MIQOT : Journal of Islamic Studies is a peer-reviewed journal, published twice a year [January-June and July-December] by IAIN Press, State Islamic University of North Sumatra, Indonesia. It is available online as open access sources as well as in print. MIQOT: Journal of Islamic Studies publishes articles in the fields of Alquran, hadis, theology, philosophy, tasawuf, law and Islamic economics, education, history, and psychology.

News

The Globethics.net library contains articles of MIQOT as of vol. 32(2008) to current.

Недавние добавления

  • MAQÂSHID SYARÎ'AH APPROACH ON THE EMPOWERMENT OF HUMAN RESOURCES IN MULYODADI VILLAGE BANTUL YOGYAKARTA

    Syamsuri, Syamsuri; University of Darussalam Gontor Jl. Raya Siman Km. 5 Siman, Ponorogo, East Java, 63471, Indonesia Phone: +62-352-3574562 / +62-352-3574563 Mobile: +62 852 5977 4104 Fax: +62-352-488182; Yuripta Syafitri, Okta; Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Darussalam Gontor (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstract: The process of community economic development by involving the community directly from planning, implementation to evaluation is a model of empowerment that raises human dignity on the real essence. The villagers is not only an object of development, but every individual is required to be involved in the whole process of empowerment. This article tries to analyze the inhibiting factors as well as solutions of empowerment program of Human Resources in Mulyodadi village. By using qualitative method and taking data through interview, observation, and documentation (triangulation). Finally this article found two factors inhibiting the empowerment of human resources that is internal and external aspects. However, these two factors can be solved with some solutions and approaches made by the government and the community.Abstrak: Pendekatan maqâshid syarî‘ah terhadap Penguatan Sumberdaya Manusia di Desa Mulyodadi Bantul Yogyakarta. Proses pembangunan ekonomi masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara langsung mulai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi merupakan model pemberdayaan yang memanusiakan manusia pada hakekat sebenarnya. Masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pembangunan atau program yang bersifat top-down, melainkan setiap individu dituntut terlibat dalam seluruh proses pemberdayaan. Artikel ini mencoba menganalisis faktor penghambat sekaligus solusi program pemberdayan Sumber Daya Manusia di desa Mulyodadi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pengambilan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi (triangulasi). Artikel ini menemukan bahwa terdapat dua faktor penghambat pemberdayaan SDM yaitu aspek internal dan eksternal. Akan tetapi kedua faktor tersebut mampu diselesaikan dengan beberapa solusi dan pendekatan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun masyarakat.Keywords: maqâshid syarî‘ah, human resources, Bantul, economic development
  • KONTRIBUSI SYAIKH MUHAMMAD THAHIR JALALUDDIN DALAM BIDANG ILMU FALAK

    Butar-Butar, Arwin Juli Rakhmadi; Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Fajar adalah fenomena alami yang terjadi disebabkan rotasi Bumi pada porosnya. Permasalahan awal waktu fajar senantiasa menjadi kajian baik di kalangan fukaha maupun ilmuwan Muslim. Di Indonesia, sejak lama berlaku ketetapan dip-20 derajat di bawah ufuk dalam penentuan waktu Subuh. Ketentuan ini berasal dari pendapat Syaikh Muhammad Thahir Jalaluddin (w. 1376/1956) dalam karyanya Nukhbah al-Taqrîrât fi Hisâb al-Auqât. Makalah ini akan menelusuri pemikiran Syaikh Muhammad Thahir Jalaluddin tentang hal ini melalui karyanya tersebut dalam merumuskan konsepsi 20 derajat ini. Melalui analisis dan penelusuran sejumlah literatur, ditemukan bahwa dip -20 derajat ini ternyata dihasilkan hanya berdasarkan nukilan dari karya dan atau pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya baik tokoh Nusantara maupun tokoh yang bermukim di Haramain, khususnya melalui kitab al-Mathla‘ al-Sa‘îd karya Husain Zaid Mesir.Abstract: Shaykh Muhammad Thahir Jalaluddin’s Contribution in Islamic Astronomy. This article studies on the early dawn time and its influence on the determination dawn in Indonesia. Dawn is a natural phenomenon that can be seen while the earth rotates on its axis. The issue of the beginning of dawn has become a heated debate both within the Indonesian Muslim scholars (fuqaha) and scientists alike. In Indonesia, to determine dawn prayer’s time has been set up dip -20 degree below the horizon. This determination was adopted from Muhammad Thahir Jalaluddin’s idea in his work Nukhbah al-Taqrîrât fi Hisâb al-Auqât. This paper is trying to explore Muhammad Thahir Jalaluddin’s thought concerning the issue through his work which formulated this conception of 20 degree. In this article, the author found that after a thorough and critical analysis of some important literature and references, it is concluded that this conception was strictly quoted from other works and other previous Muslim scholars idea who lived in Haramain, especially in the book al-Mathla‘ al-Sa‘îd which was written out by Husain Zaid Mishr.Kata Kunci: Muhammad Thahir Jalaluddin, waktu fajar, Nusantara, astronomi
  • MUSHAF 2.0 DAN STUDI AL-QUR’AN DI ERA “MUSLIM TANPA MASJID”

    Saputro, Muhammad Endy; Faculty of Islamic Economics and Bussiness, IAIN Surakarta (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Sejak memasuki milenium baru, otoritas keagamaan (Islam) baru mulai berkompetisi dengan otoritas keagamaan konvensional. Ruang seperti masjid atau pesantren, mulai tergantikan dengan media-media sosial baru. Fenomena ini melahirkan sebuah generasi “Muslim Tanpa Masjid”. Tulisan ini merupakan sebuah pengantar analisis kemunculan mushaf-mushaf baru al-Qur’an. Bagaimana visualisasi mushaf yang terdapat dalam Qur’an for Women, E-Pen Reading Qur’an, I Love Qur’an, Pocket Qur’an for Mobile Phone, dan Digital Qur’an? Bagaimana pengaruh kelahiran ekspresi bentuk mushaf baru tersebut dalam studi Qur’an di Indonesia? Tulisan ini berargumen bahwa mushaf-mushaf tersebut mengekspresikan interaktivitas dalam beragama. Kajian tentang mushaf-mushaf baru al-Qur’an juga menantang studi al-Qur’an untuk mengkaji ranah-ranah baru otoritas agama dengan berbagai media barunya.Abstract: Mushaf 2.0 and the Study of al-Qur’an in the Era of “Muslim without Mosque”. Following the new millennium, new religious (Islamic) authority has creatively participated in the process of shifting the space of conventional religious authority. Such religious spaces as mosque or pesantren have gradually begun to compete with the new social media of religion. This phenomenon has simultaneously triggered the rise of new generation called Muslim Tanpa Masjid (Muslim without Mosque). This article is a preliminary effort of analyzing the birth of new mushaf al-Qur’an. How these mushaf (Qur’an for Women, E-Pen Reading Qur’an, I Love Qur’an, and Pocket Qur’an for Mobile Phone, and Digital Qur’an) visualize the new expression of religiousty? How does the rise of these mushaf give impact on the Qur’anic studies in Indonesia? This article argues that these mushaf have spontaneously offered the interactivity of reading. This finding has challenged the old style of studying Qur’an in Indonesia to explore the new avenues of contending new religious authorities.Kata Kunci: studi al-Qur’an, mushaf 2.0, Muslim tanpa Masjid, living Qur’an
  • INTERAKSI MUSLIM DAN KRISTIANI DALAM IKATAN KEKERABATAN DI SUMATERA UTARA

    Irwansyah, Irwansyah; Pascasarjana UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2017-06-30)
    Abstrak: Asumsi dasar yang dibangun pada penelitian ini adalah, hubungan muslim dan kristiani di Sumatera Utara berlangsung dalam berbagai domain dimana interaksinya bisa terjadi secara harmonis dan bisa pula disharmonis. Berpijak pada asumsi tersebut, permasalahan pada penelitian ini ditegaskan dalam pertanyaan “bagaimana hubungan muslim-kristiani di Sumatera Utara dalam ikatan kekerabatan?”. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan Sosiologi Agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan muslim dan kristiani di Sumatera Utara pada domain kekerabatan berlangsung harmonis ketika keduanya mengalami interaksi yang berkesinambungan; melebur dalam berbagai aktivitas sosial; saling menghormati dan melahirkan kesadaran saling membutuhkan satu sama lain. Sementara hubungan disharmonis terjadi ditandai dengan sikap saling mencurigai, persaingan satu sama lain serta lahirnya konflik-konflik yang tersembunyi (hidden conflict).Abstract: Muslim Christian Interaction within Kinship Tie in Sumatra Utara. The basic assumption of this study is that there has been a muslim and christian relations in North Sumatra in various domains, the interactions of which may occur in harmony, but also disharmony. Based on these assumption, the problem of this study is to answer the extent to which the muslim-christian relations occur in North Sumatra. Specifically, it traces the Muslims and Christians relations with regard to kinship. The study was conducted by using the socio-religious approach. The results of this study showed that the Muslim and Christian relations in North Sumatra, in the kinship domain run in harmony when both experienced continuous interaction, immerse themselves in various social activities, mutual respect and raise awareness of reciprocal relationship. While the disharmonious relationship occurred emanated from mutual suspicion, competition with one another and the hidden conflict.Kata Kunci: Muslim, Kristiani, Sumatera Utara, interaksi agama-agama
  • KEDUDUKAN QANUN JINAYAT ACEH DALAM SISTEM HUKUM PIDANA NASIONAL INDONESIA

    Nurdin, Ridwan; UIN ar-Raniry (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Aceh justru telah melahirkan sebuah KUHP versi Aceh yang lumrah disebut Qanun Jinayat Aceh pada 2014 silam, di tengah pembicaraan tentang Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) Nasional. Sebagai bagian dari wilayah Indonesia, keadaan demikian menimbulkan polemik terjadinya perbedaan (dualisme) hukum antara Aceh dan wilayah lain di Indonesia dalam menanggulangi kejahatan. Dinamika pemidanaan itulah yang menjadi fokus dalam artikel ini. Penelitian ini menunjukkan adanya keunikan dalam Qanun Jinayat Aceh yang patut dijadikan stimulus bagi pembangunan hukum pidana nasional. Di samping itu, reorientasi pemidanaan di Aceh patut menjadi agenda lain demi terintegrasinya Aceh ke dalam sistem hukum pidana nasional. Keistimewaan tidak harus dimaknai sebagai pembeda, melainkan penguat bagi kesatuan sistem hukum di mana Qanun Jinayat Aceh merupakan bagian dari sub-sistem hukum pidana tersebut.Abstract: The Position of Aceh Criminal Code in Indonesian National Criminal Code System. In the amidst discussions on the National Criminal Code (RKUHP) draft, Aceh has produced a version of Aceh Criminal Code-commonly referred to as Aceh Qanun Jinayat in 2014. As part of the Indonesian territory, such circumstances certainly bring about a lot of polemics. Among the polemics is the legal difference (dualism) between Aceh and other parts of Indonesia in overcoming the crime. This article focuses on the dynamics of the crime. The study shows the uniqueness of the Aceh Qanun Jinayat which should be a stimulus for the development of the national criminal law. In addition, the reorientation of punishment in Aceh should be another agenda for the sake of Aceh integration into the national penal system. This privilege should not be interpreted as a differentiator, but a reinforcement of the unity system where Aceh Qanun Jinayat is a part of sub-system of criminal law.Kata Kunci: Aceh, hukum pidana, qanun, jinayat
  • QUALITY IMPROVEMENT THROUGH ACCREDITATION AT GRADUATE STUDIES UIN-SU MEDAN

    Asari, Hasan; State Islamic University of North Sumatra (ResearcherID: O-6887-2016); Hafsah, Hafsah; Budianti, Yusnaili; UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstract: This article elaborates institutions of quality assurance and accreditation of departments in the context of quality improvement at Graduate Studies of UIN-SU Medan. This qualitative research discovered the following: First, the Quality Assurance Unit of the Graduate Studies, which was established in 2016, has not been operational mainly due to lack of competence of its personnel and insufficient fund. Second, the main hindrances in accreditation process are poor understanding of departments’ management, limited support from stakeholders, and insufficient funding. The ‘mentoring’ of UIN-SU Medan Quality Assurance Office could not have been more helpful and indeed has solved some of the problems. However this practice has not been so useful in developing internal quality assurance culture. Despite the fact that its departments have undergone two to three accreditation procedures, the Graduate Studies has not been successful in delivering a better result.Abstrak: Peningkatan Mutu Melalui Akreditasi Pada Pascasarjana UIN-SU Medan. Artikel ini menganalisis kelembagaan penjaminan mutu dan pelaksanaan akreditasi program studi dalam konteks peningkatan mutu pendidikan di lingkungan Pascasarjana UIN-SU Medan. Penelitian yang menerapkan prosedur penelitian kualitatif ini menemukan: Pertama, Unit Penjaminan Mutu Pascasarjana yang dibentuk tahun 2016 tidak operasional karena tidak sesuainya kompetensi personel yang ditempatkan serta tidak tersedianya dukungan finansial. Kedua, kesulitan utama dalam proses akreditasi adalah pemahaman pengelola Program Studi tentang akreditasi yang sangat variatif; rendahnya budaya mutu sivitas akademika; dan terbatasnya dukungan finansial. Pendampingan dari Lembaga Penjaminan Mutu UIN-SU Medan sangat membantu. Sayangnya pendampingan ini, meskipun menyelesaikan masalah secara ad hoc tetapi tidak mendukung berkembangnya budaya penjaminan mutu internal yang baik. Dengan berbagai persoalan yang ada, peringkat akreditasi Program Studi di lingkungan Pascasarjana UIN-SU Medan belum mengalami peningkatan meskipun masing-masing Program Studi sudah menjalani dua atau tiga kali akreditasi.Keywords: PTKIN, penjaminan mutu, akreditasi
  • EVALUASI PEMBELAJARAN DI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH AL WASHLIYAH DI KABUPATEN BATU BARA

    Rosnita, Rosnita; UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Di antara organisasi Islam yang turut berkontribusi bagi pengembangan madrasah di Indonesia adalah Al Jam’iyatul Washliyah. Dalam konteks ini, Al Washliyah mengembangkan madrasah diniyah dan jumlah lembaga yang dikelola relatif banyak secara kuantitas. Artikel ini merupakan hasil studi lapangan dengan tujuan untuk mengevaluasi pembelajaran di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah, disingkat MDTA, yang terdapat di Kabupaten Batu Bara. Data yang diperoleh melalui kegiatan wawancara, studi dokumen dan observasi akan dianalisis dengan model analisis Miles dan Huberman. Studi ini menemukan bahwa kualifikasi sebagian pendidik masih belum memenuhi standar nasional, pendidik masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional, kurikulum tidak mengalami perubahan sejak lama dan tidak mengakomodir kurikulum pemerintah, sedangkan pemerintah dan masyarakat relatif kurang mendukung keberadaan madrasah. Abstract: Evaluation of Learning in Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al Washliyah in Batu Bara District. Among the Islamic organizations that participated in the development of madrasas in Indonesia were Al Jam’iyatul Washliyah. In this context, Al Washliyah developed madrasah diniyah (Primary School) and the number of institutions managed was relatively enormous. This article is the result of a field study with learning objectives in the Diniyah Takmiliyah Awaliyah Madrasah, abbreviated as MDTA, located in Batu Bara District. Data is obtained through interviews, document studies and observation. Such data is then analyzed by the analysis models of Miles and Huberman. The study found that the qualifications of the teacher still did not meet national standards. To put it differently, educators still used conventional learning methods, the curriculum did not change for a long time and did not accommodate government curricula, while the government and society were relatively less supportive of madrasah schools.Kata Kunci: evaluasi, pembelajaran, Madrasah Diniyah, Al Washliyah, CIPP
  • WACANA ISLAMOPHOBIA DAN PERSEPSI TERHADAP ISLAM INDONESIA MELALUI STUDI BAHASA DI KALANGAN MAHASISWA POLANDIA

    Alfin, Jauharoti; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya; Muhibbin Zuhri, Ach.; UIN Sunan Ampel Surabaya; Rosyidi, Zudan; UIN Sunan Ampel Surabaya; Stelmachowska, Dorotea Moni; Universitas Adam Mickiewics Polandia (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstrak: Artikel ini mengkaji persepsi mahasiswa Adam Mickiewicz of University tentang Islam di Indonesia. Pengetahuan menjadi variabel yang berperan dalam mempersepsikan Islam di Indonesia melalui proses perkuliahan BIPA. Melalui keterampilan berbahasa Indonesia, mahasiswa ini memiliki kemampuan memperoleh informasi yang pada akhirnya membentuk pengetahuan tentang Islam Indonesia. Kombinasi antara pengetahuan dan bahasa inilah yang menjadikan ide dan gagasan mereka tentang Islam di Indonesia, baik lisan maupun tulisan, dapat terbaca dan dianalisis oleh penulis. Secara implisit ancangan analisis wacana kritis digunakan sebagai kerangka untuk mengembangkan tulisan ini. Pendekatan ini menempatkan teks berbahasa tidak dalam kerangka interpretif namun lebih bersifat kontekstual.Abstract: Islamophobia Discourse and Perceptions of Indonesian Islam Through Language Studies among Polish Students. This article analyzes the perception of Adam Mickiewicz of University students about Islam in Indonesia. Knowledge becomes a variable that plays an important role in perceiving Islam in Indonesia through BIPA lecture process. With Indonesian language skills, this student has the ability to obtain information that ultimately forms the knowledge of Indonesian Islam. The author analyzes the combination of knowledge and language both oral and written that he claims to have contributed to the creation of ideas as well as ideas about Islam in Indonesia. The Critical Discourse Analysis is implicitly used as a framework for developing this paper. This approach places language texts not in an interpretive framework but rather in a more contextual character.Kata Kunci: Islamophobia, Islam Indonesia, mahasiswa Polandia
  • NARASI PENDIDIKAN ISLAM DI ACEH: Biografi Intelektual M. Arifin Amin

    Nasir, Mohd.; Fakultas Tarbiyah IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa; Ritonga, Mhd. Rasid; IAIN Langsa (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Perkembangan pendidikan Islam di Aceh Timur selalu merujuk pada salah seorang tokoh pendidikan Islam yang telah banyak mendedikasikan dirinya bagi pendidikan Islam. Ironisnya, nama ini tidak pernah direkam dalam lintasan sejarah pendidikan (Islam) Aceh. Tulisan ini menginvestigasi tidak hanya profil dan karya tulis M. Arifin Amin, tetapi juga kontribusi Arifin terhadap perkembangan pendidikan Islam serta faktor yang sangat dimungkinkan lahirnya inisiasi untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan perspektif sosiologi historis Max Weber dengan menggunakan causal analysis untuk menginterpretasikan berbagai faktor yang melahirkan tindakan Arifin terhadap pendidikan Islam di Aceh Timur. Penelitian ini menggali informasi dari informan yang dilakukan melalui indepth interview dan mengumpulkan karya intelektual serta dokumen lembaga-lembaga pendidikan Islam di mana Arifin merupakan tokoh sentral. Penelitian ini menemukan bahwa Arifin tidak hanya terlibat aktif dalam organisasi sosial dan pendidikan, tetapi juga aktif dalam bidang politik dan sejarah.Abstract: Islamic Education Narratives in Aceh: M. Arifin Amin’s Intellectual Biography. The development of Islamic education in East Aceh always refers to M. Arifin Amin who has dedicated his life to Islamic education. Ironically, this name was never recorded in the history of education (Islam) of Aceh. It is, therefore, important to investigate M. Arifin Amin’s profile and most importantly Arifin’s contribution to the development of Islamic education as well as the most likely factors that trigger Arifin to establish Islamic educational institutions in East Aceh. This research used Weber’s historical sociology using causal analysis to interpret the various factors that gave birth to Arifin’s action towards Islamic education in East Aceh. This research gathered information from informants conducted through in-depth interviews and collected documents related to intellectual works and Islamic educational institutions where Arifin is a central figure. The study found that Arifin did not only actively get involved in social and educational organizations but also in politics and history.Kata Kunci: pendidikan Islam, Aceh, pendidikan tinggi
  • PEREMPUAN MENGGUGAT: Telaah Perceraian Wanita Muslimah Berkarir di Kota Medan

    Zuhrah, Fatimah; UIN Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Baiknya pondasi sebuah rumah tangga secara tidak langsung berpengaruh terhadap jatuh bangunnya sebuah negara, dan sebaliknya rusaknya pondasi sebuah keluarga berpengaruh terhadap merosot dan berkembangnya sebuah negara. Beberapa tahun belakangan ini jumlah permintaan gugat cerai istri terhadap suami mengalami peningkatan terutama dari isteri yang berkarir. Penelitian ini melihat permasalahan yang dibangun dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk melihat dan memahami faktor perceraian wanita muslimah berkarir di kota Medan berdasarkan fenomena, fakta dan data yang peneliti temui di lapangan. Berdasarkan temuan penelitian didapat bahwa untuk menegakkan konsep ideal sebuah keluarga sangat sulit untuk dilakukan pada masa sekarang. Kondisi perkawinan sekarang sangat berbeda dengan masa dahulu dalam pemaknaan relasi suami isteri. Dahulu pernikahan memiliki posisi sangat sakral, pernikahan dianggap sebagai ibadah, sehingga orang takut untuk bercerai, karena cerai dianggap aib dan dosa.Abstract: Women Prosecute: A Study of Divorce in Careered-Muslim Women in Medan City. The good foundation of a household indirectly affects the rise and fall of a country, and vice versa, the damage to a family’s foundation affects the decline and development of a country. In the last decade, the number of divorce petition against husbands has increased, especially from careered-wives. This paper attempts to study the problems using a phenomenological qualitative approach to thoroughly comprehend the factors of divorce of careered-Muslim women in Medan city based on the phenomena, facts and data that researchers encountered in the field. This study finds that to enforce the ideal concept of a family is not an easy task to do at present. The current condition and perception of marital tie within the society is very different from the past. At the early stage of development of human history, marriage were regarded as inherent in religious observance, and thus, people were reluctant to divorce since it was a disgrace and sin.Kata Kunci: gender, feminisme, cerai, wanita karir, Muslimah
  • THE PRINCIPLES FOR IJTIHÂD IN RESPONSE TO THE CONTEMPORARY PROBLEMS

    Fauzi, Fauzi; UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY BANDA ACEH (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstract: This article focuses on the qualifications a mujtahid should meet in responding to current problems in the modern era. The author argues that the quality of hadith is influential in legal deduction of taklîfî rulings which might fall under the category of: wâjib, sunnah, mubâh, harâm and makrûh. Mujtahid is also required to be able to understand consensus arguments (ijmâ‘) amongst scholars so that no mujtahid can exercise their legal deduction which contradicts with the existing consensus. It is also urgent that a mujtahid understand the position of the analogy both theoretically and practically and understand the differences between the methods of ijtihâd starting from the phase of revelation, the period of Companion of the Prophet to the time of the legal school of thoughts. On top of the above-mentioned conditions, a mujtahid would only be able to respond to contemporary issues when he or she has an adequate understanding of the maslahah or what is popularly known as public interest in Islamic legal discourse.Abstrak: Rambu-rambu Perumusan Hukum dalam Merespon Masalah Kontemporer. Artikel ini menfokuskan pada standar persayaratan yang harus dipenuhi seorang mujtahid dalam merespon masalah kekinian di era modern. Penulis mengemu-kakan bahwa bahwa kualitas hadis berpengaruh dalam menyimpulkan hukum taklîfî yang berada pada tataran: wâjib, sunnah, mubâh, harâm dan makrûh. Mujtahid juga dipersyaratkan mampu memahami argumen konsensus (ijmâ’) antara ulama sehingga tidak ada mujtahid yang melakukan istinbâth hukum yang berlawanan dengan konsensus yang ada, memahami kedudukan analogi baik secara teoritis maupun praktis dan memahami perbedaan metode ijtihâd lintas masa mulai fase turunnya wahyu, masa sahabat, masa tabiin dan masa mazhab. Di atas semua persyaratan tersebut di atas, seorang mujtahid hanya akan mampu merespon isu-isu kontemporer ketika memiliki pemahaman yang memadai tentang teori maslahah atau public interest.Keywords: Islamic law, ijtihâd, mujtahid, contemporary issues
  • FATWA METHODOLOGY OF NATIONAL SHARIA BOARD OF INDONESIAN ULAMA COUNCIL IN ISLAMIC ECONOMICS

    Izmuddin, Iiz; Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Bukittinggi (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstract: This study aims to find out the methodology of DSN-MUI fatwa in response to the problems of Muslims in Indonesia related to economy. The DSN-MUI comes by issuing its fatwa with a distinctive fatwa methodology, called mutawassitah (moderation) between the mutasâhil (liberal) method and the mutasyaddid (textualist) method. There are about 116 fatwas issued by DSN-MUI from 2000 to present time (2017). The first fatwa on Giro 01/DSN-MUI/IV/2000 and the latest fatwa No. 116/DSN-MUI/II/2017 on Uang Elektronik Syariah. The approach in this study is the mashlahah approach, the jurisprudence (fiqh) principles and madhhab comparison especially mutasyaddid (texstualist) and mutasâhil sects (liberal). This study concludes that the methodology of the DSN-MUI fatwa declaring with moderation methodology is in fact closer to the mazhab of mutasâhil even though the approach of fiqhiyah approaches more closely to the textualist but the subtance is closer to the madhhab mutasâhil.Abstrak: Moderasi Metodologi Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia dalam Perkembangan Ekonomi Syariah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui model metodologi fatwa DSN-MUI dalam menjawab persoalan umat Islam di Indonesia yang berkaitan dengan ekonomi. DSN-MUI hadir dengan mengeluarkan fatwanya dengan metodologi fatwa yang khas, yaitu dengan jalan mutawassitah (moderasi) antara metode mutasâhil (liberal) dan metode mutasyaddid (tekstualis). Ada sekitar 116 fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI dari tahun 2000 sampai sekarang (2017). Fatwa pertama tentang Giro bernomor 01/DSN-MUI/IV/2000 dan fatwa terakhir bernomor 116/DSN-MUI/II/2017 tentang Uang Elektronik Syariah. Pendekatan dalam studi ini adalah pendekatan mashlahah, kaidah-kaidah fikih dan perbandingan mazhab terutama mazhab mutasyaddid (tekstualis) dan mazhab mutasâhil (liberal). Studi ini menyimpulkan bahwa metodologi fatwa DSN-MUI yang mendeklarasikan dengan metodologi moderasi, kenyataannya lebih mendekati kepada mazhab mutasâhil walaupun proses pendekatan fiqhiyah lebih mendekati mazhab tekstualis, akan tetapi subtansinya lebih mendekati mazhab mutasâhil.Keywords: moderation, fatwa, DSN-MUI, Islamic economic
  • PESANTREN DAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN: Studi Tentang Buku al-Difâ‘ ‘ani al-Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ Karya Kiai Muhammad Said

    Ibrahim, Rustam; Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstrak: Kelompok radikal kerap menyerang ormas Islam yang tidak sependapat dengan mereka, termasuk pesantren. Pemahaman kebangsaan pesantren dengan kaum radikal bertolak belakang. Kaum radikal anti nasionalisme, sedangkan pesantren sangat erat dengan nasionalisme. Dalam hal ini, Pesantren Lirboyo memiliki sebuah kitab yang berjudul al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang konsep, aplikasi, dan urgensi pendidikan kebangsaan pada kitab tersebut. Berdasarkan penelitian, konsep pendidikan kebangsaan adalah media dan sarana untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Aplikasi pendidikan kebangsaan adalah menerapkan kaidah pendidikan kebangsaan, yaitu memperkokoh persatuan, memperkuat keamanan, menegakkan kemaslahatan, dan menanamkan rasa cinta tanah air.Abstract: Pesantren and Education of Nationality: Study Against al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ by Kiai Muhammad Said. Radical group often attacks against Islamic organizations that disagree with them, including pesantren. The understanding of pesantren with radical groups in the concept of nationality is contradictory. Radical group is anti nationalism, while pesantren is very close with nationalism. In this case, Pesantren Lirboyo has a book entitled al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. This paper is the result of a research on the concept, application, and urgency of nationality education in the book of al-Difâ‘. Based on the research, the concept of nationality education is the media to maintain the unity of the Unitary State of the Republic of Indonesia. The application of nationality education is applying the rules of nationality education, namely strengthening unity, strengthening security, upholding benefits, and instilling a sense of loving the homeland.Kata Kunci: radikalisme, negara, politik, pendidikan, pesantren
  • PERKEMBANGAN TERKINI STUDI HADIS DI INDONESIA

    Wahid, Ramli Abdul; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Masri, Dedi; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Diakui bahwa perkembangan studi hadis tidak berbanding lurus dengan percepatan bidang ilmu keislaman lainnya. Artikel ini mengkaji perkembangan mutakhir studi hadis di Indonesia. Penulis mengemukakan bahwa keterlambatan kajian Hadis di Indonesia berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, mulai dari awal masuknya Islam sampai sekitar akhir abad ke-20. Fenomena kajian Hadis belakangan menunjukkan adanya perkembangan di Indonesia dan bahkan keadaan terkini, Hadis mengalami kemajuan yang pesat, baik dari aspek kuantitas, maupun kualitas. Penulis berargumen bahwa kemajuan tersebut dibuktikan dengan munculnya program studi Ilmu Hadis di PTKIN dan penelitian dan buku yang diterbitkan, tidak lagi bersifat konvensional, tetapi sudah menemukan terobosan-terobosan baru. Karena itu fenomena baru tentang pengkajian Hadis di Indonesia diproyeksikan memiliki prospek yang menjanjikan di masa mendatang.Abstract: The Latest Development of Hadith Studies in Indonesia. It has been widely accepted that within the Islamic historians that the development of hadis studies had not run parallel with acceleration of other Islamic disciplines. This article examines the latest developments in the study of hadith in Indonesia. The author maintains that the stagnant stage of development in the study of Hadith in Indonesia has undergone through a long history, starting from the beginning of the emergence of Islam until the end of the 20th century. The phenomenon of Hadith studies witnessed the developments in Indonesia and even at the initial situation, it progressed rapidly both in terms of quantity as well as quality. The author argues that this development as evidenced by the Hadith studies program at PTKIN and the published research and books which are no longer conventional, but have found new breakthroughs. As such, the new phenomenon about Hadith studies in Indonesia is projected to have promising prospects in the future.Kata Kunci: hadis, ulama, Indonesia, Nusantara, PTAIN
  • RESPONS TOKOH ORMAS ISLAM TERHADAP PERAN PUBLIK PEREMPUAN

    Halimah, Siti; UIN Sumatera Utara; Hasibuan, Humaidah; UIN Sumatera Utara Medan (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Studi ini menelaah respons organisasi keagamaan di Sumatera Utara: Al Washliyah, Al Ittihadiyah, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, terhadap peran publik perempuan. Bagaimana agama dan budaya dimaknai serta dipraktikkan pada tataran empiris dalam bentuk norma, fatwa dan sikap. Penelitian ini menemukan perkembangan signifikan fatwa kebebasan peran publik perempuan. Pada level fatwa respons ormas Islam di Sumatera Utara memperlihatkan aspek keterbukaan dan pem-baharuan. Fatwa telah merespons persoalan-persoalan praktis di samping persoalan hukum. Meskipun terdapat varian pemikiran tentang peran publik perempuan, tetapi secara kelembagaan respons tersebut menjadi bagian upaya pemecahan permasalahan relasi gender. Temuan ini menjadi pemikiran kritis bagi kalangan yang berpandangan bahwa isu ketimpangan gender dalam Islam bersumber dari pandangan ulama yang tidak sensitif gender.Abstract: The Responses of Islamic Societal Organization Figures Towards Women’s Public Role. This study focuses on the response of such religious organizations in North Sumatra as Al Washliyah, Al Ittihadiyah, Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, towards women’s public role. This study also analyses the extent to which religion and culture could be interpreted and practiced at an empirical level in the form of norms, fatwas and attitudes. This study found the significant fatwa developments in the freedom of women’s public roles. At the fatwa level the response of Islamic organizations in North Sumatra shows the openness aspects and renewal. Fatwa has responded to practical issues in addition to legal issues. Although there are thought variants about the public role of women, the institutional response is part of efforts to solve gender relations problems. This finding is being a critical thinking for those who believe that the issue of gender inequality in Islam comes from the views of scholars who are not snsitive to gender.Kata Kunci: feminisme, fatwa, sosio-kultural, perempuan, ormas Islam, gender 
  • GATHER THE SCATTERED IN KAILI LAND: Pluralism, Religiosity, and Integration of Central Sulawesi Society

    Andriansyah, Andriansyah; Universitas Tadulako; Mahid, Syakir; Universitas Tadulako; Wekke, Ismail Suardi; STAIN Sorong (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstract: Based on the ethnic division of the population, Central Sulawesi Province consists of 12 ethnics groups “original,” and many tribal immigrants such as Bugis, Makassar, Java, Bali, and other tribes that have implications for the differentiation of indigenous communities and immigrant communities. The diversity of the tribes is also accompanied by the diversity of their historical background, religion, and culture which might cause friction one another. Based on the existing historical reality, it is showed that the Central Sulawesi region is often hit by ethnic, economic, and religious violences with different intensity. If the diversity among the people of Central Sulawesi is not properly managed, it can lead to disintegration. This article would identify the existence of the plural society in Central Sulawesi and try to formulate the integration efforts of the people of Central Sulawesi.Abstrak: Mengumpul yang Berserak: Pluralisme, Religiositas, dan Integrasi Masyarakat Sulawesi Tengah. Berdasarkan pembagian etnis penduduk, Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas dari 12 etnis asli, dan banyak juga suku pendatang seperti Suku Bugis, Makassar, Jawa, dan Bali yang berimplikasi pada diferensiasi masyarakat asli dan masyarakat pendatang yang berpotensi menimbulkan gesekan antara satu dengan lainnya. Realitas historis menunjukkan bahwa wilayah Sulawesi Tengah sering dilanda kekerasan bermotif etnis, ekonomi dan agama dengan intensitas yang berbeda-beda. Keanekaragaman pada masyarakat Sulawesi Tengah, apabila tidak ditata dengan baik dapat mengakibatkan disintegrasi. Tulisan bertujuan menganalisis keberadaan masyarakat plural Sulawesi Tengah dan mencoba merumuskan upaya integrasi masyarakatnya.Keywords: pluralism, religiosity, Central Sulawesi, integration
  • BIOGRAPHY AND ECONOMIC THOUGHT OF IBN QAYYIM AL-JAWZIYYAH

    Maulidizen, Ahmad; UNIVERSITY OF MALAYA; Bin Mohamad, Mohammad Taqiuddin; Department of Shariah and Economis University of Malaya (State Islamic University North Sumatra, 2019-02-04)
    Abstrak: Biografi dan Pemikiran Ekonomi Ibn Qayyim al-Jawziyyah (691 H/1292 M–751 H/1350 M). Ibn Qayyim al-Jawziyyah dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memiliki gagasan dalam pengembangan ekonomi Islam. Penjelasan ini menunjukkan urgensi meninjau kembali pemikiran dan gagasan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah khususnya di bidang ekonomi. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, artikel ini akan menganalisis biografi dan pemikiran ekonomi Ibn Qayyim al-Jawziyyah, seorang sarjana Muslim penting pada abad ke-13/14. Penulis menyimpulkan bahwa pemikiran Ibn Qayyim al-Jawziyyah di bidang ekonomi berimplikasi pada upaya mewujudkan konsep kesejahteraan sosial, pembentukan keadilan dan penghapusan ketidakadilan dalam kehidupan ekonomi.Abstract: Ibn Qayyim al-Jawziyyah is one of the prominent figures who had ideas in the development of Islamic economics. This explanation shows the urgency of re-examining the thoughts and ideas of Ibn Qayyim al-Jawziyyah especially in the economic field. Using a qualitative descriptive analysis method, this article will analyze the biography and economic thought of Ibn Qayyim al-Jawziyyah, a great Muslim scholar in the 13th/14th century. The authors emphasize that Ibn Qayyim al-Jawziyyah’s thought in the economic field implies mainly to realize the concept of social welfare, the formation of justice and the elimination of injustice in economic life.Keywords: Islamic economics, Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Islamic history
  • DISKURSUS DAN KRITIK TERHADAP TEOLOGI PLURALISME AGAMA DI INDONESIA

    Fata, Ahmad Khoirul; IAIN Sultan Amai Gorontalo (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstrak: Klaim kebenaran mutlak dalam agama sering dianggap sebagai sebab konflik dan kekerasan bernuansa agama. Anggapan ini kemudian melahirkan perlunya penyebaran gagasan pluralisme agama di tengah umat beragama, khususnya umat Islam. Sebagai puncak dari tiga sikap beragama, pluralisme diyakini mampu mem-bawa umat beragama ke kehidupan yang damai dan harmonik karena meyakini adanya kebenaran dalam setiap agama dan keyakinan yang ada. Namun persebaran gagasan ini mengalami kontroversi dan penolakan dari kalangan agamawan sendiri sehingga menjadi tidak efektif dan mengalami titik balik. Tulisan ini mencoba melihat secara kritis gagasan pluralisme agama dan membangun perspektif baru bahwa untuk menjalin harmoni hidup beragama tidak harus meyakini keberadaan kebenaran pada agama dan keyakinan lain. Sikap beragama yang eksklusif juga potensial menjadi dasar hidup harmoni karena sesungguhnya agama (Islam) telah menyiapkan seperangkat doktrinal agar umatnya tetap ramah dan hidup damai bersama umat lain dengan tetap meyakini eksklusivitas kebenaran Islam.Abstract: Discourse and Critique of Religious Pluralism Theology in Indonesia. The claim of absolute truth of religions is usually considered as the cause of social conflict and violence. From this assumption, many scholars think that we need to spread a religious pluralism theology to the religious communities, especially to Muslim society. As the apex of three religious attitudes, they believe that religious pluralism could make peace and harmony interaction among religious communities. Because of pluralism theology contains a faith that every religions inherent in it equal truth. But the dissemination of religious pluralism was oppossed by religious scholars (theologians), and become controversial within society. This article propose to build a new paradigm in religions theology. This research argues that community can live harmoniously with the others, and at the same time, they believe constantly in absolute truth of their religions. I call this as a exclusive-tolerant theology. In addition, the author argues that Islam has potencies to be an exclusive-tolerant religion, since Islam have given theological basis to harmonious life with different religious groups.Kata Kunci: teologi, agama-agama, pluralisme, eksklusivisme, relativisme
  • RE-INTERPRETASI PEMIKIRAN UKHUWWAH SAYYID QUTHB

    Kesuma, Arsyad Sobby; UIN Raden Intan Lampung (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstrak: Penelitian ini memotret kembali karakteristik pemikiran Sayyid Quthb yang diklaim sebagai seorang tokoh fundamentalis, radikal dan ekstrimis. Akan tetapi berdasarkan penelitian dengan mengambil sampel pemikirannya tentang konsep ukhuwah, klaim di atas tidaklah benar seluruhnya. Ketika mengkaji pemikirannya tentang ukhuwwah, Sayyid Quthb adalah seorang tokoh pemikir Islam yang toleran dan cinta perdamaian. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pemikirannya yang dianggap cukup terbuka. Pertama, menurutnya toleransi adalah unsur yang paling penting bagi terwujudnya perdamaian. Kedua, seorang mukmin apabila berpaling mereka melakukannya dengan beradab, penuh wibawa, dan penuh harga diri. Ketiga, kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia yang karena iktikadnya itulah ia layak disebut manusia. Keempat, masalah akidah, sebagaimana dibawa oleh Islam, adalah masalah kerelaan hati setelah mendapatkan keterangan dan penjelasan, bukan pemaksaan dan tekanan. Kelima, setiap orang mukmin adalah bersaudara apapun kelompok, manhâj, atau alirannya, mereka adalah bersaudara.Abstract: The Reinterpretation of Ukhuwwah Thought of Sayyid Quthb. This research attempts to depict the thoughts of Sayyid Quthb who has always been claimed to be a fundamentalist, radical and extremist. However, based on research by taking samples of his thoughts about the concept of ukhuwah, the above claims are not entirely true. While reviewing his thoughts on ukhuwwah, he is a tolerant Islamic thinker, and a love of peace. This can be seen from some of his thoughts that are considered quite open among them. First, according to him tolerance is the most important element for the realization of peace. Second, a believer when turned away they do it with civilized self-responsibility. Thirdly, freedom of religion is a human right in which creed, one deserves to be called human. Fourth, the problem of faith, as tought in Islam, is a matter of willingness after receiving information and explanation, rather than coercion and pressure. Fifth, every believer is in a bond of brotherhood regardless of their group and mainstreams.Kata Kunci: Sayyid Quthb, fundamentalisme, radikal, ukhuwwah
  • CILUKBA: Popular Learning dan Akhlak Inklusif dalam Majalah Anak Islam

    Hidayati, Okta Nurul; Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta (State Islamic University North Sumatra, 2018-08-25)
    Abstrak: Tulisan ini merupakan upaya untuk memahami pola pendidikan Islam sehari-hari dalam rubrik majalah Cilukba. Pendidikan Islam yang diajarkan di sekolah selama ini cenderung dengan doktrinasi buku-buku pelajaran. Sementara di luar sekolah, media populer berkembang pesat seperti Cilukba sebagai representasi majalah anak Islam yang inklusif yang dapat menjadi alternatif media pembelajaran keseharian untuk anak-anak. Namun, di sisi lain majalah Cilukba dapat mengkonstruksi doktrin baru bagi anak. Tulisan ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten majalah Cilukba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majalah Cilukba berisi materi-materi pembelajaran Islam keseharian seperti pembela-jaran adab, akhlak dan keteladanan yang tergambarkan dalam rubrik-rubrik dalam majalah, dengan tampilan desain yang modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa majalah Cilukba mengkonstruksi pendidikan melalui visualisasi idealisme Islam. Pemahaman terhadap isi rubrik Cilukba memberikan edukasi alternatif yang ber-gandengan tangan dengan pendidikan formal Islam di Indonesia.Abstract: Cilukba: Popular Learning and Inclusive Character in Muslim Child Magazine. This paper is an effort to understand the pattern of daily Islamic education Cilukba magazine. Islamic education in Indonesia has continuously taught students in the schools by providing the doctrines of textbooks, whereas popular media significantly increases such as Cilukba that represents Islamic children magazine. On one hand, the existence of Cilukba magazine can be an alternative media for daily learning for children, on the the other hand, however, it might construct a new doctrine for children. This paper uses a qualitative descriptive approach with content analysis techniques Cilukba magazine. The results showed that Cilukba magazine contains daily Islamic learning materials, such as learning adab, morals and exemplary are described in the rubrics in the magazine, with a modern design look. The author argues that Cilukba magazine constructs education through visualizing of Islamic idealism. In addition, Cilukba rubrics provides an alternative education which run hand in hand with formal Islamic education in Indonesia. Kata Kunci: pendidikan, majalah, anak, agama, akhlak

View more