice of Gala in Aceh

      Fauzi, Fauzi; UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY BANDA ACEH (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: This article attempts to explain the position of the practice of gala in Acehnese society perspective in light of ‘âdat and Islamic law perspective. Theories of ‘âdat show that there are some pillars of gala that should be fulfilled; contract is done in front of chief of village and other village figures additional witnesses. Soon after the debt payment, murtahin (mortgager) must return the mortgaged to râhin (mortgagee) as the local saying goes “ngui pulang utang bayeu” means after use, the goods returned, the debt must be paid. In addition, marhûn cannot be exploited by murtahin as it is solely as security of the debt. These requirements have drawn closer to the Islamic law especially Syâfi‘î’s school. Research showed that the practice of gala (mortgage) in Aceh has contradicted the ‘âdat (customary law) and Islamic law in several points.Abstrak: Artikel ini mencoba menjelaskan posisi praktik gala dalam masyarakat Aceh dengan perspektif ‘âdat dan hukum Islam. Teori ‘âdat menunjukkan bahwa ada beberapa pilar gala yang harus dipenuhi; kontrak dilakukan di depan keuchik (kepala desa) dan tokoh desa lainnya sebagai saksi tambahan. Setelah pembayaran hutang, murtahin (yang berpiutang) harus mengembalikan barang gadaian ke râhin (yang berutang) sesuai dengan pepatah lokal berbunyi “ngui pulang utang bayeu” berarti barang gadaian harus dikembalikan, hutang harus dibayar. Selain itu, marhûn (barang gadaian) tidak dapat dieksploitasi oleh murtahin karena semata-mata sebagai jaminan hutang. Persyaratan ini telah sangat relevan dengan hukum Islam terutama mazhab Syâfi‘î. Penelitian menunjukkan bahwa praktik gala di Aceh tidak lagi sejalan dengan hukum ‘âdat dan hukum Islam dalam beberapa hal.Keywords: gala, marhûn, ‘âdat, Islamic law, Aceh
    • AZYUMARDI AZRA’S THOUGHT ON MULTICULTURAL EDUCATION

      IAIN Manado; Idris, Muh; IAIN Manado (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: Islamic religious education is often accused of advocating religious fanaticism and ideology of truth. The condition is resulted from relative detachment of religious education from social reality. As such, religious education fails to strengthen the awareness of religious plurality in the society. This paper is the result of a Content Analysis research on Azyumardi Azra’s thoughts on multicultural education. It is found that according to Azyumardi Azra, multicultural education is an education of and for socio-cultural diversity aiming at strengthening the Indonesian unity amid its very diverse population. Unity in Diversity is one of the four pillars of Indonesian nationhood namely the Pancasila, NKRI, 1945 Constitution, and Unity in Diversity.Abstrak: Pendidikan agama yang selama ini dijalankan sering dikritik karena dianggap menimbulkan fanatisme keberagamaan dan melahirkan ideologi kebenaran karena praktik pendidikan agama kurang menyentuh aspek realitas sosial. Pendidikan agama kurang menumbuhkan kesadaran positif tentang realitas plural kehidupan agama masyarakat. Tulisan ini menganalisis pemikiran Azyumardi Azra tentang pendidikan multikultural. Dengan menggunakan analisis isi penelitian ini menemukan bahwa pendidikan multikultural dalam pandangan Azyumardi Azra adalah pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan masyarakat Indonesia tentang pembentukan keikaan di tengah kebhinnekaan. Konsep pendidikan multikultural Azyumardi Azra ini berangkat dari realitas masyarakat Indonesia dalam rangka memperkuat kembali (revitalisasi) empat pilar wawasan kebangsaan yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.Keywords: education, multiculturalism, Azyumardi Azra, fanatism
    • THE ORGANIZATION OF MADRASAH ALIYAH IN ACEH REFORM ERA

      Zainuddin, Zainuddin; IAIN Langsa (State Islamic University North Sumatra, 2020-06-26)
      Abstract: The Organization of Madrasah Aliyah in Aceh. The main problem in this research is the implementation of madrasa aliyah in the reform era in Aceh. In terms of regulation, Madrasa aliyah in Aceh received an equivalent recognition from schools. Whereas when other regions take a lot of positions to prioritize schools, Aceh with its regulatory power should be able to perform more optimally compared to other regions in the archipelago. Seeing this, it is certainly a challenge for Aceh when it must pay attention to madrassas which in regulations in some regions consider it not their authority. The purpose of this study was to determine the conditions and problems of madrasa aliyah, and their policies and impacts. This research is qualitative research with a responsive evaluation approach. After analysis, it was found that the Aceh government still marginalized the Madrasah Aliyah educational institutions, although several regulations allowed Acehnese to do more. This is of course because the Province of Aceh is a special autonomous region that needs special attention based on the legal principle of lex specialis derogat legi generalis.Abstrak: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah implementasi madrasah aliyah pada era reformasi di Aceh. Dari segi regulasi, Madrasah aliyah di Aceh mendapat pengakuan setara dari sekolah. Padahal ketika daerah lain banyak mengambil posisi untuk memprioritaskan sekolah, Aceh dengan kekuatan regulasi yang dimilikinya harus bisa tampil lebih maksimal dibandingkan daerah lain di nusantara. Melihat hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Aceh ketika harus memperhatikan madrasah yang dalam regulasi di beberapa daerah menganggapnya bukan kewenang-annya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dan permasalahan Madrasah Aliyah serta kebijakan dan dampaknya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluasi responsif. Setelah dilakukan analisis, ditemukan bahwa pemerintah Aceh masih memarjinalkan lembaga pendidikan Madrasah Aliyah, meski ada beberapa regulasi yang memberi peluang bagi masyarakat Aceh untuk berbuat lebih. Hal ini tentunya karena Provinsi Aceh merupakan daerah otonom khusus yang memerlukan perhatian khusus berdasarkan asas hukum lex specialis derogat legi generalis.Keywords: Madrasah Aliyah, special autonomy, policy, Aceh
    • KITAB KUNING AND TRAINING OF ‘ULAMÂ’: The Experience of Madrasah Al Qismul Ali Jalan Ismailiyah Medan

      Asari, Hasan; State Islamic University of North Sumatra (ResearcherID: O-6887-2016); Abidin, Zainal; SMP Al Azhar Medan (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: This article is a result of a history research relying on informants and documents for the larger part of its data. The Madrasah Al Qismul Ali Jalan Ismailiyah Medan was established by Al Jam’iyatul Washliyah in 1953, to cater for the education of young ‘ulamâ’ applying a curriculum almost solely based on Islamic classical books (known popularly as kitab kuning). This madrasa was very successful in fulfilling its mission and was celebrated as an‘ulamâ’-producing institution until mid-1980s. Madrasah Al Qismul Ali strives to combine its old winning curriculum with the new state-sponsored one. After some decades, it is clear that this strategy is not working to expectation. The madrasa fails to deliver graduates of the same quality as it did. Apparently what is left of classical book in the curriculum is not sufficient to prepare younger generation of ‘ulamâ’.Abstrak: Artikel ini didasarkan pada sebuah penelitian sejarah yang terutama mengandalkan data informan dan dokumen. Madrasah Al Qismul Ali Jalan Ismailiyah Medan didirikan oleh Al Jam’iyatul Washliyah pada 1953, dengan visi mendidik calon ulama dengan pembelajaran berbasis kitab kuning. Madrasah ini sangat sukses menjalankan misinya dan terkenal sebagai produsen ulama sekurang-kurangnya hingga pertengahan 1980an. Madrasah Al Qismul Ali berjuang untuk memadukan dua kurikulum sekaligus: kurikulum lama berbasis kitab kuning dan kurikukum baru versi pemerintah. Setelah beberapa dekade, terlihat bahwa siasat pemaduan kurikulum tidak dapat menghasilkan alumni sebagaimana sebelumnya. Porsi pembelajaran kitab kuning yang dikurangi ternyata tidak memadai untuk melahirkan bibit ulama.Keywords: Qismul Ali, kitab kuning, ‘ulamâ’ training, madrasah
    • GIVING IN AN ISLAMIC PERSPECTIVE

      Malaysia Fundamental Research Grant Scheme; Abd Jalil, Mohamad Isa; Universiti Malaysia Sabah (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: The purpose of this study is to shed light on the underlying concept of giving in the perspective of Islam. Methodologically, this study employs qualitative systematic data processing approach. The conceptual framework is developed from the Quran, Hadith, and the story of the Prophet and his companions. This study also refers to a conventional theory such as Altruism, Socially Consumer Behaviour, and Social Exchange Theory. Several previous empirical studies were also recorded to support the proposition. This study proposes four variables that might influence people to give, namely, targhîb, tarhîb, ihsân and ikhwah. By realizing many other factors that may influence the giving behaviour, this study only focuses on the Islamic religious perspective. This article also brought opportunities to investigate conceptually and empirically other factors that could affect giving behaviour. To the best of the author’s information, there is only a small number of studies that have been done concerning the influence of religion towards giving behaviour. And it is at his juncture the novelty of this study lies.Abstrak: Penelitian ini berupaya menjelaskan konsep dasar dari “memberi” dalam perspektif Islam. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan pemrosesan data sistematis kualitatif. Kerangka konsep dikembangkan dari al-Qur’an, Hadis, dan kisah atau atsâr para sahabat Nabi Muhammad SAW. Kajian ini juga merujuk kepada teori konvensional seperti Altruism, Socially Consumer Behavior, dan teori Social Exchange. Beberapa kajian empirik sebelumnya juga dirujuk untuk mendukung proposisi tersebut. Penelitian ini mengemukakan empat variabel yang mungkin memengaruhi manusia untuk memberi, yaitu, targhîb, tarhîb, ihsân dan ikhwah. Dengan menyadari faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi perilaku memberi, penelitian ini hanya berfokus pada perspektif agama Islam. Artikel ini juga membawa peluang untuk menyelidiki secara konseptual dan empiris berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi perilaku memberi. Sejauh pengetahuan penulis, hanya ada sejumlah kecil studi yang telah dilakukan mengenai pengaruh agama terhadap perilaku memberi. Di sinilah letak kebaruan dari penelitian ini.Keywords: giving, Islamic charity, targhîb, tarhîb, ihsân, ikhwah
    • THE RELATIONS OF RELIGION AND ETHNICITY OF URBAN COMMUNITIES IN SURABAYA

      Basyir, Kunawi; FUF UIN Sunan Ampel Surabaya (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: The phenomenon of social life related to religion and ethnicity of urban communities in Surabaya has been and is becoming a special concern for the government of Surabaya and academicians Because, the metropolitan city (Surabaya) which has various types of differences in religion, ethnicity, and culture of ethnic communities (Javanese, Madurese, Chinese, Arabic) has provided its color of in-depth study and research. This article will describe the results of studies and research with the title "religious relations and ethnicity of urban communities in Surabaya" deeply and in detail. This study used a qualitative method, where data collection is held by participant observation and open interviews, then analyzed the data using the social construction theory approach. This research found that religion is no longer a binding tool (unifier) for various ethnic and cultural backgrounds. On the contrary, religion is thought to have been a trigger for the emergence and development of the inter-ethnic conflict.Abstrak: Fenomena kehidupan sosial yang berkaitan dengan agama dan etnis masyarakat perkotaan di Surabaya telah dan menjadi perhatian khusus pemerintah Surabaya dan kalangan akademisi. Karena, kota metropolitan (Surabaya) yang memiliki berbagai jenis perbedaan agama, suku, dan Budaya masyarakat etnis (Jawa, Madura, Tionghoa, Arab) telah memberikan warna tersendiri dalam kajian dan penelitian yang mendalam. Artikel ini akan memaparkan hasil kajian dan penelitian dengan judul "relasi agama dan etnisitas masyarakat perkotaan di Surabaya" secara mendalam dan detail. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan dan wawancara terbuka, kemudian data dianalisis dengan menggunakan pendekatan teori konstruksi sosial. Penelitian ini menemukan bahwa agama bukan lagi alat pengikat (pemersatu) berbagai latar belakang suku dan budaya. Sebaliknya, agama justru dianggap sebagai pemicu munculnya dan berkembangnya konflik antar etnis.Keywords: religion, ethnicity, social conditions, urban society
    • THE PERSPECTIVES OF ACEHNESE ULAMA AND EDUCATION EXPERTS IN SHAPING IAIN LHOKSEUMAWE AS CAMPUS OF CIVILIZATION

      Daud, Al Husaini M; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe; Usman, Munadi; IAIN Lhokseumawe; Nuraini, Nuraini; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
      Abstract: This article discusses about a search of the resources of Islamic Civilization as perceived by Acehnese Islamic scholars and education practitioners in the context of shaping a campus of civilization. This study is a qualitative research applying phenomenology approach. Most data were acquired from informants who are directly related to the theme in question. From the results of the field data, it was found that the main sources of a solid civilization, according to scholars and figures of Aceh education, were the Qur’an and the Sunnah of the Prophet, the plurality of Islamic societies, and the results of external Islamic civilization. The three main sources of Islamic civilization became the initial basis for the development of a civilized campus in its true meaning.Abstrak: Tulisan ini mendiskusikan tentang pencarian sumber-sumber peradaban Islam menurut para ulama dan tokoh pendidikan Aceh dalam membentuk kampus peradaban. Seluruh kajian dalam penelitian ini secara eklektik tergolong ke dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Data dalam tulisan ini dikumpulkan melalui wawancara terhadap para informan yang berkaitan langsung dengan tema dimaksud. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa sumber-sumber utama tegaknya peradaban yang kokoh menurut ulama dan tokoh pendidikan Aceh adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, pluralitas masyarakat Islam, dan hasil peradaban eksternal Islam. Ketiga sumber utama peradaban Islam tersebut menjadi basis awal bagi perkembangan kampus yang berperadaban dalam makna yang sesungguhnya.Keywords: Islamic civilization sources, ulama, campus of civilization
    • DISKURSUS PENAFSIRAN AYAT AL-HURÛF AL-MUQATHTHA‘AH: Studi Analisis Tekstual dan Kontekstual

      Amir, Abdul Muiz; Institut Agama Islam Negeri Kendari; Gunawan, Fahmi; Institut Agama Islam Negeri Kendari (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
      Abstrak: Al-Hurûf al-muqaththa‘ah di dalam al-Qur’an dipandang oleh sebagian umat Islam tekstualis hanya sebagai simbol yang sakral tanpa makna, sehingga tidak menunjukkan sisi kemanfatannya sebagai pedoman. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna ayat al-hurûf al-muqaththa‘ah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 1., dengan menggunakan metode kajian literatur yang meliputi tafsir, sastra bahasa Arab dan sejarah. Analisis data menggunakan pendekatan gramatikal bahasa Arab secara tekstual dan historis secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-hurûf al-muqaththa‘ah menjadi potret bagi sumber dan proses turunnya al-Qur’an secara autentik yang menunjukkan kelemahan sastra Arab saat berhadapan dengan wahyu. Keistimewaan al-hurûf al-muqaththa‘ah terletak pada nilai sastra dan kedalaman makna yang seyogianya dapat berperan aktif sebagai perekat ayat-ayat al-Qur’an lainnya secara holistik.Abstract: The Interpretation Discourse of Verses of al-Hurûf al-Muqaththa‘ah: Textual and Contextual Analysis. This article aims to reveal the meaning of the verse al-hurûf al-muqaththa‘ah in the Q.S. al-Baqarah/2: 1 by employing a historical and literature review method with textual and historical context grammatical approaches data analysis. The results of the study show that it portray the source and process of authentic Qur’an revelation. The mysterious eloquence of al-hurûf al-muqaththa‘ah lies in the literary value and the depth of meaning even though it consists only of a series of letters. The effort of the commentator to uncover the meaning of the verses of al-hurûf al-muqaththa‘ah should be able to play an active role as the uniting factor for other Qur’anic verses holistically. Therefore, a set of methods or approaches is required that is adequate to uncover the meaning that is in accordance with the thematic contexts of the verse.Kata Kunci: al-hurûf al-muqaththa‘âh, pendekatan tekstual, pendekatan kontekstual, penafsiran, al-Qur’an
    • PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

      Universitas Muhammadiyah Tangerang; Mukhtarom, Asrori; Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang; Kurniyati, Ety; Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang; Arwen, Desri; Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
      Abstrak: Tulisan ini membahas bagaimana perspektif al-Qur’an tentang pendidikan kewarganegaraan. Dengan menggunakan metode tafsir maudhû‘î dan metode historis kritis kontekstual dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah upaya membentuk warga negara yang baik. Menurut al-Qur’an, warga negara yang baik adalah warga yang memiliki hubungan harmonis dengan Tuhan yang diwujudkan dengan sikap takwa dan beriman, memiliki hubungan harmonis sesama manusia yang diwujudkan dengan sikap saling mengenal atau bersaudara dan melaksanakan amar ma‘rûf nahî munkar, serta memiliki hubungan harmonis dengan alam yang diwujudkan dengan penjagaan dan pelestarian lingkungan. Materi pendidikan kewarganegaraan yang diisyaratkan al-Qur’an meliputi hak asasi manusia, persaudaraan, persamaan dan keadilan, serta bela negara berlandaskan nilai-nilai tauhid yang bermuara pada satu tujuan yaitu ibadah kepada Allah.Abstract: Citizenship Education in Qur’anic Perspective. This paper discusses how the Qur’anic perspective on citizenship education. By employing the maudhû‘î exegesis method and critically-contextual-historical method with a qualitative approach, this study reveals that citizenship education is an effort to form good citizens, in a sense those who have a harmonious relationship with God which is manifested by an attitude of piety and faith, have a harmonious relationship with other humans which is realized by the attitude of getting to know each other or brotherhood and carrying out the amar ma‘rûf nahî munkar, and having a harmonious relationship with nature which is realized by safeguarding and preserving the environment. The citizenship education material indicated by the Qur’an includes human rights, brotherhood, equality and justice, and defending the country based on the values of monotheism which lead to one goal, namely worship to Allah.Kata Kunci: pendidikan, kewarganegaraan, al-Qur’an, tafsir
    • CULTURAL TRADITIONS IN DEATH RITUALS WITHIN THE COMMUNITY OF PIDIE, ACEH, INDONESIA

      Manan, Abdul; Adab and Humanities Faculty Ar-Raniry State Islamic University Banda Aceh 23111, Indonesia; Arifin, Muhammad; Islamic Business and Economy Faculty Ar-Raniry State Islamic University Banda Aceh 23111, Indonesia (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
      Abstrak: Tradisi Kultural Kenduri Kematian dalam Masyarakat Pidie Aceh, Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk melihat akulturasi budaya dan agama dalam ritual kematian di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji konsep tasawuf yang terkait dengan tradisi ini. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan datanya diperoleh melalui pengamatan yang cermat dari tindakan ritual dan diskusi mendalam dengan protagonis utama dari kinerja ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual setelah kematian di Aceh masih mengandung jejak warisan pra-Islam yang telah dibiakkan dengan ajaran Islam sehingga tidak melangar aturan Islam. Dalam ritual kematian ini, unsur-unsur pra-Islam, yang bertentangan dengan ajaran Islam, telah diganti dengan doa yang direkomendasikan dalam Islam. Akulturasi ini bermanfaat bagi kedua belah pihak. Masyarakat Aceh dapat terus menerapkan budaya warisan mereka, sementara Islam dapat berkembang tanpa ada kontradiksi dalam budaya lokal.Abstract: This study was conducted to look into the cultural and religious acculturation in the rituals of death in Aceh. It aims to examine the concepts of Sufism related to these traditions. This research is a field research and its data was obtained through meticulous observation of the ritual action and in-depth discussion with the main protagonists of the ritual performance. The results of the research shows that the rituals following a death in Aceh still bear traces of their pre-Islamic legacy, which has been acculturated with the teachings of Islam, so it does not break the rules of Islam. In these rituals for death, the pre-Islamic elements, which conflict with the Islamic creed, have been replaced with prayers, which are recommended in Islam. This acculturation is beneficial to both sides, in one hand the Acehnese people may continue to implement their inherited cultures, while Islam can thrive without having any contradictions within the local cultures on the other. Keywords: tradisi, ritual yang mengikuti kematian, akulturasi, Aceh, Indonesia
    • KONSTRUKSI INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

      Harahap, Musaddad; Universitas Islam Riau (State Islamic University North Sumatra, 2019-12-30)
      Abstrak: Kajian ini berupaya menyingkap bagaimana konstruksi integrasi ilmu di Universitas Islam Riau (UIR). Dengan pendekatan metode grounded teory, kajian ini berupaya untuk menguatkan teori tentang integrasi ilmu dengan objek kajiannya di UIR. Data dalam kajian ini diambil dari studi lapangan dan observasi mendalam. Hasil kajian ini mengungkap bahwa konstruksi integrasi ilmu pengetahuan di UIR sejak berdirinya tahun 1962 merupakan cita-cita para pendirinya yang menghendaki kampus ini berasaskan Islam. Secara eksplisit, tema integrasi ilmu pengetahuan dapat dilihat dari rumusan tujuan UIR, yang turunannya telah melahirkan berbagai kebijakan seperti kurikulum pendidikan Islam, Lembaga Dakwah Islam Kampus, pembinaan ke-Islaman dosen dan pengawai, green campus, pembinaan baca tulis al-Qur’an untuk mahasiswa, kajian Islam rutin melalui pemberdayaan masjid, organisasi Islami mahasiswa di setiap fakultas, dan penanaman karakter kampus dengan konsep Cerdas, Empati, Religius, Ikhlas, dan Amanah (CERIA).Abstract: The Construction of Science Integration in Islamic University of Riau. This study seeks to strengthen the theory of the integration of science with the object of study at Universita Islam Riau. The data was collected from field studies and in-depth observations. This study found that the construction of science integration at UIR since its establishment in 1962 was the ideals of its founders, so it was decided to be based on Islam. Explicitly the theme of science integration can be seen from the formulation of UIR objectives, that has given birth to various policies such as Islamic education curriculum, Campus Islamic Propagation Board, Islamic guidance for lecturers and employees, green campus, fostering reading and writing of the Koran for students, routine Islamic study circles, mosque empowerment, and internalization of campus character with the concepts of Smart, Empathy, Religiousity, Sincere, and Amanah (CERIA).Kata Kunci: Islam, science, integration, Islamic University of Riau