MIQOT : Journal of Islamic Studies is a peer-reviewed journal, published twice a year [January-June and July-December] by IAIN Press, State Islamic University of North Sumatra, Indonesia. It is available online as open access sources as well as in print. MIQOT: Journal of Islamic Studies publishes articles in the fields of Alquran, hadis, theology, philosophy, tasawuf, law and Islamic economics, education, history, and psychology.

News

The Globethics.net library contains articles of MIQOT as of vol. 32(2008) to current.

Recent Submissions

  • THE DISPUTES OF RATÉB SIRIBÈE IN ACEH

    Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Muchsin, Misri A; Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry; Hadi, Abdul; Manan, Abdul; Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry; Putra, Rahmat Syah; Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This study discusses the foundation of Sufi tenet developed by Shaykh Amran Waly and the communities’ response to the integration of the tenet – the Study Council of Sufism Tawhîd (MPTT) and ratéb siribèe (one-thousand dzikr)–within the northern and eastern Aceh, Indonesia. Qualitative approach was implemented as the observation, in-depth interviews and documentation studies were due to collect the data. MPTT and ratéb siribèe as its integration aim to restore the grandeur of Acehnese people in the past. However, the tenet was responded in many ways by the communities. Some considered that MPTT and ratéb siribèe could act as a means of practicing Sufism, while the others assumed that the teachings developed were deviant since those contain the style of Ibn al-‘Arabî and al-Jîlî Sufism– once considered heretical with the concept of wahdah al-wujûd (unity of existence), which is dissimilar with the Sufism concept–wahdah al-syuhûd (unity of appearance). Abstrak: Penelitian ini mengkaji fondasi ajaran tauhid-tasawuf yang dikembangkan oleh Shaykh Amran Waly. Penelitian ini juga menelaah respons masyarakat utara dan timur Aceh terhadap integrasi dari ajaran tersebut–Majelis Pengkajian Tauhid-Tasawuf (MPTT) dan ratéb siribèe (zikir seribu). Pendekatan kualitatif diimplementasikan dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi sebagai instrumen pengumpul data. Hasil penelitian menemukan bahwa ajaran tersebut berdasarkan dari gaya sufisme yang dikembangkan oleh Shaykh ‘Abdul Karîm al-Jîlî yang pernah dianggap bidah. MPTT dan ratéb siribèe sebagai integrasi ajaran tersebut memiliki tujuan untuk mengembalikan kejayaan rakyat Aceh pada masa lalu. Namun, berbagai respons muncul dari kalangan masyarakat. Beberapa menganggap MPTT dan ratéb siribèe dapat menjadi media untuk melatih ajaran sufisme, sementara pihak lainnya menganggap ajaran tersebut sesat karena mengandung gaya sufisme dari al-‘Arabî dan al-Jîlî yaitu wahdah al-wujûd (keberadaan) dan bertolak belakang dengan konsep sufisme wahdah al-syuhûd (rupa) Syekh Abuya Muda Waly al-Khalidy. Keywords: Amran Waly, MPTT, ratéb siribèe, sufism, tawhîd
  • RECONSIDERING NAFAQAH OF FAMILY RESILIENCE DURING THE COVID-19 PANDEMIC IN ISLAMIC LEGAL PERSPECTIVE

    Nurdin, Ridwan; Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry; Ridwansyah, Muhammad; Fakultas Hukum Universitas Sains Cut Nyak Dhien; Iskandar, Zakyyah; Fakultas Hukum Universitas Sains Cut Nyak Dhien (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: The main goal of this research is to comprehend deeply the relation between husband and wife relating to the responsibilty of nafaqat in their family. The methodology used is juridical-sociological; where the data analyzed from textual livelihood obligations conditional or current contextual forces that all family members also have a responsible role in terms of living. The results of the study are as follows: that al-Baqarah requires a husband to provide a living to his wife, but in another context, a wife or other family members can play a role in maintaining family resilience during the Covid-19 pandemic resistance. In reality, however, the nafaqat become mutual responsibility of the husband and wife without any objection. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendalami relasi dan tanggung suami dan isteri terkait nafkah sehingga akan diketahui legal bases yang berkembang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis-sosiologis, dimana data yang ditelaah dari tekstual kewajiban nafkah dengan kondisional atau kontekstual sekarang yang memaksa bahwa semua anggota keluarga juga punya peran tanggungjawab dalam hal nafkah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Q.S. al-Baqarah mewajibkan seorang suami memberikan nafkah kepada istri tetapi dalam konteks lain, seorang istri atau anggota keluarga lain dapat berperan dalam menjaga ketahanan keluarga di masa pandemi covid-19. Realitasnya, nafkah keluarga menjadi tanggung bersama suami isteri tanpa ada merasa keberatan. Keywords: nafaqat, family resilience, Covid-19 pandemic
  • QUR’ANIC PERSPECTIVES ON CARING FOR THE ELDERLY

    Universitas Dharmawangsa; Thaib, Zamakhsyari Hasballah; Universitas Dharmawangsa (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This article aims to describe the amount of attention that the Qur’ân has given to the problems of caring for the elderly. The author examined this topic using thematic interpretation methods by collecting âyahs that are closely related to keywords in the study, according to the induction (istiqrâ') method. Among the main conclusions in this paper, there were many words used in the Qur'ân which refer meaning of elderly such as al-kibar, ‘ajûz, syeikh, arzal al-‘umr, wahana al-‘azhm, dha‘f, and syaibah and their derivations. Al-Qur’ân suggests that old age is an extended period; there are ordinary elderly and late elderly, each has different characteristics. In caring for the elderly, several Qur’ânic principles should always be considered, among them; glorifying and honouring the elderly is one of the main characteristics of Islamic society. It is hoped that through these qur’ânic principles, care and respect for the elderly will be better among the Muslim community, especially in Indonesia. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan besarnya perhatian yang diberikan al-Qur’ân terhadap permasalahan pemeliharaan lansia. Penulis mengkaji topik ini dengan menggunakan metode tafsir tematis, dengan menghimpun ayat–ayat yang berkaitan erat dengan kata – kata kunci dalam kajian, sesuai dengan metode istiqrâ’ (induksi). Di antara kesimpulan pokok dalam tulisan ini, ada begitu banyak kata yang digunakan al-Qur’ân untuk menunjukkan makna lansia seperti al-kibar, ‘ajûz, syeikh, arzal al-‘umr, wahana al-‘azhm, dha‘f, dan syaibah. Al-Qur’ân mengisyaratkan bahwa usia tua adalah masa yang panjang; ada lansia biasa dan lansia akhir, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam merawat lansia, beberapa prinsip al-Qur’an harus selalu diperhatikan, di antaranya; memuliakan dan menghormati orang yang lebih tua merupakan salah satu ciri utama masyarakat Islam.  Diharapkan melalui prinsip-prinsip al-Qur’ân ini, kepedulian dan penghormatan terhadap orang tua akan semakin baik di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia. Keywords: elderly, Qur’ânic principles, Qur’ânic exegesis
  • CHARACTER EDUCATION IN ISLAMIC EDUCATION INSTITUTIONS: A Study on the Impact of Lecturer Competence at IAIN Lhokseumawe

    Rahmah, Syarifah; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Indonesia; Fadhli, Muhammad; Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh, Indonesia (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract. This study aims to determine the effect of lecturer competence on the character of students at IAIN Lhokseumawe. The research method used is quantitative with a path analysis model. The research subjects were students of IAIN Lhokseumawe. With a total sample of 351 people. Sampling was done using the proportional random sampling technique. Based on the research findings, professional competence has the strongest and most significant impact on character development followed by pedagogical, social, and personality competencies. This finding implies that higher education institutions need to develop lecturers' competencies, especially professional competencies to realize better character education among universities.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi Dosen terhadap karakter mahasiswa IAIN Lhokseumawe. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan model analisis jalur. Subjek penelitian adalah mahasiswa IAIN Lhokseumawe dengan jumlah sampel sebanyak 351 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proporstional random sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional memiliki dampak paling kuat dan signifikan terhadap pengembangan karakter diikuti oleh kompetensi paedagogik, sosial dan kepribadian. Temuan ini berimplikasi bahwa lembaga pendidikan tinggi perlu mengembangkan kompetensi dosen terutama kompetensi profesional guna mewujudkan pendidikan karakter yang lebih baik di kalangan perguruan tinggi.Keywords: pedagogical, professional, personality, social, Islamic student character
  • THE TITLE KHALÎFAT ALLÂH IN 17TH CENTURY ACEH: Concept and Meanings

    Hadi, Amirul; The Faculty of Adab and Humanities, Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This article attempts to study the use of the title ‘khalîfat Allâh’ in seventeenth century Aceh. The main bulk of this inquiry revolves around the concept and meanings of the title, which was adopted from the mainland of Islam. This study is historical in nature and it is done by employing the ‘descriptive analytical’ method. The description of the use of the title khalîfat Allâh and its relations with the Acehnese political structures will be investigated. This step is then followed by the ‘analytical’ part, in which the exploration of the Acehnese conception and the meanings of the title will be given. As a sultanate, Aceh was seen as a khilâfah in its own right in which God’s religion is to be implemented. As Such, the ruler’s task was not only to pursue the prosperity for the country and its people but also to foster God’s religion. Based on this tenet, the head of the state was to hold the title ‘khalîfat Allâh’, which simply meant the ‘deputy of God.’ By this very title a ruler was to possess both political and religious authority. Yet, by holding the religious authority did not necessarily mean that a ruler was a scholar of religion; it can be best described as a ‘religiously sanctioned authority’.Abstrak: Artikel ini mengkaji penggunaan gelar ‘khalîfat Allâh’ di kerajaan Aceh pada abad ke-17. Fokus utama dari penelitian ini berkisar tentang konsep dan makna yang terkandung dalam gelar dimaksud, yang diadopsi dari kawasan utama dunia Islam. Kajian ini berbentuk historis, dan ia dilakukan dengan menggunakan metode ‘deskriptif analitis’. Deskripsi mengenai penggunaan gelar khalîfat Allâh dan hubungannya dengan struktur politik di Aceh ketika itu akan diinvestigasi. Langkah ini kemudian diikuti oleh bagian ‘analisis’, di mana eksplorasi mengenai konsep dan makna dari gelar ini akan dipaparkan. Sebagai sebuah kesultanan, Aceh dilihat sebagai sebuah khilâfah yang berdaulat di mana agama Allah diimplementasikan. Dengan demikian, tugas seorang penguasa tidak hanya mewujudkan kemajuan kerajaan dan kesejahteraan rakyatnya tetapi juga meliputi penegakan agama Allah. Atas dasar ajaran ini, kepala negara menyandang gelar ‘khalîfat Allâh’, yang bermakna ‘wakil Allah’. Gelar ini memberikan makna bahwa seorang penguasa memiliki otoritas politik dan agama. Namun, kepemilikan otoritas agama tidak berarti bahwa penguasa adalah seorang yang ahli dalam bidang agama (‘ulama’); ia dapat dikatakan sebagai ‘otoritas yang memiliki nilai keagamaan.’               Keywords: Aceh, sultanate, khalîfat Allâh, authority, politics, religion
  • THE LOGICAL PROBLEM OF EVIL IN ISLAM AND CHRISTIANITY: A Comparative Approach in the Thought System of Ibn Sînâ and Richard Swinburne

    Zamzami, Mukhammad; Sunan Ampel State Islamic University Surabaya; HosseiniEskandian, Abdullah; University of Tabriz, East Azerbaijan,; Aabaszadeh, Aabas; University of Tabriz, East Azerbaijan,; Muktafi, Muktafi; Sunan Ampel State Islamic University Surabaya (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: The study of the ideas of Ibn Sînâ and Richard Swinburne as the pioneers of Islamic philosophy and the West philosophy, and on the other hand, the existing scholastic and ideological differences, is something that can help us to become more familiar with the thoughts of these philosophers and intellectual differences and similarities. In this research, with the analytical method and using the necessary documents, the nature, types, and solutions of evil in the thought of Ibn Sînâ and Swinburne are examined, and also the two philosophers’ thoughts about evil are compared. Both philosophers have considered the existence of evil not in contradiction with the divine attributes, but it is necessary for the acquisition of good, the minimum existence of which is necessary for the best system of creation.  Abstrak: Kajian terhadap pemikiran Ibn Sînâ dan Richard Swinburne tentang kejahatan menjadi menarik untuk dianalisis karena perbedaan horizon berpikir keduanya. Jika Ibn Sînâ mewakili tradisi filsafat Islam, maka Richard Swinburne dianggap mewakili filsafat Barat kontemporer. Dalam artikel ini, penulis menganalisis dari dokumen kepustakaan yang diperlukan, baik tentang sifat, jenis, dan solusi atas kejahatan menurut pandangan Ibn Sînâ dan Swinburne. Bagi kedua filsuf, eksistensi kejahatan tidak bertentangan dengan sifat-sifat ilahi, tetapi ia diperlukan untuk memperoleh kebaikan dan keberadaan minimum yang diperlukan untuk sistem penciptaan perbuatan terbaik.Keywords: evil, Ibn Sînâ, Richard Swinburne, Divine attributes, world of creation
  • THE METHOD OF COUNTERACTING RADICALISM IN SCHOOLS: Tracing the Role of Islamic Religious Education Teachers in Learning

    Tambak, Syahraini; Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: The Researches of radicalism have been widely studied, but the methods to counteract in school have not yet been found. This study aims to explore the methods of Islamic religious education teachers in counteracting radical understanding of students in learning. This research used a case study approach that was carried out for two years in high school in Pekanbaru which conducting interviews with teachers, principals, and students. This research produced a method which the teacher counteracts radicalism in learning are dissemination of understanding and the dangers of radicalism. The examples of them are tolerance and living in harmony, oversee Islamic spiritual activities, companion to religious activities, instilling moderate Islamic teachings, transmitter of Islâm kâffah teachings and dialogue about similarity in learning. The implication of this research is to develop the theory of “The methods to counter radicalism in schools” in education, by strengthening the methods used by teachers in countering radicalism in learning. Abstrak: Studi radikalisme telah banyak dipelajari, namun metode untuk menangkalnya di sekolah belum ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi metode guru pendidikan agama Islam dalam menangkal pemahaman radikal siswa dalam pembelajaran. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus, penelitian ini dilakukan selama dua tahun di SMA di Pekanbaru, Indonesia, dengan melakukan wawancara dan observasi bersama guru, kepala sekolah, dan siswa. Penelitian ini menghasilkan suatu metode dimana guru menangkal radikalisme dalam pembelajaran di sekolah adalah sosialisasi paham dan bahaya radikalisme, contoh toleransi dan hidup harmonis, mengawasi aktivitas spiritual Islam, pendamping kegiatan keagamaan, menanamkan ajaran Islam moderat, penyampai ajaran Islam kâffah, dan dialog tentang kesamaan dalam pembelajaran. Implikasi penelitian ini adalah mengembangkan teori “metode penanggulangan radikalisme di sekolah” dengan memperkuat metode yang digunakan guru dalam penanggulangan radikalisme dalam pembelajaran. Keywords: radicalism, Islamic religious teacher, teaching method, learning
  • NATIONALISM AND POLITICAL THOUGHTS OF SHEIKH M. ARSYAD THALIB LUBIS (1908-1972)

    Harahap, Mardian Idris; UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2021-08-21)
    Abstract: This article describes the Nationalism and political thought of Sheikh M. Arsyad Talib Lubis (Tuan Arsyad). Tuan Arsyad's political ideology is religious nationalist in style, and his political thought is characterized as integrism in typology. His political views were inspired by his knowledge and understanding of Islamic sciences (especially fiqh or Islamic law). Sheikh M. Arsyad Thalib Lubis' political ideas and fatwas had a significant impact in instilling a sense of nationalism among Muslim youngsters, particularly in North Sumatra, in fighting colonialism and eradicating Communism. However, his political views on communism were challenged and criticized by Soekarno (the first President of Indonesia ) who labelled them as communist phobia and an unethical conduct. Donald E Weatherbee characterized Sheikh M. Arsyad Thalib Lubis' ideas against President Soekarno as a group that engaged in insubordination and posed a threat of punishment. Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang nasionalisme dan pemikiran politik Syekh M. Arsyad Thalib Lubis. Pemikiran politik Syekh M. Arsyad Thalib Lubis memiliki corak nasionalis religius dan tipologi pemikiran politiknya digolongkan kepada tipe integrisme. Pemikiran politiknya dipengaruhi oleh pemahaman dan kedalaman pengetahuannya terhadap ilmu keislaman (khususnya ilmu fikih atau hukum Islam). Pemikiran politik dan fatwa Syekh M. Arsyad Thalib Lubis memiliki pengaruh yang luas dalam membangkitkan semangat nasionalisme para pemuda umat Islam khususnya Sumatera Utara dalam melawan kolonialisme dan memberantas komunisme. Namun, berkaitan dengan pemikirannya tentang komunisme ini mendapat tantangan dan celaan dari Soekarno (Presiden Indonesia pada masa Orde Lama) serta menyebutnya dengan komunis phobia dan suatu perbuatan yang amoral. Pertentangan pemikiran Syekh M. Arsyad Thalib Lubis terhadap Presiden Soekarno ini, diklasifikan oleh Donald E Weatherbee sebagai kelompok yang melakukan pembangkangan dan sebagai resikonya akan dijatuhi hukuman. Keywords: ulama, M. Arsyad Thalib Lubis, Islamic political view(s), religious nationalist, integrism
  • SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS’ IDEAS ON THE ISLAMIZATION OF KNOWLEDGE AND ITS RELEVANCE WITH ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA

    Kosim, Muhammad; UIN Imam Bonjol Padang; Kustati, Martin; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang; Murkilim, Murkilim; Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Bengkulu (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This article discusses on Syed Muhammad Naquib al-Attas’s thoughts on the Islamization of Knowledge and analyzes its relevance to the development of Islamic education in Indonesia. A library research was employed by collecting relevant papers and writings. To interpret literatures, a hermeneutic approach was used where the data taken from content analysis. The study showed that the main thought of Naquib al-Attas was that all knowledge comes from Allah SWT. Meanwhile, the development of Western science tends to be secular. The Islamization of knowledge must be carried out in the Islamic education system by releasing knowledge from various interpretations based on secular ideology, meanings and expressions. The idea has relevance to the development of Islamic education as an effort to overcome the dichotomy paradigm of science in Indonesia.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menguraikan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan lalu menganalisis relevansinya dengan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah library research dengan mengumpulkan karya tulis yang relevan untuk mencapai tujuan penelitian di atas. Untuk memahami, menafsirkan dan memaknai literatur teks, digunakan pendekatan hermeneutik. Sedangkan pengolahan dan penganalisaan semua data, digunakan metode content analysis. Artikel ini menemukan bahwa pemikiran utama Naquib al-Attas adalah semua ilmu berasal dari Allah SWT. Namun perkembangan ilmu pengetahuan Barat cenderung sekuler dan bebas nilai. Islamisasi ilmu pengetahuan mesti dilakukan dalam sistem pendidikan Islam dengan cara melepaskan ilmu pengetahuan dari berbagai interpretasi yang didasarkan pada ideologi, makna, dan ungkapan yang bersifat sekuler. Gagasan ini memiliki relevansi dengan perkembangan pendidikan Islam dalam upaya mengatasi paradigma dikotomi ilmu di Indonesia. Keywords: Islamization of knowledge, al-Attas, Indonesia’s Islamic education
  • PLANNING OF LECTURER QUALITY DEVELOPMENT OF STATE ISLAMIC HIGHER EDUCATION IN ACEH

    Husaini, Husaini; IAIN lhokseumawe; Barus, Jumat; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This research was conducted to examine and explain how the planning of lecturer quality development was carried out by the State Islamic Colleges in Aceh. This study used qualitative design with three State Islamic Colleges in Aceh as the objects and locations. The data was obtained through interview and documentation techniques from related officials of the colleges concerned. The results showed that the planning of lecturer quality development of the universities had been set in their strategic plan with three focuses, they are plans to turn lecturers into experts in their fields; plans to develop lecturer expertise; and plans to increase research and community service. The institutions generally have the same commitment to make various good and sufficient plans for the development of the lecturer quality both in terms of capacity and professionalism, however there are two important aspects that determine policy makers in determining their plans.Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan menjelaskan bagaimana perencanaan pengembangan kualitas dosen yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Aceh. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan tiga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Aceh sebagai objek dan lokasi. Data diperoleh melalui teknik wawancara dan dokumentasi dari pejabat perguruan tinggi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pengembangan kualitas dosen telah diatur dalam dokumen rencana strategis dengan tiga fokus, yaitu rencana menjadikan dosen ahli di bidangnya; rencana pengembangan keahlian dosen; dan rencana peningkatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga institusi yang dikaji secara umum memiliki komitmen yang sama untuk membuat berbagai perencanaan yang baik dan memadai untuk pengembangan kualitas dosen baik dari sisi kapasitas maupun profesionalisme, namun terdapat dua aspek penting yang memengaruhi pengambil kebijakan dalam menentukan perencanaannya.Keywords: Islamic higher education, Aceh, lecturer, competence, quality, planning
  • CONTESTING THE AUTHENTICITY OF THE HADITH SANAD: An Analysis of Leone Caetani’s Thought

    Muhammad, Muhammad; UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: One of the most heated debate on the Prophet Traditions criticism is the issue of concerning the chain of transmitter or what is popularly known as sanad which consequently determine the validity of a hadith of the Prophet Muhammad. Even Muslim scholars consider sanad to be part of the religion of Islam. In contrast to this stand, Leone Caetani, one of the Italian orientalists who is famous for his historical works on Islam, tried to blatantly criticize the chain of transmitters of the hadith as well as review them in an approach and method he himself promoted. This paper attempts to explore L. Caetani’s thoughts about the chain of transmitter of the Prophetic Traditions by applying literature study and descriptive-analytic methods. The result of this research is that L. Caetani assumes that sanad is not an integral part of the teaching of Islam but Muslim scholars but rather an adoption from the Arab tradition. In addition, it also implies that the existence of sanad is only the image of the name of the Prophet Muhammad and his narrators, and the narrators of hadith are people who cannot be followed and do a lot of practice of falsification in his narrations.Abstrak: Sanad hadis merupakan salah satu rangkaian terpenting dalam membuktikan sahih dan tidaknya sebuah hadis Nabi Muhammad. Bahkan sarjana Muslim menganggap sanad merupakan bagian dari agama Islam. Hal ini berbeda dengan pandangan Leone Caetani salah satu orientalis Italia yang terkenal dengan karya sejarah tentang agama Islam. Ia berusaha mengkaji ulang tentang sanad hadis dan memberikan kritikan terhadap sanad yang dianggap penting oleh umat Islam. Untuk mengupas pemikiran L. Caetani tentang sanad hadis dalam artikel ini, penulis menggunakan metode studi pustaka dan deskriptif-analitik. Hasil dari penelitian ini ialah L. Caetani berasumsi bahwa sanad bukan ajaran agama Islam melainkan sarjana Muslim mengadopsi dari tradisi orang Arab, adanya sanad hanya pencitraan nama Nabi Muhammad dan para perawinya, dan para perawi hadis merupakan orang-orang yang tidak bisa diteladani dan banyak melakukan pemalsuan dalam periwayatannya.Keywords: Leone Caetani, orientalis, sanad, hadis
  • SOCIAL COMMUNICATION IN THE FIQH TAFSÎR: A Study of Muslims and Non-Muslims in the Qur’anic Interpretation

    Hamdan, Ali; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This study is driven by a reality showing a social communication in a factual Fiqh interpretation between Muslim and non-Muslim in the Qur’an. Therefore, the question that needs to be answered is “how the fiqh interpretation can depict the social communication between Muslims and non-Muslims in the Qur’an?” This is a qualitative study, which is also a library study, and the whole data source is a written documentation. This study has depicted the social communication occurred between Muslims and non-Muslims through the Qur’an. The Qur’an mentioned that Islam and Muslim are parts of a belief, but it also mentions about non-Muslim in a samawi scope, which are Yahudi, Nasrani and Ahl al-Kitab. The social communication between Muslims and non-Muslims is also detected in the Qur’an comprising topics like knowing each other, conducting a convention of peace, and a more lenient relationship with the Christians because of the same origin and an equivalent dialog with the believers of Ahl al-Kitab in a topic that doubts the Oneness of Allah the Almighty.Abstrak: Kajian ini berangkat dari sebuah realita adanya komunikasi sosial dalam faktual tafsir fikih antara muslim dan non-muslim dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, maka pertanyaan yang ingin dijawab adalah “bagaimana tafsir fikih menggambarkan komunikasi sosial antara penganut muslim dan non-muslim dalam al-Qur’an”? Kajian ini adalah studi kualitatif dengan jenis studi pustaka dan semua sumber data berbentuk dokumentasi tertulis. Kajian ini telah menggambarkan adanya komunikasi sosial penganut muslim dan non-muslim dalam al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan Islam dan Muslim sebagai sebuah keyakinan, namun juga menyebut penganut non-muslim dalam lingkup samawi yaitu Yahudi, Nasrani dan Ahl al-Kitab. Komunikasi sosial antara muslim dan non-muslim yang terdeteksi dalam al-Qur’an mencakup saling mengenal, mengadakan perjanjian damai, hubungan yang lebih soft dengan Nasrani karena kesamaan asal dan dialog setara dengan penganut Ahl al-Kitab dalam topik tidak menyekutukan Allah SWT. sebagai tuhan.Keywords: social communication, fiqh tafsîr, Qur’anic exegesis, Muslim, Non-Muslim
  • RETHINKING THE ROLE OF KIAI LEADERSHIP IN MODERNIZING PESANTREN IN CIANJUR, WEST JAVA

    Hasyim, Abdul Wahid; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This article seeks the role of the Kiai in the modernization of pesantren in Cianjur, West Java. Taking the cases of Pesantren al-Musyarrofah, Pesantren Darul Falah, Pesantren as-Syuja’i, and Pesantren Darussuada al-Amin, this research uses qualitative methods. The study found that although these Pesantrens played a significant role in da’wah, education, and the development of socio-religious institutions in Cianjur, their existence of experienced ups and downs due to the management system practiced by the pesantren leadership. In addition, it was also implied that modern management combined with the Kiai charisma has become a success factor in the modernization of the pesantren.Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji peran kiai dalam modernisasi pesantren di Cianjur, Jawa Barat. Dengan memokuskan pada kasus Pesantren al-Musyarrofah, Pesantren Darul Falah, Pesantren as-Syuja’i dan Pesantren Darussuada al-Amin, penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan fakta bahwa meskipun berperan besar dalam bidang dakwah, pendidikan, dan pengembangan pranata sosial keagamaan di Cianjur, keberadaan keempat pesantren mengalami pasang surut yang disebabkan oleh sistem manajemen yang dipraktikan oleh pimpinan pesantren. Penelitian ini juga mengimplikasikan bahwa manajemen modern yang dipadukan dengan kharisma Kiai menjadi faktor keberhasilan modernisasi pesantren.Keywords: Islamic education, pesantren, kiai, management, leadership
  • THE IMPACT OF ‘SELFIE’ PHENOMENON AMONG THE MILLENNIAL GENERATION

    Nur, Iffatin; IAIN Tulungagunng; Muttaqin, Muhammad Ngizzul; IAIN Tulungagung (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: The phenomenon of selfie among the millennial generation has become a very common thing to do. In the study of contemporary Islamic law, the approach of maqâshid syarî‘ah that seeks to gain mashlahât (benefits) and avoids mafsadât (harms) in human life may be used as a special consideration for dealing with the said phenomenon. This literature-based study was aimed to uncover the said phenomenon by reviewing it using mashlahât and mafsadât approaches. The results of the study indicate that the said approaches have urgency as a means of control against the selfie phenomenon practiced by the current millennial generation. Selfie should only be done if it brings benefits and goodness (mashlahât), otherwise, it must be avoided.Abstrak: Fenomena selfie pada generasi millennial sudah menjadi hal yang sangat sering dilakukan. Dalam kajian hukum Islam kontemporer, pendekatan maqâshid syarî‘ah yang berupaya mewujudkan mashlahât dan menghindarkan mafsadât dalam kehidupan manusia bisa dijadikan pertimbangan khusus menghadapi fenomena selfie tersebut. Kajian berbasis studi pustaka ini berupaya mengungkap fenomena tersebut ditinjau dengan menggunakan pendekatan mashlahât dan mafsadât. Hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan mashlahât dan mafsadât memiliki urgensi sebagai alat kontrol terhadap fenomena selfie yang dilakukan oleh generasi millennial saat ini. Selfie hanya boleh dilakukan jika mendatangkan manfaat dan kebaikan (mashlahât), sebaliknya jika tidak, maka selfie harus dihindari.Keywords: selfie, millennial generation, Islamic law, mashlahât, mafsadât
  • AN INQUIRY OF THE PRINCIPLES OF ISLAMIC EDUCATION MANAGEMENT IN THE QUR’AN

    Buto, Zulfikar Ali; IAIN LHOKSEUMAWE; Fakhrurrazi, Fakhrurrazi; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: This article analyzes several well-known interpretations of the principles of Islamic education management in the Qur’an, Surah al-Taubah verse 60. This analysis examines the implied meaning so that it is very relevant to current conditions regarding the principles of Islamic education management in socializing, collecting and sharing zakat to those who are entitled to receive it. This study is enriched with a particular tahlilî interpretation approach to the terminology of zakat contained in the Qur’an Surah al-Taubah verse 60. The results of the zakat distribution education management, constitutional education management principles of zakat management, education management principles for asset cleaning, ideological, doctrinal education management principles, undergraduate education management, and human resource education management.Abstrak: Artikel ini menganalisis beberapa tafsir ternama tentang wawasan prinsip manajemen pendidikan Islam dalam al-Qur’an surah al-Taubah ayat 60. Analisis ini menelaah makna yang tersirat sehingga menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini terkait prinsip manajemen pendidikan Islam dalam mensosialisasikan, mengumpulkan dan membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Kajian ini diperkaya dengan pendekatan tafsir tahlili khusus pada terminologi zakat yang terdapat dalam al-Qur’an Surah al-Taubah ayat 60. Hasil telaah menunjukkan bahwa ditemukan wawasan prinsip manajemen pendidikan Islam dalam Surah al-Taubah ayat 60 yang mencakup prinsip manajemen pendidikan konflik, prinsip manajemen pendidikan pembagian zakat, prinsip manajemen pendidikan konstitusi pengelolaan zakat, prinsip manajemen pendidikan pembersihan harta, prinsip manajemen pendidikan doktrinasi ideologi, manajemen pendidikan penganggungan, dan manajemen pendidikan sumber daya manusia.Keywords: Islamic education, management, aims giving, Qur’anic exegesis
  • REEXAMINING PROBLEMS AND MANAGEMENT STRATEGIES FOR FIGHTING TERRORISM IN INDONESIA

    Hafifuddin, Hafifuddin; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2021-02-06)
    Abstract: Terrorism has been one of the problems that is still an actual issue in Indonesia. Studies on this issue have caught the attention of researchers. This study will examine the roots of the emergence of terrorism and strategies for dealing with it in Indonesia. By applying qualitative research methods, this article implies that the emergence of terrorism is based on the problems of ethnic egoism, poverty, non-democratic systems and discrimination. To deal with terrorism in Indonesia, this study proposes a solution where terrorism must be handled through strengthening the role of the government, ulama or the learned Muslim scholars and academia of universities. These three parties must synergize maximally to prevent the emergence and movement of terrorism in Indonesia. In addition, the government needs to strengthen national defense institutions, minimize social disparities, respect human rights and create laws that do not conflict with the social conditions of society, and it is at this juncture that study contributes to the handling of terrorism in Indonesia.Abstrak: Terorisme merupakan persoalan yang masih menjadi isu aktual di Indonesia. Kajian mengenai masalah ini telah menyita perhatian para peneliti. Studi ini akan mengkaji akar kemunculan terorisme dan strategi penanganannya di Indonesia. Dengan menerapkan metode penelitian kualitatif, artikel ini mengajukan temuan bahwa kemunculan terorisme didasari oleh persoalan egoisme kesukuan, kemiskinan, sistem non-demokrasi dan diskriminasi. Untuk menangani terorisme di Indonesia, studi ini mengajukan solusi dimana terorisme harus ditangani lewat penguatan peran pemerintah, ulama dan perguruan tinggi. Ketiga pihak ini harus bersinergi secara maksimal untuk mencegah kemunculan dan pergerakan terorisme di Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat lembaga pertahanan nasional, meminimalisir kesenjangan sosial, menghargai hak asasi manusia dan menciptakan undang-undang yang tidak bertentangan dengan kondisi sosial masyarakat. Studi ini memberikan kontribusi bagi penanganan terorisme di Indonesia.Keywords: terrorism, Islam, Indonesia, government, ulama
  • THE CONTRIBUTION OF THE SERAMBI INDONESIA AND WASPADA NEWSPAPERS IN IMPLEMENTATION OF THE ISLAMIC LAW IN ACEH

    Darmadi, Darmadi; IAIN Lhokseumawe (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
    Abstract: This study investigates the role of media in implementing Islamic law and overcoming aqîdah trivialization in Aceh, which focuses on the contribution of Serambi Indonesia and Waspada newspapers. The results show that, the two newspapers play important roles in socializing Qanun as regulations on Islamic law; reporting Qanun socialization from Islamic law institution; publishing news on the implementation and supervision of the Islamic law, providing some comments from the leaders regarding the implementation of the Islamic law to prevent aqîdah trivialization. Constraints faced by the Media in reporting the issues of sharia implementation and shallowing faith of the ummah include terror and intimidation; a must to conceal the identity of the under-age; and the difficulty of confirming and clarifying with informants/perpetrators.Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji peran media massa terhadap implementasi Syariat Islam di Aceh. Kajian ini difokuskan pada kontribusi surat kabar Serambi Indonesia dan Waspada dalam mengatasi pendangkalan akidah di Aceh. Hasil penelitian menyatakan bahwa, peran media dalam rangka pelaksanaan Syariat Islam dan upaya pendangkalan akidah antara lain mensosialisasikan aturan-aturan Qanun tentang Syariat Islam; memberitakan sosialisasi Qanun oleh Dinas Syariat Islam; memuat berita pelaksanaan dan pengawasan Syariat Islam, memuat komentar tokoh berkenaan dengan pelaksanaan Syariat Islam dan upaya pendangkalan akidah umat. Kendala-kendala yang dihadapi oleh media dalam pemberitaan pelaksanaan Syariat Islam dan upaya pendangkalan akidah umat antara lain teror atau intimidasi untuk tidak memberitakan berita; harus menyembunyikan identitas pelaku jika masih dibawah umur; dan sulitnya melakukan konfirmasi dan klarifikasi dengan narasumber baik pelaku pelanggaran Syariat Islam maupun yang berkaitan dengan aliran sesat.Keywords: mass media, Islamic sharia, aqidah, deviant sects
  • THE CONVERGENCE OF ‘ÂDAT AND ISLAMIC LAW: The Practice of Gala in Aceh

    Fauzi, Fauzi; UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY BANDA ACEH (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
    Abstract: This article attempts to explain the position of the practice of gala in Acehnese society perspective in light of ‘âdat and Islamic law perspective. Theories of ‘âdat show that there are some pillars of gala that should be fulfilled; contract is done in front of chief of village and other village figures additional witnesses. Soon after the debt payment, murtahin (mortgager) must return the mortgaged to râhin (mortgagee) as the local saying goes “ngui pulang utang bayeu” means after use, the goods returned, the debt must be paid. In addition, marhûn cannot be exploited by murtahin as it is solely as security of the debt. These requirements have drawn closer to the Islamic law especially Syâfi‘î’s school. Research showed that the practice of gala (mortgage) in Aceh has contradicted the ‘âdat (customary law) and Islamic law in several points.Abstrak: Artikel ini mencoba menjelaskan posisi praktik gala dalam masyarakat Aceh dengan perspektif ‘âdat dan hukum Islam. Teori ‘âdat menunjukkan bahwa ada beberapa pilar gala yang harus dipenuhi; kontrak dilakukan di depan keuchik (kepala desa) dan tokoh desa lainnya sebagai saksi tambahan. Setelah pembayaran hutang, murtahin (yang berpiutang) harus mengembalikan barang gadaian ke râhin (yang berutang) sesuai dengan pepatah lokal berbunyi “ngui pulang utang bayeu” berarti barang gadaian harus dikembalikan, hutang harus dibayar. Selain itu, marhûn (barang gadaian) tidak dapat dieksploitasi oleh murtahin karena semata-mata sebagai jaminan hutang. Persyaratan ini telah sangat relevan dengan hukum Islam terutama mazhab Syâfi‘î. Penelitian menunjukkan bahwa praktik gala di Aceh tidak lagi sejalan dengan hukum ‘âdat dan hukum Islam dalam beberapa hal.Keywords: gala, marhûn, ‘âdat, Islamic law, Aceh
  • AZYUMARDI AZRA’S THOUGHT ON MULTICULTURAL EDUCATION

    IAIN Manado; Idris, Muh; IAIN Manado (State Islamic University North Sumatra, 2020-10-26)
    Abstract: Islamic religious education is often accused of advocating religious fanaticism and ideology of truth. The condition is resulted from relative detachment of religious education from social reality. As such, religious education fails to strengthen the awareness of religious plurality in the society. This paper is the result of a Content Analysis research on Azyumardi Azra’s thoughts on multicultural education. It is found that according to Azyumardi Azra, multicultural education is an education of and for socio-cultural diversity aiming at strengthening the Indonesian unity amid its very diverse population. Unity in Diversity is one of the four pillars of Indonesian nationhood namely the Pancasila, NKRI, 1945 Constitution, and Unity in Diversity.Abstrak: Pendidikan agama yang selama ini dijalankan sering dikritik karena dianggap menimbulkan fanatisme keberagamaan dan melahirkan ideologi kebenaran karena praktik pendidikan agama kurang menyentuh aspek realitas sosial. Pendidikan agama kurang menumbuhkan kesadaran positif tentang realitas plural kehidupan agama masyarakat. Tulisan ini menganalisis pemikiran Azyumardi Azra tentang pendidikan multikultural. Dengan menggunakan analisis isi penelitian ini menemukan bahwa pendidikan multikultural dalam pandangan Azyumardi Azra adalah pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan masyarakat Indonesia tentang pembentukan keikaan di tengah kebhinnekaan. Konsep pendidikan multikultural Azyumardi Azra ini berangkat dari realitas masyarakat Indonesia dalam rangka memperkuat kembali (revitalisasi) empat pilar wawasan kebangsaan yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.Keywords: education, multiculturalism, Azyumardi Azra, fanatism
  • THE ORGANIZATION OF MADRASAH ALIYAH IN ACEH REFORM ERA

    Zainuddin, Zainuddin; IAIN Langsa (State Islamic University North Sumatra, 2020-06-26)
    Abstract: The Organization of Madrasah Aliyah in Aceh. The main problem in this research is the implementation of madrasa aliyah in the reform era in Aceh. In terms of regulation, Madrasa aliyah in Aceh received an equivalent recognition from schools. Whereas when other regions take a lot of positions to prioritize schools, Aceh with its regulatory power should be able to perform more optimally compared to other regions in the archipelago. Seeing this, it is certainly a challenge for Aceh when it must pay attention to madrassas which in regulations in some regions consider it not their authority. The purpose of this study was to determine the conditions and problems of madrasa aliyah, and their policies and impacts. This research is qualitative research with a responsive evaluation approach. After analysis, it was found that the Aceh government still marginalized the Madrasah Aliyah educational institutions, although several regulations allowed Acehnese to do more. This is of course because the Province of Aceh is a special autonomous region that needs special attention based on the legal principle of lex specialis derogat legi generalis.Abstrak: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah implementasi madrasah aliyah pada era reformasi di Aceh. Dari segi regulasi, Madrasah aliyah di Aceh mendapat pengakuan setara dari sekolah. Padahal ketika daerah lain banyak mengambil posisi untuk memprioritaskan sekolah, Aceh dengan kekuatan regulasi yang dimilikinya harus bisa tampil lebih maksimal dibandingkan daerah lain di nusantara. Melihat hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Aceh ketika harus memperhatikan madrasah yang dalam regulasi di beberapa daerah menganggapnya bukan kewenang-annya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dan permasalahan Madrasah Aliyah serta kebijakan dan dampaknya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluasi responsif. Setelah dilakukan analisis, ditemukan bahwa pemerintah Aceh masih memarjinalkan lembaga pendidikan Madrasah Aliyah, meski ada beberapa regulasi yang memberi peluang bagi masyarakat Aceh untuk berbuat lebih. Hal ini tentunya karena Provinsi Aceh merupakan daerah otonom khusus yang memerlukan perhatian khusus berdasarkan asas hukum lex specialis derogat legi generalis.Keywords: Madrasah Aliyah, special autonomy, policy, Aceh

View more